[FF] FIRST KISS

Chocolat+Tia

Staring :

(Chocolat) Hwang Tia – (BTS) Jeon Jungkook

Genre :

Romance – Fluff

RATING : 15++

I know it’s too fast but I pretend not to know
I want to enter your heart and kiss you
Your eyes tell me it’s not your first time
You’re so buttery, you’re so cute

First Kiss – (SNSD) Sunny

Melanie bilang, ciuman pertamanya dengan Yugyeom membuatnya terbang sampai langit ketujuh. Jimin bilang, saat ia tidak sengaja ‘berciuman’ dengan tetangga barunya karena tersandung batu, ia jadi mulai suka pada tetangga barunya itu.Yuju bilang, ia pernah berciuman dengan Bambam karena Bambam tenggelam di kolam renang dan Yuju terpaksa harus memberinya nafas buatan. Karena hal itu, Bambam jadi mengikuti Yuju kemanapun ia pergi. Yerin juga bilang kalau ia pernah berciuman dengan cinta pertamanya saat ia masih duduk dibangku sekolah dasar. Dan yang terakhir, Eunha. Dia bilang kalau adik kelasnya yang bernama Chanwoo pernah menciumnya karena Truth or Dare.

Tia mulai berpikir, apakah ia kelewat polos atau tidak ada lelaki yang mau mendekatinya? Kenapa sepanjang tujuh belas tahun hidupnya, ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya berciuman.

Tia pernah berpacaran 4 kali sebelumnya. Dia tidak buta dalam yang namanya pacaran. Tapi ketika pacarnya tersebut akan menciumnya, Tia selalu merasa itu bukan saat yang tepat. Maka dari itu Tia selalu kabur dan berujung dengan diputuskannya Tia oleh para lelaki itu.

Tia tidak sakit hati. Karena itu artinya lelaki yang ia pacari bukan lelaki yang baik. Mereka selalu mengakhiri hubungan karena Tia tidak ingin dicium oleh mereka.

Tapi, setelah mendengar cerita teman-temannya, ia jadi ingin merasakan bagaimana ciuman itu? Bagaimana sensasinya? Tia benar-benar penasaran. Tapi, hingga saat ini, tidak ada lelaki yang membuat ia tertarik dan memiliki kharisma hingga ia rela memberikan ciuman pertamanya untuk lelaki itu.

Eonnie, bagaimana rasanya ciuman itu?”

Tiffany hampir saja menjatuhkan puddingnya dari mangkuk saat adik bungsunya itu tiba-tiba bertanya hal yang menggelikan.

Sorry?”

Eonnie tidak dengar aku berkata apa? Bukankah telinga eonnie masih sehat dan bisa mendengar dengan baik?”

“YA! Kau ini.. Sifat menyebalkanmu tidak hilang juga meski dalam keadaan seperti ini..”

“Aisssh, sudahlah. Jawab pertanyaanku saja apa susahnya sih?”

Tiffany terkekeh kemudian duduk di kursi meja makan. “Kau tidak salah bertanya seperti itu padaku?”

“Memang kenapa?”

“Kau bertanya pada eonniemu sendiri. Kau tidak malu?”

“Tidak. Kenapa harus malu?”

Tiffany lagi-lagi tergelak dengan ucapan polos adiknya itu. “Kau rasakan sajalah sendiri.. Yang jelas, rasanya itu.. Menyenangkan~”

Tia menyernyitkan keningnya. “Kenapa senyummu begitu menggelikan? Mencurigakan.”

“Itu karena aku sedang membayangkan rasanya berciuman..”

“Memang eonnie tidak pernah berciuman?”

“Ya! Bodoh tentu saja pernah.. Memang usiaku berapa belum pernah berciuman,”

“Dengan siapa?”

“Pacarku tentu saja.”

“Nickhun oppa?”

“Dengan Nickhun tentu saja, tapi dengan mantanku yang lain juga pernah..”

“Kau membagi ciumanmu itu?!”

“Kau pikir ciuman itu seperti apa huh? Kau akan mengerti ketika kau sudah melakukannya. Tanya saja teman-temanmu yang sering ganti-ganti pacar. Mereka pasti pernah berciuman dengan mantan-mantannya..”

“Begitukah?”

“Eiii kau terlalu polos. Sana pergi! Kau mengganggu acara makan puddingku”

Tia datang ke sekolahnya agak siang karena Tiffany lupa membangunkannya. Tiffany terlalu buru-buru akan berangkat bekerja, sampai lupa membuatkan sarapan untuk Tia dan lupa membangunkan Tia.

Eonnie selalu saja lupa padaku kalau sudah buru-buru.. Bahkan dia tidak membuat sarapan.. Padahal aku lapar sekali.” Tia menggumam sambil memegangi perutnya.

Saat sampai didepan kelasnya, terlihat Guru Im, walikelasnya ada disana. Dan disampingnya berdiri seorang anak laki-laki.

“Kenapa Guru Im ada di kelas?”

Tia dengan pelan membuka kenop pintu hingga pintu kelas terbuka lebar. Seluruh mata tertuju pada Tia detik itu juga.

Annyeong, maaf aku terlambat..”

“Aissh kau ini, disaat seperti ini malah terlambat. Sudah sana duduk! Kau menghambat murid baru ini untuk memperkenalkan diri.”

Tia mengangguk-ngangguk tanpa rasa bersalah, kemudian melenggang ke bangku kedua paling belakang yang kosong. Tia memang duduk sendiri. Melanie memutuskan untuk tidak duduk dengan Tia dulu selama satu bulan untuk program dietnya. Karena, duduk dengan Tia membuat Melanie tidak bisa mengontrol makannya a.k.a Tia selalu makan banyak dan Melanie tidak bisa tidak tergoda dengan apa yang Tia makan.

Jadi dengan itu, Melanie memutuskan duduk denganYuju di bangku paling depan.

“Baiklah anak-anak. Hari ini kita kedatangan murid baru dari Seoul! Mulai hari ini, dia akan menjadi teman kalian, oke?”

“Iya Guru..!”

Semua murid berseru kala Guru Im berbicara di depan kelas.

Tia yang baru menyimpan tasnya di meja memandang murid baru itu dengan pandangan menilisik.

Dia tampan, dan kulitnya mulus sekali. Tinggi pula.

“Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu nak”

Murid baru itu mengangguk kemudian membungkukkan badannya. “Selamat pagi semuanya. Perkenalkan namaku Jeon Jungkook, aku harap kita dapat berteman dengan baik”

Tia membeku ditempat. Beberapa kalimat yang keluar dari bibir lelaki bernama Jeon Jungkook itu membuat Tia tidak dapat berpikir jernih.

Bukan, bukan kata-katanya yang aneh. Tapi suara lelaki itu.. Suara yang merdu dan begitu menenangkan hati.

Tidak ada senyum lebar dari bibir lelaki itu, tapi cukup membuat murid perempuan di kelas berbisik memuja ketampanan lelaki itu.

Tia memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang hanya karena mendengar suara murid baru itu.

Maldo andwae! Ini aneh sekali.

Tia dibawah alam sadarnya ketika ia merasakan seseorang menarik kursi disebelahnya dan merebahkan tubuhnya disana. Tia menoleh, lalu mendapati lelaki bernama Jeon Jungkook itu duduk disampingnya.

TIDAK! Apa Tia baru saja jatuh cinta pada si pemilik suara emas itu?

Tidak sepatah katapun keluar dari bibir Jeon Jungkook. Tia menyatukan kedua telapak tangannya, kemudian menggosok-gosokkannya dibawah bangku. Tangan Tia terasa dingin sekali, padahal ia yakin penghangat ruangan dikelasnya sering membuat ia gerah.

Astaga astaga.. Tia terus bergumam dalam hati. Meracau tidak jelas dan mempertanyakan apa yang terjadi pada dirinya.

Tia melirik sedikit Jeon Jungkook. Lelaki itu tidak terusik sama sekali, ia malah terus menulis apa yang guru jelaskan di buku catatannya.

Tia keheranan. Ia tidak pernah jatuh cinta dalam waktu seperkian detik. Ia tidak pernah tertarik pada orang baru, tapi kenapa lelaki disebelahnya ini terasa berbeda.

Oh ayolahhh… Istirahat. Bel istirahat cepatlah berbunyi..

Tia memasukkan sesuap jjangmyeon besar pada mulutnya hingga mulutnya menggembung.

Melanie didepannya dibuat takjub dengan sumpitan besar gadis bermarga Hwang itu.

“Kau… Apa yang terjadi padamu?”

“Akhu… shephertinyahh…”

“Ya! Telan dulu baru bicara!”

Tia menelan jjangmyeon dimulutnya dengan sekuat tenaga.

“Huah.. Aku sepertinya baru saja jatuh cinta pada pandangan pertama..”

“Apa?” Melanie menyernyitkan alisnya tidak mengerti. Kadang Melanie tidak bisa memahami sahabatnya itu yang sering bercerita tentang hal mengejutkan dan tidak tertebak dengan tiba-tiba.

“Lelaki itu. Si murid baru.. Aku seperti merasakan aura aneh saat dia berada disampingku,”

“Aura?”

“Kau tahu? Suaranya membuat aku jatuh cinta.”

“Suaranya?”

“Aku rasa aku benar-benar jatuh cinta padanya..”

Melanie menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja sahabatnya itu ceritakan.

“Aura aneh? Kau pikir dia Do Minjoon apa?”

“Aissh kau seperti tidak pernah jatuh cinta saja..”

“Kau ini selalu menceritakan hal mengejutkan dengan tiba-tiba. Tapi pada akhirnya kau sendiri tidak yakin dengan apa yang kau ceritakan..”

“Benarkah?”

“Kemarin kau baru saja bercerita kalau Tiffany eonnie sepertinya hamil. Tapi sorenya kau langsung bilang padaku kalau ternyata Tiffany eonnie masuk angin. Kau ini benar-benar orang teraneh yang pernah aku temui. Aku heran kenapa aku bisa berteman denganmu,”

“Hei! Beda hal beda cerita!”

“Ah sudahlah, paling juga nanti sore kau bilang “sepertinya debaran yang aku rasakan saat bertemu si murid baru itu bukan debaran jatuh cinta. Sepertinya itu debaran karena siangnya ada ulangan kimia” dan akhirnya kau tidak pernah membahas hal itu lagi. Kau selalu membuatku pusing Hwang Tia,”

“Issh, tapi ini beda! Aku serius!”

“Sudah, makan saja makananmu,”

Tia mengangkut banyak sekali buku sehingga menghalangi jarak pandangnya. Tia benci hari Selasa. Karena itu artinya, ia harus menjadi petugas perpustakaan dengan Bambam. Tapi sialnya, Bambam pura-pura sakit hanya karena ia ingin mengikuti Yuju yang akan kencan buta dengan lelaki lain. Alhasil, ia harus membereskan buku-buku ini seorang diri.

“Awas saja Bambam! Kalau besok kau muncul dihadapanku, akan kuputuskan lehernya!”

Tia menyimpan setiap buku itu di rak satu persatu. Ia susun sesuai genre.

Setelah habis, ia kembali mengambil buku-buku lain untuk kembali ia susun, ia menumpuknya sampai kembali menghalangi jarak pandangnya.

“Aissh.. kenapa.. beraaaaaat.. KYA!” Tia hampir saja terjatuh jika saja seseorang tidak menahannya dari belakang.

“Ah, terima kasih..” Tia merasakan bebannya sedikit berkurang karena seseorang itu mengambil beberapa buku darinya. Tia membalikkan badannya, yang ternyata seseorang itu adalah Jeon Jungkook.

“Oh! Murid baru!”

Jungkook dengan wajah tanpa ekspresinya menyimpan beberapa buku itu di rak.

Tia mengulum senyumnya. “Kenapa kau ada disini?”

“Kupikir kau tahu apa yang orang lakukan di perpustakaan”

Setelah selesai menyimpan buku-buku ke rak, Jungkook beranjak dari hadapan Tia dan duduk di sebuah bangku yang tersedia di perpustakaan. Seperti sedang melanjutkan bacaannya yang tertunda.

“Dia ada disitu daritadi..?” Tia bergumam pelan. Ia segera menyimpan buku-buku ditangannya ke rak kemudian menghampiri Jungkook dengan langkah cepat.

“Murid baru!”

“…” Jungkook tidak menghiraukan Tia. Ia tetap fokus dengan buku bacaannya.

“Hei, kau tidak tuli kan?”

Jungkook mendelikkan matanya, kemudian menatap Tia dengan tatapan datar. “Ada apa?”

Tia tersenyum dengan senyuman khas miliknya. “Kau suka ke perpustakaan? Apa yang kau baca?”

“Bukan urusanmu,”

“Ei, ternyata anak kota sombong ya,”

“…”

Tia mempout bibirnya. Jungkook benar-benar mengabaikan keberadaannya.

“Aku juga berasal dari San Fransisco tahu! Tapi aku masih punya tata krama! Aku tidak pernah menyombongkan diri!”

Tetap. Jungkook mengabaikannya.

“San Fransisco itu kota juga! Sama seperti Seoul! Jadi kau tidak perlu menyombongkan dirimu!”

“…”

“Aisssh benar-benar keras kepala. Aku doakan kau tuli!”

“Apa maumu?!”

Tia tersentak saat melihat Jungkook menatapnya nyalang.

“H-hei.. Tak usah marah juga kan.. Aku hanya bercanda..”

“Pergilah,” Jungkook melanjutkan bacaannya. Tapi bukannya pergi, Tia malah menarik kursi dihadapan Jungkook.

“Maaf ya, aku memang kadang bawel. Tapi aku tidak pernah bawel pada orang baru, makanya aku aneh pada diriku sendiri. Ini pertama kalinya aku banyak bertanya pada orang baru, biasanya aku tidak peduli”

Jungkook mengangkat kepalanya, ia menyernyitkan keningnya melihat Tia yang tersenyum konyol dihadapannya.

“Hei, apa orang kota memang sombong? Atau hanya kau saja?”

Jungkook tidak menjawab pertanyaan Tia. Dia hanya menatap Tia tanpa ekspresi.

“Kenapa kau pindah ke Incheon? Bukankah lebih nyaman di Seoul? Apalagi di Seoul pasti banyak artis Kpop. Dan EXO! EXO sering perform di Seoul kan? Apa di Seoul sangat nyaman? Aku selalu ingin tinggal di Seoul, tapi setiap ke Seoul pasti hanya ke rumah Bibi Choi saja.. Itupun tidak pernah lama.. Padahal aku suka sekali disana!”

“Berisik”

Tia menutup mulutnya. Tapi ia tidak menyerah begitu saja, Tia mengulum senyumnya kemudian kembali membuka mulut.

“Apa kau pernah berciuman?”

“…”

Jungkook mengangkat kepalanya dari buku yang ia baca. Ia menatap Tia tidak percaya. Tapi yang ditatap hanya menampilkan cengiran polosnya.

“Teman-temanku sudah pernah berciuman. Mereka menceritakan kalau berciuman itu memiliki sensasi yang aneh tapi menyenangkan. Kau pasti pernah berciuman kan?”

“Kenapa kau bertanya padaku?”

“Tidak boleh?”

“Kau orang teraneh yang pernah kutemui”

“Eoh! Itu yang Melanie katakan padaku dua hari yang lalu!”

“Kau.. Apakah kau sudah mengecek otakmu ke dokter?”

“Tidak sopan! Aku ini tidak gila tahu.”

“Lalu apa motivasimu bertanya pada orang yang baru kau kenal tentang hal seintim itu?”

“Memangnya ini intim?”

“Tentu—“

TING!

Suara ponsel menandakan pesan masuk terdengar dari ponsel Tia. Ia merogoh saku roknya kemudian membaca isi pesan tersebut.

“Ah Eonnieku sudah ada didepan. Hei murid baru! Aku pulang dulu ya! Kapan-kapan kita ngobrol lagi, Bye!”

Jungkook menatap kepergian Tia yang menghilang dibalik pintu perpustakaan. Tanpa ia sadari, sebuah senyuman tipis terlukis di setiap sudut bibirnya.

Tia memperhatikan dirinya sendiri, memastikan ia tidak bau badan dan di wajahnya tidak ada noda apapun. Tapi kemudian ia menatap Jungkook yang sedari tadi memperhatikannya.

“Apa ada yang aneh pada diriku?”

“Kau kan memang aneh,”

“Oke. Tapi kenapa kau menatapku seperti aku ini seorang kriminal?”

“Tidak boleh?”

Jungkook masih mempertahankan tatapan datar miliknya. Tia risih dan juga merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Saking kencangnya, ia takut Jungkook dapat mendengarnya.

“Hentikan tatapan itu. Kau membuatku takut!”

Tia mengalihkan pandangannya dari Jungkook dan berpura-pura menyibukkan dirinya dengan catatan matematika.

Tia tidak menyadari kekehan geli yang Jungkook perlihatkan.

Tia memakan bekal makannya dengan tidak tenang. Ia mengangkat kepalanya, dan Jungkook masih memperhatikannya sedari tadi disebrang meja.

“Berhenti menatapku!”

“Aku tidak menatapmu,”

“Jelas-jelas kau menatapku!”

“Aku menatap orang yang dibelakangmu,”

Jungkook mengelak, Tia menengok ke belakang dan disana ada Hayoung sunbae yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.

Oke, bisa jadi Jungkook memang sedang menatap Hayoung sunbae dan memiliki ketertarikan pada Hayoung sunbae. Oke oke tidak apa apa!

Karena sudah hilang kesabaran dan merasa risih, Tia beranjak dari mejanya kemudian pergi bergabung dengan kelompok hoobae lelaki di ujung meja kantin.

“Chanwoo aku ikut sebentar oke? Oke! Call!”

Chanwoo memperhatikan sunbaenya yang makan dengan gelisah itu dengan heran, kemudian pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang menatap Tia dari belakang.

Sunbae.. Itu siapa..?”

“Sssst!”

Tia menatap pantulan dirinya di cermin yang berada di toilet sekolah. Ia membuka keran dan mulai membasuh wajahnya.

“Hwang Tia! Kendalikan dirimu! Jeon Jungkook bersikap begitu pasti karena keanehanmu kemarin! Jangan berharap berlebihan atau kau akan kecewa!” Tia menunjuk-nunjuk dirinya pada pantulannya di cermin.

Setelah itu ia segera bergegas keluar dari toilet.

“KYA!” Tia hampir saja menampar lelaki dihadapannya saking shocknya karena keberadaan lelaki itu yang benar-benar tiba-tiba.

“Kau benar-benar muncul seperti hantu!” Tia berseru, Jungkook memang keterlaluan. Untuk apa ia berdiri tepat didepan toilet wanita.

Benar-benar tidak habis pikir.

Jeon Jungkook tidak berkata apa-apa. Tanpa sepatah kata apapun lelaki itu membalikkan badan dan malah masuk ke toilet pria.

“Apa yang dia pikirkan…”

“Mungkin dia pikir kau seorang byuntae!”

“Tidak!!”

“Lalu apalagi? Dia tidak berhenti menatapmu dengan begitu aneh.” Melanie tidak menemukan spekulasi lain selain Jungkook yang mengira Tia ada seorang gadis mesum.

“Kau juga bodoh, kenapa kau bertanya tentang hal itu pada orang baru dikenal?” Kini Yuju yang memojokkan Tia.

“Memang itu hal yang tidak wajar?”

“Entah kau ini polos atau pura-pura polos. Kau baru saja bertanya pada lelaki tentang sebuah ciuman. Apa kau tidak punya rasa malu!?”

“Astaaagaaa aku baru menyadarinyaaa” Tia mengacak rambutnya frustasi.

“Aku pasti dikira sedang menggodanyaaaa. Bagaimana ini??”

“Kau baru menyadarinya sekarang? Astagaaa..” Dan untuk entah keberapa kalinya Melanie dibuat geleng-geleng.

Tia menengok bangku disebelahnya. Kosong.

Kemana murid baru itu? Tia dalam hati bertanya-tanya.

Tas dan buku Jungkook masih tergeletak begitu saja. Dan Jungkook tidak masuk di jam terakhir. Sekarang sudah bel pulang, tapi lelaki itu tidak muncul juga.

Tia memutuskan untuk membereskan perlengkapan Jungkook, dan mencari keberadaan murid baru itu.

Tia mencari ke UKS, tidak ada orang.

Kemudian menunggu di didepan Toilet pria selama sepuluh menit tapi tidak ada yang keluar.

Ia mencari ke perpustakaan, seluruh penjuru rak sudah ia cari tapi tidak ada Jungkook.

Dan destinasi terakhir yang mungkin Jungkook datangi untuk membolos adalah atap sekolah, jadi Tia memutuskan untuk naik ke atap sekolah.

“Benar dugaanku, kau disini..” Tia berbisik pelan. Jungkook tengah berbaring disana, tangannya ia jadikan bantal dan kepalanya menghadap langit.

Tia mendekati Jungkook, ia berjongkok disamping Jungkook.

“Hei murid baru..”

Jungkook masih tidak terusik. Tia menusuk-nusuk kepala Jungkook dengan jari telunjuknya, dan akhirnya Jungkook berhasil bangun.

“Hngh..”

Jungkook mengerang pelan kemudian bangkit dengan mati setengah terpejam. “Ada apa?”

“Bukan maksud mengganggumu sih, tapi hanya ingin mengantarkan ini..” Tia menyodorkan tas milik Jungkook.

“Lalu?”

“Lalu? Ya hanya mengantarkan saja. Ini sudah bel pulang jadi kelas pasti dikunci. Aku hanya memnbantumu agar tasmu tidak terkunci dikelas..”

“…”

Jungkook hanya menatap Tia dengan tatapan baru bangun tidurnya.

Tia yang merasa canggung mengedipkan matanya berkali-kali. “Oke, kalau begitu aku pulang sekarang ya?”

Saat hendak berdiri dari posisi jongkoknya, Jungkook menarik pergelangan tangan Tia hingga Tia jatuh terduduk.

“Heh byuntae..”

B-byuntae?”

Jungkook terkekeh pelan, dan Tia bersumpah itu senyuman pertama Jeon Jungkook yang Tia lihat dalam radius pandang sedekat ini.

“Kau benar-benar membuatku penasaran..”

“Huh? Penasaran?”

“Kau tidak bisa membuatku berhenti berpikir tentangmu”

“K-kenapa?”

“Pertanyaan bodohmu minggu lalu membuatku bertanya-tanya dengan tingkahmu itu..”

“H-hei! Yang jelas aku bukan byuntae! Dan aku tidak ada maksud ingin melakukan hal itu oke?!”

Jungkook mengangkat jari telunjuknya dikening Tia, kemudian mendorongnya pelan. “Bodoh..”

Tia mematung. Sensasi yang menggelikan tiba-tiba mengoyak perut Tia.

Ia sering dalam posisi sedekat ini dengan lelaki. Tapi tidak pernah merasa semenyenangkan saat ini.

“Kau bertanya kan padaku..”

Huh?”

“Apa aku pernah berciuman?”

Tia merasakan detak jantungnya mulai tidak normal lagi.

“Kau ingin aku menjawabnya?”

“T-tidak usah!”

“Tapi aku ingin menjawabnya.. Bagaimana?”

“…” Tia menahan nafasnya saat melihat wajah Jungkook yang bak malaikat dalam radius pandang ini.

“Aku tidak pernah berciuman..”

“…”

“Tapi aku juga penasaran bagaimana rasanya..”

Tia mengedipkan matanya ketika Jungkook mulai mengembangkan sejurus senyum tipis.

“Kau mau tahu rasanya?”

“Hng..”

“Bagaimana kalau kau merasakannya denganku?”

Tia tak dapat mengatur detakan jantungnya yang mulai menggila, dan dalam seperkian detik, wajah Jungkook mulai mendekat, mempersempit jarak diantara mereka, hingga akhirnya Tia dapat merasakan sensasi yang lembut menyentuh bibirnya.

Tubuhnya seakan melayang dan sensasi menggelikan pada perutnya tiba-tiba menyerang.

Bibir Jungkook mengecup bibir Tia dengan singkat, tapi kecupan singkat itu ternyata tidak selesai sampai disitu. Jungkook kembali mempersempit jarak diantara mereka, Tia dapat merasakan hembusan nafas Jungkook menerpa pipinya.

Jungkook kembali menempelkan bibirnya pada bibir Tia, menggerakkannya pelan dan menuntun tangan Tia untuk mengalung pada leher Jungkook.

Tia dapat melihat mata Jungkook tertutup, membuat Tia ikut menutup matanya.

Tia meraba leher Jungkook dengan gemetar dan canggung, sedangkan tangan Jungkook beralih pada punggung Tia, ia mendorong pelan punggung Tia hingga ciuman mereka semakin dalam dan jarak mereka semakin sempit.

Tia dapat merasakan bibirnya mulai basah, dan Jungkook masih belum mau melepaskan bibirnya dari bibir Tia.

Lengan Jungkook beralih pada rambut Tia, ia mengusap rambut Tia pelan diiringin dengan gerakan leher Jungkook yang semakin memperdalam ciuman itu.

Tia teringat perkataan temannya. Benar! Ini benar-benar hal yang menyenangkan. Sensasi yang tidak dapat digambarkan.

Tia mulai kehabisan nafas, ia mendorong dada Jungkook pelan sehingga ciuman mereka terlepas. Jungkook mempertahankan jarak tersempit diantara mereka. Ia menyatukan keningnya dan kening Tia.

“Kau.. Sudah tahu rasanya bukan?” Jungkook sedikit terengah-engah.

Tia tidak dapat menahan senyumnya. “K-kau.. Benar-benar gila..”

“Aku hanya memberitahu orang penasaran seperti dirimu..”

“…”

“Kau lucu,” Jungkook terkekeh, Tia merasa pipinya memanas, ia menarik kepalanya menjauh dari Jungkook, tapi sebelum itu Jungkook menyempatkan diri untuk mengecup bibir Tia singkat.

“Y-YA!”

“Tak perlu gugup begitu,”

“Kau benar-benar… K-kau mencuri ciuman pertamaku!”

“Ini juga ciuman pertamaku bodoh..”

Tia mematung. Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Kita impas bukan?” Jungkook terkekeh lagi, lucu rasanya melihat wajah konyol gadis dihadapannya.

“Kau terlihat shock sekali, Hwang Tia”

“T-Tidak kok!!”

-kkeut-

TIDAAAAAK OTAK INI TURN BYUNTAE!!!!!!!!!!!!!!!!!

HELP MEHHHHHHH kkkkk

/kemudian ketawa jahat/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s