Sweet Delight

Sweet-Candy.jpg

Staring: ASTRO’s Moonbin – GFRIEND’s SinB | Genre: Fluff

Hhhhhhhh tidak apa.

Yang penting aku sudah mendapat kebahagiaanku yang manis.

Salah satunya, bibir Eunbi pada malam itu.

— Moonbin, Sweet Delight

===

Kalau ditanya kapan aku pernah merasa sangat bahagia, jawabannya adalah ketika aku menyadari satu hal yang tak pernah aku sadari selama ini.

Aku sudah 18 tahun. Sudah kelas 3 SMA, dan punya waktu sekitar 6 bulan lagi sebelum benar-benar selesai dengan urusan sekolahku, lalu mulai sibuk dengan pilihan Universitas.

Selama 18 tahun ini, meskipun agak memalukan, aku harus mengakuinya, bahwa aku hanya baru satu kali berpacaran.

Waktu SMP kelas 2, aku pernah suka pada seorang gadis penghuni kelas sebelah. Dia cantik, dan sangat populer.

Entah keajaiban dari mana seorang yang cantik dan populer seperti dia bisa menerima pernyataan cintaku yang tergolong sangat bocah kala itu.

Intinya sih, kami pacaran. Dan kemudian putus setelah 2 bulan menjalani hubungan yang menurutku tidak jelas adanya.

Pacaran itu tidak ada manfaatnya. Serius. Aku yang baru merasakannya satu kali saja tidak tahu apa enaknya dalam berpacaran selain kita jadi punya teman ngobrol.

Pokoknya, setelah kejadian yang terjadi saat aku 13 tahun itu, aku tidak pernah lagi mengulang yang namanya pacaran.

Padahal justru harusnya, ketika SMA lah masa tersebut terjadi. Tapi, aku malah tidak begitu tertarik, dan selama hampir 3 tahun malah menjalani masa single-ku dengan tanpa beban.

Tapi serius, aku memang merasa tidak terbebani dengan statusku.

Sampai aku menyadari satu hal.

Saat kenaikkan kelas ke kelas 3, aku punya teman sekelas baru. Salah satunya aku sekelas dengan seorang cewek bernama Hwang Eunbi, yang masuk dalam kategori cewek paling dihindari disekolahku.

Aku tahu nama Hwang Eunbi ini meskipun aku jarang melihat keberadaannya. Teman sebangkuku saat kelas 2, Seungkwan, pernah cerita soal ia yang terlibat masalah dengan seorang cewek bernama Hwang Eunbi.

Seungkwan pernah adu cekcok, bahkan sampai jambak-jambakkan perihal masalah lapangan.

Seungkwan yang notabene anggota klub futsal–aku sempat tak percaya hal ini–berebut lapangan dengan Eunbi yang merupakan manager dari ekskul basket.

Hari itu rupanya lapangan outdoor yang hendak dipakai tim futsal bentrok dengan tim basket, sehingga akhirnya Eunbi yang merupakan managernya harus turun tangan.

Karena dua-duanya kepala batu, alias keras kepala, terjadilah pertengkaran yang sampai sekarang masih sering jadi perbincangan kalau melihat Seungkwan dan Eunbi tak sengaja berpapasan di koridor dengan saling melempar tatapan laser.

Tapi kata Seungkwan, sebenarnya jauh sebelum kejadian tersebut, nama Hwang Eunbi sudah di blacklist hampir oleh seluruh cowok di sekolahku, dalam daftar cewek yang paling tidak ingin dikencani.

Terbukti, Hwang Eunbi tidak pernah sekalipun berkencan.

Dilihat darimanapun, meskipun dia punya paras yang sangat elok, kalau dilihat dari polah tingkah dan tampang sinisnya, Hwang Eunbi ini memang harus dihindari.

Menyebalkan.

Satu kata yang mampu mendeskripsikan sosok jutek berambut sepunggung tersebut.

Ketika satu kelas dengan Eunbi, aku sebenarnya bisa langsung menangkap apa yang orang-orang bicarakan soal cewek itu.

Benar. Dia jutek abis, dan tidak ada ramah-ramahnya.

Aku yang pada dasarnya juga cuek dan enggan berinteraksi dengan cewek manapun juga jadi sensi saja kalau berhadapan dengan cewek itu.

Eunbi juga kelihatannya tidak punya banyak teman. Hanya Pinky, cewek cantik keturunan China yang selalu setia berada disamping Eunbi.

Selain itu, aku tidak pernah melihat cewek lain.

Kasihan.

Kemudian suatu hari, aku terlibat konversasi dengan dia perihal uang kas.

Eunbi merupakan bendahara kelas–yang membuat anak-anak frustasi bukan main perihal ini–dan cewek itu memang biasa menagih dengan cara yang galak dan menyebalkan.

Aku yang orangnya tidak suka diperlakukan seenaknya tentu saja melawan. Tak disangka, hanya karena masalah sepele soal uang iuran 3000 won, aku bisa adu cekcok dengan cewek galak itu.

“Aku disini punya kewajiban buat nagihin. Kalo kamu enggak mau bayar, berarti kamu udah menolak ketetapan yang udah berlaku di kelas ini sejak awal, Tuan Moonbin Yang Terhormat.” ujarnya hari itu dengan nada yang datar dan dingin.

Ini dia yang sangat menyebalkan.

Cewek ini tidak perlu berteriak untuk terlihat galak. Cukup bicara dengan suara rendah dan datar saja, aura setannya sudah kelihatan.

“Aku bukannya nolak ketetapan yang berlaku, aku cuman enggak suka gaya kamu yang blagu. Kalo mau nagih, nagih selayaknya bendahara. Bukan kayak preman pasar.” aku juga sama saja.

Tidak mau kalah. Dan entah kenapa, biasanya aku tidak pernah seperti ini.

“Jangan seenaknya nge-judge orang. Siapa yang kamu bilang blagu? Aku emang begini adanya, kalo mau protes jangan ke aku, ke gedung DPR aja sana.”

“See? Kamu blagu abis.”

“Enggak susah kan buat ngeluarin 3000 won aja? Aku pikir kamu enggak semiskin itu cuman buat bayar uang kas bulanan?”

“Its not about money, its about your attitude.”

“Apa yang salah dengan attitude yang kamu maksud itu?”

“Haha, funny. Ternyata orang menyebalkan enggak pernah sadar kalo dia ternyata menyebalkan.”

“Kamu sendiri enggak sadar kalo kamu menyebalkan?”

Dan begitulah yang terjadi hingga akhirnya kami mengibarkan bendera perang.

Sejak perdebatan karena uang 3000 won tersebut, tidak ada yang tidak tahu kalau aku dan Eunbi sudah seperti Korea Selatan dan Korea Utara. Sulit untuk dipersatukan.

Anak kelas sudah maklum dan tidak heran jika melihat aku yang selalu siap sedia membuat Eunbi jengkel setiap harinya.

Aku juga bingung. Kenapa aku tiba-tiba ‘sangat-tidak-aku-sekali.’ ?

Maksudku, aku ini orang yang cuek dalam segala hal, termasuk dalam urusan wanita.

Tapi entah kenapa, aku malah dengan childish-nya mengganggu Eunbi yang jelas-jelas seorang wanita–oke, perempuan.

Hampir setiap saat sejak kejadian itu, aku tidak bisa menutup mulutku jika itu berhubungan dengan Eunbi.

“Dasar cewek singa.” ujarku saat melihat Eunbi marah pagi-pagi hanya karena Vernon yang tidak menyapu kelas dengan benar.

Kemudian selanjutnya, kami akan berdebat dan saling tidak mau kalah.

“MOONBIN! Kamu bohong?!” itu adalah jeritan Eunbi ketika aku bilang padanya kalau ia dicari Bu Kim pada saat jam istirahat, yang berujung dia mencari-cari keberadaan Bu Kim diseluruh sekolah, namun akhirnya menemukan fakta bahwa Bu Kim sebenarnya tidak mencarinya.

Ya, itu akal-akalanku saja. Hari itu aku kesal melihat Eunbi yang malas-malasan saja di bangkunya padahal anak-anak kelas sibuk kerja bakti membersihkan kelas karena akan ada Festival Budaya, sehingga kelas harus dibersihkan.

Hari itu juga, aku menyesal ketika tahu alasan kenapa Eunbi hanya duduk-duduk santai.

Ternyata maaghnya tengah kambuh, dan yang tahu hal tersebut hanya Pinky.

Setelah kejadian Eunbi yang mencari-cari Bu Kim tersebut, keesokan harinya cewek itu tidak masuk. Pinky bilang dia sakit dan kata dokter harus bed rest.

Aku tidak tahu, kenapa hari itu aku benar-benar menyesal dan tidak enak. Padahal harusnya aku senang–seperti anak-anak kelas yang senang ketika ia tak masuk–karena dengan begitu aku tidak perlu melihat wajah galak menyebalkannya, juga tidak ada yang mengusikku dengan cibiran bawelnya itu.

###

“Moonbin! Kamu pikir karena kamu cowok, kamu boleh seenaknya mangkir piket?”

“Aku enggak mangkir piket.”

“Terus kenapa sekarang kamu malah jajan disini?!”

“Chill, kamu siapa boleh ngatur-ngatur aku?”

“Aku enggak ngatur-ngatur, aku cuman ngingetin! Dari kemaren anak cowok mangkir terus, kamu pikir aku enggak capek ngingetin mereka?”

“Aku lapar, jadi aku beli makan dulu. Habis ini aku juga bakal piket, kenapa kamu hobi banget sih marah-marah? Cepet tua baru tau rasa. Dan lagian, kamu itu siapa sih harus ngingetin mereka? Kamu itu cuman bendahara. Berhenti ikut campur, tugas kamu nagih uang, bukan buat membabukan anak-anak seenaknya.”

“Membabukan? Aku enggak membabukan! Kenapa kamu hobi banget sih ngedebat aku?”

“Karena kamu orangnya seenaknya. Yang punya tugas buat ngingetin anak-anak buat piket itu seksi kebersihan. Kenapa kamu suka ikut campur dengan apa yang bukan tugas kamu? Udah berasa paling segalanya?”

“Biasa aja dong! Aku enggak pernah punya pikiran kayak gitu. Aku cuman berniat baik!”

“Ck, berniat baik tapi malah jatuhnya menjengkelkan.”

Hari itu, aku ingat untuk pertama kalinya Eunbi tidak membalas ucapanku.

Biasanya cewek itu selalu punya 1001 cara untuk mendebatku balik. Tapi hari itu, Eunbi memilih untuk memutar tubuhnya dan menjauh dari aku yang tengah memesan makananku di kantin.

###

Dibulan ketiga kehidupan semester 1-ku di kelas 3, aku melihat Eunbi jauh lebih diam dari biasanya.

Dia tidak lagi mengoceh dan mengomentari ini itu kalau anak kelas melakukan hal tidak wajar di tengah jam kosong yang tidak dihadiri guru.

Dia bahkan keluar kelas ketika Hwanhee dengan sengaja main lempar penghapus, yang biasanya akan membuat Eunbi jengkel dan memukul kepala Hwanhee dengan buku paket Matematika miliknya.

Hal yang tentu saja mengundang tatapan heran dari anak kelas, tapi tak urung membuat mereka bahagia karena melihat Eunbi berhenti mengoceh.

“Yaampun, Eunbi lagi kerasukan malaikat kayaknya, enggak nyemprot sana sini lagi.” aku bisa mendengar dengan jelas desahan lega anak-anak perempuan yang juga sering jengkel dengan tingkah semena-mena Eunbi.

Namun anehnya, tidak lega seperti anak-anak, aku malah merasa gelisah dan sangat heran.

Bahkan, ketika aku bertanya pada Pinky soal Eunbi yang mungkin tengah maagh atau tidak, Pinky bilang Eunbi baik-baik saja dan bahkan makan dengan lahap saat jam makan siang.

###

Aksi diam Eunbi berlangsung seminggu, dan mampu mendistraksiku selama itu pula.

Karena sebal dan gregetan, pada akhirnya, aku mencoba menurunkan gengsiku dengan bertanya langsung–namun dengan gaya sok tidak peduli.

Aku melihatnya kala itu tengah memasukkan koin kedalam mesin minuman, ketika minumannya jatuh dan keluar, aku dengan lancangnya mengambil minuman tersebut dan menegaknya.

Aku masih ingat ekspresi melototnya kala itu. Sudah akan cengengesan karena siap disembur Eunbi, namun nyatanya hal itu tidak terjadi.

Eunbi malah berdecak sambil memutar bola matanya kemudian pergi meninggalkanku.

Membuatku mematung tidak percaya dengan reaksi tak biasa yang diperlihatkan oleh cewek itu.

“Kesambet apaan? Tiba-tiba enggak banyak tingkah.” aku mencibir setelah berusaha mengejar langkahnya dengan gaya sok cuek dan tidak terburu-buru.

Eunbi tidak menjawab, malah berbelok ke kamar mandi perempuan, membiarkan aku bengong diluar seperti orang tolol.

###

Kekhawatiranku ternyata tidak berlangsung lama. Eunbi kembali seperti semula setelah kurang lebih 10 hari berlaku tidak wajar.

Anak-anak kelas kembali mendumel kesal, tapi anehnya aku malah cengar-cengir tidak jelas ketika melihat Eunbi berdebat dengan Rena hanya karena cewek itu teledor menyimpan spidol kelas sehingga spidolnya sekarang hilang.

###

Aku agak heran karena Eunbi tiba-tiba berhenti menyuruh anak-anak agar tidak mangkir piket.

Sebagai gantinya, ketika ada yang mangkir piket, cewek itu malah mendengus kasar kemudian mengambil sapu dan mulai menyapu kelas dengan agak rusuh.

Padahal waktu itu jam dinding kelas sudah menunjukkan pukul 6 sore.

Aku yang kebetulan hari itu baru selesai latihan dance terkejut ketika akan mengambil sepatu sekolahku yang ketinggalan di kolong meja.

Saat kutanya, kenapa dia masih ada disekolah jam segini, dia menjawab tanpa melihat kearahku.

“Mungkin kalo aku berbuat baik kayak gini, enggak akan terlihat menjengkelkan lagi.”

Menohok telak ke jantungku.

Disitu aku tahu ada yang salah dengan debaran yang terjadi kala itu. Dan lagi, ada perasaan tak enak yang menyusup ketika sadar bahwa alasan gadis itu bertingkah berbeda selama 10 hari adalah karena perdebatan yang terjadi antara kami tempo hari.

Eunbi…… mungkin sakit hati?

Ha, tidak tahu. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku tiba-tiba pening bukan main.

###

“Kamu pernah sakit hati gara-gara aku?”

“Sering.”

“Aku juga sering.”

Itu percakapanku dengan Eunbi ketika aku melihatnya tengah menunggu di halte bus sendirian, padahal sudah jam 8 malam.

Itu pertama kalinya kami mengobrol tanpa unsur tekanan dan perdebatan.

Bahkan tidak ada urat yang menegang dileher Eunbi untuk kali ini. Cewek itu biasanya kalau sedang marah urat lehernya bisa terlihat mengerikkan.

“Kamu sadar kalo kamu itu nyebelin?” tanyaku ketika Eunbi sudah melepas headset yang menyumbat telinganya.

Eunbi terlihat tidak begitu peduli dengan kehadiranku, karena tatapannya fokus ke jalanan. “Iya.” jawabnya singkat.

Entah kenapa ada perasaan tidak suka ketika ia menjawab pertanyaanku dengan tak acuh.

“Nah, yang kayak gini salah satunya. Bersikap galak dan menyebalkan.” cibirku kesal.

Eunbi tidak begitu menghiraukan cibiranku. Ia justru hanya menepuk bahuku, bermaksud pamit karena bus yang ia tunggu sudah datang.

Kala telapak tangannya menyentuh bahuku, entah kenapa ada perasaan tak rela ketika tangan itu terlepas darisana.

###

“Apaan? Dia juga bisa naksir cowok?”

“Ya kamu pikir dia naksir cewek?”

“Bukan! Maksud aku, cewek galak kayak dia bisa naksir cowok itu keajaiban!”

“Ck, gila ya. Chanwoo harus siaga 1 nih kalo tau Eunbi ternyata naksir dia.”

Aku merasa kepalaku mendidih ketika mendengar percakapan mengganggu yang tak sengaja kudengar didepan loker 101.

Loker-loker cewek yang biasanya dipakai untuk bergosip ria.

Sialnya saat itu yang tengah digosipkan adalah Hwang Eunbi. Hwang Eunbi yang itu.

Chanwoo?

Jangan bilang ini Jung Chanwoo tetanggaku?

###

“Ck, jijik.” desisku sengaja dengan volume besar ketika melihat dia tersenyum sangat cantiknya setelah selesai bercakap-cakap dengan Chanwoo, anak klub basket yang kebetulan juga tetanggaku sejak kecil.

Sangat cantiknya?

Ya, mau disanggah sekeras apapun, Hwang Eunbi itu memang makhluk Tuhan yang jelas elok–disamping sifat urakan dan galaknya itu.

Tapi siapa sangka, sosok judes itu akan terlihat 1000 kali lebih cantik ketika ia tersenyum?

Dan sialnya, bukan aku yang menjadi alasan dia tersenyum, tapi cowok lain.

“Apa? Aku udah enggak ngomel apa-apa lagi seminggu ini.”

“Mending kamu ngomel sepuasnya daripada mesra-mesraan gak jelas sama cowok gak jelas.” tanpa sadar aku bicara dengan nada yang sangat sinis membuat Eunbi menatapku keheranan.

“Apa sih Moonbin?!”

Tidak aku hiraukan, aku malah melengos sambil sengaja menendang sepatunya membuat gadis itu mendumel kesal.

Ck, aku malah jauh lebih kesal lagi.

###

Ingat bahagia yang aku maksud diawal cerita?

Benar.

Bahagia ketika aku sadar akan satu hal yang tak pernah aku sadari selama ini.

Kalau aku akhirnya naksir cewek lagi setelah 5 tahun tidak pernah ingat apa yang namanya jatuh hati.

Sayangnya, bahagia ini tidak cukup manis, karena buktinya aku malah menyukai sosok yang secara terang-terangan aku benci dan cerca habis-habisan.

Benar. Ya, benar lagi.

Aku suka Hwang Eunbi, si cewek galak dan urakan yang sinisnya minta ampun.

Bukankah sialan?

Sayangnya, aku suka perasaan ini. Dan lebih suka lagi ketika melihat Hwang Eunbi tertawa karena aku pada hari ini.

“Moonbin astaga! Hahahahaha.” tawa keras itu berasal dari Eunbi yang melihatku–didepan matanya–terpeleset dengan pantat yang mencium lantai yang basah.

Lupa sudah kesakitanku, justru bahagia menjalar.

Cantik.

Cantik sekali. Eunbi sangat cantik ketika ia tertawa, apalagi ketika tahu aku adalah alasan dibalik tawanya itu.

Kalau Jung Chanwoo bisa membuat gadis ini tersenyum, aku justru bisa membuatnya tertawa.

Iri?

Ha-ha.

###

Aku tidak ingat sejak kapan, namun nampaknya, semua usahaku untuk menciptakan perdebatan dengan Eunbi rupanya hanya alasan supaya aku bisa berinteraksi dengan cewek galak itu.

Terbukti ketika aku sadar, kalau ternyata aku selalu senang ketika bisa berdebat dengannya, dan justu sedih ketika dia tak balas mendebatku.

Dan justru sedih ketika dia menjadi pendiam karena aku.

Dan justru sedih ketika dia tak mau bicara denganku.

Kenapa semenyenangkan ini? Aku tidak tahu ternyata suka pada seseorang bisa semenyenangkan ini, padahal dulu ketika terakhir aku merasakannya, aku lebih cenderung kesusahan.

Menurutku suka pada seseorang itu susah.

Namun kali ini, semenjak Eunbi–gadis galakku–hadir, itu tak pernah terasa menyusahkan.

Oke, aku tidak akan malu-malu dan gengsi lagi menyebut kalau aku menyukai cewek itu, karena ya, faktanya aku sangat menyukai Eunbi, dan tidak tahu sudah sejauh mana perasaan ini berlayar.

Yang jelas.

Sudah sangat jauh sebelum aku sempat menyadarinya.

###

“Moonbin, kamu kenapa sih?!” itu gerutuan kesalnya ketika aku dengan tidak tahu malunya menyeret cewek itu untuk menjauh dari Chanwoo.

Apa yang mereka bicarakan sampai Eunbi-ku bisa tersenyum secantik itu?

Dasar Jung Chanwoo lelaki brengsek!

“Kamu yang kenapa?” tanyaku datar tapi mataku menatapnya tajam.

Eunbi makin menatapku heran dengan kerutan lucu di keningnya, “Kamu gila? Ditanya malah balik nanya. Jelas-jelas kamu yang kenapa?! Main seret enggak jelas! Enggak liat aku lagi ngobrol sama, ehm, Ch-chanwoo?!”

“Kenapa pake gugup segala?”

“Siapa yang gugup?!”

Sialan. Aku tidak suka wajahnya yang berubah merona dengan cantiknya, yang sialnya bukan aku alasan dibalik rona merah tersebut.

Aku menghempaskan tangan Eunbi yang sedaritadi aku genggam, kemudian menyugar rambutku frustasi.

Astaga, sialan. Aku tidak pernah sefrustasi ini menghadapi perempuan!

Oke, ehm, aku memang tidak pernah menghadapi perempuan selain Eunbi.

“Jangan deket-deket Chanwoo! Kamu enggak tau dia punya pacar?”

“H-hah?”

Aku menghembuskan nafas dengan kasar, “Dia punya pacar! Aku tau karena kita tetanggaan. Cowok itu backstreet sama ceweknya. Aku bahkan kenal ceweknya!”

Wajah Eunbi seketika berubah murung. Cewek itu hanya memandangiku dengan tatapan kosong yang makin membuatku frustasi.

“Kamu kenal ceweknya?” tanya Eunbi pelan. Entah kenapa dia dengan cepatnya percaya akan ucapanku.

Aku mengangguk, “Iya.”

“Siapa?”

“Adikku.”

“Sua?”

“Kamu tau soal adikku?”

“…kamu pernah jemput dia pas kita lagi kerja kelompok dirumah Eunwoo kan?”

Ah, iya. Aku lupa kalau aku sudah memperkenalkan Sua pada teman kelompokku. Lebih tepatnya teman kelompok pada mata pelajaran seni rupa. Dan Eunbi salah satunya.

Alih-alih menangis atau menjerit frustasi, cewek itu malah duduk dipinggir trotoar kemudian tersenyum tipis.

YAAMPUN AKU BISA GILA!

Kenapa dengan dia yang tersenyum setipis itu saja sudah membuatku makin jatuh cinta sih?!

“Makasih lho, udah ngingetin.”

“Hah?”

Eunbi menatapku dengan agak mendongak, aku memutuskan untuk berjongkok agar tinggiku menyamainya.

“Ya, seenggaknya aku enggak terlalu jauh bawa perasaan. Hampir aja aku suka Chanwoo lebih jauh lagi. Untungnya kamu ngingetin. Makasih.”

Meskipun agak sebal mendengar penuturan kata suka yang diucapkan Eunbi soal Chanwoo, setidaknya aku lega Eunbi bukan sosok yang agresif dan ambisius ingin mendapatkan Chanwoo.

“Makanya jangan suka ke sembarang cowok!”

“Tapi ini baru kali pertama aku naksir cowok.” ujarnya polos.

Sial.

Kenapa orang pertamanya harus Jung Chanwoo sih? Si brengsek itu! Awas saja dia, aku tidak akan membiarkan dia kencan dengan Sua akhir minggu ini.

Aku dengan gilanya menangkup pipi Eunbi, membuat gadis itu mengerjap kaget, dan bersiap kembali mengeluarkan tanduknya.

Sayangnya, terlambat. Karena aku sudah buru-buru mengecup bibirnya singkat.

Gila. Aku memang gila.

Dan alasan kegilaanku ini adalah Hwang Eunbi.

“Aku bukan sembarang cowok. Kalo kamu mau naksir, mending naksir aku aja.” sahutku pede yang langsung mendapat tamparan telak di pipi kananku.

Hhhhhhhh tidak apa.

Yang penting aku sudah mendapat kebahagiaanku yang manis.

Salah satunya, bibir Eunbi pada malam itu.

.

.

maaf yha sinb moonbinnya brengsek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s