Heartbreak Hotel

sowon

Staring:

[GFriend] Kim Sojung (Sowon) – [Seventeen] Choi Seungcheol (S.Coups)

Genre:

Angst, Hurt

PG-17

A/N: harap dibaca setelah buka puasa karena mengandung unsur yang ‘agak’ dewasa /wkwkwk

Inspired by Tiffany’s Music Video Heartbreak Hotel

Hingar bingar malam ini menjadi hal yang pertama kali aku rasakan begitu tungkai ini berpijak disebuah ruangan dengan bau alkohol yang merebak ke seluruh indra penciumku.

Kalau bukan karena bajingan itu, aku tidak akan nekat menginjakkan kakiku ditempat ini. Penuh dengan alkohol, penuh dengan bau manusia-manusia yang senang bercumbu.

Otak dan tubuhku tengah tak sinkron.

Ketika otakku bicara, ‘Hentikan. Kau tidak boleh terlalu jauh lagi’

Tapi tubuh seakan tak mendengar, ia melangkah, bergerak menuju pertujuan yang tak seharusnya aku gapai.

Semua mata tertuju padaku, menyorotku dengan pandangan ‘tak sepantasnya wanita itu berada disini’ menohok dengan tatapan menghina, sampai rasanya tubuhku sakit meski tak ada yang menyentuhnya.

Bunyi benda pecah menghentikan semua tarian manusia-manusia dihadapanku.

Dan akulah penyebabnya.

Aku bergeming.

Mereka masih menuntut pandang, seakan memerintahku untuk membereskan masalah yang telah kuperbuat.

Aku berjongkok, berusaha menggapai kepingan kepingan kaca yang berserakan dilantai.

Sampai tiba-tiba entah darimana asalnya, seorang pria menarikku lembut, membawaku bangkit, dan menyeretku keluar dari tatapan para manusia yang seakan menyudutkanku.

Genggaman tangannya.

Terasa hangat dan begitu nyaman.

Mataku menatap punggungnya yang tegak dan lebar.

Ia menoleh, memberikan sedikit senyuman simpul, sehingga aku bisa melihat seluruh permukaan wajahnya yang begitu sempurna dimataku.

Matanya menatapku lurus dan begitu lembut, seakan aku adalah barang yang rapuh.

Aku tersedot. Tersedot kedalam galaksi di netranya yang begitu memukau.

Setelahnya kusadari, bahwa aku sudah jatuh, masuk, dan terperangkap dalam lubang hitamnya.

Choi Seungcheol.

Begitu ia mengeja namanya.

Entah apa aku merasa bahwa ini memang takdir atau bagaimana, tempat yang tadinya aku tak pernah ingin singgahi, sekarang menjadi tempat yang kujadikan pelarian rasa lelahku, semata-mata hanya untuk bertemu dengan lelaki bernama Choi Seungcheol itu.

Dia galaksiku mulai sekarang.

Dan entah sejak kapan aku merasakannya, tapi aku mulai menamai perasaan berdesir ini sebagai cinta.

Iya, aku jatuh cinta.

Pada Choi Seungcheol.

Aku tidak murahan.

Tidak.

Tapi ketika lengan kekar seungcheol menyentuh pundakku, dan melingkarkannya dileherku, aku bersumpah pada Tuhan untuk tidak melepaskannya detik itu juga.

Sentuhannya..

Membuat aku candu dan ingin merasakannya lagi dan lagi.

Aku tekankan sekali lagi. Aku tidak murahan.

Tapi Choi Seungcheol membuatku menyukai setiap rengkuhan mesranya.

Aku rasa, aku benar-benar sudah jatuh kedalam pesonanya.

Bibirnya menekan milikku, membawaku melayang ke antariksa. Melumatnya lembut dan kembali memberikan kehangatan yang sebelumnya tak pernah aku rasakan.

Lengannya menyentuh rambutku, mengacaknya pelan, dan membuatku makin merasa kalau aku istimewa.

Aku tidak lagi dipandang sebelah mata.

Kala itu aku yakin, bahwa Choi Seungcheol juga mencintaiku.

Sebuah bahu menabrak kepalaku keras, hingga aku terhuyung kedepan.

Seungcheol menatapku, kemudian beralih pada pria yang tak sengaja menyakiti tempurungku.

Ia bangkit, dan menghampiri pria itu.

Ia tarik kerah kemeja sang pria dan bersiap menghajarnya kalau saja aku tidak menariknya keluar dari keributan yang telah ia perbuat.

Aku tarik Seungcheol, menjauhi gerombolan pria dewasa itu.

Ia menatapku. Dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tahu-tahu lengannya sudah tersemat di jari jemariku, menarikku mendekat, hingga bibirnya menyatu dengan milikku. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Aku semakin candu akan setiap sentuhannya.

Seungcheol menyentuh lengan polosku, kemudian melepaskan jaketnya, menyampirkannya dipundakku.

Aku tersenyum.

Dia juga mencintaku, ‘kan?

Aku meyakini Seungcheol mencintaiku juga.

Bagaimana tidak?

Dia menyentuhku, melindungiku, memberikan kehangatan, menatapku dengan tatapan indahnya, semuanya sudah jelas ‘kan?

Kemudian kejelasan itu runtuh. Hancur sampai menjadi kepingan-kepingan tak berdaya.

Retak.

Terdengar suaranya.

Itu retakan hatiku. Retakan kepercayaanku.

Netraku tak ingin lepas dari pemandangan dihadapanku.

Aku tak mendengar dari orang lain, aku melihatnya sendiri, melihat faktanya.

Seungcheol tidak benar-benar mencintaiku.

Aku melihat semuanya, yang begitu menyakitkan sampai rasanya kakiku lemas tak sanggup lagi berpijak.

Ia, lelaki yang aku cintai, bercumbu didepan mataku dengan perempuan lain.

Aku terpekur, bergeming, bahkan nafasku seperti tak terdengar lagi.

Seungcheol menghentikan cumbuannya, mungkin seakan terasa ada yang memandangnya, ia menatap ke arahku.

Senemukan sosokku yang tengah memandanginya dengan sorotan paling datar yang mungkin pernah ia lihat.

Mataku lelah, dan tubuhku seakan mati rasa.

Tanpa kata, dan diiringi sebuah senyuman miring, Seungcheol beralih dariku, kembali mencumbu perempuan tersebut mesra.

Harusnya aku tahu.

Semua lelaki pasti memperlakukanku seperti itu.

Aku, tidak pernah sekalipun menjadi seorang yang istimewa.

Aku harusnya tahu dari awal, dan sekarang, aku hanya bisa memandangi lelaki itu dengan tatapan yang paling menyakitkan yang pernah aku beri.

Ini kehidupanku.

Aku hidup dalam aroma manusia yang tengah bercinta, aku hidup dalam ruangan penuh minuman keras.

Dari awal, cara hidupku memang seperti ini.

Bergonta ganti wanita setiap harinya, mencari pasangan baru untuk dijadikan teman bermesraan.

Sudah kebiasaanku.

Kemudian perempuan itu datang, membuatku menariknya ke dalam duniaku.

Membuat ia merasa kalau aku memperlakukannya spesial.

Pelukan, ciuman dan sentuhan yang aku berikan bukanlah sesuatu yang berarti.

Semua orang disini melakukannya dengan siapapun dan kapanpun.

Ini bukan masalah.

Jadi begitu aku mendapat kebebasan dari belenggu perempuan itu, aku kembali bercumbu dengan wanita lain, mengalihkan rasa bosanku.

Sampai, akhirnya, semuanya berakhir.

Perempuan itu melihatku.

Menyaksikan sosokku yang sebenarnya.

Ia bergeming disana, yang aku yakini bahwa dunianya seakan hancur berkeping-keping.

Tatapannya tak lepas dariku, yang hanya aku lempari dengan senyuman miring sebelum aku kembali menyelesaikan kegiatanku dengan wanita dihadapanku.

Cukup lama, sampai aku kira perempuan bernama Kim Sowon itu sudah melarikan diri dengan deraian air mata.

Begitu aku melihatnya, ia masih berdiri ditempatnya yang semula, belum beranjak.

Aku memberanikan diri menantang matanya.

Ia membalas.

Kemudian aku bisa merasakan rasa sakit yang begitu dalam yang tengah ia rasakan saat ini.

Tatapan kehancuran.

Kesedihan.

Keterpurukkan.

Dan ia berlalu, tanpa air mata, tanpa kata, membawaku pada sebuah lubang penyesalan tak berujung.

.fin.

Iklan

3 thoughts on “Heartbreak Hotel

  1. Zahra tahu gak aku juga masih emo soal mvnya tipani dan berniat pengen bikin fic bertema semacam itu TAPI KEDULUAN KAMU wow kamu cepet banget :”
    Paling suka bagian “aku tidak murahan” dan kalimat2 selanjutnya.
    btw aku tidak berpuasa hari ini jadi gapapa kan baca ini meski belum buka :3

    Suka

      1. jangan sehati, nanti kita ga sehat! (loh loh) HOH BENER BANGET ya ampun soalnya cerita2 macem begituan tuh selalu asyik buat ditulis plus kan endinganya ga jelas tuh huhu ;_;

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s