Compared Me

PicsArt_07-23-05.35.10.jpg

Staring:

CLC’s Eunbin – Astro’s Sanha

Genre:

Fluff, Slice of Life, Humor

Kalau Eunbin dibilang tampang mirip tante-tante kekinian, sedangkan Sanha, ha— dia dibilang seperti bayi yang baru terlahir ke dunia.

+

Ada 2 hal di dunia ini yang Eunbin sangat tidak ingin dengar dari orang-orang tentang bagaimana dirinya menurut sudut pandang orang ketiga.

Pertama, ketika seseorang bertanya padanya: “Berapa usiamu?”, kemudian memandanginya dengan pandangan menelisik. Dan kedua, ketika seseorang mengatakan satu kalimat–dua kata yang sangat gamblang, yaitu: “Wajahmu boros.”

Eunbin tidak menyalahkan siapapun akan ketidakberuntungannya memiliki wajah yang kelihatan lebih tua dari usianya, tidak ibunya yang melahirkannya, tidak pun Tuhan yang menciptakannya.

Ia bahagia terlahir sebagai gadis berparas cantik (oh, ayolah, siapapun, akui saja. Meskipun tampang boros, Eunbin itu cantik, kok.)

Tapi, kenapa sih?

Kenapa pertumbuhannya begitu cepat dibandingkan teman-temannya yang lain? Kenapa wajahnya terlihat seperti tante-tante kekinian yang pada kenyataannya, ia hanyalah gadis berusia 16 tahun yang masih kelas 1 SMA. Kenapa tingginya harus begitu menjulang ketika teman-temannya masih memiliki tinggi yang kelewat wajar bagi anak tingkat 1.

Bahkan, ketika hari upacara penerimaan murid baru, Eunbin disangka alumni oleh penjaga gerbang, karena katanya wajahnya punya tipikal wajah mahasiswa. Tipikal wajah mahasiswa itu maksudnya bagaimana, ya? Eunbin sampai sewot ingin melabrak penjaga gerbang itu, kalau saja ia bukan lelaki tua yang usianya sudah lebih dari setengah abad.

Bicara soal upacara penerimaan murid baru, Eunbin memang sudah ditakdirkan ketiban nasib sial semenjak masuk SMA. Selain dibicarakan oleh para senior dan teman seangkatannya, dengan sangat tidak bangga disebut sebagai ‘bocah berwajah boros’, muncul lagi satu masalah dalam hidupnya.

Apa yang membuatmu akan sangat menderita ketika kau sudah menjadi target pembulian verbal? Bagi Eunbin, dibanding-bandingkan.

Tidak akan ada pembulian terjadi jika tidak ada bahan pembanding. Misalnya, sebagai contoh; “Hei, kamu jelek sekali, sih. Tidak bisa apa wajahmu operasi plastik saja biar bisa agak enak dipandang seperti si B dari kelas itu?”

Yap, cukup jelas bukan?

Sekarang Eunbin, sebagai si korban pembulian, menjadi salah satu yang merasakan tidak enaknya dibanding-bandingkan.

Tidak terlalu membuat Eunbin sedih atau frustasi, sih. Hanya saja, ia jadi sedikit jengkel.

Namanya Yoon Sanha. Eunbin awalnya tidak tahu nama itu, tapi kemudian, pada suatu hari yang terik ketika hari kedua masa orientasi siswa, beberapa seniornya tengah bergosip ria sambil bercakap tentang adik kelas baru bernama Sanha yang katanya punya wajah imut sekali.

Hanya sekilas Eunbin mendengarnya,  yang kemudian esoknya ia benar-benar bertemu dengan cowok bernama Sanha tersebut.

Benar apa kata seniornya, cowok itu imut sekali. Giginya dipasangi kawat yang tak begitu kasat mata, sehingga butuh mata yang ekstra jeli untuk melihatnya. Kulitnya putih sekali (serius, bahkan Eunbin kira cowok itu punya warna kulit yang bisa mengalahkan warna kulit cewek manapun), hingga kalau terkena sinar matahari, pipinya akan berubah menjadi semburat merah yang menggemaskan.

Wajah sih boleh imut, tapi postur tubuh jangan ditanya.

Bisa dibilang, dia agak lebih beruntung dari Eunbin karena, hanya badannya saja yang terus tumbuh, tapi wajahnya stay di usia sewajarnya.

Cowok itu cukup menjulang untuk ukuran anak tingkat 1, bisa dibilang, Eunbin versi cowok, tapi lebih imut.

Kalau Eunbin dibilang tampang mirip tante-tante kekinian, sedangkan Sanha, ha— dia dibilang seperti bayi yang baru terlahir ke dunia.

Dan itu, merupakan point paling penting yang Eunbin sangat benci dari cowok bernama Yoon Sanha tersebut.

Para senior dan teman seangkatannya terus mengelu-elukan Sanha, katanya begini, “Yaampun! Sanha imut sekali, baby face! Apalagi dia ramah, sering senyum. Dia senyum pada semua orang sepertinya. Coba kalau kamu tengok cewek kelas 1 yang namanya Eunbin, deh! Sumpah, aku enggak lagi-lagi, deh, nengok orang itu! Jutek, menyebalkan, dan mukanya itu, loh. Boros banget! Aku kira awalnya dia itu mahasiswa.” dan tidak lupa juga dengan nama Eunbin yang ditambahkan dalam obrolan, sebagai ‘pemanis’ rasa.

Yang ingin Eunbin koreksi adalah, dia itu tidak jutek, tapi, memang tampangnya saja  yang kalau sedang diam agak tidak ramah. Lalu, ia tidak menyebalkan. Tahu darimana orang-orang kalau Eunbin itu menyebalkan? Lebih menyebalkan lagi mereka, lah, Eunbin tidak salah apa-apa, terus saja jadi bahan gosip. Dibuli pula. Tidak ada matinya.

Dan yang terakhir, Eunbin tidak mau mengoreksinya, karena, well, benar. Wajah Eunbin memang agak boros, dan Eunbin tidak bisa menyangkal apa-apa.

Pokoknya, semenjak masuk SMA, masa-masa yang harusnya indah bagi Eunbin, malah terasa seperti neraka duniawi. Apalagi, ditambah kehadiran Sanha yang seakan menjadi alat yang membuat Eunbin selalu terhubung dalam dunia parallel dan terjebak didalamnya bersama cowok itu.

Dimana nama Sanha disebut, disitulah nama Eunbin juga terselip.

+

Eunbin sudah akan mengangkat nampannya dari meja kantin, ketika emosinya sudah benar-benar mencapai ubun-ubun, karena, ya, sekelompok senior di meja sebelahnya yang tak habis-habis membicarakan Eunbin dengan nada yang sengaja dinaik-naikkan supaya Eunbin bisa mendengarnya. Seakan para nenek lampir itu tengah menguji kesabaran Eunbin saja.

Sedetik lagi, tinggal sedetik lagi Eunbin akan pergi dari mejanya, sampai satu aksi menimbulkan satu reaksi yang cukup membuat beberapa siswa disekitarnya menahan nafas karena menyaksikan adegan yang ‘agak’ heroik itu. Agak heroik secara tersirat, sih.

Yoon Sanha datang sendirian, membawa nampannya, dan duduk tepat di meja yang sama dengan Eunbin. Membuat Eunbin harus membeku sejenak, dan memutuskan untuk kembali menempelkan pantatnya di bangku, dengan rasa penasaran yang sudah begitu memuncak.

Eunbin terpaku, menunggu hal apa yang akan Sanha lakukan ketika netra mereka saling bersirobok.

Sanha melempar senyuman sejuta karismanya, yang mungkin sudah berhasil membuat meleleh para-nuna yang tengah memperhatikan kejadian tersebut. Senyuman yang begitu ceria yang menampilkan sederet kawat gigi agak tak kasat mata yang tertangkap retina Eunbin dalam jarak kurang dari satu meter.

“Eunbin, aku makan disini, ya!”

Itu kalimat pertama yang berhasil muncul dari kedua belah bibirnya, sebelum detik berikutnya, cowok itu sudah melesakkan beberapa sumpit makanan ke mulutnya. Dan berhasil membuat Eunbin termangu beberapa jenak di tempatnya. Mempertanyakan kesialan apa lagi yang akan berdatangan.

Kenapa Sanha? Kenapa cowok yang begitu Eunbin benci?

+

Eunbin menggebrak bilik toiletnya, hingga membuat visualisasinya jelas menampakkan beberapa siswi seangkatannya yang tengah bersolek didepan cermin melirik kearahnya dengan raut keterkejutan.

Eunbin diam saja, membuang satu menit waktunya untuk mencuci tangannya di wastafel, kemudian keluar dari kamar mandi putri.

Alisnya berkedut, menandakan kalau lagi-lagi ia kesal.

Kesal yang amat sangat.

Baru saja ia mendengar di toilet tadi kalau katanya, Eunbin main dukun untuk membuat Sanha mau makan berdua–satu meja dengannya.

Astaga. 

Bahkan, kalau ia datang ke dukun pun, yang ia akan lakukan adalah mensantet para pembulinya agar tidak bisa bicara lagi. Habis, itu bibir sudah minta dirobek saja. Kerjaannya tak pernah habis membicarakan orang.

Eunbin padahal masih ingat, saat sekolah dasar dulu, gurunya pernah mengatakan kalau kebiasaan membicarakan keburukan orang lain itu adalah contoh dari manusia yang tidak bermoral.

Apa para pembulinya tidak lulus sekolah dasar, sampai tidak tahu kalau perkataan yang mereka ucapkan itu benar-benar tidak bermoral.

Atau, zaman sekarang, manusia kebanyakan sudah tidak bermoral?

+

Pagi hari, Eunbin dikejutkan oleh seseorang yang tengah berdiri didepan pagar rumahnya dengan lengan yang menyelip diantara tali tasnya.

Eunbin agak memicingkan matanya yang memang minus, kemudian dengan langkah tergesa–sudah memakai seragam lengkap, dan bersepatu– ia menghampiri si sosok penunggu pagar rumahnya itu.

Pertama, ia terkejut.

Kedua, ia kebingungan.

Ketiga, ia tidak tahu harus bagaimana, selain menerima tawaran cowok itu untuk naik bus bersama-sama ke sekolah.

“Eunbin, ayo ke sekolah bersama!”

Begitu sapaan pagi yang terlampau ceria dari bocah 16 tahun bernama Yoon Sanha.

+

Hal yang begitu membingungkan akhir-akhir ini terjadi pada Eunbin.

Yoon Sanha, yang notabene merupakan penyandang gelar ‘cowok yang paling Eunbin benci selama tahun pertama masa SMA-nya’ malah seakan merayu Eunbin secara tidak kasat, agar ia tidak membenci cowok yang polosnya kelewatan itu.

Mulai dari, menghampiri Eunbin yang tengah makan di kantin sendirian.

Mengajak Eunbin pergi ke sekolah bersama.

Mendatangi Eunbin di GOR saat jam olahraga.

Menyapa Eunbin dengan sengaja saat bertemu di perpustakaan.

Pergerakkannya yang begitu cepat, membuat Eunbin tak sempat mempertanyakan apa sebenarnya yang di rencanakan cowok itu.

Datang tiba-tiba, seakan sudah berteman 10 tahun, padahal mengobrol akrab saja tidak pernah.

+

“Sebenarnya, apa yang kamu rencanakan?”

“Rencana?” Sanha mengedipkan matanya sebanyak dua kali, membuat Eunbin tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruk sesuatu yang berbahan keras.

Eunbin ingin pergi, atau lari saja, tapi kondisi saat ini, dimana mereka tengah berdua di gudang tempat penyimpanan perlengkapan olahraga, begitu menguntungkan bagi Eunbin. Ia tidak perlu mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal serius ini dengan Sanha, yang setiap ia ingin membicarakan hal ini, selalu terpotong dengan banyaknya teman Sanha yang terus menyapa.

“Iya. Kamu merencanakan sesuatu, ‘kan? Maksudku, Sanha, aku ini Kwon Eunbin. Aku ini cewek korban bully. Yang katanya tampang aku itu seperti tante-tante. Kamu mau, kalau terus berkeliaran di sekitarku disangka bocah yang sedang diculik tante-tante kekinian? Enggak, ‘kan. Jadi, please, katakan motifmu apa. Kamu harusnya tahu, loh, aku itu benci banget padamu. Apa enggak kelihatan? Selama ini aku memandangimu seperti ini.”

Eunbin mencoba memasang tampang datar setelah menyelesaikan rentetan kalimatnya. Memasang ekspresi sejutek mungkin, untuk meyakinkan cowok didepannya, kalau ia serius–sangat serius malah, bahwa ia benar-benar membenci Sanha.

Tapi sang cowok, malah terbengong beberapa detik, kemudian terkekeh, menunjukkan rentetan kawat gigi yang begitu manis menempel di gigi putihnya.

“Kenapa tertawa?” Eunbin menautkan alisnya, sedangkan Sanha masih mengulum tawanya, mengubahnya menjadi senyuman manis layaknya bocah.

“Eunbin, kamu ini bicara apa, sih. Enggak ada motif. Dan ya, aku tahu kok, kamu benci padaku. Sangat.”

Bukannya marah karena Eunbin menekankan kata benci barusan, cowok itu malah tersenyum miring padanya, membuat Eunbin dibuat salah tingkah karena dipandangi seperti itu.

“Kalau tahu, kenapa masih berkeliaran didekatku? Harusnya kamu menjauh.”

“Enggak ada alasan untuk menjauh.”

“Ada.” Jawab Eunbin cepat. “‘kan, aku bilang, aku benci padamu. Jadi harusnya, kamu menjauh.”

Sanha menyengir, lagi-lagi Eunbin harus melihat kawat gigi itu, kenapa pula cowok dihadapannya ini punya tampang polos dan begitu menggemaskan, sampai rasanya, Eunbin tidak tega untuk membentak atau memarahinya. Membuat Eunbin jadi menambah dosa saja.

 “Itu ‘kan, alasan kamu. Kalau kamu mau menjauh, ya, silahkan saja. Tapi, aku bakal terus mendekat.”

Eunbin dibuat mual seketika, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengus. Mendengar ucapan barusan meluncur dari bibir cowok itu, rasanya benar-benar sulit dipercaya.

“Sanha, serius, deh. Jangan bercanda. Keberadaanmu itu membuat hidupku enggak tenang. Karena kamu, orang-orang makin menjadi-jadi membuliku. Sanha imut, tapi Eunbin dari kelas 1-1 tante sekali. Sanha manis, tapi si Kwon Eunbin itu jutek seperti kolot. Astaga. Itu memuakkan, tahu. Karena kamu, aku jadi dibanding-bandingkan terus. Enggak ada kamu saja, hidupku sudah cukup menderita. Sekarang kamu berkeliaran di sekitarku, mulut orang-orang itu makin gatal membicarakanku.”

Eunbin mengeluarkan seluruhnya, apa yang memang ia ingin semburkan sedaritadi.

Sanha mematung beberapa jenak, kemudian menggapai puncak kepala Eunbin dan menepuknya pelan.

“Maaf.”

Ngapain?”

“Minta maaf karena membuat hidupmu menderita.”

“Bukan. Ini tanganmu, ngapain diatas kepalaku?”

Sanha terkekeh mendengar kalimat menyebalkan–yang sayangnya, manis bagi Sanha- meluncur dari bibir Eunbin.

A comfort may makes someone feel better.” Ujar Sanha dengan pelafalan Bhs. Inggris yang berantakan.

Eunbin mati-matian menahan tawanya, “Jadi menurutmu aku merasa nyaman kalau kepalaku ditepuki? Begitu?”

“Mungkin.” Cowok itu menyengir, melelehkan emosi dalam diri Eunbin.

Lengan Sanha masih setia bertengger dikepalanya. “Kenapa kamu enggak sakit hati, sih? Aku, ‘kan, sudah memarahimu dua kali hari ini. Ditambah, aku tekankan sekali lagi, aku bilang, aku membencimu, ‘kan?”

Sanha terlihat berpikir, sambil mengangkat lengannya yang tadi berada dipuncak kepala Eunbin, ke dagunya.

Beberapa jenak berpikir, netranya tiba-tiba mencoba melesak menubruk netra Eunbin. Membuat gadis itu tidak bisa mengalihkan pandangannya.

“Satu perasaan mengalahkan perasaan lainnya.” Jawab Sanha simple.

Se-simple itu, tapi langsung membuat Eunbin ber-oh ria dalam hati, sambil tanpa sadar, satu perasaan, yang ia namai dengan rasa benci dalam dirinya, seakan melesak berusaha keluar membebaskan diri.

.

.

.

Alasan yang membuat aku tergugah untuk membuat fict ini:

  1. Ketika lagi ngubek-ngubek moment Astro-KNK dan menemukan moment mereka di The Show yang Sanhanya cubank minta nuna culik sambil teriak-teriak “chicken chicken” gitu. Yaampun ini bocah suka banget sama ayam>< lucuuuu
  2. Memikirkan betapa lucunya Sanha, imut, manis, kayak bocah sd, kemudian mencoba mencari pasangan 00 line yang memiliki rupa jungkir balik dari Sanha.
  3. Dan  Eunbin lah orangnya!! Wkwk, bisa dibilang eunbeanie-beanie ini adalah salah satu contoh dari banyaknya contoh maknae yang agak bongsor.
  4. EUNBIN CANTIK BANGET! Dia 2 tahun lebih muda dari aku, dan aku disini macem kentang.
  5. Dan jadilah Sanha x Eunbin (?) awalnya mau pake Somi, abis bingung siapa idol cewek yang 00 line, gainget (belum inget Eunbin). Mayan ‘kan tuh Somi lebih muda setahun dari Sanha, dan wajahnya lebih boros dari Eunbin wkwkwk /mianhae som/ TAPI pada akhirnya pake Eunbin. Eh, pas pake Eunbin, keinget ada Pledis Girlz Siyeon. Yasuddd, udah ngerasa Eunbin yang cocok, jadi gajadi wkwkwk.
  6. SIP! Segitu alasan enggak pentingnya. Btw, sori baru kambek, soalnya kemarin-kemarin stress ujian. Stress doang mau ujian, ngapalin mah kagak wkwk.

 

OKHAY THX YANG UDAH MENYEMPATKAN WAKTU MEMBACA, HAVE A NICE WEEKEND~!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s