Healing

PicsArt_07-27-07.29.29.jpg

Staring:

Red Velvet’s Seulgi – KNK’s Seungjun

Genre:

Slice of Life, Hurt-comfort!

A/N: Suasana hati aku lagi nyesek, jadi nulis fict yang agak nyesek juga, tq

“Kau itu benar-benar bajingan yang kelewat beruntung.”

+

Oh, dasar keparat.

Aku bahkan tidak pernah mengharapkan bahwa hari ini akan datang pada akhirnya.

Tidak. Tidak pernah terpikirkan barang sedetik pun.

Tapi, hari ini datang.

Buktinya, sekarang sosok lelaki berperawakan sangat-tinggi beserta senyum idiotnya–yang harus kuakui tampan sekali, tengah berdiri beberapa meter saja dari meja kerjaku.

Aku bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Apa harus menangis sesenggukan, atau malah tertawa bahagia.

Semuanya terlalu memusingkan sampai-sampai Krystal, salah satu teman kerjaku, dan pemilik kubikel di sebelahku, mesti menendang kakiku hingga aku mau menoleh ke arahnya.

“Apa?” Tanyaku sambil tak lupa meringis dan mengusap bagian tulang keringku yang tadi ia tendangi.

Krystal mengerling dengan senyuman mencurigakan, sambil tubuhnya agak condong kearahku dan berbisik tepat ditelinga, “Ganteng tidak, sih?”

Aku mendengus. Mendorong keningnya hingga ia mau menciptakan jarak denganku, kemudian kembali memusatkan perhatian pada lelaki jangkung yang tengah berdiri di tengah-tengah lingkaran kubikel yang berjajar, dengan Manager Kwon disebelahnya.

“Untuk sambutan menggembirakan bagi Tuan Park, mari semuanya beri tepuk tangan yang meriah.”

Semua orang diruangan bertepuk tangan, terutama wanita, yang pastinya begitu menikmati visual Park Seungjun yang memang bukan sebuah candaan, gantengnya bukan main.

Aku bergeming.

Tak sudi mengangkat tanganku untuk memberikan tepuk tangan pada manusia, yang katanya, adalah ketua baru di divisi kami.

Oh, kenapa Ya Tuhan?

Kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan lelaki bajingan sepertinya?

Apa tidak cukup, masa laluku saja yang kelam, tidak usah juga dengan masa depanku.

+

Park Seungjun, 189cm, tampan dan mapan, juga digilai banyak wanita.

Termasuk aku. Tapi, dulu.

Sebenarnya, aku benar-benar tidak ingin menceritakan hal paling memalukan dalam hidupku ini. Tapi, berhubung lelaki itu tiba-tiba masuk lagi dalam kehidupanku, dan seakan memaksaku untuk menceritakan masa laluku pada kalian, aku akan membagi sedikit pengalaman cintaku yang begitu menyedihkan karena dicampakkan oleh lelaki bernama Park Seungjun tersebut.

Mari kita mulai flashbacknya.

Saat itu aku masih menginjak bangku SMA kelas 2. Kang Seulgi yang dulu, hanyalah seorang kutu buku berkacamata dengan kacamata yang tebal setebal botol. Tempat nongkrongku dulu, ya, dimana lagi kalau bukan di perpustakaan.

Karena aku tidak punya terlalu banyak teman–bukan berarti dibully juga, aku lebih senang melakukan segala sesuatu sendirian.

Pada hari itu, aku masih ingat, kalau itu adalah hari dimana salju pertama turun. Aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu membaca novel yang baru aku pinjam dari perpustakaan kemarin.

Saat aku ingin mengambil spot yang sudah biasa aku tempati, disana ternyata sudah ditempati oleh seorang lelaki yang tengah tertidur.

Karena aku paham sopan santun, dan tidak mau mengganggu orang yang tengah beristirahat dengan mengusirnya secara tak bermoral, aku memilih untuk mengambil tempat duduk di sebrangnya.

Detik berganti menit, dan menit berganti jam, lelaki yang duduk disebrang mejaku terbangun karena suara tumpukan buku yang terjatuh di rak paling belakang karena kelalaian penjaga perpustakaan sendiri.

Aku sempat meliriknya, dan itu bertepatan ketika lelaki itu juga melirik kearah mejaku.

Aku tahu lelaki itu, dia Park Seungjun, anak kelas 3, salah satu lelaki populer di sekolahku yang merupakan salah satu anggota klub basket. Jangan ditanya kenapa, karena dia tinggi sekali. Tubuhnya menjulang bak model, wajahnya tampan, dan sekali kau berpandangan dengan lelaki macam dia, duniamu bakal terasa runtuh, karena kau tahu, dia punya mata yang begitu menyejukkan dan seakan bisa membuatmu mimisan lalu pingsan begitu saja.

Tak ada yang menyangka, bahkan aku tak pernah menyangka, kalau lelaki itu bakal langsung menghampiri mejaku ketika tak lama kami sempat saling melirik.

Kalau ketika kau melihat lelaki itu kau akan mengira dia sombong, dingin dan keren. Tapi, begitu kau melihat jauh lebih dalam kedalam dirinya, kau akan tahu sendiri kalau fakta diatas benar-benar hanyalah sebuah kebohongan.

Dia menyapaku, menanyakan nama dan kelasku, lalu tiba-tiba bertanya jam berapa saat itu.

“Jam 4 sore.” Jawabku sambil mengedip-ngedipkan mata, tak percaya kalau lelaki itu tengah tersenyum konyol setelah aku menjawab pertanyaannya.

Itu ternyata bukanlah momen terakhir aku dan Seungjun.

Ketika tak sengaja kami berpapasan di koridor, dia akan–tanpa tahu malu- menyapaku dengan senyuman lebar dan memanggilku dengan sebutan, “Kang botol!” karena kacamata tebalku yang menarik perhatiannya.

Tidak sekali, tidak dua kali, bahkan dia menyapaku begitu hingga puluhan kali sampai aku tak ingat saking banyaknya.

“Punya pacar, tidak?” Tanyanya pada suatu hari ketika ia mendatangiku di kafetaria, dan aku sedang makan siang sendiri.

Aku membalas tatapannya dengan alis bertautan, bingung karena dia tiba-tiba bertanya seperti itu kepadaku. Dan kujawab saja, “Tidak.”

Selanjutnya, dia tersenyum cerah, tapi bagiku konyol sekali–karena kau tahu, cover dia itu adalah cowok garang dan dingin– kemudian mencondongkan tubuhnya padaku dan berbisik, “Kalau begitu, mau tidak, jadi pacarku?”

Bodohnya, aku tidak menolak dan tidak juga menerimanya.

Hingga hubungan itu berjalan sampai–kurang lebih, satu tahun kurang sedikit.

Awalnya, aku juga tidak tahu, apa aku memang menyukainya, atau itu hanyalah sekedar perasaan kagum karena Park Seungjun itu tampan.

Tapi kemudian, aku tahu apa yang aku sukai dari lelaki itu. Senyuman, tingkah konyol, ceroboh dan tidak bisa diam, semuanya, aku suka semuanya dari lelaki itu.

Dia memperlakukanku dengan baik dan penuh hormat. Dia manis dan juga romantis.  Dia juga kadang manja sekali, dan itu menjadi point plusnya, karena aku benar-benar suka ketika ia bertingkah begitu kekanakkan.

Semuanya berjalan lancar, tanpa halangan, dan terus mengalir hingga satu tahun berlalu.

Dan, tepat saat upacara kelulusan kelas 3, aku yang sudah membawakan sebuket bunga dengan penuh kebahagiaan karena akhirnya priaku itu lulus, malah harus menerima kenyataan yang begitu pahit.

Park Seungjun tidak datang di acara kelulusannya.

Tidak membalas pesanku, tidak juga mengangkat telfonku. Ia hilang seakan bumi menelannya hidup-hidup.

Tidak ada kabar apapun, hingga minggu pertama dimana aku masih menangisi lelaki itu, dan masih mencoba memberikan panggilan padanya, ponsel lelaki itu tidak aktif.

Dan, Park Seungjun resmi benar-benar menghilang dari hidupku, tanpa pesan, tanpa kata, hingga aku tidak tahu hubungan macam apa yang tengah aku jalani saat ini.

Apa putus? Atau masih berlanjut?

Tidak ada kejelasan.

Enam tahun berlalu, dan ketika aku sudah merasa benar-benar melupakan semua kenangan manis bersama Park Seungjun dalam hidupku, dia tiba-tiba saja hadir kembali?

Berdiri ditengah-tengah kubikel ini, mendapat sambutan yang meriah, mendapat tepuk tangan dari banyak orang, dan diperkenalkan dengan bangganya sebagai ketua baru di divisi kami.

Hello? Dia lelaki yang mencampakkanku 6 tahun lalu, hingga aku dilanda trauma untuk kembali menjalin hubungan dengan lelaki.

Apa pantas lelaki macam itu menjadi kebanggaan banyak orang?

Aku bahkan tidak akan pernah sudi bicara dengan lelaki bajingan itu.

+

“Tidak ikut?”

Aku mengangguk sambil membereskan beberapa barang yang berserakan dimejaku.

Krystal menautkan alisnya, “Kenapa?”

Aku mengedikkan bahu, kemudian segera meraih tas yang menggantung di kursi. Tidak bisa langsung pergi karena Krystal keburu mencekal pergelangan tanganku.

“Kau sedang ada masalah?”

Gadis bersurai coklat dihadapanku ini memandangku dengan tatapan khawatir, aku tersenyum miring kemudian menggeleng, secara perlahan kulepaskan genggaman tangannya. “Tenang saja, Krys. Aku tidak apa-apa. Cuma sedang tidak enak badan.”

“Tapi ini pesta penyambutan ketua baru. Dan, kau tahu, ‘kan? Gratis. Kita ditraktir!” Krystal menyelipkan nada gembira diakhir kalimatnya, yang masih aku balas dengan gelengan.

Gadis itu mendengus pelan, “Kenapa, sih? Kok tiba-tiba tidak cinta makanan gratis?”

Aku tertawa sambil menepuki bahunya, “Yaampun, kau kira aku semurahan itu?”

“Memang.”

Lenganku yang tadi menepuki bahunya pelan beralih menggebuknya dengan keras hingga gadis itu menjerit tertahan.

“Kang Seulgi!”

“Sudah ah, pokoknya aku balik. Kalau Pak Kwon bertanya aku kemana, bilang saja tak enak badan, oke?”

Sekali lagi, gadis itu mendengus, tapi kemudian mengangguk. “Anything for you, babe.

Sambil sedikit tertawa dan melambai pelan pada Krystal, aku  meninggalkan kubikelku. Memutuskan untuk segera pulang dan menghindari acara pesta penyambutan yang menurutku sangat tidak penting.

Sebenarnya, kalau ketuanya bukan si Park Seungjun itu, aku mau-mau saja ikut, seperti apa yang Krystal katakan padaku, aku pencinta makanan gratis.

Tapi, berhubung lelaki itu Park Seungjun, dan aku sudah benar-benar berniat untuk menghindarinya, aku tidak akan pernah masuk kedalam zona tidak aman itu. Dimana ada Park Seungjun, disanalah aku harus menghilang.

Mungkin aku hanya akan menghampiri meja lelaki sialan itu kalau-kalau aku ada kepentingan yang tidak bisa dihindarkan. Seperti, memberikan laporan?

“Seulgi-ssi?”

Aku terpaksa harus menghentikan langkah gusarku ketika mendengar namaku dipanggil.

Kemudian, detik berikutnya, aku menyesali keputusanku.

Pak Kwon dan si bajingan atau ya, Park Seungjun, tengah berdiri disamping tangga darurat dengan berdampingan.

Pak Kwon memandangiku heran, tapi Seungjun–aku tak tahu. Dan tidak begitu ingin tahu. Lagipula, apa lelaki itu bahkan masih mengingat gadis yang ia campakkan saat masa SMA dahulu? Tidak usah mimpi, Kang Seulgi.

“Seulgi-ssi, bukannya aku sudah umumkan kalau hari ini kita akan ada pesta penyambutan Ketua Park? Kenapa kau begitu tergesa, sepertinya kau akan langsung pulang?”

Aku buru-buru mengubah ekspresi wajahku, seakan-akan keseimbanganku mulai terganggu, dengan agak mendramatisir, aku memijat keningku dengan lengan sebelah kanan. Tertawa garing, kemudian berkata, “Oh, itu–saya izin pulang duluan, Pak. Sudah titip pesan pada Krystal. Tapi, toh, bapak sudah disini, jadi biar saya langsung izin ke bapak saja, hehe.”

Pak Kwon mengangkat satu alisnya, “Izin?”

“Saya izin pulang duluan, soalnya, uh, itu–kepala saya pusing, Pak. Sepertinya efek kerja terlalu keras akhir-akhir ini.”

Cih, kebohongan bodoh macam apa ini, Kang Seulgi? Kau pasti terlihat sangat goblok.

Pak Kwon memandangiku sambil mengangguk-ngangguk, kemudian tersenyum kecil, “Begitu. Yasudah, istirahatlah. Tapi, lain kali kau harus ikut acara-acara kami, oke? Tidak biasanya kau kelelahan.”

Ya, Pak Kwon, tidak biasanya.

Tapi gara-gara lelaki disampingmu, mungkin aku akan sering seperti sekarang.

“Kalau begitu–saya, permisi..?” Tanyaku agak tak enak.

Pak Kwon mengangguk, tapi Seungjun hanya membatu sambil mengatupkan rahang tegasnya.

Pemandangan yang sama jika kau melihat lelaki itu untuk pertama kalinya.

+

Wow.

Aku benar-benar tidak pernah mengira akan keduluan si bajingan ini.

Maksudku, siapa yang akan mengira, sih? Kalau Seungjun ternyata tahu tempat tinggal baruku (setidaknya kutinggali sejak 2 tahun aku bekerja disana).

Ia nampaknya belum menyadari kehadiranku. Punggungnya tengah ia sandarkan pada dinding gedung apartemen yang aku tinggali selama ini.

Tanpa sadar, kakiku agak bergetar ketika aku melangkah, dan mungkin, karena suara gesekan high heels-ku dan aspal, Seungjun mulai menyadari kehadiran seseorang.

Ia mendongak, dan langsung mendapati aku berdiri beberapa meter di hadapannya.

Lelaki itu langsung menegakkan tubuhnya, kemudian mengeluarkan kedua lengannya yang sedaritadi ia selipkan di saku celana.

“Seulgi…” Panggilnya pelan, memberikan efek yang begitu menggetarkan pada seluruh tubuhku.

Aku semakin ragu untuk melangkah mendekat, dan memilih untuk mundur ketika Seungjun mulai maju memperkecil jarak antara aku dan dirinya.

Aku tak bicara apapun, namun Seungjun jelas bisa melihat sorot kesedihan di mataku, bukan?

Ia menatapku sendu. “Seulgi–aku..”

“Bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku?” Selaku tanpa ampun.

Ia bergeming, namun lengannya seakan gatal ingin meraihku.

“Seulgi,”

“Apa aku harus pindah rumah saja, agar kau tidak tahu lagi dimana aku tinggal?”

“Seulgi biarkan–“

“Aku tidak mau tahu, kau harus pergi sekarang juga dari sini.” Aku berucap dengan bibir agak bergetar, bahkan aku yakin sekali Seungjun bisa melihat air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku.

Sialan. Dasar sialan.

Apa ia tak tahu serindu apa aku selama ini padanya? Rindu sekali sampai rasanya ingin mati. Enam tahun berlalu dan ia muncul tiba-tiba dalam hidupku.

Tak pernah ada kata perpisahan, tak pernah ada pesan, dan tanpa rasa bersalah ia muncul dihadapanku lagi. Memandangiku dengan tatapan paling sendu yang pernah aku lihat.

Seakan menyiram lukaku dengan air garam.

“Seulgi, aku mau bicara. Beri aku kesempatan,” Nadanya begitu memohon dan melas, aku benar-benar tak tega melihatnya seperti ini.

Tapi aku tidak tahu lagi. Melihatnya benar-benar membuka luka lama.

“Tidak ada kesempatan.” Aku menyahut datar sambil melengos dari hadapannya.

Tapi Seungjun tidak membiarkanku begitu saja, ia mencekal pergelangan tanganku, membuat aku bisa merasakan genggaman hangatnya yang begitu aku rindukan.

Mati-matian aku menggigit bibirku, menahan isakkan yang hampir lolos darisana.

“Seulgi, aku mohon…”

Aku menghentakkan genggamannya hingga terlepas, kemudian memandanginya nyalang.

Please, Seungjun! Semuanya sudah berakhir! Kau tahu itu.”

Mengejutkan, Seungjun menggeleng keras membuat hatiku mencelos.

“Kau tahu, kita tidak pernah benar-benar berakhir, Seulgi-a.”

Tidak pernah?

Aku tertawa sarkastik, “Astaga. Kau harus bangun, bodoh. Ini sudah 6 tahun. Kau menghilang 6 tahun, tanpa kabar! Bagaimana kau bisa dengan mudahnya mengklaim kalau kita belum benar-benar berakhir? Jangan gila, Park Seungjun!”

“Makanya, kau harus mau mendengarkan penjelasanku!”

“Mudah, ya.” Aku berucap. Tak tertahankan lagi, air mata meluncur turun membasahi pipiku. Membuat Seungjun resmi bergeming.

Pertama kalinya. Ini pertama kalinya aku menangis dihadapannya.

“Mudah bagimu mengatakan itu, Seungjun-a.” Cicitku dengan suara bergetar. “6 tahun itu bukan 6 jam, kau tahu. Bukan juga 6 hari. 6 tahun itu 2190 hari! Kau menghilang selama itu, dan dengan mudahnya datang kembali dengan mengatakan kalau kita tidak pernah benar-benar berakhir. Apa kau tak tahu hampir setiap hari aku menangisimu ketika kau tiba-tiba menghilang.”

Aku mengusap air mataku, dan Seungjun masih berdiri ditempatnya. Tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun.

“Pulanglah.” Dan aku putuskan untuk meninggalkannya sendirian.

+

Aku mengutuk Krystal yang ternyata memberitahu alamat apartemenku pada Seungjun. Nampaknya, sebelum pesta sempat berakhir, Seungjun sempat menghampiri Krystal dan menanyakan alamat rumahku.

Dan dasar si Jung itu, ia bahkan terlalu polos sampai dengan seenaknya memberikan alamat rumah orang sembarangan.

Oke, aku tidak bisa menyalahkan Krystal, karena ia tidak tahu menahu soal hubunganku dengan Seungjun di masa lalu. Omong-omong, ya, aku dan Krystal baru saling mengenal 2 tahun lalu, ketika tak sengaja bertemu saat job interview.

Pagi ini, aku sudah mempersiapkan diri untuk selalu berlari ketika kalau-kalau Park Seungjun menyembulkan batang hidungnya dihadapanku.

Tapi, semua itu gagal total ketika, lagi-lagi, semuanya kesalahan Krystal.

Ketika tak sengaja bertemu dengan Seungjun di depan mesin fotokopi, ia sudah bersiap diri mencegatku, tentunya aku mencoba mengelak dengan meneriakki Krystal yang baru saja  keluar dari lift. Pura-pura ada kepentingan dengan gadis itu.

Tapi si bodoh itu tidak bisa dikodei, dia malah menengokku sebentar, kemudian membungkuk sopan ketika bersirobok dengan Seungjun, dan berlalu begitu saja.

“Apa sih?” Tanyaku tak sabaran, sambil mengetuk-ngetukkan flat shoesku ke lantai. Aku terpaksa memakainya karena sudah ada niatan untuk selalu kabur dari lelaki ini. Karena kau tahu lah, memakai high heels bisa mengurangi kecepatan berlarimu.

Please, Seulgi-a, bicara denganku sebentar, ya?”

“Tidak.”

Seungjun menghela nafas berat, kemudian memijat tengkuknya. Lagaknya sih seperti frustasi.

“Meski hanya sebentar? 15 menit?” Melasnya.

Aku melempar pandanganku pada Jongin yang kebetulan baru saja keluar dari dapur kantor dengan segelas kopi. Melihat kesempatan emas itu, aku memanggilnya.

Setidaknya, Jongin tidak lebih bodoh dari pacarnya sendiri. Kau tahu, Krystal.

“Jongin! Kau bilang ada kepentingan denganku, ‘kan, kemarin?” Aku melengos dengan tidak sopan dari hadapan Seungjun.

Dan menghampiri Jongin yang tengah terbengong dengan segelas kopi ditangannya.

“Ya…?” Jawabnya tak yakin. Tapi, langsung kusambar lengannya, kemudian melarikan diri dari Seungjun.

Terima kasih, Jongin. Untuk pertama kalinya kau begitu berguna sebagai manusia.

+

Kejadian seperti barusan terjadi setiap harinya. Berkelanjutan, dan tidak pernah membuatku bosan mengelak.

Setiap kali Seungjun menghadang, dimanapun tempatnya, aku akan selalu sigap menghindari lelaki itu. Lebih-kurang, sudah 2 minggu aku melakukan rutinitasku ini.

Dan harus membuat Krystal kebingungan bukan main melihat keanehanku yang makin mengakar.

“Sumpah, deh. Kau kenapa, sih?”

“Apa?” Tanyaku cepat, sambil mataku yang masih fokus pada monitor, dan jari yang dengan lincahnya menari diatas keyboard.

Krystal mencondongkan tubuhnya dari kubikel miliknya, ke kubikel milikku. “Kau ada apa-apa, ya, dengan Ketua Park?”

Aku terbatuk karena tersedak salivaku sendiri.

Membuat Krystal tanpa tendeng aling segera mempersepsikan sesuatu, “Tuh, ‘kan, sudah kuduga.”

“Ada apa, apa, sih, maksudnya? Aku tidak mengerti.” Jawabku masih sok fokus pada apa yang tengah aku kerjakan.

Tidak, Seulgi. Kau tidak boleh sampai ketahuan Krystal. Tidak boleh.

Terdengar, Krystal mendengus. “Heh, aku tahu kadang aku ini bodoh. Tapi, aku tidak begitu bodoh untuk memahami situasi aneh seperti 2 minggu belakangan ini.”

“Kerjakan apa yang sedang kau kerjakan, Krys.”

Kukira gadis itu akan menyahut lagi, tapi nyatanya dia tak membalas ucapanku. Aku menoleh kearahnya, yang menangkap pemandangan gadis itu tengah mendongak kearah kubikelku.

Perasaanku mulai tidak enak.

Uh, dan benar.

“Seulgi-a, ikut aku sebentar.”

Aku tidak bisa mengelak apapun, karena saat ini, semua orang di ruangan tengah menatap kearahku dan Seungjun.

Ugh, sial.

+

Kebiasaan burukku ketika gugup, mataku selalu jelalatan ke segala arah, dan tidak pernah mau fokus pada lawan bicaraku, seperti saat ini.

Seungjun membawaku ke kafe dekat kantor kami, sehubungan aku tengah bersama dengan ketua divisi, aku tidak akan dapat omelan dari siapapun karena keluyuran disaat jam kerja.

Yang berhak melakukannya justru tengah ada dihadapanku.

Duduk manis, dengan senyuman yang menggoda untuk dibalas, dan sorotan mata indahnya yang membuat aku selalu jatuh dalam pesona anehnya itu.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanyaku tidak ramah.

Seungjun justru malah semakin melebarkan senyumannya ketika aku berbicara dengan nada tidak sopan kepada lelaki itu.

“Aku rindu padamu, tahu.”

Menyebalkan.

Aku bahkan harus dibuat tidak berkutik ketika mendengarnya bicara dengan nada sok merayu.

Tidak termakan omongan buaya darat, aku berdecih. “Tidak usah basa-basi, langsung ke intinya saja, mau bicara apa?”

“Oke,” Seungjun berdeham kaku ketika melihat pandangan tak ramahku, lengannya meraih dasinya untuk agak ia longgarkan.

“Aku harus mulai darimana, ya?”

“Lama sekali, sih. Kalau sampai satu menit berlalu dan kau tidak ngomong juga, aku bakal langsung pergi.”

Seungjun menggaruk keningnya bingung menanggapi kalimat tidak sabarku.

Masa bodoh, harus jaga image dan naikkan gengsi dong kalau dalam hal seperti sekarang ini.

“Oke, mungkin pertama, aku harus minta maaf dulu atas kejadian 6 tahun lalu. Semua memang murni salahku, dan aku tidak bisa mengelak lagi soal itu.”

Seungjun menarik nafas, “Kalau boleh egois, sih, aku benar-benar merasa kalau kita tidak pernah benar-benar berakhir selama 6 tahun ini. Kau tahu, aku tidak pernah mengakhiri hubungan kita, ‘kan. Dan kau juga begitu.”

Aku tertawa merendahkan, “Fyi, aku itu sudah mau mengakhiri hubungan. Tapi aku tidak tahu, harus menghubungimu lewat apa, karena, kau sadar dong, bahkan kau ganti nomor telfon, dan alamat emailmu sudah kadaluarsa.”

Seungjun memijat keningnya ketika aku tiba-tiba menyambar, “Please, Seulgi. Dengarkan aku dulu, oke?”

Aku hanya membalas ucapannya dengan tatapan datar.

“Aku itu pergi kuliah ke Jepang.”

Aku menahan nafasku. Yaampun, jadi selama 6 tahun ini, aku ditinggal kabur ke Jepang? Astaga lelaki ini benar-benar minta kuhajar.

“Kau tahu, ‘kan, ibu tiriku bagaimana? Dia selalu mau keinginannya dituruti, dan waktu itu, beliau ingin aku kuliah ke Jepang untuk mempelajari bisnis. Aku tidak mau tentu saja, kau tahu aku sayang sekali padamu, ‘kan, Seulgi. Aku tidak mau meninggalkanmu, tapi disisi lain, aku juga tidak mau mengecewakan keluargaku yang sangat aku cintai, meskipun dia ibu tiriku, tapi dia yang sudah merawatku sejak aku ditinggalkan ibu kandungku saat balita. Semuanya terlalu membuatku dilemma, hingga akhirnya, aku memilih untuk  pergi saja. Mungkin meninggalkanmu adalah pilihan terbaik, karena kau pasti akan mengerti…”

Mataku berkaca-kaca, punggung tanganku segera menyekanya, “Kau pikir aku ini bukan manusia? Aku bakal mengerti? Kau tahu darimana?”

“Apa kau tidak menyayangiku? Kalau kau menyayangiku, kau tidak akan memiliki lelaki lain disisimu saat ini. Sekarang, aku tanya, apa kau sedang bersama lelaki lain saat ini?”

Jantungku mencelos, dadaku sesak sekali, membuat air mataku seperti mendesak ingin keluar lagi dan lagi.

“Seungjun-a..” Aku berucap, “Kau itu benar-benar bajingan yang kelewat beruntung.”

“Bayangkan saja kalau kau datang saat ini, dan aku sudah menikah, mungkin kau sudah habis babak belur oleh suamiku.”

“… Sayang sekali aku belum menikah. Kalau tahu kau semenyebalkan dan sebrengsek ini, mungkin lebih baik aku mencari lelaki lain dari dulu. Meninggalkanku adalah pilihan terbaik katamu? Ya, benar. Karena dengan begitu, aku tidak perlu melihat wajah bajinganmu lagi selamanya.”

“Seulgi!” Seungjun menyahut dengan nada panik ketika melihat air mataku kembali mengalir. “Bukan begitu maksudku, kau tahu, aku percaya padamu, sangat..”

“Kau harusnya beri aku kabar! Setidaknya begitu, kalau kau memang benar-benar mau aku tetap menunggumu. Menunggumu tanpa kabar itu sulit, tapi setidaknya, kalau menunggumu dengan kabar akan mempermudah 6 tahun ini. Tapi, apa? Kau menyiksaku dengan ketidak jelasan selama 6 tahun ini. Aku bahkan bertanya-tanya apa kau ini masih waras, karena harusnya, kau pergi ke dokter jiwa untuk memeriksakan kelainan otakmu ini! Aku pergi!”

Dengan cepat, aku menyambar ponselku yang berada diatas meja, kemudian melengos meninggalkan Seungjun yang tak sempat bereaksi.

Aku segera menghubungi Krystal, “Sepertinya, aku tidak enak badan. Antar tasku pulang nanti, ya.”

+

Aku tidak bisa berhenti menangis semalaman.

Krystal memberiku pengertian dengan tidak banyak bertanya setelah ia mengantarkan tasku ke apartemen. Karena khawatir, ia juga bersedia menginap untuk menemaniku.

Tanpa banyak bereaksi, Krystal hanya memandangiku dengan sesekali memberikan selembar-dua lembar tisu untuk aku mengelap air mata dan ingusku yang berceceran kemana-mana.

“Sudah baikan?”

Krystal bertanya setelah aku melempar tisu berisi ingusku yang entah keberapa.

“Tidak juga.” Jawabku jujur.

Krystal berdecak, kemudian membaringkan tubuhnya disisi lain kasurku. “Aku sedang tidak berusaha mengorek informasi. Hanya ingin tahu saja, sih, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Ketua Park?”

Aku bergeming sebentar, kemudian menghela nafas berat.

“Dia mantanku.”

“O…ke? Mantan?”

Krystal melebarkan matanya beberapa jenak, kentara sekali kalau ia tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.

“Krys, aku tahu aku tidak secantik dirimu. Tapi, aku juga pernah punya pacar ganteng, oke?”

“Bukan!” Krystal mengibaskan kedua lengannya didepanku, mungkin mencoba untuk menangkis kesalahpahaman dari penjabaranku barusan.

“Dia mantanmu? Maksudku, kapan? Aku tidak pernah melihatmu menggaet lelaki selama ini, dan kau pun tidak pernah cerita soal mantan saat kuliah, jadi–“

“Dia mantan pacarku, saat SMA.”

“Kang?!” Krystal memandangiku dengan sorot intimidasi. “Yaampun, serius?! Kau menangisi cinta monyetmu?”

“Hei!” Aku menyentak tidak terima. “Dia bukan cinta monyetku, kau tahu, dan aku pacaran dengannya cukup lama, hingga ia meninggalkanku, uh, atau ya, mencampakkanku begitu saja.”

“Kau dicampakkan? Wow. Tak heran aku tidak pernah melihatmu dengan lelaki manapun. Syukurlah, kau bukan lesbian. Aku hampir salah kira tentang— Hei! Kenapa kau memukulku?!”

Well, pada akhirnya, malam itu aku menceritakan semuanya pada Krystal. Dimana saat pertama kali aku bertemu dengan Seungjun, sebuah hubungan yang aku jalani dengannya, tingkah lakunya, hingga perpisahan tanpa kata 6 tahun lalu.

Jujur saja, jauh dalam lubuk hatiku, aku benar-benar merindukan lelaki itu. Maksudku, Seungjun itu berbeda. Dan kau akan merasakannya sendiri ketika kau berada disampingnya. Dia tidak pernah sedingin penampilannya, dan yang membuatku jatuh hati padanya adalah, dia tidak pernah membuatku menangis.

Hingga akhirnya, hari itu datang. Tak pernah sekalipun ia membuatku menangis, sampai hari dimana  ia membuatku menangis, ia meninggalkan luka yang begitu membekas untukku.

Benar soal wanita mencintai lelaki yang membuat mereka menangis.

Obrolan kami tadi siang begitu meninggalkan kesan menyebalkan dalam diriku.

Dia egois sekali, mengira aku tidak akan pernah memiliki lelaki lain selain dirinya. Meskipun dia benar soal itu, tapi ini begitu menyebalkan. Dia memilih meninggalkanku, dia bilang itu pilihan terbaik. Astaga Park Seungjun, setidaknya dia bisa meninggalkan kesan manis sebelum meninggalkanku. Tapi, apa? Tanpa kabar? Benar-benar lelaki yang minta dihajar.

Seperti apa yang kubilang, dia bajingan paling beruntung di muka bumi ini. Karena, kalau saja aku tidak setia, mungkin saat ini aku sudah bersama lelaki lain, menjalin kasih dan membuatnya patah hati.

Tapi, apa?

Hati kecilku bicara, kalau Seungjun datang untukku, artinya, aku harus membuka pintu selebar mungkin agar ia bisa masuk.

Karena, sekeras apapun aku menolaknya, berusaha membencinya, dan menjauhinya, hati kecilku itu tahu, aku tidak pernah benar-benar begitu padanya.

Aku masih menginginkannya.

Seperti apa yang dikatakan Krystal setelah ia mendengar penuturan ceritaku, “Ketika kau membenci seorang lelaki yang pernah kau cintai, kau tidak pernah benar-benar membencinya, Seulgi-a. Tanya hatimu, ia pasti akan menjawab kalau ia masih menginginkan lelaki itu. Lagipula, meskipun Park Seungjun salah, ia setidaknya mencoba untuk menjelaskan semuanya. Dan point pentingnya, dia memberikan kepercayaan padamu.”

+

Ini masih pagi, dan Park Seungjun sudah mencegatku didepan kantor, dengan pandangan sendunya yang menyedihkan.

Aku mencoba mengabaikannya, tapi lelaki itu langsung mencekal tanganku dan membawaku pergi entah kemana.

Dan aku, tidak berusaha menolak.

+

Destinasinya mungkin akan terdengar klasik, tapi tepat. Ia membawaku ke lantai paling atas, yaitu tempat paling sepi dan yang selalu dijadikan tempat pembicaraan penting dan intens di drama-drama.

Oke, harus kuakui, aku korban drama.

“Seulgi-a, bicara denganku sebentar, ya?” Seungjun membujuk dengan suara rendah, lengannya sudah terlepas dariku, kini netranya menjebak netraku.

“Bicara saja.” Jawabku cuek.

Seungjun tersenyum setelahnya, dan harus dicatat, dia tampan sekali dengan senyuman konyol itu.

“Aku minta maaf, oke? Aku benar-benar minta maaf. Sangaaat minta maaf. Bahkan, kalau kau menyuruhku untuk bersujud saat ini juga, aku akan melakukannya, Seulgi-a. Agar kau mau memaafkanku.”

“Tidak usah berlebihan.” Aku menyahut datar dengan posisi lengan yang aku silangkan di dada. Benar-benar songong sebenarnya.

“Seulgi-a, lihat aku.” Seungjun menyentuh daguku, menggiring netraku agar menubruk miliknya.

“6 tahun ini aku memang bersalah. Sangat amat bersalah. Mungkin, ya, pilihanku untuk pergi ke Jepang tanpa pamit adalah pilihan ter-goblok yang pernah aku ambil. Makanya, biar aku menebusnya. Aku kembali dari Jepang hanya untuk bertemu denganmu, dan menjelaskan semuanya. Aku tahu kau bekerja disini. Kalau kau bertanya kenapa aku jauh-jauh belajar bisnis ke Jepang lalu pada akhirnya malah jadi ketua divisi disini, itu semua salahmu, karena sebenarnya, aku memaksakan diri untuk mendapat jabatan ini hanya untuk bisa melihatmu. Jadi, apa kau tidak akan memuji pengorbananku yang keren ini? Biarkan aku memperbaiki semuanya, Seulgi-a. Kalau aku melakukan kesalahan lagi, kau boleh membunuhku detik itu juga, oke?”

“Kau jauh-jauh dari Jepang hanya untuk menyalahkanku? Lagipula, siapa bilang, sih, kalau aku masih single sampai kau percaya diri sekali ingin memperbaiki semuanya?”

Seungjun mengacak rambutnya frustasi, ekspresinya saat ini benar-benar tolol, tapi sialnya, manis sekali.

“Lalu siapa? Kau punya pacar? Siapa, huh? Memangnya ada yang mau dengan ‘Kang botol’ sepertimu selain aku?”

“Hei!” Aku membentak dengan suara sumbang, “Aku sudah bukan ‘Kang botol’mu lagi, oke? Aku sudah 1000 kali lebih cantik dari Kang Seulgi yang dulu. Banyak cowok yang antri padaku, kalau kau mau tahu.”

“Bohong.” Seungjun berdecih. Aku melotot mendengar decihan menyebalkannya.

“Kalau banyak, mana? Biar aku yang menghajar mereka satu-satu karena sudah berani merebut Seulgi milik Seungjun.”

“Ha-ha.” Aku tertawa meremehkan. “Seulgi milik Seungjun? Terus saja bermimpi. Kita itu sudah putus!”

“Aku bahkan tidak pernah mengatakan kata putus.” Semburnya tak mau kalah.

“Aku yang mengatakannya! Sudah lama!”

“Mana? Aku tidak pernah mendengarnya!”

“Itu semua salahmu, bodoh! Kau menghilang, dan tidak ada kabar. Bagaimana caranya aku minta putus, ha?”

“Jadi kita belum putus, ‘kan?”

“Ugh, Park Seungjun!”

+

Yak!” Seungjun menjerit dengan suara besarnya ketika aku dengan sengaja menendang perutnya tanpa tendeng aling.

Tentu saja aku harus melakukannya. Maksudku, dia tiba-tiba saja ‘menyerangku’ di pantry kantor, dan dalam posisi sedekat ini, salah satu karyawan tiba-tiba saja masuk ke dapur dengan langkah tergesa, dan tentu saja, daripada menimbulkan fitnah yang tidak-tidak, aku harus segera menjauhkan jarak Seungjun, yang akhir-akhir ini senang sekali nempel-nempel padaku.

“Apa yang kau lakukan barusan?” Tanya Seungjun sambil memegangi perutnya, yang tentu saja, pasti sakit sekali.

“Sudah kubilang untuk tidak dekat-dekat denganku saat dikantor.” Aku mendengus sambil membalikkan badan, kembali melanjutkan acara minumku yang sempat tertunda.

“Kenapa?” Tanya Seungjun sewot, satu lengannya meraih lengan kananku yang bebas, dan dengan gerakan sok imut, ia membaringkan kepalanya di pundakku.

Apa ia tak sadar? Tubuhnya yang menjulang itu harus benar-benar menunduk ketika menidurkan kepalanya di pundakku, yang asal kalian tahu, tinggiku ini 24 cm lebih pendek dari tingginya.

“Park Seungjun!” Aku mengedikkan bahuku agar kepalanya terpental dari sana.

“Ish, kau ini memang tidak pernah mau diajak romantis!”

“Kau tahu, ini kantor.”

“Memang kenapa? Semua orang sudah tahu aku dan kau itu pacaran. Ini sudah 4 bulan, Kang Seulgi!”

Ugh, memalukan, aku tidak pernah mau menyebut kata sakral itu, yang kau tahu, aku sempat mengatakan kalau aku tak sudi bicara dengannya, dan sekarang, lihatlah, aku kembali jatuh ke dalam pelukan Park Seungjun.

Menggelikan.

“Tetap saja, tidak enak, tahu. Aku bisa-bisa dipecat kalau ketahuan sering pacaran di kantor.” Desisku sambil memerhatikan tanganku yang diayun-ayunkan Seungjun kesana kemari.

Tidak berubah sedikitpun. Dia tetaplah Park Seungjun yang manja.

“Tidak akan. Kalau kau dipecat, kau bisa bekerja di perusahaan ayahku.”

Aku mendelik kearahnya, tapi lelaki itu malah menyengir membalas delikanku, “Sudah kubilang untuk jangan sombong begitu. Mau aku hajar?”

“Hajar aku dengan cintamu?”

“Geli, sumpah!”

+

Terakhir, Seungjun menyatukan bibirnya pada bibirku, kemudian menyalurkan kehangatan yang selalu memberikan rasa nyaman yang tak terhentikan.

Ia mendorong tubuhku hingga terbaring di sofa, membuat lenganku meraih lehernya, dan terus merapat hingga ia kini berada diatasku.

Dia Park Seungjun, yang memberikan rasa sakit terbesar yang pernah aku rasakan, dan juga yang menyembuhkan rasa sakit tersebut.

.

.

.

kkeut!

Kalau kalian liat cuplikan knk off-stage. Kalian akan tahu kalau kelakuan Seungjun enggak sekeren tampangnya. Sekian.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s