[Ficlet] Clumsy Sana

CVn4RveU8AA1fcH

Staring:

(Twice) Minatozaki Sana

Genre:

Fluff, Humor

A/N; Inspired by a video and my friend accident

Sana and her clumsiness


Kalau dinilai secara visualisasi, jangan ditanya lagi! Minatozaki Sana, mahasiswi jurusan Theater itu cantik banget! Selain cantik, dia juga imut -begitu sih penilaian para lelaki diluar sana.

Tapi, memang benar kalau kata orang “Di dunia ini enggak ada yang sempurna!”

Sana memang tidak seutuhnya sempurna.

“Sana!” Si empunya nama menoleh kilat, kemudian netranya bersirobok dengan milik Nayeon yang memandangnya dari jarak sekitar tiga meter -atau kurang.

“Iya eonnie?” Sana menghentikan langkahnya, menunggu sang kakak tingkat melangkah mendekatinya.

“Hari ini ada kelas sore?” Tanya Nayeon.

Sana menggeleng pelan, yang dibalas dengan jentikkan jari Nayeon. “Gimana kalau ikut aku? Hari ini anak Theater mau ngasih kejutan buat Jeonghan!”

Sana menyernyitkan sebelah alisnya, “Kejutan?”

Nayeon mengangguk, “Iyap! Hari ini Jeonghan ulang tahun, aku mau minta tolong kamu yang bawakan kue buat Jeonghan nanti!”

Kini kening Sana berkerut, kenapa dia harus ikut andil dalam rencana kakak tingkatnya ini? Maksudnya ‘kan, itu acara yang biasanya hanya dihadiri teman seangkatan saja, dan Sana ‘kan tidak seangkatan dengan Jeonghan dan Nayeon.

“Kok aku?” Tanya Sana kebingungan.

Nayeon terkekeh pelan, tanpa Sana ketahui apa alasan dibalik tawa itu, “Pokoknya kamu ikut sajalah! Kamu ‘kan orang spesialnya Jeonghan!”

“Eh aku?”

Dan Nayeon hanya membalas dengan wink andalannya.

Happy birthday to you, Happy birthday to you, Happy birthday Yoon Jeonghan, Happy birthday to you…”

Sana berdiri didepan pintu theater dengan beberapa seniornya, yang ia yakini pasti karib dekat atau teman seangkatannya Jeonghan.

Ia tidak mengerti kenapa pada akhirnya ia harus terdampar disini, tapi demi sopan santun, Sana hanya bisa nurut-nurut saja.

Sebuah kue keju dengan beberapa strawberry ada diatas tangannya, diatas kue tersebut ditancapi lilin-lilin warna warni yang bagi Sana warnanya imut sekali.

Ia menatap Jeonghan canggung, yang juga dibalas dengan senyuman tertahan dari Jeonghan.

Woo hoo Yoon Jeonghan! Kamu berhutang tiket nonton dengan Seungcheol padaku ya!” Sana dapat mendengar teriakan nyaring dari Nayeon yang berada dibelakangnya.

Sana kebingungan, tapi ia diam saja.

Takut-takut kalau ngomong nanti malah salah. Apapun ‘kan selalu salah kalau di mata senior.

Jeonghan berjalan mendekati Sana dan kerumuhan dibelakangnya. Sana tidak tahu kenapa malah ikut melangkah, selangkah, yang tanpa ia ketahui tali sepatu ketsnya ternyata lepas, mengakibatkan ia tidak sengaja menginjak tali itu dan tubuhnya seakan limbung ke depan.

Sana sudah memprediksikannya.

Kuenya akan jatuh.

Begitu juga dengan Sana.

Sana?”

Sana dapat mendengar suara Momo dari sebrang telfon. Ia menggeliat di kasurnya, kemudian berusaha melihat layar ponselnya dengan mata yang ia sipitkan.

Masih jam 8 pagi. Dan ini hari minggu.

Kenapa Momo menelfonnya di waktu yang tidak biasa seperti ini?

“Momo-chan… Kenapa menelfon sepagi ini?”

Terdengar decakkan di sebrang sana. Tapi Sana tidak begitu menghiraukan arti dari decakkan itu.

Pagi ya? Serius deh lihat keluar jendela!”

“Memang ada apa?”

Lihat!”

Sana menggeliat untuk kedua kalinya dengan malas. “Ada apa sih…?” Ia bangkit dari tempat tidur dan menyingkap gorden kamarnya.

Cahaya matahari masuk menerobos jendela kamarnya. “Ugh, panas…” Gumam Sana begitu melihat betapa teriknya pagi ini.

Apa? Pagi? “Eh ternyata sudah siang,.. Sepertinya aku salah mengatur jam ponsel lagi,”

Lalu apa lagi yang kamu tunggu?! Cepat bergegas, astaga!”

Sana mengerutkan keningnya, “Bergegas? Kemana?”

Gerangan frustasi kini terdengar dari ujung sana, dan Sana benar-benar tidak paham kenapa Momo begitu frustasi saat ini.

“Ke kampus, astaga! Tinggal 15 menit lagi jam Mrs. Kim dimulai!”

“Kampus? Ini minggu, Momo-chan! Kamu ngelindur ya?”

“Kamu yang ngelindur! Sekarang senin! Kemarin minggu! Lagian bukannya kemarin kamu habis nonton Civil War denganku sampai malam?”

Mampus.

Sana lagi-lagi salah mengatur kalender.

Hari ini bisa dibilang Sana tepar abis! Setelah latihan theater seharian, dia juga harus membereskan ruangan kostum, ditambah lagi deadline tugas individu dan kelompok yang sudah di depan mata.

Jadi ia memutuskan untuk buru-buru pulang dan mengistirahatkan diri sejenak, sebelum akhirnya dia harus kembali menghadapi cobaan hidupnya yang berat.

Sana menjatuhkan dirinya di sofa ruang tengah, tercium aroma masakan dari dapur, ia yakin ibunya sudah pulang kerja.

Untunglah, jadi begitu ia memejamkan matanya sebentar saja di sofa ini, ia bisa langsung menyantap masakan ibunya.

“Sana! Sudah pulang?”

Baru mau memejam, ibunya sudah menggagalkan saja.

“Hmmmm,” Gumam Sana.

Ibunya keluar dari dapur, melihat anak sulungnya yang sedang malas-malasan. “Kok sepi?” Tanya ibunya.

“Memangnya kalau aku datang harus gaduh, ya?” Sana bicara dengan mata yang terpejam. Rasanya matanya lelah sekali.

“Bukannya kamu hari ini bawa mobil? Kenapa enggak kedengaran suaranya?”

Dalam hitungan detik mata Sana terbuka lagi, ia segera bangkit dari posisi rebahannya, kemudian memandang ibunya cemas.

Kini ibunya memasang ekspresi paling datar sepanjang masa, “Lupa lagi?”

Sana menggigit bibirnya sambil berusaha memberikan tawa paling cerianya, “Hehehehe…”

“CEPAT BALIK LAGI KE KAMPUS!”

Hari ini ada kuis dadakan.

Sana benci Mr. James

Apalagi dia paling lemah dalam mata pelajaran Bhs. Inggris

Dan yang menyebalkan, Mina, yang notabene anak paling pintar Bhs. Inggris di kelasnya tidak masuk sekolah karena sakit demam. Jadi Sana tidak punya referensi untuk hari ini.

Ia memutuskan untuk melingkari jawaban dengan asal, habis, Mr. James kali ini bersarang di kursi kosong sebelah Sana, yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain berdo’a kepada Tuhan.

Sana melingkari jawabannya dengan keringat dingin yang mengucur di punggungnya.

Sial. Soalnya susah banget! Sana enggak ngerti sedikit pun.

Ctak!

Pensilnya patah. Ish, kenapa patah segala?! Rasanya Sana sudah mau teriak disitu juga.

Ia mengorek kotak pensilnya, yang sangat sial, tidak menemukan serutan disana. Ditambah lagi pensil mekaniknya kehabisan isi, karena ia ingat, isi pensil terakhir diminta Hoshi kemarin.

Sana membeku ditempat.

Pensilnya patah.

Ia baru mengisi 2 soal dari 10.

Itu juga ia tidak yakin dengan jawabannya.

Ia tidak bisa pinjam pada Momo yang duduk disampingnya. Tidak juga pada Junhui yang duduk didepannya. Tidak pada siapapun.

Mata Mr. James mengawasi.

Sana menampar dirinya sendiri membuat Mr. James menatapnya heran.

“Kenapa sehari saja aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar….”

Bisik Sana. Pada dirinya sendiri.

.

.

.

.


Inspired by this video; https://www.youtube.com/watch?v=BnEsBfoBC7o

Sana is too precious ><

Btw disini aku selipin Jeonghan ya? Wkwkwk sengaja buat spoiler orang yang Jeonghan suka di Choi Siblings series, juga ada mantan Seungcheol, Nayeon kkkkk~ Semacam nyambung gitu~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s