a way to love you

14a732b2-9a19-46de-b66a-2314be641d3a.jpg

Staring:

Seventeen’s Wonwoo – OC’s Yoon Sena

Genre:

Fluff, Slice of Life

A/N: HAPPY BIRTHDAY MY ULTIMATE BIAS!

+

Sena sudah mengenali Wonwoo sejak lelaki itu duduk di sekolah menengah tingkat akhir, hanya sekedar kenal sekilas karena temannya, Yujin, menyukai lelaki itu.

Jeon Wonwoo namanya, dan bisa dibilang agak hits pada zamannya.

Dia tampan, anak klub basket, siswa berprestasi, dan banyak digandrungi perempuan.

Meski begitu, Wonwoo agak pendiam dan bukan tipikal lelaki yang easy going dan pandai berinteraksi dengan banyak orang. Temannya hanya Kwon Soonyoung dan Wen Junhui, anak pindahan dari China di semester 2 kelas 1.

Kata Yujin, Wonwoo itu agak misterius dan aneh, meski begitu, kawannya itu tetap saja naksir berat.

Di semester 2 tingkat akhir, Sena sedang sibuk-sibuknya les ini-itu, untuk persiapan masuk ke universitas. Bisa dibilang, ia anak yang berjuang terlalu keras, hingga akhirnya ia sering sakit-sakitan.

Pada suatu sore, ketika Sena memutuskan untuk bolos jam terakhir, yaitu mata pelajaran Kimia, ia memilih untuk tidur di ruang kesehatan karena hidungnya tidak mau berhenti mimisan. Sepertinya akibat ia belajar terlalu berlebihan saat malamnya, hingga ia hanya bisa tidur 3 jam kurang.

Ia kebablasan, karena begitu bangun, langit sudah gelap. Ketika Sena grasak-grusuk untuk segera keluar dari uks, dia tak sengaja berpapasan dengan Wonwoo di koridor. Wonwoo tidak mengenal Sena, tapi gadis itu mengenalnya.

Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, Sena memutuskan untuk mengikuti kemana Wonwoo pergi, karena gerak-gerik lelaki itu agak mencurigakan.

Dan sampailah disebuah gang kecil, sempit, dan bau pesing.

Lalu Sena menyaksikannya.

Jeon Wonwoo merokok dengan beberapa orang yang tak ia kenal disana.

Panik, Sena memilih untuk mundur seribu langkah, sebelum akhirnya ia menyesali perbuatan isengnya, yang berujung pada gambaran negatif di kepalanya tentang lelaki bermarga Jeon tersebut.

Dan, otaknya yang tak bisa berhenti berputar memikirkan lelaki itu.

+

Sena tidak takut pada Wonwoo, hanya saja, lelaki itu agak aneh. Merokok bukanlah dosa, tapi ketika Jeon Wonwoo yang melakukannya, itu terasa cukup membuat bulu kuduknya merinding.

Apa bahkan Jeon Wonwoo melakukan hal yang lebih dari itu? Seperti, mengonsumsi ganja?

Salah siapa lelaki itu terlalu misterius, hingga Sena tidak bisa berhenti berpikiran negatif.

Ditambah lagi, sampai kelulusan, ia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu, karena, ternyata oh ternyata, ia masuk ke universitas yang sama dengan Sena, tidak satu jurusan, tapi mereka mengambil beberapa mata kuliah yang sama, yang artinya, mereka harus-wajib dipertemukan dalam satu kelas.

+

Label lelaki hits di sekolahnya dahulu ternyata tetap menempel pada diri Wonwoo hingga ia masuk universitas.

Diam-diam, Sena menjadi orang yang memerhatikan Wonwoo secara sembunyi-sembunyi.

Wonwoo memiliki cukup banyak penggemar, wajar, dia tampan, dan lagi, dia makin keren saja semenjak menduduki bangku kuliah.

Lelaki itu masih pendiam, masih. Masih misterius, masih.

Itu kenapa Sena benar-benar tidak bisa berhenti mencari tahu tentang Jeon Wonwoo.

Bukan naksir, tapi, apa ya. Sena tidak bisa menjelaskan.

Semacam perasaan peduli yang sulit untuk di deskripsikan.

+

Sena tidak lagi berpikiran negatif tentang Jeon Wonwoo.

Fakta bahwa ia kembali memergoki Jeon Wonwoo merokok di halte bus, menjadi hal yang wajar, ketika ia bicara pada dirinya sendiri bahwa: ‘merokok bukanlah dosa. mungkin cowok itu memang suka.’

Ya.

Sena tidak suka rokok, tidak suka orang merokok, tapi, Wonwoo bukanlah siapa-siapanya, jadi kenapa pula ia harus melarang Wonwoo melakukan hal itu. Toh, orang lain tidak sangsi dengan apa yang Wonwoo barusan lakukan di depan khalayak.

Bahkan, salah satu mahasiswi yang Sena yakini salah satu gadis dari kelas ekonomi yang ia dan juga Wonwoo ikuti, mengatakan kalau Wonwoo terlihat keren ketika merokok.

+

Pak Jang menyuruh para mahasiswa untuk membuat kelompok yang beranggotakan 3 orang.

Sena tiba-tiba stuck in the moment, karena di mata kuliah akuntansi ia tidak begitu kenal dengan banyak mahasiswa.

Semua orang mulai riuh mencari temannya, sedangkan ia hanya bisa bergeming ditempat sambil menggigiti kuku, kebiasaan buruknya ketika sedang gugup.

Sena agak melirik bangku Wonwoo yang dipenuhi banyak orang. Pasti mereka mengajak Wonwoo untuk satu kelompok, tapi lelaki itu tidak terlihat tertarik dengan tawaran mereka, ia tengah berusaha menolak mereka dengan lembut.

Sena mulai frustasi sendiri, bagaimana kalau ia tidak dapat kelompok? Tidak ada yang mau satu kelompok dengannya? Apakah Sena harus mengerjakan tugasnya sendirian?

Banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya.

+

Sena tidak gila, tapi ia memang sedang agak tidak waras.

Buktinya, entah dapat keberanian darimana, ia berani menghampiri Jeon Wonwoo yang sedang makan dengan kawannya di kafetaria kampus.

“Wonwoo-ssi?” Sena membuka pembicaraan ketika ia sudah berdiri di samping meja Wonwoo.

Lelaki yang dipanggil barusan menoleh, dengan alis yang bertautan, mungkin ia bingung siapa pula gadis yang berani mengganggu acara makan siangnya.

Uh, aku Yoon Sena dari kelasnya Pak Jang.”

Wonwoo diam, hanya mulutnya yang bergerak berusaha mengunyah makanan.

Sena menggaruk pipinya yang tak gatal, diam-diam pipi bagian dalamnya sudah habis ia gigiti, “Aku boleh masuk kelompokmu? Uh, aku, bingung mencari orang, karena, uh, hanya kau yang aku kenal di kelas akuntansi.”

Sebenarnya, Sena sudah bersiap diri ditolak mentah-mentah karena pasti Wonwoo akan mengiranya sok akrab dan tidak tahu malu seperti orang-orang lain.

Tapi, alasan Sena benar-benar jujur. Hanya Wonwoo yang ia kenal di kelas itu, dan tak ada yang lain.

“Boleh.”

“Ya?”

Sena hampir saja menganga lebar ketika mendengar jawaban yang tak pernah disangka-sangka dari lelaki itu.

Wonwoo meliriknya sekilas, “Boleh, kau boleh masuk dalam kelompokku. Ini dia satu lagi.”

Wonwoo menunjuk kawannya yang sedaritadi menyaksikan percakapan singkat antara Wonwoo dan Sena barusan.

“Hai!” Kawan Wonwoo menyapa Sena dengan senyum riang, “Kenalkan, aku Changkyun.”

+

Sena kerepotan dengan tumpukan buku paket yang ia bawa, belum lagi puluhan anak tangga yang sukses membuatnya kepayahan.

Kakinya bergetar, membuat ia harus mengistirahatkan diri di salah satu anak tangga dengan posisi duduk yang agak tepar.

Poninya sudah agak basah karena keringat. Ini semua karena lift yang menuju perpustakaan rusak, sehingga Sena harus menaiki tangga darurat.

Samar-samar, Sena mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga, semakin keras hingga Sena dapat melihat eksistansi si empunya langkah yang semakin mendekat.

Itu Wonwoo, dengan sebatang rokok di bibirnya yang belum ia nyalakan. Sena pura-pura tidak melihat, ia menundukkan kepalanya untuk membuka tali sepatu ketsnya, kemudian mentalikannya lagi. Siasat yang cukup memastikan untuk membuat Wonwoo tidak menyadari presensinya.

Beberapa jenak Sena menunggu, dan ia tidak melihat lelaki itu melintasinya.

Jadi, ia mengangkat kepalanya, untuk kemudian menemukan Wonwoo berdiri diatasnya dengan pandangan menelisik.

Sena tidak berkata apapun, tapi Wonwoo berinisiatif mengangkat semua buku paket yang Sena bawa tadi hingga berpindah ke lengannya.

Sena mematung, dan Wonwoo memuntahkan batang rokoknya hingga terjatuh ke lantai.

“Tolong buangkan ke tempat sampah.”

Tidak banyak bicara, lelaki itu kembali menaiki tangga, meninggalkan Sena yang terdiam sambil memegangi tali sepatunya.

+

Sena awalnya ragu, tapi, kemudian ia menghampiri meja Wonwoo untuk memberikan bagian tugasnya.

Wonwoo menautkan alisnya ketika ia melihat Sena berdiri didepan mejanya.

“Ini bagianku.” Ujar Sena langsung. “Sebenarnya, aku ingin mengerjakan tugas ini bersama. Tapi, ada tugas dari mata kuliah lain yang harus aku kerjakan. Jadi, aku memilih untuk mengerjakannya lebih awal.”

Wonwoo memandangi beberapa kertas yang Sena simpan di mejanya.

“Kalau ada yang salah, atau harus aku koreksi, bilang saja padaku, ya? Itu, aku sekalian menulis nomor ponselku di kertas.”

Sena mundur selangkah, kemudian membungkuk sekilas, “Kalau begitu, duluan, ya.”

Dan ia pun pergi tanpa menunggu Wonwoo membalas ucapannya.

+

Ada bagian yang harus di koreksi,
Aku kirim lewat email, ya.
Minta emailmu, coba.

Sena memandangi pesan tanpa nama pengirim di ponselnya, kemudian tersenyum ketika mengenali siapa tersangkanya.

Wonwoo mungkin pendiam, atau bahkan tatapannya agak menyeramkan. Tapi, ternyata, banyak sisi baik Wonwoo dari sisi misterius yang selama ini Sena tidak ketahui.

Lelaki itu, tidak buruk-buruk amat.

+

Oh.

Sena bergumam dalam hati.

Untuk pertama kalinya ia bisa satu bus dengan lelaki Jeon itu, setelah beberapa kali menunggu di halte yang sama, dan baru kali ini kesempatan itu datang.

Lelaki itu sudah disana, duduk dibangku yang agak kebelakang, dengan jendela yang terbuka karena lelaki itu tengah menghembuskan asap rokok keluar jendela, kemudian mematikan apinya dan membuang rokoknya ke tempat sampah yang ada di dekat pintu keluar.

Sena mengulum senyumnya, kemudian meraih pegangan bus karena sudah tidak ada lagi bangku kosong.

+

Sena terkejut, bahkan hampir menjerit, jika saja ia tidak langsung melihat siapa yang baru saja berani menarik tangannya dengan tidak senonoh.

Tapi, kemudian ia menemukan Wonwoo lah yang melakukannya.

Lelaki itu menarik Sena hingga gadis itu terduduk dibangku yang tadi sempat ia duduki. Sedangkan ia, memilih berdiri di tempat yang barusan menjadi posisi Sena berdiri.

Butuh puluhan detik, sebelum kemudian Sena sadar dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

Wonwoo lagi-lagi menolongnya, untuk kedua kalinya.

+

Sore itu Sena tengah membaca novel sambil mengulum lollipopnya di gazebo kampus. Sejujurnya, ia tengah kebosanan karena menunggu kawannya, Sana, yang tengah berurusan dengan salah satu dosen mata kuliah  Bahasa Inggris. Memang, Pak Yoo agak menyebalkan pada mahasiswi. Suka mempersulit yang mudah.

Tak berselang lama, Sena merasa seseorang menghampirinya, karena telinganya agak peka akan langkah kaki.

Kemudian, ia menemukan Jeon Wonwoo tengah berdiri beberapa meter darinya.

“Hai.” Sapa Sena duluan, tanpa tahu malu, tanpa merasa canggung.

Wonwoo membalasnya dengan alis terangkat, kemudian duduk disamping Sena tanpa berbasa-basi.

Sena ingin mengabaikannya, dan kembali fokus pada novelnya. Tapi, sayang, tidak bisa. Konsentrasinya jadi agak terpecahkan karena aroma maskulin Wonwoo bercampur dengan bau rokok yang mengoar dari tubuhnya.

“Belum pulang?” Tanya Sena pada akhirnya, ia menyimpan novelnya diatas pangkuan.

Kemudian mengeluarkan batang lollipopnya yang sudah habis dari mulut, permennya sudah ia gigiti dan sekarang ia tengah kunyah.

Wonwoo bergumam, kemudian melirik Sena dua jenak.

Sena mulai canggung, tapi, ia tidak enak kalau tiba-tiba meninggalkan Wonwoo begitu saja. Kesannya malah jadi seperti menghindar.

Diam-diam Sena mengeluarkan satu batang lollipop dari saku jaketnya, kemudian mengulurkannya kehadapan Wonwoo.

Lelaki itu melirik Sena kebingungan.

“Untukmu.” Ujar Sena sambil tersenyum miring. Kemudian, Wonwoo mengambilnya tanpa banyak bicara.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.” Jawab Sena dengan senang hati.

Ia memerhatikan tangan Wonwoo yang kepayahan membuka bungkus lollipopnya, membuat Sena terkekeh pelan.

“Kemarikan!” Sena meraih lollipop itu dengan tempo rebutan, kemudian membukanya dalam hitungan detik.

Setelah tak berbusana, Sena menyerahkan kembali lollipopnya pada Wonwoo, membuat lelaki itu agak mengulum senyumnya malu.

Dalam hati, Sena berusaha menahan diri untuk tidak berteriak. Tampan sekali sampai rasanya Sena hampir pingsan.

Tidak aneh kenapa banyak wanita tergila-gila pada lelaki Jeon ini, siapa sih yang tidak akan jatuh pada pesonanya.

Sepertinya, Yujin bisa jadi gagal move on kalau melihat Wonwoo saat ini.

“Tahu tidak?” Sena tiba-tiba bersuara, membuat lelaki disampingnya menoleh.

Ia tersenyum sambil mengangkat alisnya menggoda, “Ayahku berhenti merokok dengan melampiaskan kecanduannya pada permen, lho. Dan berhasil.”

Wonwoo masih mengulum lollipop pemberian Sena sambil menatapi gadis bersurai coklat itu.

Gadis itu menautkan alisnya, “Kenapa menatapku seperti itu?”

Wonwoo menggeleng. “Permennya enak.”

Detik berikutnya Sena tergelak hingga matanya menyipit. “Iya, enak.” Timpalnya masih diiringi dengan kekehan kecil.

“Kau tidak suka perokok?” Tanya Wonwoo tiba-tiba.

Sena terdiam sebentar, tapi kemudian menjawab. “Iya, tidak suka.”

Ia melirik Wonwoo sejenak, kemudian kembali bicara, “Tapi, toh, itu bukan dosa, jadi tidak apa-apa. Terserah yang melakukannya lah.”

“Jadi, kau tidak suka?” Tanya Wonwoo sekali lagi.

“Tidak suka.”

“Kau benci pada perokok?”

Sena menggeleng cepat, kemudian balas menatap Wonwoo, “Tidak kok.”

Wonwoo mengangguk-ngangguk, kemudian menggigit sisa permennya yang mulai menyusut.

“Kalau aku tetap merokok, kau tidak akan membenciku ‘kan?”

Sena menggeleng tanpa berpikir, membuat Wonwoo tersenyum dibuatnya.

“Kenapa?”

“Tidak.” Senyuman lelaki itu makin mengembang, membuat Sena merasa ribuan demonstran tengah berteriak-teriak dalam dadanya.

+

Sena bertemu Wonwoo di halte bus, lelaki itu tengah menghisap rokoknya dalam-dalam, tapi kemudian segera mematikannya ketika ia melihat presensi Sena yang mulai mendekat.

“Kenapa?” Tanya Sena, tersenyum.

Lelaki itu menggeleng pelan, kemudian membalas senyuman Sena.

Butuh puluhan detik untuk membuat Sena sadar bahwa senyuman itu ditujukan memang untuknya.

Sena tertawa, “Aku ‘kan sudah bilang aku tidak benci perokok.”

Wonwoo menganggguk, kemudian bicara, “Memang. Tapi kalau kau menghisap asapku, kau bisa mati.”

“Kau juga bisa mati.”

“Tidak apa, asal bukan kau.”

Sena merinding dibuatnya. Ia hanya bisa terkekeh garing ketika Wonwoo mengatakannya secara tiba-tiba.

Wonwoo mengeluarkan sepucuk surat dari tas gendongnya, kemudian mengulurkannya pada Sena, membuat sang gadis menyernyitkan alisnya kebingungan.

“Untukku?” Tanyanya tak yakin.

Wonwoo mengangguk sambil tersenyum miring, “Baca ketika sudah di rumah, ya.”

+

Sena membuka lipatan rapi dari kertas yang merupakan isi dari amplop yang tadi Wonwoo berikan padanya.

Jantungnya terpacu sangat kencang, membuat ia sibuk menerka kenapa Wonwoo memberikan ini padanya.

Disana, tercetak tulisan rapi dengan volume huruf yang kecil, membuat Sena terkekeh melihat tulisan Wonwoo yang begitu imut.

Hai, Sena.

Aku tidak tahu kenapa, tapi, aku tiba-tiba bergairah untuk menulis surat ini padamu. Awalnya, aku tidak yakin bakal berhasil memberikan surat ini padamu, karena aku agak gugup, tapi, dengan segenap keberanian, akhirnya, aku bisa memberikannya padamu. Bangga sekali, aku.

Ini mungkin terlalu sederhana, tapi, aku agak tersanjung akan perkataanmu dua hari yang lalu soal kau tidak membenci perokok. Sejauh ini, semua perempuan yang mendekatiku atau yang kencan denganku mulai menjauh ketika tahu kalau aku perokok berat. Aku seringnya marah ketika mereka dengan tidak sopan memaksaku berhenti merokok, padahal mereka bukan siapa-siapaku. Padahal, ‘kan, terserah aku, ini hakku. Mereka tidak berhak memerintahku ini-itu, suka atau tidak suka.

Jadi, ketika dua hari yang lalu aku mendengar penuturanmu, aku jadi agak terenyuh. Jarang sekali aku mendengar kalimat macam itu dari perempuan. Bahkan, kau tidak memintaku untuk berhenti merokok. Aku sangat berterima kasih padamu.

Kau itu berbeda Sena, kau agak aneh, dan langka. Aku jadi penasaran. Dipikir-pikir, wajahmu agak familiar, jadi aku mencari namamu di buku angkatan, dan ternyata benar, kau Yoon Sena, dari kelas 3-2. Pantas saja, saat di kafetaria kau bilang kalau aku satu-satunya orang yang kau kenal di kelas, ternyata, kau kenal aku sejak SMA haha. Maaf, aku tidak mengenalimu. Kalau ada waktu, aku ingin mentraktirmu makan sebagai permintaan maaf. Kau mau?

Pokoknya, kalau ada waktu, harus jadi.

Aku tidak mau tahu pokoknya harus, soalnya, aku sedang menghindari seseorang, dia mengikutiku kemana-mana, dan bilang pada orang-orang kalau dia itu pacarku.

Ih, amit-amit. Kalau kau juga mendengar gosip itu, jangan dipercaya, ya.
Kalau begitu, cukup sampai disini saja suratku, aku tidak jago basa-basi. Besok, kalau kau bertemu denganku, jangan lupa beri balasan suratku ini, ya.

Sincerely, Jeon Wonwoo.

Sena membacanya berulang-ulang, kemudian tersenyum lebar setelahnya.

Tanpa banyak bicara, ia segera meraih ponselnya, dan mencari nomor Wonwoo untuk memberi panggilan pada si empunya surat.

Sahutan terdengar disebrang sana.

“Sena?”

“Iya, aku mau.”

Jeon Wonwoo, disebrang sana, tidak bisa menahan senyumannya hingga ia harus menjatuhkan tubuhnya ke kasur saking bahagianya.

“Terima kasih, Sena.” Bisiknya tertahan.

“Tidak, Wonwoo, terima kasih.”

 

.

.

.

Sena, aku suka padamu. Mau jadi pacarku, ya? 

— Jeon Wonwoo

+

HAPPY BIRTHDAY WONWOO!!!!! /kepslok jebol/ /turut bahagia bebeb lagi ultah/

HAHAHA APA INI PARAH BGT YHA. ANEH:(

Btw, ada yang paham? Suratnya itu semacam teka-teki atau kerennya, sebut saja riddle wkwk. Sadar gak di akhir kalimat surat itu, kata-katanya tersusun jadi tulisan yang tercetak pink diakhir?

Wkwk apa banget lah, emang aku ini. Kalau gak sadar gapapa, toh aku gak berusaha bikin riddle, cuman biar kesannya so sweet aja gitu karena Wonwoo yang buat wkwkwk

Yaudah, cukup sekian, fict ini didedikasikan untuk suami saya yang lagi sakit jauh di koreya sana dan sekarang lagi berulang tahun. HBD PAPS! /ngarep

Neng setia nunggu aa’ di Bandung…….(?)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s