What’s Wrong?

PicsArt_08-16-08.10.40.jpg

Staring: NCT’s Jaehyun – DIA/IOI’s Chaeyeon | Genre: Fluff, Humor, College-Life | Vignette

Terima kasih kepada Jung Jaehyun, pembalasan dendamnya bahkan lebih manis dari gula-gula kapas.

Ada apa dengan Jung Jaehyun?

Ini pertanyaanku setiap harinya ketika tak sengaja lelaki Jung itu berpapasan denganku di kampus beserta  lirikan tajamnya yang sanggup membuat bulu kudukku merinding.

Sumpah. Aku berani bersumpah kalau aku benar-benar tidak pernah punya masalah apapun dengan lelaki dari jurusan teknik mesin tersebut.

Ups, oke. Mungkin pernah.

Well, ya, pernah. Hanya satu kali, sih, dan sudah lamaaaaa sekali, kalau kalian mau tahu.

Pertemuanku dengan lelaki itu adalah saat ospek universitas tahun lalu, ketika tanpa sengaja, aku dari jurusan sastra korea, berada di dalam satu kelompok dengan beberapa mahasiswa dari jurusan lainnya. Termasuk Jung Jaehyun, yang merupakan salah satu mahasiswa dari fakultas teknik.

Aku tidak tahu apa karena anak teknik mesin itu memang kaku, dan terlalu serius, atau karena memang hampir semua mahasiswanya lelaki, tapi aku berani bersumpah, dia itu agak garing dan receh.

Di hari terakhir ospek universitas, ada sesi dimana seluruh anggota kelompok bisa sharing mengenai keluh kesahnya selama ospek, atau sharing tentang unek-uneknya pada kakak tingkat.

Aku, Jung Chaeyeon, adalah seseorang yang banyak diamnya, sedikit bicaranya. Tapi, bukan berarti pendiam-pendiam begini, aku tidak memperhatikan apa-apa saja yang mereka bicarakan. Aku memperhatikan, kok. Hanya saja, aku tidak banyak berkomentar.

Selain itu, aku juga senang memerhatikan tingkah laku orang-orang. Hampir semua anggota kelompokku, aku perhatikan tingkah dan polah kelakuannya selama beberapa hari terakhir. Dan, ada seseorang yang menurutku, mirip sekali polah tingkahnya dengan kepribadianku.

Kau tahu dia siapa? Yea, dia Jung Jaehyun. Yang mengejutkan, marga kita sama! Dan, kita tidak terlalu banyak bicara seperti orang lainnya.

Suatu waktu, pada sesi sharing tersebut, Jaehyun seperti memaksakan diri untuk bergabung dalam obrolan dengan melemparkan beberapa candaan, —yang menurutku, maaf-maaf saja ya, tapi ini fact— yang luar biasa garingnya. Setiap dia nimbrung, bawaannya malah jadi tidak nyambung, dan bagiku, itu nyeleneh.

Selain itu, dia juga senang sekali memotong pembicaraan orang dengan cara masuk kedalam obrolan ketika orang tersebut bahkan belum selesai bicara.

Aku, tidak suka sekali dengan orang yang seperti itu. Menurutku, Jaehyun seperti menunjukkan sisi lain dari dirinya yang sebenarnya bukan dirinya. Kau mengerti maksudku, ‘kan?

Menurut logikaku sih, Jaehyun itu sedang dalam keadaan kepepet ingin cari teman, dengan menunjukkan kesan dirinya yang berbeda kepada orang lain di hari terakhir ospek. Tapi, jatuhnya malah maksa.

Karena tidak tahan dengan ocehan, dan candaan recehnya yang tiada henti, aku dengan sangat berani menyela. Mungkin agak kasar, tapi, aku ini memang senang sekali bicara jujur. Karena, bukankah jujur itu perilaku terpuji?

“Jung Jaehyun, kamu kalau memang enggak bisa bercanda, enggak usah maksa. Dan, please, jaga sopan santun, ya. Enggak boleh memotong pembicaraan orang lain.”

Well, aku tahu itu kasar dan terlalu to the point. Tapi, aku benar-benar muak dengan ocehannya. Maksudku, ia bisa mendapat teman dengan menjadi dirinya sendiri, kenapa harus menjadi orang lain?

Dan setelah ospek berakhir, kemudian perkuliahan mulai berjalan normal, aku dihadapkan dengan masalah yang, ya, cukup beruntun lah.

Awalnya, aku tidak pernah mengira ucapanku tempo hari bakal berakibat menjadi perasaan sakit hati Jung Jaehyun yang berkepanjangan. Maksudku, dia lelaki, dan anak teknik mesin (tidak tahu juga kenapa aku selalu menyangkut-pautkannya dengan ‘anak teknik mesin’), bukankah hatinya harusnya tahan banting? Tapi, dia jatuhnya malah seperti punya dendam kesumat kepadaku.

Aku sih, tidak apa kalau dia mau membalasku satu kali saja. Toh, aku hanya berbuat kesalahan sebanyak satu kali.

Tapi, si menyebalkan itu, malah terus, secara beruntun, cari masalah denganku.

Pembalasan dendam pertamanya adalah ketika tahun lalu, dia dengan sengaja bicara kepada beberapa teman sekelasku, dan mengatakan kalau aku itu senang sekali bicara seenaknya. Katanya, aku ini kalau bicara tidak disaring dulu, dan ia bilang jangan pernah tertipu dengan topeng diwajahku. Aku tidak sebaik kelihatannya. Begitu katanya.

Aku harus meralat, kalau aku itu bukan bicara seenaknya, tapi aku itu orang yang jujur. Aku tidak tahan kalau menahan unek-unekku sendiri, jadi aku jujur saja. Tidak disangka, karena ucapan Jaehyun tersebut, beberapa teman sekelasku mulai bicara di belakangku, dan mengatakan kalau apa yang Jaehyun bicarakan itu benar. Salah satu dari mereka adalah korban dari kejujuranku, kalau kau ingin tahu.

(Ya, aku sih merasa harus jujur. Ia bertanya padaku tentang bagaimana cara ia berpakaian, dan aku jawab, agak norak. Eh, dia malah marah.)

Pembalasan dendam selanjutnya adalah, (lagi-lagi) ketika dengan sengaja ia menyandung kakiku ketika aku tengah membawa nampan di kafetaria. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, aku tidak perlu menceritakannya, ‘kan?

Dan seterusnya, dan seterusnya. Sering sekali, dan terlalu banyak, sampai aku selalu bertanya setiap harinya (seperti pembahasanku diatas) ‘Ada apa dengan Jung Jaehyun?’

Maksudku, oke, aku tahu aku salah karena menyemprotnya dengan ‘agak’ kasar kala itu. Tapi, apa harus dibalas seperti ini? Bagiku, sih, ini keterlaluan. Dan perlu aku tekankan, aku ini perempuan tulen, lhoh.

Dalam satu tahun, sudah terlalu banyak aksi-aksi pembalasan yang ia lakukan padaku. Sampai aku ingin sekali marah, tapi aku ingat kembali, aku memang awalnya yang ‘agak’ salah, dan lelaki itu pasti membalikkannya padaku ketika aku meladeni aksinya tersebut. Macam boomerang.

Jadi, begitulah. Setiap minggunya, atau kadang setiap bulannya, ia melakukan hal-hal berupa pembalasan yang memuakkan.

Kalau tidak melakukannya, ketika berpapasan ia akan memandangiku dengan pandangan dendam yang luar biasa membuatku merinding.

Hidupku sepertinya tidak bisa tenang sehari saja selama satu tahun ini.

Satu kali, pernah aku dibuat menangis oleh Jung Jaehyun ketika (tentu saja) dengan sengaja ia menyembunyikan tugas praktikumku yang merupakan deadline (dengan menyuruh salah satu karibnya yang satu jurusan denganku) sehingga aku harus mendapat ‘E’ di mata kuliah Profesor Kim, yang luar biasa jahanamnya.

Yang lebih menyebalkannya lagi, dia tidak minta maaf sama sekali! Ouch, aku tidak percaya ada lelaki se-tidak gentle itu di dunia ini. Tapi, ada. Dia Jaehyun.

Dan omong-omong, kejadian tersebut baru saja terjadi minggu lalu, dan sukses sekali membuatku uring-uringan  beberapa hari terakhir.

Terima kasih kepada Jung Jaehyun, pembalasan dendamnya bahkan lebih manis dari gula-gula kapas.

+

Aku tidak suka pada Jung Jaehyun. Aku bersumpah.

Tapi, kata tidak suka tersebut, tidak pernah sampai pada tahap benci, kok. Entah aku terlalu baik atau bagaimana, tapi, aku benar-benar tidak pernah membenci Jung Jaehyun meskipun ia sudah melakukan banyak hal yang berupa pembalasan dendam tersebut, hingga membuat hidupku selama satu tahun belakangan sengsara sekali.

Aku pernah bilang, ‘kan, kalau aku ini orang yang jujur? Maka, kalimat ‘aku tidak pernah membenci Jung Jaehyun’ barusan memang benar adanya, dan tidak ada kebohongan dalam setiap katanya.

Buktinya, kalau aku memang membenci lelaki sialan itu, aku pasti sudah membiarkannya tertabrak mobil saja, hingga tubuhnya ringsek, ketimbang menarik lengannya kuat-kuat seperti sekarang ini, hingga ia mau mundur lagi selangkah, sebelum tubuhnya benar-benar menyebrangi jalanan yang sedang ramai-ramainya kendaraan. Lampu hijau untuk pejalan kaki bahkan belum menyala. Apa lelaki ini gila?

Aku sih tidak apa kalau memang ia ingin mati, tapi please, cari tempat. Jangan mati dihadapan orang banyak, terutama dihadapanku.

“Kamu mau mati, ya?!” Bentakku tidak tahan.

Air muka Jaehyun langsung berubah syok ketika sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Ia melirik jalanan, kemudian melirik ponselnya (yang sedaritadi ia pandangi, hingga membuatnya tidak konsentrasi) dan terakhir, melirik aku yang masih menggantungkan lenganku di bisepnya.

“Chaeyeon?”

Suaranya mencicit, bibirnya  habis ia gigiti. Aku maklum, dia pasti kaget sekali.

Wajahku berhenti mengeras, kemudian aku melepaskan lenganku dari lengannya.

“Tuh, lihat! Ini baru hijau, mengerti?” Aku menunjuk lampu pejalan kaki yang sudah berubah warna, beberapa orang disekitarku yang sedaritadi memerhatikan keributan kecil yang aku buat mulai tak menghiraukan, dan memilih untuk segera menyebrang.

Aku menepuk punggungnya pelan, “Lain kali, konsentrasi, oke?”

Selanjutnya, aku ikut menyebrang bersama beberapa orang. Well, aku tidak mau dianggap sebagai pahlawan. Tapi, sepertinya, hari ini aku sudah seperti pahlawan.

+

Sudah beberapa minggu terakhir, aku tidak pernah melihat batang hidung Jaehyun.

Setelah kejadian ia hampir tertabrak pada hari itu, bumi seperti menelannya hidup-hidup.

Tidak ada lagi gangguan kecil ataupun besar dari lelaki itu. Bahkan, dia belum sempat mengucapkan terima kasih. Bukannya aku berharap begitu, sih, tapi ‘kan, kalau sedetik saja aku terlambat menarik lengannya, mungkin lelaki itu saat ini tengah terbaring dirumah sakit dengan keadaan tak berdaya.

Bisa dibilang, ia berhutang nyawa lah padaku.

Tapi, apa? Dia malah lenyap begitu saja.

Tidak apa, sih.

Karena sebenarnya, hati kecilku senang sekali kalau Jaehyun tidak ada. Artinya, kesengsaraanku bisa berhenti dulu, walau sejenak.

+

“Chaeyeon?”

“Apa?”

Aku melirik sinis kepada Seokmin, yang merupakan salah satu dari banyaknya antek-antek Jaehyun, yang selalu terlibat pada aksi-aksi tidak menyenangkan Jaehyun terhadapku.

Oh, mungkin Jung Jaehyun sudah keluar dari persembunyiannya, dan sekarang sudah siap siaga untuk kembali mengangguku.

Dasar tidak tahu terima kasih. Dikasih hati malah minta jantung.

Seokmin tersenyum lebar, dan aku benci senyum tipuannya itu. “Enggak usah terlalu jutek. Jaehyun bukan mau mengganggu lagi, kok. Dia cuma titip pesan.”

Aku mengerutkan keningku, “Pesan? Jadi sekarang kamu beralih fungsi jadi tukang pos?”

Lelaki dengan senyum lebar itu tertawa, menyebabkan kedua matanya menyipit. Aku mendengus dengan tingkah sok akrabnya. Meskipun aku baik dan juga sabar, kadang, aku juga bisa kesal, lhoh.

“Enggak usah melucu.”

“Aku enggak melucu.” Sergahku langsung tapi tetap tenang.

“Pokoknya, kata Jaehyun, temui dia sehabis kelasmu selesai di lapangan basket depan fakultas teknik.”

“Aku?” Aku menunjuk diriku sendiri. Seokmin mengangguk.

“Kenapa aku harus menemuinya? Jangan bilang kalian merencanakan sesuatu untuk melakukan penyerangan di lapangan basket?”

“Yaampun, kotor sekali pikiranmu ini.”

“Kalian, ‘kan, memang kotor. Terutama ketuamu, tuh. Si Jaehyun!”

Seokmin berdecak sambil bertolak pinggang, “Sudah datangi saja. Wajahnya tadi sedang enggak licik, kok.”

“Enggak mau. Bilang pada dia, aku enggak akan datang.”

Memangnya aku bisa tertipu dengan muslihatnya? Sudah satu tahun aku terlalu terbiasa dengan lagak Jaehyun yang sok baik. Tidak akan aku masuk kedalam perangkap busuknya. Yikes!

+

Ups.

Aku kira Jung Jaehyun tidak akan se-nekat ini, sampai mendatangiku dengan berdiri di depan gedung fakultas bahasa, sambil menyilangkan kedua lengannya sok di dada, dan seakan men-scan seluruh mahasiswa yang baru saja bubaran dengan kedua mata lasernya, memastikan kalau sosokku tidak terlewatkan olehnya.

Dan, well, matanya menangkap bayanganku, hingga akhirnya ia berhenti menyilangkan dadanya, dan melangkah penuh keberanian mendekatiku.

Aku sesungguhnya ingin mencoba kabur, atau terbang kalau bisa, supaya terhindar dari lelaki ini. Tapi, toh, terlambat. Dia sudah berdiri kurang lebih satu meter di hadapanku dengan air muka yang tak terbaca.

“Oi, Jung Chaeyeon.” Sapanya tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.

Persis seperti preman tukang palak yang senang nongkrong di dekat gang rumahku.

“Apa?” Aku menjawab agak ogah-ogahan. Ugh, sejujurnya, aku itu takut kalau harus berhadapan dengan orang semenyeramkan Jaehyun. Jangan tertipu dengan wajah bak malaikatnya, karena kelakuannya satu tahun terakhir ini benar-benar seperti satan.

Jaehyun diam sebentar, kemudian membuka mulutnya. “Enggak penasaran selama satu bulan ini aku kemana?”

“Sedikit.” Jawabku jujur.

Yea, memang awalnya aku agak bertanya-tanya juga kenapa ia tak muncul-muncul. Tapi kemudian, tidak kepikiran lagi.

Jaehyun yang tadinya santai, jadi agak gelagapan ketika mendengar jawabanku. Sepertinya ia tidak menyangka aku akan menjawab kelewat jujur.

“Uhm, oke…” Jaehyun terbatuk sedikit, membuat aku mengerutkan kening kebingungan. Kenapa dia tiba-tiba batuk? Seperti terpaksa sekali.

“Jaehyun, sebenarnya kamu mau ngapain? Ini sudah sore. Aku mau pulang. Kalau mau balas dendam, nanti-nanti saja, ya. Aku capek tahu.”

“Jung Chaeyeon!” Nada suaranya naik satu oktaf, membuat aku agak berjengit dibuatnya. “Kamu itu jangan terlalu jujur, dong! Menyebalkan sekali!”

“Kenapa kamu membentakku?” Tanyaku kebingungan. Tiba-tiba saja dia menyemprot tanpa tendeng aling.

Jaehyun mendengus. “Aku itu enggak suka padamu!”

“Aku juga, kok. Tenang saja.” Balasku tersenyum.

Kadang, aku ingin memeriksakan diriku pada psikolog, apa aku ini masih waras atau tidak. Karena pasalnya, aku tidak bisa mengontrol ekspresiku sendiri, lhoh.

Seperti misalnya, sekarang bahkan aku tidak perlu tersenyum, tapi aku tiba-tiba tersenyum. Seakan aku harus beramah-tamah pada lelaki ini, padahal seharusnya tidak.

“Sudah kubilang, jangan terlalu jujur. Itu menyakitkan, tahu.” Jaehyun kembali mendengus.

Aku meringis sedikit, “Bagaimana, ya. Sudah kebiasaan dari dulu. Lagipula, kamu tahu, ‘kan, kalau jujur itu memang menyakitkan.”

“Iya, tapi kata-katamu tahun lalu itu berhasil mempermalukanku didepan kakak tingkat dan juga teman angkatan.”

Terselip kekesalan dalam nada bicaranya. Aku kaget juga, untuk pertama kalinya Jaehyun mau membahas tentang masalah itu.

Dipikir-pikir, aku memang tidak pernah minta maaf padanya secara resmi.

“Sori, oke?” Aku memainkan jariku sambil memandangi Jaehyun. “Aku tahu mulutku itu memang enggak bisa dijaga. Tapi, aku memang kesal padamu karena kamu banyak bicara waktu itu. Lagipula, itu sudah tahun lalu, Jaehyun-a. Kenapa masih dendam, sih. Menyebalkan. Kamu membalas satu kesalahan dengan satu juta kali lipat.”

“Aku itu memang pendendam. Pertama kali juga, aku diperlakukan seperti itu.”

“Iya maaf.”

Wajah Jaehyun sudah tidak mengeras lagi, ia memandangiku lurus-lurus, yang baru kusadari ternyata dia itu sangat—aku benci mengakuinya– tampan.

Aku menyelipkan senyum, “Maaf, oke? Kamu tahu aku itu orangnya jujur. Jadi ini tulus.”

Jaehyun diam saja. Tidak menanggapi perkataanku, tapi tidak juga pergi dari hadapanku.

“Jaehyun, kamu sudah enggak dendam lagi, ‘kan padaku? Kelihatannya, kamu sudah enggak terlalu kesal.”

“Masalah terbesar dalam hidupku itu kejujuranmu, tahu.”

“Ya?” Aku mengerjapkan mataku. Mencoba mencerna perkataan Jaehyun barusan, tapi gagal.

“Chaeyeon, aku mau tanya.” Jaehyun memajukan langkahnya, jarak kami sekarang jadi agak lebih dekat lagi.

“Kok kamu baik sekali, sih. Bikin risih saja.”

Kalimat yang barusan meluncur dari bibir Jaehyun tidak mampu membuat aku mengerti dengan situasi saat ini yang terasa begitu–err, canggung?

Aku tidak tahu, tapi atmosfirnya terasa begitu berbeda.

“Kalau saja waktu itu kamu enggak menarik lenganku, mungkin aku masih dendam padamu—uh, bukan. Kalau saja waktu itu kamu enggak bicara padaku seperti itu, mungkin aku enggak akan bisa berinteraksi denganmu seperti saat ini. Maksudku, meskipun hubungan kita enggak ada baik-baiknya, tapi setidaknya, kita mengenal satu sama lain dengan baik–in a bad way.  Kamu mengerti, ‘kan apa maksudku, Chaeyeon-a? Intinya sih, aku enggak begitu menyesal karena kejujuranmu yang menyebalkan itu.”

Oh.

Aku mulai menangkap sinyal-sinyal aneh saat ini, yang begitu menggelikan, dan, aku yakin sebenarnya aku tidak begitu membencinya.

Ini, errr, agak menyenangkan, dan, sepertinya Jaehyun tidak benar-benar kehilangan masalah dendamnya, karena masalah berikutnya adalah—

“Jadi, Chaeyeon, mau makan es krim bersama? Sepertinya belum terlalu sore untukmu–“

Dia naksir padaku.

“–Jalan denganku,?”

.

.

.

KHAY, KUTAHU INI RECEH SANGAT DAN, OMG! COUPLE BARU LAGI-LAGI DEBUT!

Kalian harus mau mengakui ini, kalau Jaehyun dan Chaeyeon itu visualnya benar-benar luar biasa menyilaukan, ya khan??

Yeaaaa.

BTW, sebenernya aku lagi enggak mood nulis, tapi ada ide, tahunya bahasanya malah jadi aneh dan jatuhnya maksa banget:’) Maaf ya, kalau agak acak-acakkan penulisannya, karena sumvaahhhhh, perasaanku saat ini lagi enggak tenang abis,! Enggak tahu juga kenapa wkwk.

Mohon maklummmmmmm, peace, love and gawl~

Iklan

7 respons untuk ‘What’s Wrong?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s