Unspoken Feeling

PicsArt_07-18-06.23.12.jpg

Staring:

Gfriend’s Yuju – Seventeen’s Dokyeom

Genre:

Fluff

“Itu suara hatiku tahu, enggak bisa dijelaskan.”

+

Yuna meraih sejumput surai coklatnya, kemudian sepintar mungkin menyembunyikan sebagian wajahnya yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian para mahasiswa di kampusnya.

Malu.

Malu sekali rasanya jadi seorang Choi Yuna.

Insiden kemarin sore nampaknya tidak semudah itu surut dari bahan pembicaraan orang-orang dan media massa. Sampai-sampai blog kampusnya tadi pagi memberitakan tentang kejadian kemarin sore yang terlampau memalukan bagi dirinya.

Rasa sakit dan pegal-pegal di hampir seluruh badannya sih tidak apa-apa dibandingkan dengan rasa malu menjadi bahan obrolan anak kampus.

Masalahnya, kemarin sore itu adalah acara penting, dan bisa dibilang acara tahunan yang rutin diadakan. Hampir seluruh mahasiswa rela berdesak-desakkan hanya untuk menonton acara festival budaya itu karena banyak penampilan dari berbagai ekstrakulikuler yang memang menarik mata dan hati banyak orang.

Tidak terkecuali klub dance, yang memang penampilannya selalu dinanti-nantikan.

Yuna, bukanlah salah satu anggota dari kelompok yang berisikan anak-anak keren dan swag itu. Tapi, kemampuan dancenya bisa dibilang oke, jika ia ikut serta untuk mengisi acara panggung tersebut.

Tiga hari sebelum hari-H, Yuna tiba-tiba didatangi salah seorang kakak tingkatnya yang memohon padanya untuk mengisi kekosongan salah satu anggota klub yang tiba-tiba cedera karena kakinya keseleo.

Ia sudah berkali-kali menolak dengan sopan, tapi pada akhirnya ia tak kuasa ketika melihat wajah kakak tingkatnya yang kelewat melas hingga seperti hampir menangis. Akhirnya, karena Yuna baik hati dan tidak sombong, ia meng-iyakan tawaran itu, meskipun agak berat hati juga.

Kebetulan, Yuna memang tidak diikut sertakan dalam penampilan klub vokal karena ketuanya lebih mengutamakan Yuna untuk andil dibelakang layar, sebagai panitia saja katanya, tidak usah ikut tampil.

Sedih tidak bisa ikut tampil, ia mulai berpikir, kesempatan untuk tampil dengan klub dance tidak begitu buruk juga.

Bisa dibilang, sambil menyelam minum air lah.

Yuna yang memang agak genius dalam urusan menghafal berhasil mengikuti koreo hanya dalam waktu 3 hari saja. Semuanya sempurna, sampai Yuna senang sekali, orang-orang memuji kelihaiannya dalam menari.

Pada hari-H, tidak akan ada yang menyangka kalau hujan akan turun sangat lebat hingga membuat acara terhenti selama tiga puluh menit. Panggungnya basah, stan-stan makanan ada yang ambruk karena angin kencang, beberapa penonton mulai mengeluhkan ketidaknyamanan dan beberapa memilih untuk pulang.

Tapi, hujan tidak menjadi halangan untuk para penghibur yang akan tampil sore itu.

Mereka, termasuk klub dance, memaksakan diri untuk tampil meski panggung masih basah. Yuna benar-benar ragu dan ketakutan, bayangan kalau ia akan tergelincir berlarian dalam kepalanya.

Berkali-kali ia bicara pada salah satu kawannya untuk menunda penampilan sebentar lagi setelah hujan sudah benar-benar berhenti, dan panggung sudah dikeringkan.

Tapi, tidak ada yang mendengarkan penuturannya.

Alhasil, mereka tampil.

Yuna benar-benar gugup, lantainya benar-benar basah, dan sedikit saja gerakannya hype, ia bisa saja terjatuh dengan posisi kepala dibawah.

Semua bayangan negatif itu terjadi.

Selama 4 menit waktu pertunjukkan, Yuna berhasil jatuh sebanyak 9 kali.

Lututnya, sikutnya, dagunya, tulang keringnya,  semuanya lebam dan menimbulkan bekas  biru yang begitu nampak.

Bahkan, suara jatuhnya sampai berbunyi gedebuk yang begitu keras.

Begitu penampilan selesai, Yuna tak kuasa menahan tangis karena seluruh badannya terasa remuk, ditambah lagi, ia menangisi dirinya sendiri karena sudah tampil memalukan didepan banyak orang.

Kakak tingkat dan teman-temannya meminta maaf atas kejadian itu.

Tapi, mau bagaimana lagi, bahkan kata maaf tak bisa memundurkan waktu agar Yuna tidak jatuh tergelincir didepan banyak orang.

Memalukan.

Yang menyebalkan, orang-orang bukannya kasihan, Yuna malah mendapat celaan karena katanya ia berlebihan, drama, dan pura-pura agar di notice banyak orang.

Like, hello?

Siapa yang rela menghancurkan tubuhnya sendiri hanya agar dia terkenal dan di notice banyak orang?

Hanya orang gila yang melakukannya.

+

“Makanya, sudah kubilang, ‘kan, kalau kamu itu mending diam di belakang layar, bukannya urusi acara, malah tampil di klub lain, jadinya begitu ‘kan, jatuh sampai lebam, untung juga itu kepala enggak bocor. Kalau bocor, aku juga ‘kan sebagai ketua yang harus tanggung jawab. Pokoknya, aku enggak mau tahu, kamu harus bilang ke Ibu Yoo kalau kamu ikut tampil klub dance karena kemauan kamu sendiri! Aku benar-benar enggak mau ikut kena semprot.”

Nayeon melirik Yuna yang hanya terdiam sambil matanya jelalatan memandangi sekeliling ruangan, membuat emosinya kembali tersulut ketika melihat gadis dihadapannya itu seperti tidak memperhatikan. “Heh, Choi Yuna! Dengar enggak sih daritadi aku bicara?”

Yuna mengerjapkan matanya kemudian menggaruk pipinya yang tak gatal. “Dengar, kok, sunbae. Iya, maaf. Nanti aku bilang Ibu Yoo kalau semuanya memang salahku.”

Nayeon mendelik, sambil menyilangkan tangannya di dada, “Enggak mau tahu, sore ini harus langsung bilang. Aku enggak mau kena omel!”

“Iya…” Yuna mengangguk-ngangguk sambil menatap Nayeon penuh keyakinan.

Setelah mengomel hampir setengah jam, Nayeon akhirnya memilih untuk segera keluar dari ruangan klub, meninggalkan Yuna yang terduduk di sofa sendirian.

Gadis itu memerhatikan kepergian Nayeon sambil mencibir pelan, “Perasaan aku diomeli melulu.”

Yuna memandangi kedua kakinya yang hari ini dilapisi celana jeans selutut, ia sudah mencoba memakai celana jeans panjang, tapi semua celananya ketat dan lebamnya malah makin sakit kalau terbungkus. Maunya sih ia halangi semuanya, tapi apa daya, menyiksa sekali.

“Yuna?”

Gadis yang dipanggil menoleh, kemudian mendapati presensi seorang lelaki yang tengah berdiri diambang pintu sambil memandanginya.

Tumben sekali gadis itu tidak menyadari kehadiran seseorang. Telinganya biasanya peka sekali kalau mendengar langkah kaki yang mendekat atau mendengar suara pintu yang baru saja dibuka.

Yuna menanggapi sapaan Seokmin –lelaki yang kini mulai memasuki ruangan klub- dengan lambaian pelan, sambil kemudian menekuk kembali kakinya.

“Sedang apa?” Tanya Seokmin sambil berjalan mendekati lemari yang biasanya menjadi tempat penyimpanan berkas-berkas penting klub vokal.

“Tidak sedang apa-apa.” Jawab Yuna. Ia memerhatikan gerakan tangan Seokmin yang meraih beberapa proposal lama yang tersimpan di lemari.

“Untuk apa itu?” Kini Yuna yang balik bertanya, membuat Seokmin berbalik menghadap kearahnya.

“Biasa, Nayeon sunbae sedang cerewet.”

Lelaki itu memberikan senyuman terbaiknya, membuat Yuna diam-diam meleleh karena senyuman itu.

Yuna berdecih, “Yaampun, baperan sekali, cuma karena masalahku, dia jadi ngomel sama orang yang enggak salah.”

Seokmin diam saja, tidak menanggapi ocehan Yuna karena fokusnya saat ini tengah pada proposal di tangannya.

Yuna yang merasa sudah tidak ada urusan lagi–dan merasa terabaikan oleh Seokmin- memilih untuk segera berdiri dengan agak kepayahan, ringisan lolos dari bibirnya.

“Sial.” Umpatnya sambil mencoba melangkah dengan terseok-seok.

Gadis itu sudah akan meraih ranselnya yang tadi ia sempat lempar ke meja ketua, dibuat menoleh oleh dehaman halus Seokmin.

“Ehm, Yuna.”

“Ya?”

Gadis itu menyernyitkan keningnya ketika melihat raut wajah Seokmin yang tidak seperti biasanya. Boleh dibilang, tidak begitu ceria.

“Kenapa?” Tanya Yuna sedikit keheranan.

Seokmin mendekat dengan proposal dilengannya. Yuna hampir dibuat kehilangan nafas ketika lelaki itu sudah berdiri kurang dari satu meter dihadapannya.

“Seokmin….?” Yuna kembali bersuara. Bukannya ia bawel, tapi, siapa yang tahan sih ketika orang yang kalian taksir berdiri tidak kurang dari lima jengkal dihadapanmu.

Lelaki itu melirik kaki Yuna, membuat gadis itu dibuat bergeming karenanya.

“Sakit, ya?”

“Huh?”

Mungkin kalau saat ini adalah scene disebuah film, dada Yuna sudah digambarkan seperti mengeluarkan kembang api yang meletup-letup. Gadis itu selalu lemah kalau dihadapkan dengan Lee Seokmin, lelaki dari jurusan seni musik yang juga merupakan teman satu klubnya di klub vokal.

Pertemuan keduanya saat upacara penerimaan mahasiswa baru karena sama-sama terlambat, membuat Yuna melihat lebih jauh sisi menyenangkan Lee Seokmin, sisi ceria lelaki itu, senyumannya yang bagaikan virus yang mewabah bagi semua orang.

Bahkan, ketika saat ini tubuh Yuna kesakitan bukan main, rasanya akan agak terobati kalau Lee Seokmin bisa tersenyum untuknya saat ini juga.

“Sudah tidak apa-apa, kok.” Yuna menjawab dengan bualan, membuat ia menyesali hal tersebut, karena lelaki itu malah menarik lengannya untuk mengecek keadaan sikut Yuna.

“Tidak apa-apa bagaimana?” Tanya Seokmin sangsi, “Ini lebam.” Lelaki itu menunjuk sikut Yuna, “Itu lebam.” Kali ini menunjuk lutut dan tulang kering Yuna.

“Masih dibilang tidak apa-apa?”

Sorot mata Seokmin begitu kentara kalau lelaki itu khawatir, membuat kaki Yuna lemas seketika.

“Kalau istirahat dan diberi obat juga bakal sembuh.” Yuna memberikan sedikit senyuman miring, awalnya untuk meyakinkan Seokmin agar tidak memasang tampang seserius itu, tapi usahanya malah gagal.

Seokmin menarik Yuna agar gadis itu kembali duduk, kemudian beranjak mengambil kotak P3K di lemari. Ia kembali menghampiri Yuna dan berlutulut dihadapannya.

“Seokmin, kamu ngapain?” Yuna agak panik ketika lelaki itu mulai mengeluarkan salep dari kotak.

Yaampun, mana bisa ia merepotkan gebetannya?

“Diam saja.”

Tak butuh waktu lama, Seokmin mulai mengolesi salep pada luka di tulang kering Yuna, kemudian beralih ke lutut, dan menarik tangan gadis itu agar menunjukkan sikutnya.

Tak jarang Yuna meringis dibuatnya, membuat Seokmin berkali-kali menanyakan ‘tidak apa-apa’ pada Yuna.

+

Pukul 09.55 pm, Yuna tengah duduk didepan komputernya sambil mengetik laporan untuk tugasnya yang harus dikumpulkan besok. Tinggal sedikit lagi, jadi gadis itu mengetik dengan tempo yang agak santai.

Ketika tengah membaca beberapa bagian dari buku paketnya, ponselnya bergetar dan mengeluarkan senandung suara Seokmin yang bernyanyi pada acara penyambutan menteri luar negeri yang datang ke kampusnya bulan lalu.

Diam-diam ia merutuki dirinya karena lupa untuk mengganti nada dering ponselnya, bisa-bisa kalau ketahuan ‘kan bahaya.

Lee Seokmin

Yuna hampir saja melempar ponselnya begitu melihat nama siapa yang tertera disana.

Gadis itu sedang menang banyak akhir-akhir ini. Sudah kemarin diobati lukanya oleh Seokmin, hari ini dapat panggilan dari pujaan hatinya itu.

“Halo?” Yuna menjawab setelah beberapa detik membiarkan ponselnya itu terus berdering. Sibuk mengatur detak jantungnya sendiri.

“Yuna?” Terdengar sahutan dari sebrang sana, suara Seokmin.

“Seokmin? Ada apa?”

Yuna memukul dadanya beberapa kali, berusaha agar detak jantungnya tidak berdetak terlalu keras.

Tidak ada sahutan apapun disebrang sana, sempat hening sejenak, Yuna sudah akan kembali bersuara, sebelum akhirnya Seokmin kembali menyahut disebrang sana.

“Sudah baikan?”

“Sudah….” Jawab Yuna menggantung. Sebenarnya tidak begitu baikan, lukanya masih sering berdenyut tiba-tiba, dan kalau banyak bergerak, ia bisa sampai meringis kesakitan.

Tapi, terima kasih kepada Seokmin, mungkin setelah pembicaraan di telfon ini selesai, Yuna akan merasa jauh lebih baik.

“Kok, menggantung gitu sih,” Seokmin sedikit terkekeh disebrang sana, Yuna bisa membayangkan bentuk mata lelaki itu yang agak menyipit.

Yuna meringis, “Iya, bagaimana, ya. Biar enggak panjang, jawab saja sudah.”

Kekehan disana terhenti, nadanya mulai agak serius. “Jadi masih sakit?”

“Ya, begitu lah.”

“Begitulah bagaimana?”

“Seokmin, bayangkan saja, kamu jatuh 9 kali dipanggung, apa bakal sembuh hanya dalam waktu tiga hari?” Tanpa Yuna sadari, ia berbicara dengan nada yang agak sarkastik.

“Oke, maaf.” Seokmin menghela nafas. “Hanya basa-basi.”

“Aku juga minta maaf, agak sewot.”

Terdengar sedikit riuh disebrang sana, kemudian suara siulan-siulan dan tawa yang terkesan menggoda.

“Ada siapa?” Tanya Yuna ketika mendengar suara itu.

Seokmin meringis, “Maaf, ya. Sedang di kosan Mingyu, jadi agak ribut.”

Yuna ber-oh ria. Senangnya, pasti mereka tengah bersenang-senang.

“Yuna,” Panggil Seokmin.

“Iya?” Yuna menyahut.

“Sedang apa?”

“Sedang…..” Yuna menengok pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi beres. “Mengerjakan tugas.”

“Aku mengganggu, ya.”

“Enggak, kok.”

“Benar?”

Yuna mengangguk, kemudian sadar Seokmin tidak akan mengetahuinya. “Sudah hampir beres.”

Seokmin menghela nafas disebrang sana, “Syukurlah..”

“Kenapa?”

Seokmin terkekeh sebentar, “Tadinya kalau kamu bilang terganggu, aku bakal matikan telfonnya. Meskipun agak kecewa, soalnya aku masih mau bicara denganmu.”

Yuna merasakan perutnya kegelian, selanjutnya ia menanggapi dengan tawa sarkastik, berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Ha-ha, apa sih, Seokmin. Gak usah bercanda.”

“Aku enggak bercanda.”

“Aku percaya kalau yang ngomong begitu Minghao.”

Sejenak keheningan melanda.

“Kok, Minghao?” Sahut Seokmin pada akhirnya.

Yuna bergumam, “Yaa… Minghao, ‘kan polos. Semua yang dikatakannya pasti jujur.”

“Sok tahu.” Cibir Seokmin. “Dia enggak sepolos yang orang lihat.”

“Begitu?”

“Tuh, ‘kan, enggak percaya.”

“Memang enggak percaya.”

“Minghao itu seram tahu kalau sudah marah.”

Yuna terkekeh dibuatnya, “Kok kamu jadi mengompori sahabatmu sendiri, sih?”

Seokmin berdecak, “Kamu sih, malah memuji Minghao.”

“Kapan?”

“Lah, tadi.”

“Iya, ya?”

“Sudahlah. Enggak penting.”

Yuna tertawa mendengar nada bicara Seokmin yang tiba-tiba berubah datar.

“Ih, ngambek.” Ejeknya.

Yang disebrang sempat diam sebentar, kemudian menyahut. “Yuna?”

“Hm?”

“Jangan ikutan klub dance lagi, kamu ‘kan anggota klub vokal.”

Yuna tersenyum, ia memutar kursinya, untuk kemudian berpindah posisi ke kasur miliknya. “Inginnya sih begitu. Tapi, di klub vokal aku itu enggak berguna.”

“Kata siapa?” Sambar Seokmin.

“Nayeon sunbae. Dia enggak pernah menyuruh aku ikut tampil bersama kalian dalam acara-acara.”

“Tunggu saja sampai cewek itu pensiun tahun depan, dia pasti enggak bisa seenaknya. Dia melarangmu tampil karena kalau kamu tampil, pasti enggak akan ada posisi untuk senior sepertinya. Lagian, suara kamu lebih bagus darinya, aku yakin Ibu Yoo akan lebih merekomendasikan kamu daripada Nayeon sunbae.”

“Hm…” Yuna bergumam sebentar, “Sebenarnya enggak apa-apa sih, toh menyanyi itu hanya hobiku. Bukan prioritas utama. Lagipula, sebuah klub di universitas itu hanya sebagai tempat untuk menuangkan hobi orang-orang. Enggak seperti saat SMA, seakan menjadi tiang untuk menunjukkan siapa yang menonjol.”

“Tetap saja, hobi juga harus di kembangkan kali.”

“Kok, sewot sih?” Yuna agak terkekeh membuat Seokmin mendengus di sebrang sana.

“Siapa yang sewot?”

“Enggak-enggak.”

“Dance itu bukan passion kamu, Yuna. Suara kamu itu bagus, tahu.”

“Makasih.” Yuna menjawab sambil tertawa, membuat tawanya menular pada Seokmin.

“Apalagi kamu jadi celaka gara-gara itu.”

“Ish, gak usah bahas, sudahlah.”

“Malu, ya, jatuh didepan banyak orang?”

“Pikir saja sendiri.”

Seokmin tertawa kencang disebrang sana membuat Yuna tersenyum dibuatnya. Membayangkan bagaimana rupa lelaki itu ketika tertawa membuat Yuna senang bukan main.

Tak lama, suara ejekan dan teriakan lelaki yang jumlahnya banyak mulai terdengar. Meneriaki Seokmin ‘berisik’ dan ‘dasar cowok lagi jatuh cinta’ dengan tempo yang balapan membuat suaranya jadi tidak jelas.

“Sori, banyak orang sirik.” Sepertinya saat ini Seokmin tengah menjauh dari kerumuhan lelaki itu.

Yuna menggumam mengiyakan hingga selanjutnya, yang terdengar hanyalah deru angin yang menerpa speaker Seokmin.

“Yuna..?”

“Iya?”

“Sudah ngantuk?”

“Belum.” Jawab Yuna cepat, agak mengubah posisi berbaringnya hingga kepalanya menyentuh bantal.

“Kalau belum mengantuk, mau dengar aku menyanyi?”

“Boleh…” Yuna mengulum senyumnya sambil menggigit pipi bagian dalam.

Seokmin menarik nafas disebrang sana. “hmmmm hmmm hmmm hm hmmm….”

Yuna menautkan alisnya ketika yang ia dengar bukan lirik lagu yang dinyanyikan, melainkan hanya gumaman asal yang Yuna bahkan tidak ketahui nadanya.

“Seokmin?” Sahutan Yuna tidak membuat Seokmin berhenti bergumam.

Lelaki itu terus menggumamkan nada-nada asal, tapi sialnya, terdengar begitu merdu di telinga Yuna membuat gadis itu tidak bisa untuk tidak tersenyum.

Begitu Seokmin berhenti bersenandung, Yuna tertawa dibuatnya. “Seokmin? Astaga, kirain bakal nyanyi beneran. Kamu ngapain?”

Seokmin balas tertawa, begitu renyah sampai Yuna rasanya tak akan bosan untuk mendengarnya.

“Enggak jelas, ya?” Tanya Seokmin masih diiringi kekehan.

“Iya.” Jawab Yuna sambil mengulum senyumnya.

Seokmin terkekeh lagi, “Itu suara hatiku tahu, enggak bisa dijelaskan.”

“Ya?”

“Iya, suara hatiku padamu yang enggak bisa dijelaskan.”

Yuna bergeming ditempatnya, mencoba mencerna apa yang Seokmin maksud dari perkataannya barusan.

“Seokmin…?”

“Kalau aku bilang suka padamu, rasanya, itu belum bisa menjelaskan perasaanku padamu saat ini Yuna.”

Ha?

Apa?

Rasanya dada Yuna dibuat meletup-letup tidak jelas, dan jantungnya berdetak makin tidak karuan. Apa Seokmin gila? Seenteng itu dia menyatakan perasaannya. Sampai rela membiarkan Yuna hampir pingsan dibuatnya?

Lelaki itu memang tidak bisa ditebak.

Yuna bahkan tidak bisa berkata apa-apa selain terus mendengarkan penuturan selanjutnya yang bisa membuatnya kena penyakit jantung akut.

“Yuna, pacaran denganku, ya. Dengan begitu, ‘kan, aku bisa setiap hari menjelaskan bagaimana perasaanku padamu tanpa jeda.”

Terserah, Seokmin, terserah!

Choi Yuna takluk sudah.

.

.

.

Sebenernya bikin ini gara-gara ngeliat ulang video Yuju yang jatuh pas perform, terus kepikiran, gimana ya kalau Dokyeom khawatir gara-gara itu. Terus….. Malah melenceng ke Dokyeom yang gombal pada akhirnya wkwkwk, apa banget lah ini.

Thanks yang udah baca! Semoga in the future bakal banyak fict DK-Yuju bertebaran yak wkwk, entah kenapa aku suka banget sama couple ini, dan…. rasa sukanya hampir mengalahkan rasa suka aku sama kyuyoung pada zaman dahulu kala wkwk.

Mungkin karena Yuju bias aku yak, Sooyoung juga bias aku makanya aku ngeship kyuyoung sampe hardcore bgt(?)

Yasudahlah……

 

Iklan

2 thoughts on “Unspoken Feeling

  1. EDAN YA ALLAH BENER KAN RA FIKSIMU TUH ASYIQUE RINGAN DAN MENYENANGKAN SEKALI AKU SUUUKKAAAAA!!!!!! bahasa kamu juga ngenakin banget kayak ngobrol sehari-hari terus aku juga udah menebak di awal kenapa kok yuju malu ternyata bener gara-gara jatuh di stage itu WKWKWK. terus-terus, humornya juga kerasa banget wow kamu harus melihat ketawaanku yang udah kayak babon?? terus bagian minghao-minghao itu juga huhuhu ya Allah aku capek ngakak mulu jadi udahan dulu ya ra keep writing ok aku juga suka yuju-dokyeom btw kamu bikin yang banyak ya fighting!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s