Wrong yet Right

yk.jpg

Staring:

CLC’s Yeeun – Monsta X’s Kihyun

Genre:

Fluff, Humor

Aku sudah akan mengamuk dan mencaci makinya dengan segala sumpah serapah yang sudah ada di tenggorokan.

+

Salah satu dosa terbesarku, yang harus selalu aku simpan diam-diam sebagai rahasia pribadi, nampaknya akan makin sulit untuk aku tampung.

Masalahnya, kalau boleh jujur, aku ini sungguh bukan tipikal gadis tukang tikung yang main ambil apa yang sudah menjadi milik orang lain. Catat. Bukan.

Tapi, kali ini kasusnya agak berbeda.

Temanku bilang, tidak pernah ada perasaan yang salah di dunia ini. Tidak juga cinta. Ups, maaf, agaknya menyebut cinta sedikit menggelikan di telingaku. Jadi, biar aku ubah sekali lagi.

Tidak juga suka.

Baiklah, kalian akan menjadi orang pertama yang mendengar pengakuan dosa terbesar seorang Jang Yeeun saat ini juga.

Jangan kaget, dan tetap santai.

Oke.

Ini dia: aku menyukai pacar kakakku sendiri.

Yap.

Sudah kubilang jangan kaget. Dan butuh sekali lagi aku tekankan, kalau aku ini bukan tipe cewek tukang tikung, jadi jangan dulu mencaci maki apa yang baru aku akui barusan.

Aku jelas bukan cewek pendendam kok, meskipun aku tahu, sangat tahu, kalau kakakku yang cantiknya luar biasa itu, lebih mendapat banyak perhatian baik dari orang tua, saudara, tetangga, maupun teman-teman.

Aku tidak pendendam karena ia memiliki semuanya, sedangkan aku tidak memiliki apapun yang ia miliki. Termasuk, salah satunya, pesona.

Aku tidak berusaha untuk merebut pacar kakakku itu, karena aku tahu, itu salah dan tidak benar. Selain itu, kenapa pula pacar kakakku bakal melirikku, sedangkan ia sudah punya kakakku yang cantik, tinggi–layaknya model, pintar, social butterfly dan aktif di segala organisasi kampusnya.

Sedangkan aku disini, hanyalah Jang Yeeun dengan segala kesederhanaannya. Hanya anak kelas 3 SMA yang sedang menikmati masa sekolahnya yang biasa, berteman dengan orang-orang biasa, pokoknya, semuanya serba biasa, deh.

Kadang, aku mempertanyakan, apa aku ini benar anak ibuku, soalnya: Ibuku itu cantik sekali, dan badannya seperti model. Begitu pula kakakku, gen ibu benar-benar sukses turun kepadanya.

Aku? Hanya mewarisi gen tingginya saja. Tubuhku bahkan kurus sekali, jangan tanya lagi.

Meski begitu, sebenarnya aku tidak pernah iri. Ya, biasa saja. Sampai suatu saat–tepatnya 5 bulan yang lalu- kakakku memperkenalkan pacar barunya kepada orang tuaku, dan bahkan, ia mengajak lelaki itu makan malam bersama kami sebanyak–kurang lebih, empat kali.

Dan untuk pertama kalinya, dalam hidupku selama 18 tahun ini, aku iri pada kakakku.

Pacarnya ganteng, dan biar kuperjelas, namanya Yoo Kihyun. Ternyata, kuliah di jurusan yang sama dengan kakakku, dan sudah lulus. Katanya, bulan depan, Kak Kihyun ini akan wisuda dan sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan milik pamannya.

Kak Kihyun ganteng, tapi bukan itu yang aku suka darinya.

Aku suka karena dia baik dan juga dewasa. Jelas, jarak umurku dan umurnya kurang lebih 5 tahun, pasti dewasa. Selain itu dia ramah, kalau tersenyum, matanya menyipit seperti bulan sabit, dan kadang, aku bisa sampai menahan nafas kalau dia tersenyum padaku ketika tak sengaja berpapasan di rumah–ya, kakakku sering sekali membawanya kemari.

Aku tidak dendam ingin merebut Kak Kihyun dari kakakku. Aku hanya iri saja, kalau-kalau aku lahir di tahun yang sama dengan kakakku, tidak akan terlalu mustahil kalau suatu saat Kak Kihyun berpaling kepadaku. He he. Hanya pikiran jahatku saja, kok. Tapi tidak beneran ingin seperti itu (walau kalau memang terjadi, rasanya pasti bakal menyenangkan).

Yang membuatku agak bersyukur (dan heran juga), kakakku dan Kak Kihyun itu tidak pernah skinship, loh. Aneh juga. Padahal mereka bisa saja melakukan apapun di rumah, meskipun ada aku, toh aku tidak akan menonton adegan menyakitkan itu (ngomong-ngomong, aku juga tahu malu).

Tidak pernah skinship dan, ah, yang ini sumpah sangat mengganjal.

Tiap kali aku lewat ruang tamu–tempat dimana mereka biasanya kencan- mereka jarang sekali kelihatan mengobrol. Pasti fokus pada gadget masing-masing, kemudian Kak Kihyun bakal menyapaku dengan senyuman edannya (edan gantengnya) dan basa-basi tentang, “Bagaimana sekolahmu?” atau “Pasti cape ya, banyak tugas.” dan pasti bakal membuatku jingkrang-jingkrak di kamar setelahnya.

Sekalinya mereka mengobrol–dan aku pernah curi dengar beberapa detik– yang mereka bicarakan itu hanya sekedar masalah organisasi atau tentang proposal kegiatan.

Benar-benar bikin bingung, mereka ini pacaran atau kerja kelompok, sih.

+

Hari ini terik sekali, sangat panas sampai aku harus mengeluh puluhan kali dalam beberapa jam terakhir.

Ditambah lagi, hari ini ada jadwal olahraga, dan ada di jam terakhir. Bisa bayangkan? Matahari sedang asyik-asyiknya menari diatas kepala kita.

Alhasil, baju olahragaku langsung basah dengan peluh karena disuruh berlari lima kali putaran (ini baru pemanasan).

Setelah jam olahraga selesai, aku benar-benar nyaris pingsan, dengan kulit yang memerah karena terbakar sinar matahari dan juga mata yang sudah berkunang-kunang. Karena merasa sudah tidak kuat menopang kakiku, dan rasanya bakal percuma juga kalau berjalan menuju halte sendirian, aku memutuskan untuk nebeng naik motor ke salah satu seniorku.

Namanya Jeon Jungkook, dan kebetulan, hari ini ia sedang datang ke sekolah (dia alumni) untuk melatih klub vokal, dan aku, sebagai anggota klub vokal (sejujurnya aku tidak jago nyanyi, tapi aku suka rap, dan kebetulan klub vokal ternyata ada sesi melatih rap juga) tidak malu-malu bertanya padanya dimana ia tinggal. Dan ternyata, kami searah.

Lalu, dengan alasan aku nyaris pingsan dan kepala pusing bukan main, ia mengizinkanku untuk menumpang ke motornya. Omong-omong, dia ini agak jutek, loh, makanya aku juga agak seram saat bertanya padanya. Tapi, dasar jodoh (?) dia akhirnya mau saja.

+

Aku mengucapkan terima kasih dengan nada dimanis-maniskan, ya, siapa tahu dia bakal klepek-klepek inside ketika melihat perlakuan sopanku tadi. Jadi, ‘kan, aku tidak perlu lagi berharap terlalu banyak pada Kak Kihyun, yang sejujurnya, naksir dia itu buang-buang waktu dan buang-buang tenaga (juga buang-buang perasaan).

Setelah memerhatikan motornya yang menghilang dibalik tikungan komplek perumahanku, aku segera mengunci pagar dan memutuskan untuk segera masuk ke rumah.

Aku langsung cenat-cenut ketika melihat pintu ruang tamu terbuka dan nampaknya memang sedang ada Kak Kihyun dirumah. Bisa ditandai dengan motor ninja hitam khasnya yang terpakir manis di halaman rumahku.

Gejala deg-deggan ini wajar terjadi ketika melihat orang yang kau taksir, ‘kan.

“Eh, Kak Kihyun…” Aku tersenyum kepadanya ketika mendengar namaku disebut begitu aku masuk kerumah. Cowok itu tengah duduk di sofa ruang tamu dengan lengan yang menutupi keningnya.

Aku agak canggung untuk menanyakan kenapa padanya, jadi aku hanya melenggang menuju dapur untuk mengambil air putih. Sedikit, aku menengok ke tempat dimana Kak Kihyun sedang berada saat ini dan ia seperti tengah kepayahan menyentuh keningnya.

Tak berlangsung lama, kakakku turun dari lantai atas kemudian memberikan satu lembar plester pada Kak Kihyun.

“Nih, pakai.” Samar-samar aku mendengar kakakku berucap, sebelum ia kemudian kembali ke lantai atas.

Aku menautkan alisku dan dengan agak canggung menghampirinya.

“Kenapa, Kak?” Tanyaku padanya, sambil memegangi gelas minumku.

Ia menengok, dan tersenyum dengan sedikit meringis, “Ini, tadi jatuh.”

Aku mengangguk paham ketika melihat ia menunjukkan luka di keningnya. Dalam hati, aku agak memaki kakakku yang tidak romantis karena tidak berinisiatif memasangkan plesternya di luka Kak Kihyun.

“Kok, bisa?”

“Iya, jatuh dari motor.”

Aku menganga, sambil kemudian mengulang lagi ucapanku, “Kok, bisa?”

Kak Kihyun terkekeh, malah mengisyaratkan aku untuk mendekat, dan menyuruhku duduk di disampingnya. Dasar jahanam. Dia mau mencoba membunuhku secara perlahan, ya?

“Banyak nanya mulu, sini, mending bantu aku.”

Detik berikutnya jantungku seperti diisi ribuan demonstran yang sedang berdemo di depan gedung pemerintah.

Kak Kihyun menyodorkan plesternya, kemudian mengangkat sebagian poninya, benar-benar serius meminta bantuanku.

Dengan agak enggan (padahal senang) aku meraih plester itu dan duduk disampingnya.

Mampus. Bisa-bisa dia mengendus bau keringatku yang tadi sudah membanjiri seluruh tubuhku. Kalau begini, aku bisa mati sebelum bertempur, ah, menyebalkan.

“Maaf, ya, Kak, aku kayaknya agak sedikit bau.”

Bukan sedikit, Yeeun. Kau pasti bau sekali.

Detik berikutnya, aku benar-benar menyesali ucapanku, karena Kak Kihyun malah mendekatkan tubuhnya kearahku dan mencoba mengendus bau tubuhku.

Sialan. Mana ini dekat sekali.

“Enggak, kok. Masih ada wangi lemonnya.”

Edan. Darimana dia tahu kalau aku pakai parfum yang wanginya lemon?

Menghilangkan kegugupanku yang makin menggila, aku segera saja membuka plester itu dan menempelkannya di kening Kak Kihyun.

“Tuh, sudah.”

Bukannya segera minggat, aku malah terjebak dengan netra Kak Kihyun yang tengah memandangiku dengan lancangnya.

“Kak, itu sudah.” Aku berucap sekali lagi, membuat Kak Kihyun mengerjapkan matanya dan kemudian tertawa entah kenapa. Ia segera menjauhkan posisi tubuhnya, membuat aku segera berdiri.

“Kemana pula kakakku itu, malah sibuk sendiri, bukannya bantu pacarnya yang sedang sakit. Kecelakaan dimana, sih, Kak?”

Aku bicara dengan cepat, seperti nge-rap, padahal hanya alibi untuk menyembunyikan rasa gugupku.

Cowok itu nyengir, kemudian merapikan poninya, “Enggak apa, aku senang kamu yang pasang. Tadi gara-gara enggak lihat ada polisi tidur, lalu lupa malah pakai rem depan, jadi langsung mental, deh. Tapi enggak begitu sakit, kok. Cuma luka kecil.”

Aduh, Kak Kihyun ini malah bercanda padaku, pakai bilang kalau senang aku yang pasang segala. Dia pasti sengaja ingin membuatku baper.

“Hati-hati lain kali.”

Kak Kihyun tersenyum miring, “Makasih. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar, ya?”

Rasanya jantungku seperti baru saja dipukul palu godam.

Pacar? Yaampun jangan gila, Kak.

Kau satu-satunya alasan yang membuatku masih belum punya pacar sampai sekarang (atau, aku memang tidak laku).

“Ha-ha, aku enggak ngerti pacaran.” Jawabku sok polos sambil tertawa garing.

Kak Kihyun menjilat bibir bawahnya, kemudian berkata, “Lalu, yang tadi siapa?”

“Tadi?” Kedua alisku bertautan.

“Yang tadi pakai motor merah.”

Oh.

Aku menggaruk tengkukku. Boleh juga, tuh, disangka pacaran dengan cowok keren dan ganteng macam Jungkook. Tapi, berhubung aku ini kelewat baik hati dan sangat honest, jadi aku tidak mau membual apapun, apalagi pada orang yang aku taksir.

“Bukan. Cuma kakak  kelas.”

Kak Kihyun mengangguk-ngangguk sambil tersenyum cerah–yang tidak aku ketahui kenapa ia tiba-tiba lebih bahagia dari sebelumnya–, merasa sudah tidak ada perbincangan lagi, aku segera saja pergi tanpa pamit dulu. Melesat menuju kamar, sambil memikirkan kejadian tadi yang cukup membuatku hampir kena penyakit jantung akut.

+

Wah, edan. Gila. Stress. Parah. Kurang kerjaan.

Yaampun, serius, sumpah. Kalau kau punya kakak seperti kakakku, kau pasti sudah akan memutilasinya detik ini juga setelah mendengar penjabaran tidak logis dan buang-buang waktu dari cewek yang lima tahun lebih tua dariku ini.

Jadi, selama ini itu, aku tidak benar-benar bersalah dan tidak juga berdosa.

Serius.

Tadi sore, sepulang sekolah, aku mampir ke kamar kakakku untuk bertanya soal tugas matematika. Sambil memperhatikan lengan cekatannya yang menulis-nuliskan rumus di bukuku, aku iseng bertanya padanya.

Begini pertanyaanku: “Kak, kok, kakak jutek sekali sih pada Kak Kihyun. Kalian itu kalau ketemuan pacaran atau kerja kelompok? Atau malah sedang lomba puasa bicara? Kok sepertinya kalian itu jarang sekali ngobrol. Enggak cape?”

Dan dengan entengnya–yang aku sesali kenapa aku tidak bertanya padanya jauh lebih awal– ia menjawab: “Oh? Aku belum bilang padamu, ya, kalau aku dan Kihyun itu hanya pacaran pura-pura? Ini semua skenario, kok. Aku hanya malas saja dengar ibu terus mengomel dan menyuruhku untuk segera punya pacar. Padahal, kamu tahu sendiri lah, aku ini cewek super sibuk. Enggak ada waktu untuk pacaran. Jadi, yasudah, aku tawari saja Kihyun, kebetulan dia ini selain anak klub vokal, juga anak theater. Jadi aktingnya bagaimana? Cukup keren, ‘kan?”

Aku sudah akan mengamuk dan mencaci makinya dengan segala sumpah serapah yang sudah ada di tenggorokan.

Tapi, kemudian hanya bisa mencicit tertahan karena kakakku ini bahkan tidak tahu kalau aku selama ini menyimpan rasa pada pacarnya. Atau, harus kusebut dengan bangganya, pacar pura-pura kakakku.

“Lalu, kenapa dia datang kemari terus? Sudah 5 bulan, loh. Jangan-jangan dia suka beneran pada kakak?”

Setelah beberapa menit meredam emosi dan rasa syokku yang bukan main merajai tubuhku selama beberapa saat, aku berusaha meminta penjelasan lagi padanya. Meski dibuat senatural mungkin agar tidak dikira aku naksir pada Kak Kihyun.

Kakakku menjawab, “Enggak tahu juga. Dia bilang dia senang saja datang kemari. Habis, katanya, dia kalau sedang enggak ada kerjaan, enaknya nongkrong dirumah orang. Dan katanya, rumah kita ini enak dijadikan tempat untuk santai-santai. Ya, selama enggak mengganggu, aku perbolehkan saja. Toh, ibu jadi enggak curiga kalau aku hanya pacaran pura-pura.”

Sumpah. Sumpah aku benar-benar tidak tahu apa harus senang atau sedih.

Habis! Semuanya terasa seperti permainan saja. Padahal, selama 5 bulan ini, aku sudah mati-matian merutukki diriku sendiri karena aku kira aku benar-benar akan menikung kakakku kalau meneruskan rasa sukaku ini.

+

Sepulang sekolah, aku dikejutkan dengan motor seseorang dan seseorang yang sudah stand-by berdiri didepan gerbang sekolahku.

Manusia sialan yang selama ini bersandiwara dengan kakakku, yang sialnya lagi, aku masih suka saja padanya.

“Kak Kihyun?”

Aku membalas senyuman lima jarinya dengan pertanyaan heran ketika sudah sampai–kurang lebih satu meter dihadapannya.

“Hai, aku datang menjemput.”

Aku dibuat heran melihat perlakuannya. Dan tambah heran lagi ketika melihat ia mengulurkan satu lembar plester seperti kemarin kepadaku.

“Aku melepas yang kemarin, soalnya kena air. Jadi, pasangkan sekali lagi, ya?”

Alisku bertautan, “Kenapa enggak pasang sendiri? Memang dirumah kakak enggak ada cermin?”

Ia terkekeh mendengar gurauanku, yang jujur saja, sebenarnya receh dan garing sekali. Tapi, ia tertawa, yang membuat wajah tampannya makin berseri-seri.

Sial memang, karismanya edan sekali.

Dan, yaampun, gara-gara cowok ini, aku jadi sering sekali mengatakan kata edan.

“Bukan, cuma, sensasinya beda saja kalau kamu yang pasang.”

Ah, malu sekali.

Beberapa siswa sampai memerhatikan aku yang sedang bicara dengan Kak Kihyun. Jangan sampai aku dikira kencan dengan kakak gemes.

“Yasudah sini.” Aku mengambil plester itu dengan tempo rebutan, sengaja, mencoba menyembunyikan rasa gugupku. Ya, siapa yang tidak akan gugup kalau ini terjadi padamu dan gebetanmu?

Kak Kihyun mengulum senyumnya sambil mengangkat sebagian poninya. Ia tidak perlu susah-susah menunduk, karena maaf-maaf saja, tingginya tidak begitu sulit untuk aku jangkau. Untuk pertama kalinya aku mensyukuri gen tinggi ibuku.

“Yeeun,” Panggil Kak Kihyun saat aku fokus memasang plester pada keningnya.

Aku bergumam pelan, dan kemudian berhasil menempelkan plester itu di kening Kak Kihyun.

Saat akan menurunkan tanganku, sialnya (senang lebih tepatnya) lengan Kak Kihyun malah menggapai lenganku dan tetap memposisikan lenganku didepan keningnya.

Oh, astaga. Jantungku seperti akan copot saja.

“Kak….?”

“Kamu sudah dengar dari kakakmu, ya?”

“Eh?”

“Soal pacaran pura-pura.”

Aku mengedarkan pandanganku, yang makin membuat banyak mata memerhatikan karena posisi kami yang agak ambigu.

“I-itu. Iya…” Jawabku menggantung, sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya. Tapi tidak bisa.

Kak Kihyun tersenyum (aku bersumpah, aku berteriak dalam hati), kemudian menurunkan tangan kami, tapi masih menautkan jari-jarinya pada jariku, yang sukses membuat perasaanku saat ini campur aduk.

“Akhirnya kamu bertanya. Dasar enggak peka, bukannya bertanya dari dulu, jadi, ‘kan aku enggak perlu lama-lama menunggu selama 5 bulan.”

Peka? Bertanya? Menunggu? 5  bulan?

Apa arti semua ini?

Bahkan aku tidak bisa mencerna dengan baik kata-kata Kak Kihyun barusan.

Lagi-lagi, Kak Kihyun tersenyum, dan malah mengeratkan genggamannya pada jari-jariku, membuat darah di sekujur tubuhku berdesir, dan perutku dilanda rasa geli yang berlebihan.

Oh, mungkin ini tanda-tanda cinta yang terbalaskan.

+

Kesimpulannya, ada disini.

Kak Kihyun ternyata naksir padaku (HORE!) sejak kali pertama kami bertemu. Artinya, saat makan malam pada hari itu–5 bulan lalu.

Katanya, aku tidak kaku seperti kakakku, dan katanya, meskipun aku tidak secantik kakakku, pesona karakterku jauh lebih menarik darinya.

Aku gampang tersenyum dan tertawa. Lalu, kalau sedang canggung, gelagatku itu kelihatan sekali, dan kata Kak Kihyun, itu lucu.

Setelah pertemuan pertama itu, Kak Kihyun jadi modus datang ke rumahku dengan alibi sedang tidak ada kerjaan dan ingin nongkrong saja. Sekalian disangka kencan oleh orang tuaku, padahal, ia hanya sedang ingin melihat aku sedang apa.

Aku tidak bisa mengatakan apapun, dan berkomentar apapun, karena, cukup mengharukan, untuk pertama kalinya, aku merasa begitu spesial.

Kak Kihyun cukup tangguh juga, padahal, kalau Kak Kihyun sedang mampir ke rumah, aku bisa saja tidak pernah keluar kamar, atau hanya keluar kamar untuk sekedar mengambil air minum kemudian kembali membangkai di tempat persembunyianku.

Ternyata, semenyenangkan ini ketika kisah cintamu terbalaskan.

Kak Kihyun menunggu 5 bulan sampai aku bertanya pada kakakku kenapa hubungan mereka terlihat aneh. Astaga, kenapa pula aku tidak bertanya saja lebih awal, jadinya, aku tidak akan membiarkan Kak Kihyun menunggu seperti ini, dan tidak akan membiarkan diriku sendiri uring-uringan dan meratapi betapa menyedihkannya kisah cintaku.

Bukan salahku juga tidak peka, toh, siapa yang akan mengira ini semua hanya skenario sialan?

Aku hanya malu saja bertanya soal hubungan pada kakakku.

Tapi, benar tentang pepatah, ‘malu bertanya sesat di jalan’ karena, kalau saja aku tidak bertanya pada kakakku perihal ini, mungkin aku tidak akan pernah tahu kalau ternyata Kak Kihyun juga suka padaku.

Dan, kami saling menyukai.

Ugh, benar-benar memalukan saat menyebutkannya.

Yang terpenting, perasaanku ternyata tidak salah. Oh, bukan. Memang tidak pernah ada perasaan yang salah. He he, terima kasih Kak Kihyun.

.

.

.

YEAH DEBUT KAPEL BARU!

Btw, ini agak sedikit beda dari fictku yang biasanya, karena biasanya aku bikin banyak dialog, dan sekarang dialognya cuman semenel. He he, ingin mencoba hal baru.

OH IYA, ini perkenalan buat kapal baruku hahaha, yap, new ship~

Sebenernya udah tau kalau mereka sering jadi special dj di sukira, tapi barusan, tadi, liat fanvid mereka, dan aduhaaay~~ indahnya….

Pandangan mata Kihyun ke Yeeun itu, beuh, wkwkwk, jadi pengen deh punya cowok yang ngeliatin aku kek begitu /foreverjombs

Pokoknya, meskipun usia mereka jauh beut (yaampun sama kek aku dan abangku) tapi, selama mereka ganteng dan cantik (?) kenapa enggak. /apadah

BONUS:

12825793_1031950890196465_971172472_n.jpg

wuhuw~~~~

 

Iklan

2 respons untuk ‘Wrong yet Right

  1. zahra apakah kita berbagi otak yang sama karena wow AKU JUGA NGESHIP KIHYUN DAN YEEUN???? terus tahu ga begitu postmu keluar di feed wordpress aku langsung menjerit senang akhirnya ada yang bikin fic mereka??? karena aku baru bikin sekali doang?? wkwkw
    seperti biasa ya humor kamu tuh masih ada terus kihyunnya nyebelin terus yeeunnya polos banget ya Allah imut sekali ;_; tapi bentar apa ibunya yeeun ga bingung gitu ya lah kan kihyun katanya pacaran sama kakaknya loh kok tiba-tiba sama adeknya?? wkwk gak usah dijawab aku cuman lagi alay sj wkwk

    Suka

    1. yaampun ini semua pasti sudah ada dalam garis takdir:’)
      serius kamu pernah bikin? KOK WAKTU DULU AKU NGUBEK2 WP MU AKU GAPERNA NEMU TTG MEREKA?! /brb baca/
      iya humor2 receh:’) HAHAHA YAAMPUN MEY! itu yang ada dipikiran aku kok pas aku lg nulis fict ini, tapi toh aku cut sampe situ engga munculin ibunya, jadi ya syudahlah~ /ketauangamauribetnyawks
      THANKYOU YAAA DAH NYEMPETIN BACA💓

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s