[FF] FATE – “CARE? NO.” SEQUEL

79461002

Staring :

Jung Soojung – Kim Myungsoo

Genre :

Romance, Fluff, Friendship

 A/N :

Maaf bilang gaada sequel taunya malah ada mood buat lanjut. P.s : NOT BASED ON TRUE STORY!!! Karena nyatanya hubungan saya sama ‘sidia’ engga kaya gini setelah putus. Hanya ada beberapa adegan yang diambil dari kisah nyata, tapi inti cerita SAMA SEKALI tidak sama dengan kenyataannya. ENJOY YOURSELF!! Typo bertebaran ya mianhaeeeeee manusia tidak pernah luput dari kesalahan kkk

Tentang Jung Soojung dan penyimpangan sifatnya serta Kim Myungsoo dengan obsesinya

“Ayolah Soojung-ah..”

“Jangan memasang wajah memelas itu. Kau tahu kan aku orang yang konsisten akan sesuatu”

“Iya aku tahu… Tapi maksudku, oh come on.. ini hanya hal kecil, jangan berlebihan!”

“Tidak mau”

“Kumohon….”

“Tidak”

“Aku akan membelikanmu tiket konser GOT7!!!”

“Kau kira aku anak kecil yang bisa dibodohi?”

“Jung Soojung!! Hanya sebentar! Kau kan bawa motor! Aku hanya menumpang sampai tempat futsal sebentaaar saja, kemudian setelah lima belas menit, aku ikut lagi sampai sekolah. Kumohon ya?”

Soojung mencabut headsetnya secara paksa, kemudian memandang Suzy nyalang. Dengan kedua belah mata kokoa tajam itu, Soojung seperti siap mencabik Suzy dalam hitungan detik.

“Kau tahu kan aku benci menunggu di tempat yang ada manusia itu didalamnya. Dan lima belas menit bagimu, sama dengan satu jam! Memangnya aku mau apa menunggu orang pacaran?”

Suzy merenggut, kembali berusaha merayu Soojung dengan sejuta aegyo gagal miliknya. “Kau tahu Taehyung sudah bukan pacarku lagi kan? Aku hanya mau mengobrol dengannya sebentar.. Kau tidak kasihan pada sahabatmu ini?”

Soojung mendelik malas “Tidak. Sudah ya, aku mau pergi”

“YA! JUNG SOOJUNG!”

“Ups, Sorry” Ucapan datar khas milik Soojung meluncur tanpa sengaja saat tidak sengaja kakinya menapak pada sebuah kaki milik orang lain saat mereka tidak sengaja bertubrukan.

“Hmmmm tak apa” Soojung baru menyadari si pemilik kaki itu Kim Myungsoo, yang kini tengah berusaha tersenyum ramah padanya –meski terlihat dipaksakan-. Soojung melangkah lurus tanpa menengok ke belakang, menyadari senyumnya tak mendapat balasan, Myungsoo menghentikan tarikan pada setiap sudut bibirnya.

“Hhh percuma”

“Oh dude ini pertama kalinya aku melihat Soojung sedingin itu” Baekhyun yang berada disebelah Myungsoo kala itu berkomentar, tatapannya masih mengarah pada Soojung yang kini mulai menghilang ditikungan koridor.

“Dia begitu setiap hari, kau tidak pernah lihat apa”

“Kurasa dia hanya begitu dihadapanmu”

“Kau ingin kubunuh?”

“Eyy kau tidak mau mengakuinya huh? Apa saat kau masih berpacaran dengannya dia sedingin itu?”

“Diamlah Byun Baekhyun, kau benar-benar minta dihajar”

Myungsoo menendang angin sebagai luapan kekesalannya, kemudian melenggang pergi.

“BAE SUZY KAU BENAR-BENAR!” Suara cempreng Soojung yang jarang terdengar sekeras itu tiba-tiba menggelegar diseluruh penjuru kelas. Myungsoo yang masih belum selesai memasukkan buku kedalam tasnya sedikit melirik Soojung yang tengah berusaha mengejar Suzy yang mengacung-ngacungkan sesuatu.

“KEMBALIKAN!” Soojung kembali berteriak sebal. Kesal tentu saja, dia benar-benar heran kenapa dia bisa berteman dengan Suzy yang memiliki sifat bertolak belakang dengannya.

“Tidak mau! Kau harus ikut ke tempat futsal!” Suzy menyimpan kunci motor Soojung yang berhasil itu curi barusan kebelakang punggungnya.

“Tidak!”

“Harus!”

“Aku punya urusan apa untuk pergi kesanaaaa astagaaaa”

“Menjadi supirku!”

“Kau benar-benar minta dihajar! Kemari kau!”

“Tidak! Motornya akan kubawa!”

Dan begitulah pertengkaran Soojung dan Suzy yang tiada henti hingga akhirnya Soojung menyerah dengan rasa marah yang sudah benar-benar tidak bisa diungkapkan lagi.

Soojung terduduk murung di kursi yang berada di tempat futsal. Soojung marah, benar-benar marah. Ia bersumpah ia tidak mau bicara dengan Suzy untuk beberapa hari setelah ini. Yang ia lakukan sekarang hanya bisa duduk termenung memperhatikan Suzy dan Taehyung yang sedang bermesraan.

Teman kelasnya yang lain memang ada disitu, tapi mereka sibuk masing-masing, dan sialnya Sulli sakit dan Sohyun tidak ikut. Ini benar-benar hari tersial bagi Soojung. Soojung bersumpah.

Helaan nafas kembali keluar dari kedua belah bibir Soojung. “Bae Suzy benar-benar akan mati setelah ini”

Soojung memperhatikan sekitarnya, dan pandangannya terhenti pada seseorang yang tengah memainkan ponsel di kursi sebrang.

Soojung kembali menghela nafas. Ia benar-benar bingung akan perasaannya. Soojung orang yang teguh akan pendirian, tapi kadang ia juga menyesali pendiriannya secara diam-diam dan tidak pernah menceritakannya pada orang lain. Seriously, nobodies care.

Kim Myungsoo seseorang yang mengecewakannya. Disisi lain ia masih mengharapkan kehadiran Myungsoo. Tapi Soojung tidak mau menerima kenyataan kalau suatu saat Myungsoo bisa saja kembali menyakitinya seperti sebelumnya. Kenyataannya Soojung orang yang tidak mau dikecewakan, dan lebih memilih untuk mengecewakan orang lain. Itu yang ia lakukan pada Sehun dulu.

Soojung tersadar dari lamunannya kala ia menyadari Kim Myungsoo mulai berjalan kearahnya. Tapi dengan sigap, Soojung segera beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi.

Fyuh, hampir saja.

Myungsoo masih memainkan ponselnya, awalnya sih bermain game, tapi ia tiba-tiba merasa tidak konsen karena tahu Soojung ada di tempat yang sama dengannya.

Sebentar, ia melirik Soojung yang berada di kursi sebrangnya. Gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu karena posisi kepalanya menunduk.

Myungsoo agaknya berterimakasih kepada Suzy yang memaksa Soojung untuk datang kemari. Memang itu bukan special request dari Myungsoo, ia tidak mau menjual gengsinya semurah itu, tapi dalam hati ia bersorak kala melihat Suzy yang berhasil membujuk –atau lebih tepatnya memaksa- Soojung hingga akhirnya bisa datang, setidaknya ia bisa melihat Soojung lebih lama, bukan di sekolah saja.

Myungsoo mengunci ponselnya, ia meneguhkan hati untuk duduk disamping Soojung. Minimal duduk berdampingan saja tak apa kan? Myungsoo tidak pandai memulai perbincangan.

Ketika sudah tinggal lima langkah lagi hingga sampai disamping Soojung, gadis itu keburu menyadari kehadiran Myungsoo. Dengan segera, gadis itu pergi dari hadapannya. Secepat kilat.

Myungsoo terpaku ditempat. “Sudah kuduga… Pasti menghindar”

“Loh, Soojung kemana?” Sudah lebih dari tiga puluh menit Suzy mengobrol dengan Taehyung, dan ia menyadari Soojung tidak ada disana.

“Sudah pulang” Baekhyun menjawab cuek sambil memakai sepatu futsalnya.

“APA?! Tadi terakhir aku lihat dia ke kamar mandi??”

“Iya memang. Tapi sudah dari kamar mandi dia buru-buru lari keparkiran, kemudian menjalankan motornya”

What the… lalu.. aku pulang bagaimana??!” Suzy menendang angin frustasi.

“Suruh siapa kau kelamaan mengobrol. Kau tahu gadis itu tempramennya tinggi kalau sudah dibuat kesal sekali, dia tega saja meninggalkanmu seperti ini, tidak akan heran” Woohyun yang kebetulan lewat, mengomentari sambil berusaha membuka botol minum miliknya.”

“Arghhh dia tidak bisa menunggu apa..”

“Kau bilang lima belas menit, ini sudah lebih dari tiga puluh delapan menit..”

“Benarkah?! Argh Bae Suzy kau ini benar-benar.. Kim Taehyung! Antar aku pulang!”

“Boleh saja, tapi tunggu sampai aku selesai futsal ya,”

“Jam berapa?”

“Dua jam lagi”

“LAMAAAA”

“Tega ya meninggalkanku seperti itu kemarin?” Suzy berniat memanas-manasi Soojung agar merasa bersalah padanya, tapi gadis berahang tegas itu tidak menghiraukan Suzy dan malah melangkah melewati Suzy tanpa melirik kearahnya sama sekali.

Niat Suzy membuat Soojung tidak enak, malah dirinya yang tidak enak.

“Ya! Jung Soojung!”

Tidak ada respon sama sekali, Soojung malah menancapkan headset pada kedua telinganya. Suzy makin merasa tidak enak. Soojung memang sering marah padanya, tapi tidak pernah sejutek ini.

“Kau kenapa sih?”

“…”

“Kau tuli heh jawab aku Soojung-ah”

“…”

“Soojung-ah, jangan abaikan aku,”

“…”

“JUNG SOOJUNGGGGG”

Soojung bangkit dari duduknya, tanpa melirik Suzy, dia melangkah keluar kelas, meninggalkan Suzy yang hampir menangis karena diabaikan.

“Kau sendirian?”

“Menurutmu?” Soojung mengangkat sebelah alisnya kala Taehyung menghampirinya di kantin.

“Hehehe, hanya basa-basi Soojung-ah,”

“Ugh, to the point saja..”

“Jangan terlalu kasar pada Suzy, kau tahu dia itu cengeng..”

“Jangan membelanya karena kau kekasihnya, okey. Kalau aku memang sedang kesal ya kesal saja” Soojung mendelik dengan kedua belah mata kokoanya.

“Bukan begitu. Kau tahu kan Sohyun tidak begitu respek orangnya, dan Sulli masih sakit. Ia tidak punya sandaran,”

“Kau kira aku kursi bisa dipakai bersandar?”

“Bukan begitu. Sudahlah, yang jelas jangan marah-marah”

“Terserahku. Jangan mengaturku”

“Kau benar-benar dalam mood yang buruk ya hari ini?”

“Jangan bicara padaku. Pergilah”

“Kalau aku membicarakan Myungsoo saja bagaimana?”

Soojung mencabut headsetnya kasar. “Tidak bisakah kau berhenti bersikap seperti Woohyun? Bertanya padaku tentang lelaki itu layaknya wartawan. Menyebalkan,”

“Setidak sudi itukah kau menyebut namanya?”

“Melihatnya saja aku muak”

“Meskipun kau tidak bisa menolak karismanya?”

Taehyung nyengir tidak jelas, sebelum akhirnya sebuah pukuran bersarang di kepalanya. “YA!”

“Pergilah.. Aku sedang malas berdebat,”

“Hei Soojung-ah,”

“Apalagi?”

“Beri kesempatan pada Myungsoo untuk memperbaiki hubungan kalian,”

“Dan itu artinya aku kembali memberi kesempatan padanya untuk mengulang kesalahan yang sama? Tidak terimakasih. Aku sudah kenyang dengan omong kosongnya,”

“Aku jamin dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama” wajah Taehyung diselimuti keseriusan.

“Manusia selalu begitu Taehyung-ah. Mereka berjanji untuk mengingkari, mereka memperbaiki untuk kembali merusak, mereka tidak dapat dipercaya,”

“Kalau begitu kau pun begitu? Kau kan manusia”

“Ya. Maka jangan percayai aku,” Dengan itu, Soojung beranjak dari kursi yang ia tempati, dan melenggang meninggalkan Taehyung yang termenung.

Konteks hidup Soojung berubah Sembilan puluh derajat. Dia tidak bisa percaya pada orang terdekatnya, karena ia tidak tahu mana yang benar-benar teman dan mana yang bukan.

Seperti kata kakaknya, “Follow your heart”. Jadi Soojung mengikuti apa yang menurutnya benar dan mana yang tidak. Kalau baginya disakiti itu hanya cukup sekali saja, maka begitulah hidupnya. Sekalipun ia ingin kembali pada Myungsoo dan menjalin kisah dengannya, dia tidak mau mengambil resiko untuk kembali dibohongi.

Karena baginya, manusia pembual. Mereka berjanji dan akhirnya kembali ingkar. Soojung sadar, dia juga bisa saja berjanji dan pada akhirnya mengingkari. Maka dari itu, kadang Soojung tidak bisa mempercayai dirinya sendiri.

Myungsoo juga manusia. Sekeras apapun ia berusaha bersikap tidak peduli, ia tetap saja tidak bisa membohongi hatinya kalau ia masih peduli.

Sekeras kepalanya Kim Myungsoo, ia tetap tidak bisa menahan rasa rindunya pada Soojung. Dan Myungsoo merasa, disinilah dirinya menemukan titik betapa pengecutnya dia.

“Myungsoo-ya, kau bawa Baekhyun ya?”

Myungsoo terbangun dari lamunannya, kemudian menyadari Woohyun berbicara kepadanya. Myungsoo mengangguk dan menyalakan mesin motornya.

Karena hari ini guru olahraga di sekolahnya sedang cuti karena baru menikah, anak laki-laki memanfaatkan jam kosong pelajaran olahraga untuk pergi ke tempat futsal. Sedangkan anak perempuan memilih mengobrol di kelas.

“Oy Soojung-ah mau ikut tidak?”

Myungsoo dikejutkan dengan suara Woohyun yang memanggil nama Soojung.

Myungsoo menoleh, menemukan Soojung sedang berjalan dengan Wendy kearah ruang guru.

“Kemana?”

“Futsal dong

“Tidak”

“Kau kan bisa main bola”

“Hoax. Menendang bola saja aku tidak bisa. Sudah ah, aku sibuk”

“Kalau begitu Wendy kau mau ikut tidak?”

“Kau bercanda? Sejak kapan aku bisa main bola?”

Dan setelah Wendy bicara, mereka berdua pergi meninggalkan Woohyun.

Myungsoo menggelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan dirinya untuk tidak terlalu jauh memikirkan Soojung.

“Eh kau lihat Myungsoo tadi?” Wendy menyenggol lengan Soojung dengan gerakkan menggoda.

“Tidak. Memang dia ada disana?” Soojung memandang Wendy dengan sebelah alis terangkat.

“Issh, dia memperhatikanmu tahu!”

“Mungkin bukan aku, mungkin orang lain”

“Ey yang benar saja. Jelas-jelas pandangannya mengarah padamu!”

“Sudahlah aku benci membahas lelaki itu”

Bohong. Soojung menyadari bahwa dirinya berbohong. Hatinya sedikit hangat saat mendengar perkataan Wendy barusan. Itu artinya, Myungsoo masih peduli padanya.

Tapi egonya menentangnya, bahwa jangan mendengar terlalu banyak hal menyenangkan. Karena sesuatu yang menyenangkan itu, malah kembali menjerumuskan dalam sebuah kesalahan. Yang pada akhirnya akan diulangi lagi dan lagi.

Soojung merasa dirinya sudah benar.

“Myungsoo!! Tendang kemari!”

Myungsoo mendengar arahan Seokjin, dan menendang kearah yang diperintahkan Seokjin.

Dengan sekali tendangan, Seokjin berhasil mencetak goal kearah gawang lawan, yang membuat tim Myungsoo unggul dari tim lawan.

“Aisssh bolanya lepas dari tanganku!” Baekhyun mengelak karena tidak mau disalahkan gawangnya telah kebobolan.

“Bodoh! Kalau kemasukan ya kemasukan saja. Tak usah banyak mengelak!” Woohyun menjitak kepala Baekhyun. Ia menyesali satu tim dengan lelaki cabe-cabean ini.

“Bagus Myungsoo-ya!” Taehyung mengangkat tangannya, mengajak Myungsoo untuk ber-high five.

Myungsoo tersenyum dan menyambut lengan Taehyung.

Mereka kembali melanjutkan permainan. Saling menyerang dan berusaha mencetak goal.

Saat Myungsoo berlari mengejar bola yang berada di kaki Chanyeol, kakinya tidak sengaja tersandung pada kaki Seokjin yang berada disampingnya. Tubuh Myungsoo oleng dan condong ke depan, dengan naasnya, lutut Myungsoo menggores bibir lapangan yang keras dan sedikit bergerigi.

“MYUNGSOO!!!” Semua orang menghampiri Myungsoo yang terjatuh dengan posisi tengkurap.

“Argh..” Myungsoo mengerang kesakitan. Ia bangkit dari posisinya, dan menemukan lututnya dibanjiri darah.

“Ugh aku ingin muntah” Dengan bodohnya celetukan Baekhyun terdengar.

TRAK!

Soojung melihat sumpitnya yang baru saja ia pisahkan menjadi dua bagian. Sebelah sumpitnya terpotong tidak rapi. Di Korea, biasanya ini adalah pertanda nasib buruk.

“Wah Soojung-ah kau akan terkena nasib buruk!” Sulli menunjuk sumpit Soojung yang terpotong tidak rapi itu.

“Eissh, jangan percaya ramalan bodoh”

“Bukan ramalan bodoh, hanya saja biasanya begitu”

“Terserahlah..” Soojung tidak memperdulikannya. Ia menyumpit jjajangmyeon yang belum tersentuh olehnya.

Soojung keluar dari ruang ganti. Ia baru saja selesai mengganti baju olahraganya dengan baju seragam.

“Soojung-ah!” Woohyun tiba-tiba saja datang entah dari mana sambil dengan tidak senonoh mengalungkan lengannya dileher Soojung.

“YA!” Soojung menepak lengan Woohyun yang mengalung di lehernya.

Sorry hehe”

“Tidak sopan sekali”

“Galak sekali sih. Eh sudah lihat Myungsoo belum?”

“Kenapa aku harus melihatnya?”

“Dia cedera. Sekarang ada di UKS. Lukanya kau harus lihat! Banyaaaaak sekali.”

Soojung mematung sambil menatap Woohyun.

Woohyun menyadari perubahan air muka Soojung. “Kenapa?”

“Tidak” Soojung dengan segera berusaha menyadarkan diri. Ia berjalan mendahului Woohyun dan masuk ke kelasnya.

Pikiran Soojung benar-benar terganggu. Ia menatap lurus kearah bangku Myungsoo yang kosong.

Apa ia baik-baik saja? Apa lukanya sangat parah?

Soojung hanya bisa memendam rasa khawatir itu. Ia gengsi untuk bertanya pada teman-teman Myungsoo, apalagi temannya sendiri. Bisa mati malu ia kalau bertanya tentang Myungsoo.

Dia akan dibilang gagal move on dan segala ejekan yang membuatnya tidak nyaman.

“Argh benar-benar..” Soojung mencabut headsetnya frustasi. Erangannya mengusik Sulli yang berada disampingnya.

“Kau kenapa sih? Berisik sekali”

“Tidak tidak. Jangan perdulikan aku”

“Kalau kau khawatir, datangi saja Myungsoo di UKS”

“Apa? Jangan bercanda”

“Ya daripada gelisah seperti itu”

“Memang siapa yang khawatir?”

“Kau”

“Sok tahu”

“Aku bisa membacanya dengan jelas. Tertulis besar di keningmu yang lebar itu”

Soojung menutup keningnya dengan kedua telapak tangannya. “Sok tahu!!”

Soojung menghela nafas. Sekarang sudah pergantian jam pelajaran, sebentar lagi Guru Choi –Guru bahasa Jepang- akan segera masuk. Dan Myungsoo masih belum memunculkan batang hidungnya.

Soojung mengutuk dirinya dengan segala penyimpangan sifatnya yang benar-benar labil ini. Soojung ingin teguh dengan pendiriannya, tapi rasa khawatirnya lebih mendominasi.

Tepat setelah bel pergantian jam perlajaran berbunyi, Guru Choi masuk. Guru Choi memang selalu tepat waktu.

Guru Choi membuka buku absen dan memanggil murid satu persatu.

“… Nam Woohyun”

“Siap hadir!”

“Kwon Sohyun”

“Hadir!”

“Byun Baekhyun”

Present miss!”

“Kim Taehyung”

“Hadir!”

“Choi Sulli”

“Hadir!”

“Bae Suzy”

“Hadir!”

“Jung Soojung”

“Hadir”

“Kim Myungsoo”

“…”

“Kim Myungsoo?”

“Siap hadir!”

Serentak pandangan seluruh kelas menatap kearah pintu kelas yang baru saja terbuka.

“Maaf sensei aku terlambat”

Guru Choi memperhatikan Myungsoo dari atas sampai bawah, dan ketika matanya mengarah pada lutut Myungsoo, Guru Choi langsung mengangguk memaklumi.

“Duduk!”

Myungsoo mengangguk, ia melangkah dengan sedikit pincang.

Soojung memperhatikan cara jalan Myungsoo, dan perasaan khawatirnya mulai kembali membayangi.

Tapi Soojung mencoba menepisnya, dan dengan itu ia mengalihkan pandangannya dari Myungsoo.

“Ya Myungsoo.. Kakimu itu kenapa?” Soojung mencuri dengar Sulli yang bertanya pada Myungsoo.

“Kau bisa lihat sendiri kan kenapa?”

“Ish maksudku kenapa bisa begitu?”

“Membela tim, rela berkorban”

“Cemen sekali, begitu saja harus ke UKS segala”

“Kau harus tahu rasanya, sini mau coba?!” Myungsoo mengeluarkan gunting dari kotak pensilnya dan berpura-pura akan menusuk Sulli. Tapi Sulli dengan sigap kabur keluar kelas sambil tertawa tidak jelas.

Soojung bangkit dari duduknya. Ia melewati meja Myungsoo tanpa melirik kearahnya sedikit pun.

Jangan menengok, jangan menengok! Soojung terus bergumam dalam hati.

Myungsoo menatap Soojung yang melintas dihadapannya tanpa menoleh sedikitpun kearahnya. Ia berlalu dan kemudian keluar dari kelas.

Myungsoo menghela nafas. “Apa ia benar-benar sudah tidak peduli?”

“Siapa?”

“YA!”

“Apa?” Taehyung menatap Myungsoo dengan tampang polosnya.

“Kenapa kau senang  muncul tiba-tiba sih?!”

Soojung memperhatikan tiga hari terakhir ini, Myungsoo terlihat tidak bersemangat. Tidak, bukan karena ia selalu memperhatikan Myungsoo. Tapi bahkan Suzy bilang, Myungsoo terlihat berbeda. Seperti tidak memiliki gairah.

Sejak lututnya cedera waktu itu, Myungsoo terlihat lebih pendiam.

“Kau bawa serangga tidak?” Soojung bertanya pada Seulgi, teman yang sekelompok dengannya dalam praktek biologi.

“Kau tidak bawa memang?”

“Rumahku bukan hutan yang penuh dengan serangga”

Seulgi tertawa. “Aku mendapat belalang pagi tadi, adikku yang menangkapnya”

“Bagus, aku benci binatang seperti itu. Sebenarnya aku benci serangga. Aku tidak perlu memegangnya kan?”

“Hei teman-teman. Lihat yang aku bawa!” Miju tiba-tiba saja datang dengan membawa sebuah wadah.

“Astaga!”

Soojung mengintip apa yang Miju bawa dalam wadah itu.

“YA! Seulgi membawa yang kecil saja sudah menyeramkan dan kau bawa rajanya?”

Miju terkekeh “Ini bagus bukan?”

“Ini belalang sembah?” Seulgi menatap belalang yang Miju bawa dengan agak ngeri.

“Tidak tahu juga. Aku hanya menangkapnya karena ini ada didepan rumahku”

“Astaga kelas ini besok akan menjadi kebun binatang”

Praktek pengecekan pernafasan pada serangga sudah selesai, dan lab mulai ribut dengan murid lelaki yang mulai menjahili murid perempuan dengan serangga-serangga liar itu.

“ILHOON!!!” Soojung berhasil menjitak kepala Ilhoon dengan lengannya sendiri.

“YA! Apa yang kau lakukan!”

“Harusnya aku yang bertanya begitu! Bagaimana kalau jangkrik itu masuk ke telingaku bodoh!?”

Soojung dan Ilhoon memang dari dulu tidak pernah tidak bertengkar jika sedang bersebelahan.

Myungsoo memperhatikan Soojung sambil membuka jas lab miliknya. Kakinya masih terasa ngilu, apalagi kalau melihat Soojung dijahili oleh lelaki di kelas. Rasanya lebih ngilu daripada luka di kakinya.

Myungsoo memutuskan untuk segera keluar dari lab karena jam pelajaran biologi sudah berakhir. Semua murid juga sudah mulai keluar dari lab.

Myungsoo menuruni tangga pelan-pelan. Ia kesal tidak bisa cepat-cepat turun.

Tiba-tiba saja Myungsoo mencium aroma tubuh Soojung yang sangat khas. Myungsoo tidak mau menoleh ke belakang, karena aromanya semakin khas.

Dan benar saja, detik berikutnya, Soojung melintas disampingnya, seperti biasa, tanpa menoleh kearahnya. Ia melewati Myungsoo begitu saja, tanpa sepatah kata “apa kakimu baik-baik saja?” atau basa basi yang bagi Myungsoo akan sangat berharga.

Soojung segera keluar dari lab, menghindari Ilhoon yang masih saja menebarkan serangga pada siapa saja yang lewat dihadapannya. Benar-benar lelaki menyebalkan.

Soojung berlari menuju tangga, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Myungsoo yang sedang kesusahan menuruni tangga.

Soojung menuruni satu anak tangga. Ia memperhatikan langkah Myungsoo yang pelan-pelan. Soojung tersenyum kecil.

Ia mengikuti Myungsoo dari belakang dengan pelan, tapi karena langkah Myungsoo yang terlalu pelan, ia terpaksa mendahului Myungsoo dengan agak berlari. Soojung memang tidak sabaran.

Ketika anak-anak kelas sudah bergegas pulang, Soojung terpaksa piket dulu. Padahal ia ingin segera pulang karena ingin melihat kakaknya pemotretan untuk pra-wedding.

“Suzy-ya.. Aku pulang ya?”

“Piket dulu Soojung-ah. Kau ingin aku denda?”

“Aisssh”

Soojung mengambil sapu dengan tidak ikhlas.

“ILHOON KAU TIDAK BISA KABUR!” Soojung berteriak ketika melihat Ilhoon sudah akan melarikan diri, dia akan kabur piket lagi.

Ilhoon mendesis “Ya! Kau ingin aku lempari serangga lagi huh?”

“Tidak. Tapi kau tetap harus piket!”

“Issh menyebalkan,” Ilhoon dengan langkah penuh hentakan –sambil lengannya memegang toples penus serangga- mengangkat satu persatu kursi keatas meja.

Di kelas hanya tinggal beberapa orang lagi. Myungsoo masih disana, dia memainkan gitar sambil duduk diatas meja.

Soojung tidak berani menegur, jadi ia hanya terus menyapu tanpa menghiraukan Soojung.

“Soojung-ah!”

Soojung menoleh kearah Ilhoon dan dengan jahatnya Ilhoon melempar seekor jangkrik ke arah Soojung sehingga menempel di seragamnya.

“KYAAA ILHOON!!!” Soojung menjatuhkan sapunya, ia bergerak gelisah, ia takut serangga itu masuk ke rok atau ke telinganya.

Soojung tahu Myungsoo tengah memperhatikannya, tapi ia tidak bisa tidak panic kalau itu sudah menyangkut serangga.

“ILHOON!!!!” Sedangkan Ilhoon dengan jahatnya tertawa terbahak tanpa memperdulikan Soojung yang panik.

“Ya! Diam diam! Sini biar aku ambil!” Sungjae tiba-tiba saja datang entah darimana.

“Aisshh cepat!!”

“Buka tasmu”

“Kenapa harus?”

“Cepat! Itu ada di punggungmu!”

“KYAAA!”

Sungjae menyentuh punggung Soojung, tapi Soojung merasa yang disentuh Sungjae bukan serangga, melainkan hal lain.

“YA! APA YANG KAU SENTUH?”

“Itu serangga!”

“YA! Byuntae!! Kau menyentuh braku!”

“Tidak kok, ini ada serangganya”

Sungjae menunjuk jangkrik yang sudah berpindah ke tangan Sungjae.

“Tapi kau modus menyentuh punggungku!”

“Aku berniat menyelamatkanmu”

Tapi Soojung tahu, tawa Sungjae jika sudah begitu artinya punya maksud lain.

“Menyebalkan!”

“Sungguh hari yang melelahkan!” Soojung keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya. Banyak hambatan yang membuat ia susah pulang.

Dan Ilhoon juga Sungjae benar-benar menyebalkan hari ini!

Soojung merogoh sakunya mencoba mencari ponselnya, tapi ia tidak bisa menemukan keberadaan ponselnya. Yang ia rasakan dalam sakunya hanya seperti dua lembar kertas.

Soojung mengeluarkan dua lembar kertas itu, yang ternyata sebuah plester.

Soojung tiba-tiba mengingat Myungsoo yang lututnya sedang luka.

“Ah lupakan”

Soojung meneruskan langkahnya sambil mencoba mengecek tasnya apa ponselnya ada disana atau tidak.

Gotcha!” Soojung menemukan ponselnya. Karena fokusnya yang masih pada tas miliknya, ia tidak melihat seseorang dihadapannya, sehingga menabrak orang tersebut.

“Ups, Sorry” Soojung menengadahkan kepalanya, dan ternyata Myungsoo adalah orang yang ia tabrak.

Myungsoo terlihat mengerang memegangi lututnya, dan Soojung tidak bisa mengabaikannya, ia akan terlihat jahat kalau mengabaikan orang yang kesakitan karena dirinya.

“Argh”

“Astaga maafkan aku Myungsoo-ya”

Ini adalah keajaiban yang Myungsoo tunggu sudah sejak lama. Akhirnya Soojung mau bicara dengannya dan tidak mengabaikannya.

“Kemari, biar ku obati,” Soojung menarik lengan Myungsoo perlahan dan menuntunnya menuju sebuah kursi di koridor.

Soojung mendudukan Myungsoo disana.

Ia menggulung celana Myungsoo hingga terlihat luka Myungsoo yang masih basah. Soojung baru tahu ternyata lukanya separah ini. Soojung teringat plester yang tadi ia simpan disaku.

“Tunggu sebentar,” Soojung meniup luka Myungsoo. Dan Myungsoo sukses tersenyum dibuatnya.

“Aww” Myungsoo pura-pura mengerang kesakitan. Padahal ia tidak merasakan sakit.

“Astaga maaf maaf.. Kupikir tidak sesakit itu,”

Soojung mengeluarkan plester dari sakunya, kemudian dengan pelan-pelan menempelkan plester bercorak bintang itu di lutut Myungsoo.

“Kenapa lukanya tidak ditutup?”

“Kakakku bilang kalau ditutup malah makin parah,”

“Iya sih, tapi kalau ke sekolah lebih baik ditutup. Soalnya akan tergores dengan celana sekolahmu,”

Karena lukanya yang agak lebar, Soojung mengeluarkan satu lagi plester dan ia tempelkan di bagian luka yang belum tertutup.

“Nah, selesai,”

Soojung menatap Myungsoo dengan senyum tipisnya. Ia yang masih berjongkok dihadapan Myungsoo terpaksa menengadah agar bisa melihat wajah tampan Myungsoo dengan jelas.

“Terima kasih Soojung-ah”

“Tidak apa-apa ini salahku tidak lihat-lihat saat jalan.”

“Bukan. Terimakasih karena sudah mau bicara denganku,”

Soojung terdiam. Ia merutuk dalam hati. Kenapa ia bisa tiba-tiba baik lagi? Ah tidak. Lupakan senyumnya yang menawan itu. Kau tidak boleh kalah oleh kelabilanmu Soojung-ah.

“Kalau begitu, aku pulang sekarang ya,” Soojung hendak berdiri tapi Myungsoo mencegahnya. Kedua lengan Myungsoo mendorong bahu Soojung agar kembali berjongkok dihadapannya.

“Biarkan aku bisa melihatmu dalam posisi ini,”

“…”

Soojung tidak bisa berbuat apa-apa. Tatapan Myungsoo begitu lembut dan menghanyutnya. Soojung selalu suka tatapan ini sejak dulu, dan Soojung bersumpah, mata sayu itu yang selalu menghipnotis Soojung tiap detiknya.

“Myungsoo-ya” Soojung bersuara.

“Hmm?”

“Tolong jangan begini..”

“Kenapa?”

“Kau membuatku tidak nyaman,”

“Tapi aku nyaman berada disampingmu,”

Soojung menatap Myungsoo. Myungsoo mencengkram bahu Soojung, masih menahan Soojung untuk beranjak dari hadapannya.

“Kau sudah merobohkan dinding yang aku bangun selama ini,”

“Itu bagus. Artinya akan mudah bagiku menmbus dinding itu,” Myungsoo terkekeh jenaka, membuat Soojung memukul perut Myungsoo pelan.

“Aku serius. Jadi berhentilah dari sekarang..”

“Berhenti untuk apa?”

“Berhenti membuatku tidak nyaman..”

Myungsoo melepaskan cengkramannya dari bahu Soojung. Tangannya beralih menangkup kedua pipi Soojung. “Aku selalu suka melakukan ini padamu saat kita berpacaran..”

Jantung Soojung dibuat berdegup tidak sewajarnya.

“Dan ini,” Myungsoo mencubit kedua pipi Soojung, menarik-nariknya membuat Soojung meringis kesakitan.

“Hentikan bodoh,”

“Juga ini,”

Dengan seperkian detik, Myungsoo menempatkan bibirnya pada bibir Soojung. Kedua lengannya yang tadi mencubit kedua pipi Soojung ia rubah posisi menjadi meraba pipi Soojung dengan lembut, menangkupnya pelan.

Soojung shock. Ia tidak tahu harus berbuat apa, tapi ia tidak bisa menolak Myungsoo.

Bibir Myungsoo semakin menekan pada bibir Soojung, dan Soojung kembali merasakan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.

Myungsoo melumat bibir Soojung, pelan dan sangat lembut, Soojung menutup matanya. Bodoh! Soojung dengan bodohnya menutup matanya.

Ciuman Myungsoo tidak terburu-buru, dan Soojung harus mengakuinya kalau ia menikmati ciuman itu.

“Myungsoo-ya” Soojung menghentikan ciuman itu, ia mendorong dada Myungsoo pelan.

Myungsoo tersenyum setelah ciuman itu disudahi.

“Kau menikmatinya bodoh,”

Soojung tidak tahu harus berkata apa, tapi ia memang tidak bisa menolaknya.

“H-hentikan.”

“Kau benar-benar tidak memberiku kesempatan lagi?” Nada bicara Myungsoo kini mulai serius.

Soojung meremas baju seragam Myungsoo. “Kumohon.. Jangan membuatku bingung,”

“Kau bahkan merindukan ciumanku,”

“Ya!”

“Baiklah baiklah.. Tapi kau masih merindukanku kan?”

Soojung terdiam, kemudian menghembuskan nafasnya frustasi. “Oke, aku mengakuinya. Aku merindukanmu, tapi aku tidak siap dan bahkan mungkin tidak akan pernah siap untuk kembali padamu. Jadi.. Let’s just be friend

Friendzone?” Myungsoo terkekeh.

“Ya! Ini benar-benar menggelikan kau tahu? Kau tiba-tiba menciumku padahal kita sudah tidak pernah berbicara selama lebih dari tiga bulan!”

“Memang kenapa? Ini kesempatan emasku untuk menciummu”

Byuntaemu memang tidak pernah sembuh dari dulu,”

Myungsoo terkekeh. “Tidak apa. Kan hanya padamu,”

“Aku bersumpah berhentilah, Myungsoo-ya”

Myungsoo menghentikan kekehannya. Kemudian raut wajahnya berubah serius. “ Kau benar-benar tidak memberiku kesempatan?”

“Tidak”

“Lalu kau ingin kita hanya menjadi teman?”

“Iya”

“Oke kalau begitu jangan pernah abaikan aku!”

Soojung terdiam. “Aku tidak ingin dibilang munafik oleh teman-temanku, jadi lebih baik kita berkomunikasi tanpa ketahuan siapapun, oke?”

“Memangnya pertemanan itu perlu backstreet?”

“Bukan begitu! Ahhh sudahlah kalau kau tidak mau, aku juga tidak rugi!”

“Baiklah baiklah.. Yang penting aku masih boleh kontak denganmu kan?”

“Tanpa ketahuan siapapun.”

“Oke oke. Janji?”

Myungsoo mengacungkan jari kelingkingnya. Soojung tersenyum tipis, ia juga ikut mengacungkan jari kelingkingnya kemudian menyambungkan kelingkingnya dengan kelingking Myungsoo.

“Janji”

Myungsoo terkekeh hingga matanya menjadi segaris, dan Soojung ikut mengembangkan senyum. Senyum pertama yang paling tulus yang pernah Myungsoo lihat sejak sekian lama.

Mungkin inilah takdir mereka. Takdir memaksa mereka hanya menjalin pertemanan. Mereka bisa apa?

-kkeut

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s