Very Nice

Screenshot_2016-07-14-20-45-42_com.miui.video.png

Staring:

Seventeen’s S.Coups – Gfriend’s Sowon

Genre:

Fluff

A/N: Hm. Lagi-lagi castnya sepentin.

.

Ini adalah minggu keempat atau satu bulan sejak pertama kali aku melamar kerja menjadi seorang kasir di mini market dekat komplek perumahanku.

Bukan, aku bukan anak orang miskin yang harus banting tulang kesana-kemari mencari nafkah. Hanya saja, ini paksaan ibuku yang setidaknya, saat liburan musim panas begini, daripada menganggur, waktu akan lebih berguna lagi jika aku memanfaatkannya. Begitu katanya.

Jadi, tanpa pikir panjang lagi, ibu menitipkan aku pada paman pemilik mini market, untuk mau menerimaku bekerja tanpa harus melewati sesi interview. Sebenarnya, aku menolak keras, dan sempat tiga hari mogok bicara padanya. Masalahnya, kau tahu lah, ini musim panas dan sudah pasti cuacanya panas.

Di cuaca yang seperti ini, akan lebih enak kalau leyeh-leyeh di depan televisi seharian ditemani dengan beberapa camilan. Bukan malah buang-buang tenaga.

Awalnya, aku mengerjakan pekerjaanku dengan agak tidak ikhlas. Menyapa para mengunjung dengan suara ceria yang dipaksakan, tersenyum ketika mengatakan “Totalnya 5000 won, ada tambahan lainnya?” , kemudian hanya bisa menahan diri ketika beberapa gadis SMA berbisik-bisik dan mengataiku ‘ganteng-ganteng kasir’ atau bahkan ‘badan sih boleh kekar, tapi kerjaannya gak keren’.

Awalnya begitu, semuanya begitu datar dan membosankan.

Sampai di minggu pertama aku bekerja, aku bertemu dengan gadis itu.

Kesan pertama, ya, biasa saja sih. Aku hanya melihatnya sebagai seorang pelanggan yang biasa datang ke mini market untuk sekedar membeli camilan dan sebagainya.

Kalau boleh bilang, dia salah satu dari puluhan pengunjung perempuan yang datang ke mini market ini, kemudian masuk dalam kategori cantik versi Choi Seungcheol.

Yang agak berbeda, dia tidak sok cantik, tapi memang cantik.

Tubuhnya langsing, ah, bukan, tapi kurus. Kakinya jenjang, rambutnya panjang kecoklatan dan tanpa poni, tipikal gadis idealku. Pakaiannya biasa saja, tidak berlebihan, hanya sekedar memakai kaus putih polos berlengan pendek dengan celana jeans hitam robek.

Hari saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku berbisik dalam hati, cantik, kemudian, ya biasa saja.

Ia membeli satu kaleng kafein dingin, dengan satu potong roti pizza. Ketika aku mengatakan “Terima kasih. Silahkan datang kembali.” dengan senyuman yang lebar, ia hanya melengos tanpa membalas senyumanku, sambil mengambil kantung plastik kecilnya dan menghilang dibalik pintu masuk.

+

Kukira, itu akan jadi pertemuan pertama dan terakhirku dengan si gadis sombong yang kukira-kira usianya pasti sepantaran denganku. Tapi, ternyata bukan.

Esoknya, ia datang lagi dengan celana jeans biru selutut dan kaus polos hitam. Kali itu, ia kembali membeli kafein, tapi kini tidak dengan roti pizza.

Hari itu panas sekali, jadi orang berbondong-bondong mendatangi mini market sehingga antrian kasir agak panjang.

Aku berkali-kali melirik gadis itu yang terlihat mengetuk-ngetukkan sepatu kets abunya ke lantai. Ia terlihat begitu menjulang diantara pelanggan lain, aku sampai mengira tingginya mungkin sepantaran denganku atau hanya beda 1 sampai 3 senti lebih pendek.

Dilirikkan keenam setelah aku memberikan kembalian pada seorang nenek, ia menangkap apa yang baru aku lakukan barusan.

Dengan tanpa ekspresi dan hanya membatu disana, gadis itu membalas tatapanku dengan dingin, kemudian mengalihkan pandangannya hanya dalam beberapa detik.

Wow, for the first time in forever. Seseorang melakukannya padaku, dan ini seorang gadis.

+

Agak membingungkan, tapi aku kembali bertemu dengan ‘si gadis tanpa senyum’ itu untuk ketiga kalinya.

Bukan esoknya, tapi satu minggu setelah pertemuan kedua kami.

Aku heran, kenapa pula aku begitu mengingat wajahnya, padahal, wajah gadis itu bukan tipikal gadis dengan wajah yang mudah dihafal.

Puluhan gadis datang ke mini market ini, dan tidak banyak wajah yang bisa aku kenal.

Tapi gadis ini, aku baru bertemu tiga kali dan aku langsung mengenali postur tubuhnya yang memasuki mini market pada hari itu.

Kali ini, ia memakai kaus abu tanpa lengan dan celana hitam selutut–kuingatkan, kali ini bukan jeans. Ia mengambil satu kaleng kafein dingin–lagi-lagi, dan  kali ini dengan roti tawar.

Aku men-scan dua barang belanjaannya kemudian menyebutkan total. Tanpa banyak bicara, ia segera memberikan uang 20.000 won yang sudah ada digenggaman tangannya sedaritadi.

Aku memerhatikannya yang juga memerhatikanku ketika lengannya menggantung tanpa sambutan dariku.

Tidak mau susah-susah bicara, atau bertanya ‘ada apa’ padaku, ia menyimpan uangnya di meja kasir dan langsung mengambil belanjaannya tanpa menungguku memberi kembalian.

“Hei, Nona!”

Tapi tidak dihiraukan.

+

Aku menunggu, agak gelisah.

Sudah dua minggu aku tidak bertemu dengan si gadis sombong itu.

Ia tidak datang lagi kemari, dan bahkan aku tidak tahu kenapa, tapi aku selalu mencari keberadaanya tiap kali seseorang muncul dari balik pintu masuk.

“Totalnya 50.000 won. Ada tambahan lainnya?” Ujarku ramah pada bibi-bibi yang berdiri di depan kasir. Ia menggeleng dan membalas senyumanku.

See? Bahkan seorang bibi saja mau memberikan senyumannya padaku. Ada apa dengan gadis aneh itu?

Bibi itu mengambil kembalian yang aku berikan dan kembali melemparkan senyuman padaku–sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu masuk-, yang tentunya aku balas dengan senang hati.

Begini-begini juga aku ramah.

“Eh, Sowon? Darimana saja? Sudah dua minggu tidak kelihatan.”

Samar-samar aku mendengar pembicaraan di depan pintu masuk, pemandangan yang kutangkap selanjutnya adalah bibi barusan tengah berbicara dengan seorang gadis tinggi yang…. wow. Itu ‘si gadis tanpa senyuman’.

Agak bersorak, aku memuji pendengaranku yang tajam, karenanya, aku bisa mendengar bibi itu menyebutkan nama si gadis sombong

Mungkin suara gadis itu kecil, jadi ketika aku melihat ia menjawab pertanyaan si bibi, aku tidak bisa mendengar apa-apa selain suara detik jam dinding yang bergerak di atas kepalaku.

Aku agak bersyukur, kukira gadis itu membenciku atau bagaimana, tapi ketika melihat peringainya, sepertinya Sowon –wow aku sudah mulai sok akrab- memang tipe pendiam dan agak judes.

Buktinya, ia bahkan tak melempar secuil senyuman pun pada si bibi malang.

Kasihan, tenang saja bi, Seungcheol akan setia memberikan senyuman.

+

Yes. 

Dalam hati aku bersorak.

Sowon datang lagi kemari, membuat pekerjaan yang bagiku menyebalkan ini entah kenapa terasa begitu menyenangkan.

Yang agak aneh adalah, bahkan ia tak ramah padaku tapi kenapa aku senang sekali ketika melihat tubuhnya tertangkap oleh indra penglihatanku.

Bisa kuhitung, ini kali keempatnya datang kemari di minggu ini.

Aku bersiul sambil memerhatikan tubuhnya yang masuk ke rak tempat minuman dingin berada, seperti biasa, ia akan memilih kafein dan roti.

Tapi, kali ini aku punya rencana yang cukup bagus.

Tak lama, tubuh Sowon mulai mendekati kasir, sehingga aku bisa melihat terang-terangan  ekspresi datarnya.

Ia menaruh belanjaannya di meja kasir.

Sebelum menghitungnya, aku bertanya terlebih dahulu, tentu saja dengan senyuman yang jangan ditanya lagi, pasti terlihat sangat tampan, “Ada lagi?”

Sowon diam beberapa detik, aku masih mempertahankan senyumanku, kemudian ia menggeleng.

Aku mengangguk, entah kenapa ini menyenangkan.

“Totalnya 20.000 won.”

Seperti biasa, ia sudah menggenggam satu lembar uang di lengannya.

Aku mengambilnya dan dengan sengaja membuat lengan kami bersentuhan.

Ia agak menautkan alisnya, tapi hanya sedetik.

Dalam hati aku tertawa jahat. Bisa-bisanya aku menggunakan cara murahan seperti ini.

“Ini.” Tanpa basa-basi, setelah memberikan kembaliannya, aku menaruh kaleng jus apel didalam kantung plastiknya.

Lagi-lagi, ia menautkan alisnya, dan aku hanya membalasnya dengan cengiran.

“Aku tidak membeli ini.”

Kalau bisa diibaratkan dalam sebuah film, ini adalah scene dimana letupan kecil keluar dari dadaku, kemudian kembang api menjadi backgroundnya.

Astaga.

Aku akhirnya mendengar ia bicara. Selama satu bulan, dan mendengarnya bicara padaku, tidak, pertama kalinya aku mendengar suara itu.

Lembut, dan memberikan efek menyenangkan.

Meski begitu, tetap saja agak dingin.

“Hadiah.” Aku masih melemparkan senyuman padanya.

Sowon hanya diam, berikutnya, ia mengambil kantung plastik itu tanpa banyak bicara. Dan pergi dari hadapanku.

“Jangan kebanyakan minum kafein!” Teriakku tanpa tahu malu.

Fiuh, perasaan macam apa ini.

+

Esoknya, kukira Sowon akan menghindariku karena kelakuan aneh yang telah aku lakukan dihari sebelumnya.

Tapi, begitu melegakan ketika melihat tubuh kurusnya melenggang masuk ke dalam mini market.

Hari ini aku dapat bonus melihat penampilan baru dari gadis itu, ia masih berpakaian santai seperti biasanya, celana jeans dan kaus polosnya, tapi hari ini ia terlihat begitu mengesankan dengan rambut yang ia ikat sejumput menyerupai ekor kuda.

Aku terus mengutuk Sowon dengan mengatainya cantik dalam hati, dan berkali-kali, tanpa henti, sampai ia menghampiri kasir beserta sekaleng kafein dan kali ini pendampingnya agak berbeda, ia mengambil satu cup ramyun.

Aku mengangkat sebelah alisku, dan Sowon melakukan hal yang sama.

Sial. Dia menggemaskan.

“Sudah kubilang ‘kan untuk tidak meminum terlalu banyak kafein.”

Ha, lagi-lagi aku tanpa tahu malu mengajaknya bicara. Sudah kubilang ‘kan dia itu sombong, jadi ia hanya membalas ucapanku dengan lirikan sekilas kemudian segera mengalihkan pandangannya keluar kaca mini market.

Aku terkekeh, tapi segera men-scan belanjaannya, tak lupa, aku melakukan hal yang sama seperti kemarin.

“Semuanya 35.000 won, dan bonus jus apel dariku.”

Sowon mengalihkan pandangannya, kemudian menatap kantung plastiknya.

Ia bergeming, detik berikutnya memberikan selembar uang 50.ooo won.

Aku mengulum senyumku ketika melihatnya yang tengah memandangi jus apel dariku.

Apa dia bisu? Kenapa rasanya sulit sekali mendengarkan suaranya lagi.

“Kau kenapa?”

Aku terkejut, sampai menghentikan kegiatanku menghitung kembalian.

“Ya?”

Sowon menunjuk kaleng jus apel di lengannya. “Apa maksudnya ini?”

“Itu?” tanyaku sambil ikut menunjuk jus tersebut. “Jus apel.”

Sowon bergeming. Ia melirik jus apel di tangannya, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kantung plastik.

Aku memberikan kembaliannya, “Kenapa suka sekali minum kopi kalengan seperti itu?”

Sowon menerima uang kembalian dariku, yang mengejutkan, ia tidak pergi begitu saja, seperti biasa-biasanya ia melengos tanpa rasa peduli.

Aku gugup setengah mati, gadis dihadapanku ini masih menatapku secara terang-terangan.

“Suka saja.” Jawabnya singkat.

Aku mengulum senyumku, “Jangan terlalu sering. Tidak sehat, lho.”

“Begitu?”

Lagi-lagi seperti ada letupan asing dalam dadaku. Sepertinya aku harus periksa ke dokter hari ini, aku agak kelainan.

Aku mengangguk ragu ketika melihatnya masih setia berdiri di depan meja kasir.

“Terima kasih.”

Satu kalimat ajaib itu berhasil membuat tubuhku melayang ke bima sakti. Wah, efek Sowon benar-benar luar biasa.

Ia menggoyangkan kantung plastiknya sedikit, kemudian tersenyum miring.

Sangat tipis sampai rasanya aku hanya berhalusinasi ketika melihat senyuman manis itu.

+

Esok harinya Sowon kembali datang, dan aku langsung menyembulkan senyuman terbaikku ketika melihatnya mendekati kasir tanpa apapun di lengannya.

Ia berdiri didepan meja kasir tanpa berekspresi ketika sudah jelas aku pegal sekali memberinya senyuman.

Sowon menengadahkan lengannya, membuat senyumku perlahan memudar.

Aku menautkan alisku,  “Ya?”

“Mau menagih hakku.”

“Eh?”

Sowon masih setia dengan lengan terulurnya membuatku kebingungan setengah mati.

Tidak! Teriakku dalam hati.

Ini adalah hal menjebak yang biasa dilakukan seorang perempuan pada seorang lelaki. Sengaja membuat lelaki itu kebingungan dan tidak tahu harus apa.

Aku baru akan bertanya maksudnya apa, sebelum akhirnya gadis itu membuka mulutnya, “Jus apel.”

Sowon benar-benar memberikan efek luar biasa pada jantungku. Tanpa mau menunggu lama, aku dengan gerakan grasuk-grusukku segera mengambil kaleng jus apel yang kutaruh didekat komputer.

“Terima kasih.” Ujar Sowon setelah menerimanya.

Aku tidak bisa melihat senyuman miring itu lagi, tapi aku benar-benar ingin melihatnya, seterusnya, dan seterusnya.

“Sowon.”

Gadis itu menoleh dan menghentikan langkahnya yang sudah hendak keluar dari mini market ini.

Netra gadis itu menabrakku, membuatku mau tak mau tersenyum ketika melihatnya.

“Minggu ini, jam 10, aku tunggu di Namsan Tower. Berdandan yang cantik, ya!”

Detik berikutnya, senyuman miring itu kembali terukir dibibirnya, hingga sejurus kemudian aku hampir melompat ketika melihat kepalanya mengangguk.

Yes.

.

.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s