Dua Keyakinan

14-Beda-Agama-Aku-Harus-Merelakanmu.jpg

Siapa bilang perbedaan menyatukan segalanya?
Buktinya kita tidak bisa bersatu.

===

Rindu Kasih Sayang (3)

Sarah Anandhia: Gengs

Sarah Anandhia: Bray

Sarah Anandhia: Gaes?

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: Bls napa nyet.

Riska Amelia: Gw lg dikls gblk

Riska Amelia: Apaan dah

Sarah Anandhia: Hm kasar

Sarah Anandhia: Cha? Lu dmn?

Riska Amelia: Gw udh nongol, malah nyariin ocha.

Riska Amelia: Sbr gw mah

Ocha: Oit?

Ocha: Mbb

Ocha: Abis nenen

Ocha: Hehe

Sarah Anandhia: Gblk.

Riska Amelia: Gblk.

Ocha: Canda elah

Sarah Anandhia: Kalian dmn?

Riska Amelia: Di kampus lah

Riska Amelia: Lu kgk ngampus?

Sarah Anandhia: Ngampus

Ocha: Napa lo nanya2 dmn. Lo lg di Jakarta?

Sarah Anandhia: Kagak. Masih di Bandung gue

Sarah Anandhia: Bentar lg uas nyet, ngapa gue balik

Ocha: Nanya doang elah

Ocha: Sensi amat kek ibu2 hamil

Riska Amelia: Ngapain lu ngechat heh? Kgk biasanya

Riska Amelia: Pst ada butuhnya ea

Sarah Anandhia: Hehe

Sarah Anandhia: G

Sarah Anandhia: Iya deng

Riska Amelia: Aroma kebusukanmu sudah tercium dari sini

Ocha: Apaan dah mel

Ocha: Jayus

Ocha: Lo knp sar?

Ocha: Something wrong?

Sarah Anandhia: Aneh

Sarah Anandhia: Ini aneh gais

Riska Amelia: Apaan tbtb aneh aja

Sarah Anandhia: Aneh sumpah

Sarah Anandhia: Gue gak ngerti

Ocha: Apaan jgn gaje woy

Riska Amelia: Iya. Apaan sih ni anak

Sarah Anandhia: Gue ketemu cowok

Ocha: Cowok?

Riska Amelia: So?

Sarah Anandhia: Gatau

Ocha: Lah?

Ocha: Apaan sih lu

Ocha: Gjls

Riska Amelia: Naksir?

Sarah Anandhia: Kgk

Sarah Anandhia: Cmn aneh

Ocha: Iya apa yg aneh?

Sarah Anandhia: Dia ngeliatin mulu

Sarah Anandhia: Tp ngeliatinnya aneh

Sarah Anandhia: Kayak menelisik diri gue gt

Sarah Anandhia: Wes Bahasa gue menelisik euy

Ocha: Naksir lu mungkin?

Sarah Anandhia: Ih

Sarah Anandhia: Org ngeliatinnya gak kayak org naksir

Sarah Anandhia: Kayak ngeliatin gue mempertannyakan gue ini siapa

Sarah Anandhia: Gue ini gmn

Sarah Anandhia: Gtlaaah ngerti gak sih. Pokoknya gak kayak org naksir

Riska Amelia: Naksir itu

Sarah Anandhia: Gak mel

Sarah Anandhia: Gak mungkin

Ocha: Ngapa make gak mungkin?

Sarah Anandhia: Gak mungkin pokoknya

Riska Amelia: Ganteng gak?

Sarah Anandhia: Lah-_-

Riska Amelia: Serius ganteng gak?

Sarah Anandhia: Mayan sih…

Riska Amelia: Oh berarti bener gak mungkin

Sarah Anandhia: Lah apaan dah lu gk konsisten banget

Riska Amelia: MASA ORG GANTENG ADA YG NAKSIR LU

Riska Amelia:  HAHAHAHA

Sarah Anandhia: Si monyet

Sarah Anandhia: Gblk

Ocha: Wkwkwkwkwk

Ocha: Tumben bnr mel

Sarah Anandhia: Yeh serius gue nyet

Sarah Anandhia: Kira2 kenapa ya?

Sarah Anandhia: Tp tampang dia gak kayak psikopat

Sarah Anandhia: Mksd gue gak mencurigakan gt

Sarah Anandhia: Gak nyeremin

Sarah Anandhia: Kek org baik2 aja gt

Sarah Anandhia: Tp kok ngeliatin guenya gt banget

Ocha: Udah lama? Brp kali lu ketemu dia?

Sarah Anandhia: Sekitar dua minggu yang lalu?

Sarah Anandhia: Ketemu pas ada matkul BK

Sarah Anandhia: Gue sekelas sm dia

Sarah Anandhia: Dia kepergok ngeliatin gtnya baru 3 kali sih

Riska Amelia: Berarti udh lama kenal?

Sarah Anandhia: Gak tau jg. Gue jarang merhatiin

Sarah Anandhia: Soalnya gue mls pas matkul itu ngantuk

Sarah Anandhia: Dosennya udh mo pensiun tp masih ngajar

Sarah Anandhia: Eh dua minggu yg lalu pas gue baru keluar dr mushola abis sholat ashar, gue ketemu dia, trs dianya lg ngeliatin gue. Gue kira bkn ngeliatin gue yaudah gue B aja

Sarah Anandhia: Bsknya gue baru sadar dia skls sm gue di matkul BK, dan dia lagi2 kepergok lg ngeliatin gue, tp pas gue liat balik dia langsung malingin wajah, ngobrol lg sama temen2nya. Tp pas ngeliatin gue, dia gak senyum gak apa, datar aja gt wajahnya

Ocha: Mungkin dia benci sm lo?

Sarah Anandhia: Lah? Perasaan kenal jg kagak

Riska Amelia: Mungkin tmnnya ada yg suka ama lo

Riska Amelia: Coba perhatiin tmn dia yg paling jelek

Sarah Anandhia: Si gblk:)

Riska Amelia: CANDA ELAH

Riska Amelia: Trs pas diliatin gt, lu gmn?

Sarah Anandhia: Gmn apanya?

Riska Amelia: Perasaan lu?

Sarah Anandhia: …..Gue

Sarah Anandhia: Gak tau

Ocha: Degdeggan?

Sarah Anandhia: Mungkin?

Riska Amelia: Lah kok mungkin?

Sarah Anandhia: Tau ah, gue gblh baper

Sarah Anandhia: Gblh GR diliatin gt doang

Sarah Anandhia: Jones banget kesannya kalo diliatin doang lngsng baper

Riska Amelia: HEH PAN ELO MAH EMG BAPERAN NYET

Riska Amelia: Gak deng

Sarah Anandhia: Berisik nyet

Sarah Anandhia: Lagian…

Ocha: Lagian…?

Sarah Anandhia: Gue harus ngehindarin cowok kayak dia

Riska Amelia: Lah? Knp?

Riska Amelia: Kalo dia emg naksir, jangan sok jual mahal

Riska Amelia: Dikira cantik apa lu

Sarah Anandhia: Kampret

Sarah Anandhia: Berisik dah lu daritadi

Riska Amelia: Hm gitu

Riska Amelia: Tadi butuh

Sarah Anandhia: Saranghae:)

Ocha: Heh lanjutin, knp lu kudu menghindari cowok kayak dia

Sarah Anandhia: Karena…. Gue gak boleh baper sm dia. Astagfirullah….

Ocha: Ya kenapa nyet

Sarah Anandhia: Dia katholik nyet

Riska Amelia: ……ups

Ocha: ….sorry…

Sarah Anandhia: 🙂

Sarah Anandhia: Tp bener apa kata lo tadi cha

Sarah Anandhia: Gue deg-deggan diliatin dia

Sarah menutup aplikasi LINE nya setelah ia keluar dari grup obrolan Rindu Kasih Sayang. Rindu Kasih Sayang sendiri diambil dari inisial nama ‘Riska’ si Amel, ‘Karina’ yang merupakan nama asli Ocha, dan ‘Sarah’. Memang kedengaran menggelikan, tapi masa bodoh. Mereka bertiga memang suka hal-hal yang menggelikan untuk sengaja mereka jadikan bahan candaan. Meski kadang nama grup itu bisa berubah menjadi hal-hal random yang tengah terjadi disekitar mereka, seperti dulu, ketika mereka masih SMA, mereka senang sekali mengganti-ganti nama grupnya semisal ‘AMEL JARANG CEBOK’, ‘OCHA PACAR PAK DODI’, ‘SARAH JONES SETIA’, ‘KITA JAYUS? GAK TUH’ dan hal lainnya yang masih banyak lagi. Sayang, setelah mereka kuliah dan Sarah memutuskan untuk merantau ke Bandung, mereka sudah jarang lagi mengganti-ganti nama grup, ataupun chatting mengenai hal random. Setelah menjadi mahasiswi, mereka mulai disibukkan dengan kesibukkan masing-masing. Tentunya dengan tugas kuliah yang menumpuk sehingga mereka jarang berkomunikasi.

Tapi, disini Sarah bukan sedang ingin menceritakan tentang Ocha, Amel atau tentang hubungan persahabatan yang sudah mereka jalin sejak kelas sepuluh, bukan. Ia ingin menceritakan tentang lelaki yang tengah menarik perhatiannya belakangan ini, dan membuatnya berusaha keras menyangkal sesuatu yang siap meledak di dalam dadanya.

Namanya Josephine Cornelius. Biasa dipanggil Joseph, atau Johan, atau Jo. Dari namanya saja, Sarah sudah tahu kalau lelaki itu berbeda keyakinan dengannya. Kalau dilihat dari kebiasaan cowok itu yang biasa bicara ‘aku-kamu’ dan kadang bicara dengan Bahasa Sunda yang lancar, Sarah mengansumsikan kalau cowok berkulit sawo matang itu orang Bandung. Atau mungkin orang luar pulau semacam Medan (Dilihat dari wajah dan warna kulit), tapi ia sudah lama tinggal di Bandung.

Sarah sekelas dengan Joseph di mata kuliah Bimbingan dan Konseling. Ia sudah mengontrak mata kuliah itu sejak awal semester dua, tapi tololnya ia baru menyadari sosok lelaki itu ketika satu bulan sebelum semester dua berakhir. Satu bulan lagi ia sudah akan UAS, dan selama empat bulan ia berada di kelas Bimbingan dan Konseling, ia baru sadar kalau lelaki itu satu kelas dengannya sekarang.

Entah kemana ia selama ini, dan kenapa ia bisa tidak sadar akan kehadiran lelaki itu, pokoknya ia baru tahu kalau lelaki yang kepergok memandanginya ketika ia baru keluar dari mushola sore itu satu kelas dengannya.

Kelas Bimbingan dan Konseling memang jarang ada presentasi—atau memang tidak pernah ada presentasi— Dosennya itu hanya menerangkan dengan slide, kemudian tiba-tiba ada kuis, menerangkan slide, kemudian ada kuis, begitu seterusnya. Mungkin itu salah satu alasan kenapa ia tidak begitu memperhatikan wajah-wajah anak kelas, dan kebetulan, di kelas itu Sarah memang tidak punya banyak kenalan. Mungkin hanya Andine dan Harry sosok yang ia kenal, karena kebetulan mereka dulunya satu SMA dan juga mereka satu kelas di mata kuliah lainnya.

Selain itu, Sarah juga memang tipe orang yang cuek dan tidak peka dengan sekitarnya, ia senang sekali tidur di pojokan ketika mata kuliah itu berlangsung—ia bersyukur dosennya sudah tua jadi matanya agak rabun— jadi maklum kalau selama empat bulan ini ia siwer dan tidak tahu kalau Joseph satu kelas dengannya. Kalau saja sore itu Joseph tidak kepergok memandangi Sarah, mungkin sampai saat ini ia tidak akan tahu siapa Josephine dan masa bodoh dengan orang itu.

Ia juga tidak akan kepikiran, dengan apa arti dari tatapan itu.

Ia tidak akan sepenasaran saat ini. Tidak akan.

Setelah bercerita pada sahabat-sahabatnya di Jakarta, ia menemukan satu titik terang yang ia ingin sangkal. Yaitu, ketika Amel bilang kalau cowok itu mungkin suka padanya. Tapi itu mustahil! Sangat amat mustahil. Bukan karena ia jelek dan tidak pernah pacaran—bukan, yaampun! Jangan dengarkan Amel! Cewek itu hanya tidak mau mengakui kalau Sarah itu memang cantik. Bukan—bukan lagi-lagi Sarah GR, tapi setelah kurang lebih dua kali ia berpacaran, mantannya itu sering sekali memujinya cantik. Selain itu, waktu di SMA dulu, masih saja ada anak laki-laki yang menembaknya, yang artinya ia memang laku dan tidak jelek. Sarah hanya ingin menegaskan hal tersebut.

Yang membuat mustahil disini adalah, ia perempuan ber-jilbab.

Meski ia bukan tipikal cewek yang berhijab syar’i, yang kerudungnya panjang hingga menutupi dada, tetap saja ia cewek berhijab. Dengan tanda tersebut, Joseph dalam sekali lirikan pasti akan tahu kalau Sarah berbeda dengannya. Mereka tidak sama.

Sarah tahu meskipun ia berhijab, ia masih sering bicara kasar dan memaki dengan Bahasa yang tidak layak, ia juga tahu kalau pakaian yang ia pakai belum sesuai dengan ketentuan berhijab yang diwajibkan—ia lebih senang menggunakan kemeja dengan lengan ¾, atau kadang juga memakai celana jeans yang ketat, kadang juga kerudung yang ia pakai tidak panjang seperti apa yang diharuskan. Tapi ia tidak pernah mau disalahkan soal hijabnya, ia ingin orang menyalahkan akhlaknya sajalah, yang memang masih bobrok, ketimbang melihat dengan “Ih dia kerudungan kok ngomongnya kasar.” Ia tidak mau orang menyalahkan hijab yang ia pakai. Hijab tidak bersalah, ia yang salah.

Lalu, kembali ke pokok permasalahan yang menjadi pertanyaan disini, kenapa Joseph sudah tiga kali kepergok tengah memandangi Sarah? Apa alasan cowok itu memandangi Sarah kalau bukan didasari oleh suka? Apa cowok itu benci pada Sarah? Tapi, kenapa? Ia bahkan tidak pernah mengobrol atau bertegur sapa dengan lelaki itu, ia saja baru sadar akan kehadiran Joseph dua minggu lalu, bagaimana mungkin cowok itu tiba-tiba membenci Sarah padahal mereka tidak ada masalah sama sekali.

Cowok itu Katholik.

Yang ia yakini, Joseph adalah sosok orang yang taat dalam beragama, dan hal yang mustahil bagi lelaki itu untuk suka kepada Sarah, yang merupakan gadis dengan hijabnya.

Lalu, apa alasan dibalik semua ini?

Sarah padahal biasanya cuek dengan masalah seperti ini, waktu pertama masuk kuliah dan ada kakak tingkatnya yang bilang suka padanya pun, ia biasa saja, tidak baper atau malah jadi deg-deggan.

Tapi kenapa? Kenapa ketika Joseph yang baru ia ketahui dua minggu lalu kalau lelaki itu hobi memandanginya hanya sekedar melihat kearahnya saja, jantung Sarah seakan mau copot dari tempatnya.

Kali ketiga ketika Sarah tahu kalau ia lagi-lagi tengah dipandangi, ia merasa kalau perasaannya membuncah tidak jelas, dan ia senang akan hal tersebut.

Tapi, ia tidak bisa. Ia tidak mau dengan keadaan ini. Ia ingin perasaannya musnah saat ini juga, Sarah bersumpah dalam hati.

+

“He, Jayus!”

Sarah menoleh, ketika ia baru saja menerima uang kembalian dari kasir minimarket. Sambil memandangi lawan bicaranya, yang sudah ia ketahui siapa bahkan tanpa ia perlu menoleh—hanya cowok ini yang memanggilnya begitu sejak SMA— ia memasukkan kembalian dari kasir barusan kedalam saku celana jeansnya.

“Eh, Har.”

“Ngapain disini?”

“Cuci baju.” Jawab Sarah asal.

“Si monyet.”

Sarah memutar bola matanya menanggapi celetukan lawan bicaranya, “Ya jajan lah, ngapain lagi kalo lagi di minimarket, Har. Bajak sawah?”

Harry—si lawan bicaranya tersebut hanya membalas jawaban Sarah barusan dengan tawa cengengesan.

“Tumben sendiri.”

“Apaan?”

“Biasanya juga sama si itu tuh. Si cantik yang ada lesung pipitnya.”

“Gue?” Sarah menyeringai, yang dibalas dengan tepakan ringan di kepala gadis itu.

“Heh gue tau lo juga ada lesung pipitnya, tapi masa gue bilang lo cantik. ‘Kan najis!”

“Se kate-kate ini anak.”

“Serius, siapa sih? Si cantik itu?”

“Gila lo, geli gue. Bella maksud lo?”

“Nah, iya, si itu! Kemana dia?”

“Lagi ada kelas dia.” Mata Sarah menyipit memandangi lelaki dihadapannya, “Jangan bilang lo naksir?”

Harry mengangkat bahunya, entah apa maksud dari gestur tersebut dengan ucapan yang selanjutnya ia lontarkan. “Gak boleh?”

“Nyebut, Pak. Kalian ‘beda’. Lo dari SMA gak tobat-tobat ih ngecengnya.”

“Ya, biarin. Ngeceng doang juga, sewot mulu lo.”

“Siapa yang sewot, ih. Fitnah lo mah.”

Sarah yang hendak berjalan agak menjauhi Harry—karena akan segera keluar dari minimarket memicingkan matanya ketika ia sadar siapa sosok yang sedaritadi tengah berdiri dibelakang Harry. Tuh, kan. Sarah ini memang tidak peka dengan sekitarnya, dia bahkan tidak tahu kalau sedari tadi ada sosok jangkung yang tengah memandangi mereka dengan tatapan tak terbaca.

Sial, itu Joseph.

Sarah mengerjapkan matanya kaget, tapi ia tak menunjukkannya. Lagi, lelaki itu kepergok tengah memandangi Sarah. Tapi, justru yang dipandangi yang terkejut ketimbang yang kepergok.

“Eh, Jo. Gue kira lo udah ngambil minumnya, malah berdiri disitu.” Harry bicara dengan Joseph, mengartikan bahwa pandangan dihadapannya saat ini adalah ‘bahwa Harry kenal Joseph’ atau ‘Harry temannya Joseph’.

Ah, WHYYY? Sarah ingin berteriak sambil menjambak rambutnya. Tapi tidak bisa, karena sekarang kerudungnya sedang rapi.

Kenapa dunia ini sempit, sih? Kenapa Harry kenal Joseph?

Hah, tentu saja. Mereka sekelas di kelas BK. Mereka juga mungkin teman satu gereja? Ya, tidak ada yang menutup kemungkinan.

Setelah memberi lirikan terakhir pada Sarah yang mematung, Joseph segera beranjak menuju kulkas tempat minuman berada.

Tidak mau mengulur waktu untuk kabur, Sarah segera memberi salam perpisahan pada Harry. “Gue duluan ya, Har.”

“Iya, Sar. Jangan lupa loh, salam ke si cantik.”

“Kagak.”

+

Pagi itu Sarah ada kuliah jam 09.00 pagi.

Sarah sengaja pergi jam 8 dari kosannya yang memang berjarak cukup dekat—hanya butuh 10 menit agar ia bisa sampai ke kampusnya dengan berjalan kaki— untuk sarapan terlebih dahulu di kantin kampusnya.

Ia makan sendirian di kantin dengan pikiran yang melayang pada mimpi semalam.

Tadi malam, ia mimpi kalau ia bertemu dengan Joseph di perpustakaan. Lalu mereka mengobrol tentang sesuatu, yang bahkan Sarah tidak dapat ingat apa. Yang ia tahu, ia tertawa bahagia di mimpi itu, begitu juga dengan Joseph.

Sarah tidak mengerti, kenapa ia bisa memimpikan lelaki yang bahkan tidak pernah mengobrol dengannya satu kalipun. Apa ini karena ia memikirkan lelaki itu beberapa hari belakangan ini? Tapi, kenapa? Kenapa harus Joseph?

Kenapa tidak yang lain saja! Siapapun asal bukan Joseph.

Sarah tidak mau nantinya perasaan yang ia sangkal-sangkal ini malah akan terus tumbuh dan membelenggunya dalam perasaan menyenangkan, juga menyakitkan di saat bersamaan.

“Hei, boleh ikut duduk disini?”

Sarah yang tengah mengunyah nasinya dengan pipi yang menggembung sebelah mengangkat kepalanya, membuat ia menatap si sumber suara.

Nafasnya tercekat detik itu juga. Ia rasa, ia bisa saja menyemburkan seluruh isi mulutnya kepada lelaki itu, jika saja ia tidak menahan keinginannya tersebut.

Tanpa perlu jawaban Sarah—yang masih melongo— lelaki itu, yang merupakan Joseph, duduk dihadapan Sarah dengan satu sembul senyuman samar yang masih tertangkap oleh netra Sarah.

Si sial ini, kenapa ia tersenyum? Kenapa lelaki ini tersenyum, membuat jantung Sarah terpacu cepat dan darahnya berdesir tidak karuan.

Berusaha menyembunyikan perasaan aneh itu, Sarah lanjut mengunyah makanannya tanpa memperdulikan lelaki yang mulai menyantap sarapannya pagi ini.

“Nama kamu Sarah, ‘kan?”

Oh, dasar. Mau sampai kapan lelaki ini mempermainkan detak jantung Sarah yang makin menggila? Sedetik jantungnya terpacu, sedetik lagi jantungnya berdetak normal, kemudian kembali, jantungnya terpacu.

Sarah menelan makanannya. Menarik nafasnya samar, kemudian mengeluarkannya perlahan. Ia mencoba menetralkan suasana saat ini.

“Iya.”

“Aku Joseph. Kita sekelas di kelas BK.”

Sarah mengangguk kikuk, “Iya, tau.”

Pertama kalinya. Ini pertama kalinya bagi Sarah melihat lelaki itu tersenyum, tidak samar seperti sebelumnya, tapi lelaki ini benar-benar tersenyum. Selama beberapa minggu lelaki itu terus memandanginya dengan tatapan datar, kini lelaki ini menunjukkan sisi aslinya yang tanpa Sarah sadar dalam sepuluh detik terakhir ini, langsung ia kagumi.

“Oh, udah tau? Kirain enggak tau.” Lelaki itu cengengesan setelah meminum air mineralnya.

“Apa?”

“Enggak. Cuman, kalo aku perhatiin, kamu enggak pernah konsen kalo di kelas. Biasanya juga tidur, ‘kan?”

Astagfirullah. Sarah istighfar dalam hati. Diam-diam ia ingin mengelus dadanya, agar Joseph tahu kalau ia sedang dirundung keterkejutan yang luar biasa memukul jantungnya seperti dipukul palu godam.

“Eh, apaan sih.” Sarah tertawa canggung setelah mendengar penuturan lelaki tersebut. Ia tidak tahu harus membalas apa untuk menanggapi ucapan yang dilontarkan Joseph barusan.

“Kamu kenal Harry?” Tanya Joseph tiba-tiba.

“Iya, kenal.”

“Oh, kok bisa kenal?”

“Temen satu SMA. Waktu kelas dua belasnya juga sekelas.”

“Oh, pantes. Lanjut makannya dong. Kok berhenti?”

“Eh, iya.” Tanpa sadar Sarah daritadi berhenti makan, ia malah memegangi sendoknya tanpa menyuapkan apapun kedalam mulutnya.

+

Sarah Anandhia: Gaesssss parah ini

Sarah Anandhia: P

Sarah Anandhia: P

Riska Amelia: Apa nyet

Ocha: Ih, bete

Ocha: Gue lagi makan nih

Ocha: Ntaran ajalah curhatnya

Sarah Anandhia: Kagak bisa. Urgent ini mb

Riska Amelia: Apaan dah

Sarah Anandhia: Masa tadi si itu ngajak gw ngobrol

Riska Amelia: Siapaaa

Sarah Anandhia: Si ituuuu

Sarah Anandhia: Si coeok yg wkt itu gue ceritain

Sarah Anandhia: *cowok

Riska Amelia: HAH

Riska Amelia: Kok bisa?

Riska Amelia: Bener naksir lu dia jangan-jangan

Sarah Anandhia: Kagak tau gw juga

Sarah Anandhia: Deg-deggan abis. Gila. Parah.

Sarah Anandhia: Berasa jantungan gw

Ocha: SERIUS

Ocha: Ngobrol gmn

Sarah Anandhia: Gitulaaah, nanya gue namanya sarah apa bukan, terus nanya gue kenal sama harry, terus dia blg dia merhatiin gue di kelas.

Sarah Anandhia: Gila apayak

Riska Amelia: Wkwkwkwkwk

Riska Amelia: Naksir ituma, yakin gua

Sarah Anandhia: Wkwk bodo

Sarah Anandhia: Pusing gw

Ocha: Kok harry?

Sarah Anandhia: Ya mereka sekelas juga di kelas BK

Ocha: Lo suka sama dia?

Sarah Anandhia: Sapa?

Ocha: Harry

Ocha: YA SI COWOK ITU LAH OGEB

Sarah Anandhia: Ohhh

Sarah Anandhia: Kagak tau 😦

Sarah Anandhia: Gak mau gua

Riska Amelia: Lah, napa?

Sarah Anandhia: Ih, kan kata gw juga beda

Riska Amelia: Oh

Riska Amelia: Saya lupa fakta tersebut

Ocha: Najis lo mel

Ocha: Trs skrg lo mau gmn?

Sarah Anandhia: Gmn apanya?

Ocha: Lo mau naksir dia aja? Tadi lo bilang lo deg-deggan pas ngobrol sm dia

Sarah Anandhia: ENTAH CHA

Sarah Anandhia: BINGUNG PARAH

Sarah Anandhia: Gue gak mau. Tp kenapa gue gini yak.

Riska Amelia: Semua keputusan ada ditanganmu

Riska Amelia: Kita disini hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu 🙂

Riska Amelia: Saraaaapp gila Bahasa gue udah keren blm gengzz?

Ocha: Bodo. Gak mudeng.

Sarah Anandhia: Kagak bisa lu serius sehari aja mel. Capek gw.

+

Hari ini Sarah ada kelas jam 10.20.

Dan hari ini adalah mata kuliah Bimbingan dan Konseling.

Sarah sedari tadi ia baru keluar dari kamar kosnya, langsung merasakan sekujur tubuhnya di banjiri keringat dingin. Sensasi tersebut begitu asing juga familiar disaat yang bersamaan. Ia merasa senang bisa bertemu dengan Joseph hari ini, tapi ia tahu, dalam dirinya menolak hal tersebut. Ia ingin menghindar, ia tidak mau perasaannya terlanjur jatuh ke jurang yang terlalu dalam, ia tidak mau perasaan bersalah menggorogoti dirinya seumur hidup, ia tidak mau.

Mungkin ia karma. Dulu, ketika SMP, ia menertawakan temannya yang berpacaran dengan lelaki yang berbeda keyakinan. Ia berpikir saat itu, semuanya tidak rasional dan terlalu mengada-ngada. Ia juga berpikir, kenapa dari sekian banyak lelaki di sekolahnya yang satu keyakinan dengan temannya tersebut, ia malah memilih lelaki itu.

Sekarang, Sarah merasakannya. Ia merasakan perasaan yang tidak seharusnya tumbuh dalam dirinya malah berkembang setiap harinya. Seharusnya ia tidak takabur.

Ada yang salah dengan dirinya.

“Eh, disini kosong ‘kan?”

Sarah terlonjak ketika ia tengah menopang dagunya dengan kedua lengan di meja. Ia menoleh ke sumber suara, mendapati sosok lelaki berkulit sawo matang itu lagi. Joseph tersenyum menampilkan rentetan giginya yang putih.

Semakin dipikir, Sarah semakin menilai kalau lelaki itu sangat cocok ketika tersenyum seperti itu. Ternyata Joseph lelaki yang ceria dan humble.

Sarah mengangguk tanpa suara, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, kemudian mengerutkan keningnya keheranan. Padahal masih banyak bangku kosong di kelas ini, kenapa Joseph harus duduk disampingnya?

Sarah tidak tahu apa ia harus merasa sial atau malah beruntung.

“Kamu kok kalo di kelas ini sendirian mulu?” Joseph kembali bersuara, seakan tidak mau suasana diantara keduanya hening meski hanya beberapa detik saja.

Sarah membuka mulutnya, hendak menjawab, tapi kemudian ia kembali merapatkan mulutnya. Ia memutuskan untuk menggeleng, “Gak tau.”

Joseph mengangkat sebelah alisnya, “Gak tau?” disusul dengan senyumannya.

Wow, Sarah tidak tahu kalau lelaki itu mudah sekali tersenyum.

“Gak ada temen?”

“Mungkin?”

“Kok mungkin sih.” Lelaki itu tertawa, “Mau aku temenin gak?”

Sarah menoleh kearahnya, kemudian tertawa pelan. Jarak mereka ternyata cukup dekat saat ini, mungkin hanya sekitar tiga puluh senti lebih sedikit?

“Apaan sih.”

“Eh, serius.”

“Kamu ‘kan udah punya temen sendiri, tuh si Harry.” Sarah menunjuk lelaki yang tengah duduk di bangku paling depan sambil mengotak-ngatik ponselnya. “Kenapa kamu malah duduk disini?”

“Karena suka?”

Bukannya menjawab, lelaki itu malah balik bertanya membuat nafas Sarah sesak dan bibirnya pegal ingin tersenyum. “Aneh banget.” Kata Sarah pada akhirnya.

“Apa?” Joseph tersenyum, “Kamu ‘kan sendirian. Mending nemenin kamu daripada si Harry. Bosen sama dia mulu.”

“Bulan depan juga UAS ah, bentar lagi juga keluar dari kelas ini. Lagian, di kelas lain juga aku tuh udah biasa sendiri. Paling kalau di kelasnya ada Bella, baru aku gak sendiri.”

Joseph mengendurkan senyumannya, “Oh iya, UAS.” Ia menghela nafas seperti sedih. “Eh, tapi entar kalo ada mata kuliah yang sama lagi, bisa kok diusahain sekelas.”

Sarah tidak menanggapinya dan hanya mengangguk-ngangguk tidak jelas, Joseph rupanya masih berusaha mengajak Sarah ngobrol meski gadis itu tidak menunjukkan antusiasme seperti Joseph pada gadis itu.

“Kamu suka sendirian, ya?”

“Enggak juga.”

“Terus kenapa kalo aku perhatiin, kamu sendirian mulu kemana-mana?”

“Enggak juga.” Ujar Sarah sekali lagi, kemudian menoleh pada Joseph, “Mungkin kamu tiap lagi merhatiin aku, akunya lagi sendirian mulu.”

Joseph menyengir, “Makanya, aku temenin kalo kapan-kapan aku liat kamu sendirian.”

Ah, sial. Perasaan bergemuruh macam apa ini.

Ini sudah jelas salah, man.

+

Josephine. C added you as friend

Josephine. C: Sar

Ketika Sarah baru saja beres mandi dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia segera meraih ponselnya yang bergetar dua kali di meja dekat wastafel.

Ia tidak tahu ketika ia menekan tombol kunci agar layarnya menyala, notifikasi itu yang pertama ia dapatkan.

Ia nyaris menjerit, bahkan melemparkan ponselnya ke karpet ketika melihat apa yang ia lihat di layar ponselnya.

Cukup jelas, dan cukup bisa membuat Sarah mengambil kesimpulan yang paling ingin ia sangkal seumur hidupnya. Tapi, pada akhirnya harus ia terima dengan lapang dada.

Kenapa? Kenapa harus Joseph?

Lagi-lagi pertanyaan tersebut bermunculan dalam kepalanya seakan membuat isinya akan meledak kapan saja.

Sarah bingung, dilemma, pusing. Ia merasakan sensasi itu lagi, sensasi menggelikan yang menyenangkan tapi juga menyesakkan dadanya sehingga ia sulit bernafas.

Ia tahu ini salah, tapi ia malah menghadapi kesalahannya tersebut.

Sarah Anandhia: Kenapa?

Josephine. C: Eh, dibales jg akhirnya

Josephine. C: Lagi ngapain?

Sarah Anandhia: Baru beres mandi

Sarah Anandhia: Lo?

Sarah Anandhia: Eh, sori. Maksudnya, kamu?

Josephine. C: Eh santai aja wkwkwk

Josephine. C: Harry jg sering ‘elo-guein’ aku, tapi aku santaaai

Sarah Anandhia: Sori ya, takutnya kek yg songong gt

Josephine. C: Gapapa ihhh

Josephine. C: Gemes kamu bilang ‘sori’ ke aku

Sarah Anandhia: Apaan dah wkwk

Josephine. C: Aku lagi ngerjain tugas statistik ih

Josephine. C: Bisa bantuin gak? Susah bgt

Josephine. C: Kata harry kamu kan jago eksaknya

Sarah Anandhia: Hahaha

Sarah Anandhia: Nanya-nanya aku ke harry ya?

Sarah Anandhia: Kepo bgt mz ttg aku? Wkwkwk

Sarah Anandhia: Iya mayan lah statistika rada bisa

Josephine. C: Eh, ketauan

Josephine. C: Yaudahlah, nasi sudah menjadi tai

Josephine. C: Aku pap fotonya yak?

Sarah Anandhia: Apaan sih lo tai tai wkwkwk

Sarah Anandhia: Eh kamu mksdnya

Josephine. C: Dibilangin santai aja napa wkwk

Kemudian percakapan itu terus berlanjut hingga larut.

+

Orang bilang, ketika kita sedang menyukai seseorang, semuanya terasa begitu membahagiakan. Bahkan hal-hal sederhana yang dilakukan orang spesial kita semacam berkedip saja, terlihat begitu mengagumkan.

Perasaan yang tumbuh dan dibiarkan berkembang dalam diri seseorang, pada akhirnya akan kembali pada keputusan masing-masing. Apakah kita akan menyukai perasaan tersebut, atau justru membencinya?

Tapi, Sarah tidak bisa mengambil keputusan.

Ia tidak tahu apakah keputusan terbaik baginya adalah untuk terus melanjutkan perasaannya, atau justru berhenti bahkan sebelum ia sempat memulai.

Prinsip hidup Sarah itu simple sebenarnya. Kalau untuk urusan perasaan, ia hanya berpikir “Ketika kita mulai menemukan orang yang pas untuk kita, kemudian kita nyaman kepadanya, itu berarti, kita sudah melabuhkan kapal kita pada suatu pulau yang tepat. Dan ketika kita diberi kesempatan untuk melabuhkan pulau kita, disitulah kita tahu kalau orang tersebut adalah orang yang tepat untuk kita.”

Sekarang, Sarah sudah menemukannya.

Ia menemukan sosok yang membuatnya nyaman bahkan hanya ketika melihat lelaki itu tersenyum kepadanya. Ia sudah menemukan tempatnya untuk berlabuh, ia juga sudah diberi kesempatan dan jalan yang lebar. Tapi, apakah orang itu adalah orang yang tepat? Atau justru ia malah berlabuh di pulau yang salah, meski ia berpikir bahwa ia sudah merasa nyaman.

Lalu, apa arti dari pertemuan ini kalau semuanya tidak ada dalam satu garis takdir?

Apakah ini hanya sebuah permainan untuk menguji keimanannya? Menguji akhlak Sarah yang memang masih bobrok sedari dulu?

Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Sarah bagaikan ditenggelamkan kedalam laut berair dingin. Ia sesak, ia kedinginan, ia tidak tahu harus melakukan apa selain meminta pertolongan. Tapi, yang menjadi pertanyaan disini, siapa yang akan menolongnya selain dirinya sendiri?

Sarah sadar, hanya dirinya yang tahu jawaban dari segala pertanyaan yang ada di otaknya.

Jawabannya hanya satu, dan tentu sudah jelas.

Tapi, apa salah bila Sarah ingin sebentar saja menikmati momennya dengan lelaki itu, sebelum kemudian ia melepasnya jauh-jauh?

+

“Hai.”

Sarah menoleh, kemudian tersenyum pada si empunya suara. “Hai.” Balasnya.

Joseph berdiri disamping Sarah, membuat ia sadar betul kalau tinggi lelaki itu amat menjulang membuat ia harus menengadah ketika berbicara dengannya. Ujung kepala Sarah hanya sebatas bahu lelaki itu, yang menyadarkannya kenapa teman-temannya memanggilnya Minion.

“Ada kelas apa sekarang?” Joseph memecahkan keheningan ketika ia berdiri disamping perempuan yang tak kunjung membuka suara setelah mengatakan ‘Hai’. Ia ikut menunggu lift yang turun ke lantai satu untuk membawanya ke lantai lima gedung ini bersama Sarah.

Sarah menoleh sedikit, “Agama.” Kemudian menjawab dengan suara pelan.

Sarah dapat menangkap sedikit sinar yang redup dari mata lelaki itu, tapi hanya sedetik, kemudian lelaki itu kembali tersenyum kearahnya, membuat kedua bola matanya kembali bersinar. Sarah tanpa sadar mengagumi mata itu.

“Oh, semangat, ya!”

Sarah menyembulkan senyum tipis, “Kamu kelas apa?”

“Aku statistik. Makanya kemaren ‘kan nanya soal tugas!”

“Oh, iya.”

“Kapan-kapan ajarin lagi, yak!”

Sarah hanya mengangguk samar, tidak begitu menjanjikan.

“Eh, Jo!”

Joseph dibuat menoleh oleh suara bariton dibelakangnya, kemudian sadar kalau orang tersebut adalah Harry. Mereka bersalaman layaknya cowok kebanyakan.

“Eh, ada si Jayus juga!” Harry melirik Sarah yang tampangnya agak kusut pagi ini, kerudungnya juga seperti tidak niat ia pakai karena agak ‘menyon’ sana-sini.

“Lo kenapa deh, Sar?”

“Apaan?” Sarah menaikkan sebelah alisnya bingung, tidak menangkap arti dari maksud pertanyaan Harry barusan.

“Muka lo kusut pagi ini. Mau gue setrikain?”

“Gausah bacot pagi-pagi, Har.”

“Dih, PMS lo?”

“Berisik.”

Harry tertawa melihat wajah datar Sarah, entah kenapa tanpa sadar, itu sudah menjadi hobinya sejak SMA. Membuat Sarah emosi tidak ketulungan.

Disisi lain, lelaki yang memperhatikan obrolan singkat dan akrab dari kedua insan dihadapannya membuat ia dirundung perasaan kesal yang sudah ia ketahui apa itu. Ia sudah tidak asing dengan perasaan itu sejak empat bulan terakhir ia bertemu dengan gadis bernama Sarah ini.

Cemburu. Ia cemburu setiap melihat Sarah terlihat begitu akrab dengan teman-teman lelakinya, tapi tidak dengannya, yang bahkan baru berani mengajaknya mengobrol sejak minggu lalu.

Tanpa sadar, lengannya menarik lengan atas Sarah membuat perempuan itu menciptakan jarak dengan Harry.

Gadis itu menoleh heran kearahnya, Joseph juga tidak sadar dengan gerakan refleks yang baru saja terjadi pada tubuhnya.

Ia meringis malu, “Sorry, itu tadi ada serangga.” Oh, alasan bodoh macam apa itu, Joseph? Bahkan anak TK saja bisa menyadari kebohongan yang terlontar dari bibirnya.

Harry yang melihat adegan itu hanya mengulum senyum penuh arti.

+

Harry: Heh kampret

Harry: Lu mulai gercep ya sekarang wkwkwkwk

Josephine. C: Berisik

Josephine. C: Suruh siapa mancing

Harry: Apaan dah, org gw biasa ngobrol sm dia

Harry: Pren kita mah dari jaman bocil juga

Josephine. C: Y

Josephine. C: Trsrh

Harry: Ngambek si tai wkwkwkwk

Josephine. C: Menurut kamu si sarah mikirin apa ya ttg aku?

Josephine. C: Apa keliatan bgt?

Josephine. C: Eh, ya gpp sih keliatan bgt jg

Josephine. C: Mksd aku, dia gk bakalan risih gt?

Josephine. C: Apa dia bakal mau sm aku?

Harry: He busehhhhh

Harry: Nanya satu2 pret

Harry: Gk tau gua wkwkwkwk

Harry: Cari yg laen aja nape sih

Harry: Yg sama

Josephine. C: -____________-

Josephine. C: Kek yg gapernah naksir yang beda aja

Harry: Pernah gua

Harry: Tapi gapernah serius

Harry: Main2 doang juga

Josephine. C: Sakit kokoroku

Josephine. C: Knpsi ya Tuhan

Harry: Najis lo pake galau segala wkwkwkwk

Harry: Udeh cari yg lain

Harry: Gue tau si jayus itu lumayan oke dari fisik, tp lo tau kan iman kita beda coy

Harry: Gue tau jg, tau bgt malah si sarah itu baik bgtttt gila baik bgt meski keliatannya jutek dia itu baik terus care gt sama org

Harry: But, we need to know our own place jo

Harry: Jangan lupa diri

Josephine. C: Iya tau

Josephine. C: Dia itu bersinar banget gatau kenapa. Sekali liat, aku langsung tau dia itu org baik

Josephine. C: Knp sulit bgt ya harrrrrrrrr

Josephine. C: Gila galau bgt ini wkwkwkwk

+

Sarah mulai lelah.

Ia mulai lelah dengan perasaannya yang membludak tiap kali berbicara dan bertemu dengan orang itu.

Joseph terlalu bersinar. Ia terang dan matanya selalu berbinar tiap kali berbicara dengan Sarah.

Sarah tidak bodoh. Ia tahu. Ia tahu betul perasaan apa yang lelaki itu rasakan padanya. Ia juga tidak mau membohongi diri dengan perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini.

TAPI.

Ya Allah, kenapa harus selalu ada ‘Tapi’ disetiap emosi yang ingin Sarah ungkapkan.

‘Tapi’ itu selalu menjadi pengecualian disetiap ungkapan perasaan Sarah yang awalnya positif, dan malah berubah menjadi negatif.

Semuanya terlalu membuat pusing otak dan pikiran Sarah beberapa hari terakhir, ia begitu menikmati setiap momen yang terjadi antara dirinya dan Joseph. Semuanya mengalir layaknya air, begitu lancar dan tenang. Tapi juga mematikan.

Sarah Anandhia: 😦

Sarah Anandhia: Galau ajg parah

Sarah Anandhia: Gue kudu gmn gaes

Ocha: Knp

Ocha: Galau mulu mb gk bosen?

Sarah Anandhia: G

Riska Amelia: Bodo:)

Sarah Anandhia: Bngst

Ocha: Languange teman-teman

Sarah Anandhia: Pen nangis ih

Riska Amelia: Whaaaat saarrrr

Riska Amelia: Sejak kapan seorang sarah nangisin cowok yalorddd gak level

Sarah Anandhia: Gue juga manusia 🙂

Ocha: Lo sbnrnya udah tau jawabannya sar

Ocha: Gausah terus menyangkal

Riska Amelia: Iya, kita bukan lo, dan lo bukan kita

Ocha: Paansi mel gausa jayus

Ocha: Masi pagi nih

Riska Amelia: B aja 🙂

Riska Amelia: Cha meet up yuk abis kelas

Riska Amelia: Lo beres jamber?

Ocha: Gak ngampus gue

Ocha: Ke humz aja

Sarah Anandhia: Ga ngajak

Sarah Anandhia: Gak pren 🙂

Riska Amelia: Yakali nyet Bdg-Jkt hari ini:)

Sarah Anandhia: Makasi advice kalian, sangat membantu

Sarah Anandhia: 🙂

Riska Amelia: Gausa sarkastik 🙂

+

“Hai.”

Sapaan itu kembali menyapa Sarah setelah beberapa hari terakhir. Dan perasaannya selalu menggebu setiap kali bertemu dengan Joseph. Si pemilik mata dengan binar kebahagiaan itu.

Sarah tersenyum menanggapi sapaan tersebut. Joseph kemudian mengambil tempat duduk di depan Sarah, lalu membalikkan bangku kuliahnya itu.

Ready?”

“Apaan?”

“UAS hari ini.” Joseph menjelaskan.

Sarah tertawa pelan, kemudian menggeleng, “Malesin. Matkulnya aja ngebosenin dari dulu.”

“Kalo entar gak bisa, tanya kakanda aja ya?”

“Kakanda?”

“Aku!” Joseph membuat gestur ala ceribel dengan lengannya, membuat Sarah tergelak dibuatnya. Padahal tidak lucu, tapi entah kenapa ketika yang memperagakannya Joseph, cowok itu malah terlihat seribu kali lebih konyol dengan tampang gantengnya yang polos.

“Emang kamu belajar?”

“Weis!” Joseph mengibaskan lengannya, “Jangan salah! Aku ini mahasiswa yang dapet nilai kuis 100 setiap waktu di matkul ini. Jadi gak usah khawatir! Percayakan semuanya pada Josephine!”

Sarah mencibir, “Sombong amat, Pak.”

“Biarin, yang penting ganteng.”

“Dih.”

“Ngaku aja kali, gak usah malu-malu tai gitu.”

“Gak.”

Joseph tertawa melihat ekspresi datar Sarah yang menandakan ia agak bete, entah kenapa Joseph selalu gemas tiap kali melihat pemandangan tersebut, membuat ia tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipi tirus gadis dihadapannya.

Sarah mengerjap kaget ketika Joseph menyentuh pipinya kemudian menariknya pelan.

“Kamu lucu. Udah ah, nanti aku makin baper.” Tanpa menunggu reaksi Sarah, lelaki itu malah segera membalikkan kursinya kedepan. Bertepatan dengan itu, seorang dosen masuk untuk membagikan soal UAS hari ini.

+

Sarah Anandhia: DIA CUBIT PIPI GUE

Sarah Anandhia: AJG KAN?

Ocha: DEMI APA

Riska Amelia: GBLK 🙂

Riska Amelia: Iya tenggelam aja lu di rawa2, mati udah, tau gua lu hampir pingsan pan

Sarah Anandhia: Cubitan ini pembodohan

Sarah Anandhia: Pembodohan bikin makin cinta. Bngst.

Ocha: IDUP LO DRAMA BGT WKWK

+

Josephine. C: Apa aku tembak ajaya dia?

Harry: JAN GILA NYET

Harry: Cari mati lu?

Josephine. C: Makin sayang tiap liat dia

Harry: Aduh

Harry: Malah gue yg baper

+

Cinta itu tidak ada yang salah.

Yang ada itu adalah kurang tepat.

Kadang, cinta itu bisa right moment, but bad timing.

Kadang juga bisa right time, but wrong person.

Dan mungkin, cinta Sarah dan Joseph saat ini tengah berada di opsi kedua.

Mereka sama-sama tahu tanpa harus menjabarkan. Mereka sama-sama mengerti tanpa harus melisankan.

Mereka terjebak dalam satu kubikel sempit dengan pasokan oksigen yang minim. Mereka sesak ketika mereka berdekatan, mereka lega ketika berjauhan, tapi jusru rindu yang muncul dan menyusup kedalam jiwa keduanya. Menggugah perasaan-perasaan lain yang makin mengekang mereka dalam kebahagiaan semu.

Tidak ada yang tahu kapan seseorang akan jatuh cinta, dan dengan cara apa mereka akan jatuh cinta. Termasuk Sarah dan Joseph.

Mereka tidak tahu, bahkan hanya dengan mengagumi binar mata satu sama lain, akan membuat mereka saling mengikat dalam cara mereka masing-masing.

Jawabannya sudah berada didepan mata Sarah dan Joseph, dan mereka tidak buta.

Mereka memang tidak bisa bersatu, tanpa ada satu orang diantara mereka yang mau mengalah.

Dan mereka tahu, dari keduanya tidak akan pernah ada yang mengalah.

+

Josephine. C: Sar

Josephine. C: Kok sakit ya

Josephine. C: Ngebayangin kamu kedepannya bakal senyum bukan buat aku, tapi buat cowok lain

Sarah Anandhia: Jo

Sarah Anandhia: Iya sakit

Josephine. C: Kita bahkan belum pernah memulai

Sarah Anandhia: Iya

Sarah Anandhia: Maaf

Josephine. C: Gaada yg salah disini

Josephine. C: Gak usah minta maaf

Sarah Anandhia: Gaktau, pgn minta maaf aja

Sarah Anandhia: Sedih aja

Josephine. C: Jangan nangis

Josephine. C: Aku sayang kamu

Sarah Anandhia: Iya, aku juga

Josephine. C: Block aku sar

Sarah mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.

Pada akhirnya, Sarah menangisi seorang lelaki, pertama kali seumur hidupnya.

Kisah cintanya se-sederhana itu, juga se-tragis itu.

Kemudian ibu jari Sarah menekan tombol blocked di option atas chatroom, dan semuanya berakhir sampai disitu.

Ia melempar ponselnya kesembarang arah, kemudian menutup matanya dengan lengan kanannya. “Bodoh ah. Move on, Sar. Let it go.”

+

Ini bukan kali pertama Joseph melihat sosok mungil itu tertidur di pelajaran BK. Sebelumnya, minggu lalu ketika pertemuan pertama kelas ini dimulai, ia juga mendapati sosok dengan kerudungnya itu mengambil tempat dipojok ruangan, tidak menghiraukan bangku-bangku kosong yang berjejer lebih dekat dengan meja dosen.

Gadis itu memojokkan diri, kemudian menelungkupkan wajahnya di meja tanpa memperdulikan bentuk hijabnya yang jadi tidak rapi.

Setiap Joseph perhatikan, gadis itu tidak pernah terbangun meski dosen sudah memasukki ruangan dan mulai menerangkan pembelajarannya yang memang agak membosankan. Gadis itu baru sadar ketika salah satu mahasiswi yang duduk disampingnya menggoyangkan lengannya agar ia terbangun. Dengan muka bantal yang masih melekat, ia hanya akan melenggang keluar dari kelas tanpa memperhatikan sekitarnya.

Selama berminggu-minggu Joseph memperhatikan gadis aneh itu. Untuk apa gadis itu datang ke kampus kalau ia hanya akan tidur di setiap mata kuliah? Lebih baik gadis itu bolos saja kalau bahkan datang ke kampus pun tidak membuat ia mendapat ilmu apapun.

Sampai suatu hari, ia tak sengaja bersenggolan dengan perempuan itu di lift yang penuh, lengannya dan lengan gadis itu bergesekan tanpa sengaja, membuat Joseph entah mengapa merasakan perasaan aneh itu lagi.

Gadis itu tidak menghiraukannya, bahkan seakan tak sadar dengan keberadaan Joseph yang berdiri tinggi menjulang disampingnya. Menengokpun sepertinya ia tak mau repot-repot.

Tanpa sadar, seiring berjalannya waktu, memperhatikan gadis berkulit kuning itu sudah menjadi kebiasaannya, atau lebih parah, itu semua bisa disebut sebagai hobi.

Tiap kali Joseph menangkap sosok itu dengan kedua netranya, ia akan refleks menahan senyumannya yang seperti orang gila. Entah kenapa, gadis itu begitu bersinar di matanya, seakan memancarkan aura yang menarik perhatian Joseph, menyalurkan perasaan senang yang tak dapat ia pahami kemudian membuat dadanya membuncah setiap saat.

Suatu hari, ia melihat gadis itu berbicara dengan Harry, membuat ia melonjak kesenangan begitu tahu kalau ternyata Harry mengenalnya. Ia bisa tahu nama gadis itu. Selama perkuliahan, dosen tidak pernah mengabsen, ia hanya membagikan absen untuk di tanda tangani mahasiswanya, sehingga Joseph tidak bisa tahu nama gadis itu karena absennya di gilirkan secara acak.

“Yang tadi siapa?”

“Cewek tadi maksud lo?”

Joseph mengangguk semangat, “Si Sarah. Teman SMA gue. Kenapa?”

Joseph cengengesan kemudian merangkul pundak Harry dengan akrab, “Aku naksir. Kenalin dong!”

“Gile aje lu nyet!”

“Namanya cantik ih, kayak orangnya.”

“Lu salah minum obat, yak? Jangan lupa minggu ini kita ke Gereja bareng!”

“Berisik.”

Dan semuanya berawal disitu, dimana Joseph mengakui perasaan anehnya terhadap Sarah. Yang selanjutnya mengantarkan ia pada momen dimana Sarah menyadari keberadaanya, menyadari kehadirannya ketika tak sengaja kedua netra mereka bertubrukan, menyalurkan perasaan asing pada satu sama lain.

Dan disanalah, ia mulai memberanikan diri, mengajak gadis yang selama ini ia kagumi untuk saling berbagi konversasi pendek, namun berkesan.

Joseph sayang pada Sarah. Dan sepertinya, ia takkan bisa menghilangkan perasaannya itu dalam waktu dekat ini. Perasaannya ternyata tidak sebercanda itu.

===

Tbh, ini cerita berdasarkan kisah cinta monyet aku pas SMA lho………. HAHAHAHA

Sakit rasanya pas putus itu, tapi gimanapun juga semuanya emang harus diakhiri yak wkwkwkwkwkwk

Salam damai dari aku :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s