Hopeless Place

G6oYueC.jpg

Staring:

Red Velvet’s Wendy – GOT7’s Mark

Genre:

Angst

Length:

Drabble (200+ words)

“Much expectations brings great disappointment.”

+++

Rasa suka Wendy pada Mark tidak pernah sebesar bima sakti. Tapi, tidak sekecil ujung kukunya.

Wendy sadar, ketika ia menggantungkan seluruh harapannya pada seseorang, itu artinya, ia sudah siap untuk jatuh dari ketergantungan tersebut.

Sekuat apapun ia menggenggam tangan lelaki itu, dan menaruh seluruh kepercayaannya pada tingkat yang tak terbatas, kalau lelaki itu tak menghendaki, Wendy akan tersungkur juga.

Maka, ketika seluruh harapan yang ia bangun selama ini diruntuhkan oleh sebuah kalimat, Wendy hanya bisa bergeming.

“Ayo, putus.”

Kenapa? Dalam hati, Wendy menjerit. Tenggorokkannya sampai perih menahan saliva yang tak kuasa ia telan.

Setitik air mata sudah agak menggenang di pelupuk matanya.

“Hm?” Wendy mencoba berdeham, sambil tersenyum nyeri ketika berusaha menahan diri untuk tidak berteriak saat itu juga.

Mark diam. Rahangnya seakan ingin menegaskan sesuatu, air mukanya datar tak menunjukkan ekspresi apapun.

“Aku hanya kasihan padamu. Selama ini tidak pernah ada cinta dalam hubungan kita. Mungkin, kau iya. Tapi aku tidak.”

Sejurus kemudian air mata Wendy tumpah ruah membasahi pipinya. Kata bahkan tak sanggup meluncur dari kedua belah bibirnya.

Mark mengepalkan lengannya kuat-kuat. Netranya memandangi gadis yang selama ini mengisi hari-harinya. “Kita akhiri saja.”

“Jahat.” Bisik Wendy pelan, tapi mampu memberikan satu sengatan telak pada jantung Mark.

Punggung tangan gadis itu terangkat, dan mengusap air matanya dengan kasar. Ia bergegas berdiri, tidak ada lagi pandangan teduh dari lelaki itu, yang Wendy lihat, hanya kekosongan.

“Ibuku pernah bilang,” Wendy berucap, ia menelan paksa ludahnya yang terasa pahit. “Much expectations brings great disappointment.

Untuk yang terakhir kalinya, Wendy tersenyum perih. “Ternyata, aku baru tahu artinya sekarang. Terima kasih padamu, Mark.”

Kemudian, tungkainya melangkah menjauhi tempat dimana Mark mematung, masih bergelut dengan perasaannya. Semuanya terasa begitu berkecamuk.

.

.

.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s