Heartbreak Hotel 2.0

Staring: Seventeen’s Scoups – GFriend’s Sowon | Genre: Romance

PG-17

you need to read the first chapter before read this one

Heartbreak Hotel 1.0

===

Setelah ditinggalkan ayahnya yang sering menyiksa ibunya, kemudian ditinggal ibunya yang sudah tidak mampu lagi bertahan di dunia yang kejam ini, Sowon untuk ketiga kalinya tersakiti ketika melihat pengkhianatan besar dari lelaki yang ia temui disebuah klub malam di hotel bintang lima tersebut.

Bagi Sowon, kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah masuk ketempat haram itu dan tanpa sengaja malah bertemu lelaki yang sudah membutakan dunianya.

Belum cukup siksaan fisik dan mental oleh ayahnya, sekarang lelaki brengsek diluar kisah hidupnya menyiksa batinnya juga.

Kalau manusia biasa, mungkin sekarang dia sudah mabuk ganja, suntik nikotin dan bunuh diri dengan memotong urat nadi.

Tapi ini Kim Sowon. Yang hampir selama 23 tahun hidupnya sudah bertubi-tubi dilanda kesialan. Sudah terlalu sering menyicipi pahitnya hidup sampai rasanya ia tak ingat kapan ia pernah merasa bahagia.

Apa ketika tahu kalau ayahnya kabur dari kejaran polisi adalah sebuah kebahagiaan?

Apa ketika tahu ibunya meninggal dengan tragis adalah sebuah kebahagiaan?

Apa ketika bertemu dengan lelaki bernama Choi Seungcheol itu sebuah kebahagiaan?

Ya. jawabannya ya untuk pertanyaan ketiga. Dia bahagia bertemu Choi Seungcheol, yang kemudian kebahagiaan itu akan menjadi kebahagiaan yang paling ia sesali seumur hidupnya.

Kim Sowon tidak banyak tingkah setelah tahu dia dikhianati. Yang dia lakukan saat ini hanya menangis semalaman, kemudian esoknya bersiap melupakan apa yang baru terjadi pada hari ini.

Kalau Kim Sowon sudah tidak cukup waras, sebenarnya ia sudah ingin lompat saja dari gedung pencakar langit, membiarkan tubuhnya melayang bebas kemudian jatuh menghempas tanah berubah menjadi kepingan-kepingan tak berdaya.

Dia rapuh.

Sungguh, dia ingin mengakuinya hari ini saja.

Hidupnya sudah tak adil sejak pertama kali ia dilahirkan. Tuhan, apa ia marah kepada Sowon?

Apa salahnya? Mengapa hidupnya terasa sepahit ini?

Bahkan tak pernah sekalipun ia menyentuh barang haram seperti alkohol dan narkotika dalam masa stress-nya, tapi kenapa hidupnya masih saja selalu sial?

Kapan ia bisa mencapai kebahagiaan?

Apa sampai Sowon tidak percaya lagi dengan arti kebahagiaan itu sendiri?

Ingin Sowon menutup matanya, kemudian ketika bangun ia sudah tak ada lagi di dunia ini. sudah lenyap beserta kumpulan debu yang beterbangan.

Lelah.

Sowon sangat lelah dengan hidupnya.

###

Sowon menyugar rambutnya penuh kefrustasian.

Kurang lebih sudah 24 hari sejak pengkhiatan seorang Choi Seungcheol, dan Sowon sudah tak pernah sudi lagi bertemu dengan lelaki itu.

Ia sudah menjauhi hotel sialan itu, sudah pindah rumah dari kawasan terpencil itu, dan sudah menghapus segala akses komunikasi dengan lelaki bajingan kedua setelah ayahnya itu, namun kenapa masih saja Tuhan bertindak jahat?

Mempertemukan lagi dirinya dengan bangsat sialan itu.

Pagi dini hari, Sowon terusik tidurnya karena suara ponsel yang tidak mau berhenti berdering. Ia bahkan baru pulang kerja part time pukul 11 malam, dan dua jam setelahnya tidurnya harus terganggu.

Itu telfon dari nomor tak dikenal, dan Sowon sebenarnya sudah menaruh curiga ketika akan mengangkat telfon masuk tersebut.

“Benar ini dengan Nona Kim Sowon? Saya bartender dari klub XXX, pria pemilik ponsel ini mabuk dan sudah saya suruh pulang tapi malah terus meracau. Nama yang dia sebutkan selalu Kim Sowon dari awal hingga akhir, jadi saya berinisiatif mencari kontak anda di ponselnya. Bisa anda datang menjemput pria ini?”

Sowon tahu siapa pria ini yang dimaksud oleh sang bartender.

Tapi dia memilih tak menghiraukannya. Persetan dengan lelaki itu yang mabuk dan tak ada yang menjemput, Memang Sowon siapanya?

Mantan? Sejak kapan ada konteks jadian dalam hubungan mereka? Seingat Sowon mereka hanya friends with benefit, tidak lebih.

Dan seingatnya juga, terakhir kali Sowon melihat Seungcheol, cowok itu tengah bercumbu mesra dengan jalang lain diluar sana.

Namun, niat ingin mengabaikan Sowon tidak dapat direalisasikan. Ponselnya terus berdering hingga setengah jam setelahnya, dan bartender tersebut tetap kekeuh ingin Sowon menjemput pria itu.

Jadi, yang Sowon lakukan adalah menyerah.

Atas dasar kemanusiaan, karena dia masih manusia.

Dan atas dasar Sowon bukanlah wanita tidak berpendidikan yang mengabaikan orang begitu saja.

Hidup dalam keluarga tidak harmonis bukan berarti Sowon tidak dididik untuk menjadi orang yang berbudi luhur. Ibunya selalu menegaskannya untuk selalu berbuat baik disetiap kesempatan, dan Sowon selalu mengingat kalimat tersebut hingga akhir nafas sang ibu.

###

Sowon melempar tubuh besar itu ke ranjangnya, kemudian merenggangkan tubuhnya yang serasa remuk.

Ia memandangi sekeliling apartemen megah milik lelaki itu. Belum sampai sebulan, tapi Sowon sudah merasakan perubahannya.

Mirip kapal pecah.

Apa si brengsek ini tidak menyewa asisten rumah tangga? Setahunya selalu ada asisten rumah tangga yang datang setiap akhir pekan.

Pin apartemennya juga tidak diganti. Bagus sih, Sowon tidak perlu susah-susah menebak sehingga ia tidak perlu terlalu lama menopang tubuh segede babon itu.

Sowon melirik Seungcheol yang tertidur pulas.

Hanya ketika matanya terpejam, lelaki itu tidak terlihat liar dan brengseknya.

Dunia memang tidak adil. Kenapa orang brengsek dan bajingan bisa hidup enak, sedangkan Sowon yang hidupnya sudah bagai diterjang Tsunami masih harus bersusah-susah dan terseok-seok.

Terlalu banyak ketidakadilan di dunia ini, membuat Sowon muak luar biasa.

“Sowon….hhhh…kita ngomong sebentar…” racau Seungcheol tidak jelas. Mati-matian Sowon menahan emosinya supaya tidak memukul mulut lelaki itu yang sudah berani-beraninya menyebutkan namanya dengan bibir kotor itu.

Menajiskan.

Sowon berdecih. Ia mengambil lipstick merah di tas kecilnya, kemudian mulai menggambar di wajah pucat Seungcheol.

Sentuhan terakhir, ia menuliskan kata-kata di lengan kekar Seungcheol, dan pergi dari apartemen lelaki itu setelah tertawa jahat.

“Bajingan enggak pantas hidup.” desis Sowon muak sambil menendang pintu apartemen lelaki itu.

###

Seunghcheol terbangun dengan kepala yang pening luar biasa.

Ia mengedarkan pandangannya, kemudian sadar dia sudah berada di apartemennya.

Tapi, kapan ia pulang? Seungcheol tidak merasa ingat dia berjalan keparkiran mengendarai mobilnya, atau menelfon supir untuk mengantarnya pulang.

Seungcheol meraih ponselnya yang berada di nakas, kemudian melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Ah bangsat, dia lagi-lagi terlambat. Padahal harusnya ia memasukki kelas Pak Kim jam 10 tadi. Sudah berapa kali ia titip absen? Bisa-bisa ia mengulang mata kuliah ini lagi pada semester depan.

Seungcheol membuka log panggilan telfon, berniat menelfon Jeonghan perihal kelas yang sudah ia lewati entah untuk keberapa kalinya.

Namun, tubuhnya membeku ketika ia melihat panggilan keluar yang ia lakukan tadi pagi. Pukul setengah 2 dini hari.

KIM SOWON 👧

“BANGSAAAAAAAAAAT!!!!!!!!!!!!” teriaknya syok bukan main.

Ia buru-buru berdiri dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju pintu, sayangnya, bayangannya dicermin membuat ia terpaku sebentar kemudian kembali berteriak frustasi.

“SIALAN KIM SOWON!”

Seungcheol antara ingin tertawa dan marah ketika melihat wajahnya belepotan lipstick merah yang ia ketahui milik siapa. Belum sampai disitu, ia sadar ada tulisan huruf kapital yang ditulis melintang di lengannya, juga dengan lipstick warna merah.

Tapi kali ini, Seungcheol tidak marah.

Ia malah tersenyum miring kemudian tertawa renyah ketika melihat kalimat tersebut.

NAKAL BOLEH, GOBLOK JANGAN!

KALAU GOBLOK, MENDING ENGGAK USAH HIDUP!

###

Sowon yang baru sampai rumahnya pukul 12 malam itu harus dikejutkan dengan sosok lelaki yang tengah bersandar di pintu rumah minimalisnya.

Sejak kapan bangsat itu tahu perihal rumah baru Sowon? Setahunya, ia tidak pernah memberitahu lelaki itu kalau ia pindah rumah. Dan untuk apa pula memberitahu. Semuanya jelas-jelas sudah berakhir sejak terakhir kali Sowon memergoki perilaku keji lelaki itu.

Ugh, bukan. Sowon memang yang terlalu kepedean berpikir Choi Seungcheol sudah jatuh hati padanya. Padahal harusnya ia tahu, lelaki itu memang playboy kelas kakap yang suka berburu wanita di klub malam.

Berjalan lambat, Sowon mendekati rumahnya dengan emosi yang begitu membuncah. Bahkan emosinya makin ingin meletup ketika Seungcheol mengangkat kepalanya, kemudian bertemu pandang dengan mata almond milik Sowon.

Sial.

Waktu ia mengantar lelaki itu ke apartemennya terakhir kali, lelaki itu tidak membuka matanya sehingga Sowon bisa bertindak sesukanya.

Tapi kali ini ia berasa kecil, ketika mata itu memandangnya dengan penuh intimidasi yang membuat kaki Sowon begitu lemah.

Seungcheol menyunggingkan senyum miring yang baru pertama kali Sowon lihat kali itu.

Selama ini, sosok Seungcheol yang bersamanya ternyata penuh kemunafikan.

Kata-katanya hanya banyak bacotan manis tanpa arti. Memang si Seungcheol ini orang yang goblok sekali. Dan Sowon paling benci orang goblok.

Sowon memandang Seungcheol tak tertarik. Ia mengeluarkan kuncinya untuk membuka pintu, tapi kuncinya malah dibuat terjatuh oleh lengan nakal Seungcheol. Dengan sengaja.

“Apa.” tanya Sowon tanpa nada.

Seungcheol bersiul pelan, kemudian tersenyum sok kegantengan. “Kalau ketemu orang yang udah lama enggak ketemu itu, sapa.”

Sowon memutar bola matanya malas, dan bagi Seungcheol itu justru pemandangan cantik yang memanjakan matanya.

“Siapa.” tanya Sowon sekali lagi masih tanpa nada.

Seungcheol lagi-lagi tersenyum tak bersalah, “Sombong banget. Terakhir ketemu aja malah nangis sambil lari, bukannya nyapa.”

Wah, brengsek benar si Choi Seungcheol ini.

Sowon memejamkan matanya sejenak, mencoba meredam rasa frustasinya yang sudah hampir menggila,

“Enggak usah banyak bacot, brengsek. Awas. Mau masuk.”

Sowon berusaha menyingkirkan tubuh kekar Seungcheol yang menghalangi akses masuknya, tapi lelaki itu dengan jahilnya malah menautkan jari-jarinya dengan jari Sowon membuat Sowon berjengit sambil menghempaskan tangannya geli.

“Dasar munafik. Jadi selama ini Choi Seungcheol yang aku kenal itu sebenernya bukan Choi Seungcheol, ya? Jijik, pergi sana.” kalimat yang masih meluncur tanpa nada dan serba datar itu menghunus telak jantung Seungcheol.

Tapi belum mampu membuat laki-laki itu berhenti untuk menjahili Sowon.

Seungcheol tahu betul apa yang Sowon maksud.

Sikapnya.

Selama hampir 4 bulan mengenal Sowon, dan bermain-main dengan perempuan itu, Seungcheol hanya menunjukkan sisi manisnya saja. Tidak ada Choi Seungcheol yang bajingan dan suka gonta-ganti wanita. Tidak ada Choi Seungcheol yang jahil dan licik.

Tak heran Sowon kaget dengan sifat asli Seungcheol selama ini.

Semua kedoknya baru saja terbuka, tapi Seungcheol tidak menyesal menunjukkan sifat aslinya saat ini.

Lubuk hatinya berkata, sudah saatnya Sowon tahu kebenaran soal Seungcheol. Bukan hanya sisi manisnya saja, tapi juga sisi pahitnya juga.

Karena selama ini, Seungcheol juga bahkan tidak pernah tahu sisi apa yang Sowon milikki? Perempuan itu selalu punya bola mata yang gelap, yang sulit terbaca.

“Enggak apa kamu jijik, yang jelas, kamu udah tahu aku yang sebenarnya itu gimana. Sekarang giliran aku buat tahu seluk beluk tentang kamu.”

Sowon berdecih, bahkan kalau meludah sopan, ia sudah meludah daritadi. “Enggak usah sok kegeeran, brengsek. Kita udah selesai jauh sebelum ini. Jadi aku minta mending situ pergi dari sini sekarang juga, karena kehadiran situ enggak diterima disini.”

“Wah, ternyata poin pertama, Kim Sowon itu kasar juga, ya? sadar enggak kita itu sama-sama munafik? Kamu enggak tahu aku gimana, aku enggak tau kamu gimana. Fair bukan?”

Fair gundulmu.

“Cih, enggak ada yang perlu kamu tahu dari aku. Minggir, dasar bajingan.”

“Poin kedua, Kim Sowon suka mengumpat juga.”

“Ya, ya, talk to my hand. Aku mau masuk.”

“Kalau kamu mau tahu, aku itu udah bajingan dari dulu. Dan udah enggak terhitung cewek yang udah jadi korban aku, jadi kamu enggak usah jadi orang sok paling tersakiti karena masalah 2 bulan yang lalu itu.”

Sowon hampir saja tertawa saking tidak percayanya Choi Seungcheol yang suka berkata manis itu bicara begitu kotornya.

Memang dunia ini penuh dengan manusia munafik. Pantas saja populasi manusia brengsek makin banyak, karena populasi manusia yang baik hati sudah jauh lebih dulu meninggal.

“Terus anda bangga kalau anda itu bajingan? Wah, enggak percaya ternyata selama ini saya pernah main dengan seorang psikopat kelas kakap. Tahu begini jadinya mending saya tetap perawan, najisnya luar biasa!”

“Hei, santai. Enggak usah pake urat. Dan jangan ngomong pake bahasa formal kayak gitu seakan aku bapak-bapak.”

So you are not?”

“Kita seumuran.”

“Oh ya? Tapi kenapa pikiran kamu dangkal banget kayak om-om mesum yang cuman memikirkan seks, seks dan wanita cantik? Dengar ya Bapak Penjahat Kelamin, saya udah enggak ada urusan dengan anda, jadi mending sekarang anda pergi dari sini.”

“Apa hal se-sepele itu bisa membuat kamu jadi se-emosional ini?”

Masalah sepele dia bilang?

Belum tahu rasanya kena sikutan di tulang rusuk, ya?

Sowon tertawa sarkastik, “Astaga, ini pertama kalinya aku ketemu orang sebajingan ini setelah ayah.”

Seungcheol memicingkan matanya, “Apa maksud kamu?”

“Maksud aku kamu sama bajingannya dengan ayah.”

“Hei, kamu itu cewek, gimana bisa bicara sekasar itu sama ayah kamu sendiri?” Seungcheol berjengit tak percaya.

Meskipun Seungcheol bajingan dan tukang gonta-ganti wanita, orangtuanya adalah sebuah prioritas yang paling diutamakan. Seungcheol sangat menghormati orangtuanya lebih dari apapun, apalagi ayahnya.

“Dia emang pantas dikasarin.”

“Aku pikir kamu cantik dan cerdas, tapi kamu dangkal juga, ya?”

“Iya, makanya mending kamu pergi. Aku cewek dangkal yang enggak mau berurusan sama penjahat kelamin.”

“Masalah sebesar apa yang membuat kamu jadi semenyebalkan ini? Kim Sowon yang aku tahu bahkan enggak pernah membentak aku sekalipun?”

Sowon meremas jemarinya, bayangan masa lalunya tiba-tiba berentetan muncul seperti kaset rusak yang terputar di kepalanya.

Bagaimana ibunya disiksa batin dan fisiknya, bagaimana ia dicambuk dan dijambak kasar oleh ayahnya. Bagaimana tangis, suara barang pecah belah, dan teriakan mendominasi rumah megahnya dulu. Bagaimana ibunya memejamkan mata dalam damai setelah siksaan panjang hampir seumur hidupnya. Bagaimana mata merah menakutkan ayahnya yang memandangnya nyalang. Bagaimana rumah megahnya harus disita karena bangkrut, dan bagaimana hidupnya beberapa tahun belakangan ini yang harus disibukan banting tulang kesana kemari hanya untuk sesuap nasi.

Sowon lelah.

Dia tidak pernah merasa selelah ini seumur hidupnya.

Melihat Choi Seungcheol yang mematung dihadapannya dengan tatapan lurus makin membuatnya frustasi dan ingin menangis.

Semuanya terlalu membingungkan, terlalu melelahkan, sampai rasanya Sowon ingin mengakhiri ini semua.

“Seungcheol….” panggil Sowon serak, ia memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap Seungcheol dengan mata agak merah menahan tangis.

Dia tidak mau terlihat lemah.

Sungguh Sowon sudah menahannya sedaritadi. Tapi ucapan Seungcheol benar-benar terasa menyakitkan ditelinganya.

Sebesar apa masalahnya?

Sangat besar untuk orang yang lebih senang memendamnya sendirian.

“Pergi. Aku enggak mau ketemu kamu lagi. Kamu benar-benar memuakkan.”

Seungcheol entah mengapa merasa hatinya hancur ketika mendengar suara Sowon yang terkesan mencicit. Entah kenapa ia melihat kerapuhan tak kasat mata dan beban yang begitu berat yang hanya ditanggung oleh gadis itu seorang diri.

“Enggak.” jawaban singkat Seungcheol mampu membuat magma yang ada didalam kepala Sowon otomatis keluar tanpa jeda.

Gadis itu menginjak kaki Seungcheol, menampar wajahnya, menonjok pipinya, kemudian memukul-mukul dada Seungcheol dengan jeritan-jeritan yang memekakan telinga.

Tapi Seungcheol diam saja. Ia membiarkan tubuh ringkih itu mengamuk membabi buta, ketimbang melihat gadis itu menahan semuanya seorang diri.

Mata gadis itu memerah, mengeluarkan tangis pilu yang mengiris-ngiris hati Seungcheol tanpa henti.

Beban sebesar apa yang ditanggung Sowon selama ini? Kenapa selama 4 bulan waktu kebersamaan mereka Sowon tak pernah sekalipun menceritakan keluh kesahnya. Padahal ia tahu betul Sowon begitu memercayainya lebih dari apapun kala itu.

Sowon masih meraung-raung kesakitan, hingga suaranya serak, ia bahkan menjambak rambutnya sendiri yang makin membuat dada Seungcheol sesak seakan terhimpit 2 batu besar.

Seungcheol menangkap kedua tangan kurus itu, menggenggamnya jadi satu, lalu memeluk tubuh ringkih gadisnya dengan lembut dan perlahan.

Percuma. Percuma Seungcheol main-main dan menggoda Sowon, kalau pada akhirnya gadis itu malah terlihat lemah dan membuat Seungcheol tak tega.

Niatnya membuat gadis itu emosi justru malah benar-benar terkabul, tapi entah kenapa malah membuatnya ikut merasakan sakit yang luar biasa.

Tubuh Sowon melemah, tangisnya mulai reda, kalau saja Seungcheol tak melingkarkan tangannya dipinggang Sowon, gadis itu mungkin sudah jatuh ke tanah.

Seungcheol menatap Sowon yang masih sesenggukan, kemudian tanpa tahu malu menangkup kedua pipi gadis itu dan mencium bibir tanpa polesan apapun dihadapannya.

Mata Sowon sontak membulat, tangan kurusnya memukul-mukul dada bidang Seungcheol tapi tentu saja tak mempan. Tenaganya sudah tersedot habis, dan ia tak bisa berkutik ketika bibir yang lama tak ia sentuh itu melumatnya pelan, dan….., lembut.

Seungcheol kembali merasakan sensasi itu. Sensasi yang sudah lama tak ia rasakan ketika menjamah bibir Sowon. Manis dan pahit disaat yang bersamaan.

Lengan kekar Seungcheol meraih pinggang Sowon, membuat tubuhnya makin merapat hingga perut mereka saling bersentuhan.

Seungcheol meraih kunci rumah yang tadi terjatuh di tanah dengan kakinya, kemudian membuka pintu rumah Sowon tanpa melepaskan tautan mereka.

Sowon sekarang malah merasa mengantuk.

Dan sialnya, dia malah menyerahkan dirinya dalam dekapan si brengsek ini lagi.

Awas saja kalau dia sudah punya tenaga besok.

.

sudah pernah aku post di wattpadku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s