[FF] Not-So-Sweet-Moment

sehunsooyoung

Staring :

Choi Sooyoung – Oh Sehun

“I have a different love story that I never told”

Genre :

Romance

Disclaimer : This story is purely mine if my story same likes yours maybe we have same thoughts

A/N :

Cerita yang sudah membusuk di draft dan baru di post sekarang. Typo bertebaran, alur maksa, mengandung adegan yang ‘sedikit’ tidak senonoh(?), bahasa engga ada baku-bakunya, cerita nyebelin dan bikin pengen nampol sehun pake linggis. TAPI COUPLE FAVORITE!!!

.

.

.

.

.

 

Aku Choi Sooyoung. Gadis yang berusia 22 tahun dan bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMA populer di Seoul. Sopa High School.

Diusiaku yang ke 21 –tahun lalu- aku sudah lulus sebagai mahasiswa Chung Ang University jurusan Bahasa Jepang. Aku lulusan termuda tahun itu. Aku memang sempat mengikuti kelas akselerasi saat SMP.

Aku menjadi guru Bahasa Jepang di Sopa High School. Belum lama aku menjadi guru, baru sekitar 6 bulan. Aku memang baru mendapat kerja tahun ini, karena aku sangat malas untuk mencari pekerjaan. Engga ada pekerjaan yang cocok untukku –begitu menurutku-.

Ayahku bilang aku cocok menjadi model, tapi Minho –adikku yang merasa dirinya tampan maksimal- mengejekku habis-habisan, karena katanya: “Badan cungkring kaya gitu mau jadi model? Mimpi aja kali, Noona!”

Ya.. Terserah saja. Lagipula aku tidak punya ketertarikan dalam dunia modeling.

Apakah kalian merasa hidupku biasa saja? Flat? Oh tidak. Aku punya suatu rahasia. Hanya keluargaku dan kedua karibku –Yoona, Luhan- yang tau hal ini.

Di usiaku yang masih sangat muda ini –ya begitu menurutku- aku sudah ME-NI-KAH.

Astaga… Kalian pasti tersentak? Terjungkal? Atau bahkan terjun?

Cish.. Tidak begitu mengagetkan juga. Kalian akan lebih kaget kalau tau ‘suami’ku itu adalah murid SMA.

Hah… IYA! BENAR! Aku menikahi lelaki 18 tahun yang masih duduk di kursi SMA tingkat akhir.

Mungkin bagi kedua orangtuaku, wanita yang lebih muda itu terlalu mainstream. Jadi mereka melakukan sesuatu hal yang gila. Lelaki yang lebih muda sekarang katanya sedang nge-trend.

Ini terjadi 5 bulan yang lalu. Saat orangtuaku mengajakku bicara enam mata –aku, ibu, ayah-

Mereka mengatakan, kakekku memberiku wasiat saat ia meninggal. Kakekku meninggal saat aku kelas 2 SMP.

Ayah dan ibu bilang, kakekku menyuruh aku menikah dengan salah satu cucu karibnya. Dan ia bilang aku harus menikah 8 tahun lagi, tepat di hari dimana 8 tahun peringatan meninggalnya kakekku. Mengapa 8 tahun? Karena ia dan karibnya sudah bersahabat 8 tahun.

Satu hal yang ada dikepalaku saat itu adalah… Konyol.

Bagaimana bisa ada hal semacam itu?! Seenaknya sendiri. Mungkin saja saat itu kakekku hanya ngelindur dan sebenarnya ia tidak sadar saat bicara itu. Tapi ayahku malah bilang “Kakek sudah berhenti minum alkohol sejak usianya kepala enam, mana mungkin ia tidak sadar!”

Ayahku ini memang engga ngerti dengan apa yang aku maksud!

Aku menangis seharian setelah orangtuaku menyampaikan wasiat keramat itu. Aku curhat pada Minho tapi dia malah bilang: “Kenapa sih engga aku saja? Padahal aku sudah malas sekolah, mending langsung menikah!”

Minho memang otaknya selalu konslet. Kurasa otaknya sehat hanya sabtu dan minggu saja. Maka dari itu, setelah bercerita pada Minho, aku tambah menangis. Karena Minho engga membantu sama sekali.

Hal yang membuatku tambah menangis adalah saat keesokkan harinya, ibuku bilang cucu dari karib kakek masih berusia 18 tahun. Aku kira itu kabar baik karena sepertinya tidak akan ada perjodohan jika mempelai pria masih dibawah umur.

Tapi ternyata salah. Orangtua dari namja 18 tahun itu malah senang dan bilang kalau anaknya menikah denganku akan membuat anaknya tidak manja lagi.

Bahkan aku tersedak saat tau namja itu manja. Aku merasa akan menikah dengan anak 5 tahun saja.

Aku mengadu pada ayah dan ibu supaya dibatalkan perjodohan konyol itu. Tapi mereka tetap bersikukuh.

Akhirnya aku pasrah dan memberikan saran bagaimana kalau aku dijodohkan dengan seseorang yang lebih tua dari namja itu. Tapi lagi-lagi aku merasa batu besar menghantam kepalaku.

Cucu karib kakekku ini ada delapan. 2 namja dan 6 yeoja. Yang pertama 18 tahun yang kedua 10 tahun.

Ayahku bilang: “kalau kau menikah dengan yang 10 tahun, kau akan lama punya anak.. kau harus menunggu 10 tahun lagi, tapi mungkin kau saat itu sudah keriput.”

Ayahku memang gila.

Akhirnya setelah satu bulan planning tentang pernikahan, aku dipertemukan dengan namja itu. Memang agak gila, orang tua kami sudah membicarakan tentang bagaimana pernikahan ini akan berlangsung sedangkan kami belum pernah bertemu.

Ya malam itu. Malam minggu. Malam yang biasanya aku habiskan dengan bermain game bersama Minho, aku habiskan dengan suasana ketegangan. Oh mungkin… Hanya aku yang tegang… dan namja itu juga mungkin agak tegang.

Hey! Tatapan matanya itu seperti menusuk tulang rusukku. Ngilu sekali.

Aku pernah diajarkan Luhan, dia guru BK di Sopa High School –sekaligus karibku- katanya kalau seseorang menatapmu dengan tatapan kosong, itu artinya tatapan itu lebih dari sekedar kebencian. Bukan hanya benci, bahkan mungkin ia tidak sudi untuk berbicara denganmu.

Yeah.. Aku tau dia sakit hati. Hey… Noona ini juga sakit hati. Oh oke.. Mungkin kau lebih sakit anak muda.

Kukira saat orangtua Oh Sehun –nama namja itu yang baru aku ketahui pada malam pertemuan kami- mengatakan kalau Sehun adalah anak yang manja, dia adalah tipe yang periang. Tapi aku salah besar. Dia dingin, dan tatapan matanya itu. Aku hampir menangis. Tapi tentu saja aku tidak menangis. Aku hanya mengatakan kalimat yang agak hiperbola.

Malam itu, satu hal yang membuatku ingin lompat dari gedung SM adalah saat ibu Sehun berkata: “Sooyoung-a, Sehun murid tingkat tiga di Sopa High School loh,”

Lalu ayah Sehun melanjutkan: “Iya, Sooyoung guru Bahasa Jepang di Sofa? Wah… Bagaimana bisa kebetulan seperti ini”

Dan Oh Sehun menggertakan giginya kaget saat itu.

Oh Hell yeah… Aku mau taruh wajahku dimana? Seorang Guru? Menikah dengan muridnya?

Hal yang wajar saat Sehun kaget, karena dia pasti belum pernah melihatku. Aku memang sepertinya tidak kebagian mengajar kelas Sehun –untuk saat itu, karena aku baru mengajar 1 bulan-

Yaah… Pertemuan singkat tapi bagiku itu adalah malam yang panjang.

Esoknya, entah jodoh atau apa –oh oke mungkin aku memang terlalu berharap- saat aku kebagian mengajar di kelas baru. Kelas itu adalah kelas Sehun. Sepanjang jam itu, aku gugup sekali. Sumpah! Bahkan saat mengajar dikelas lain aku tidak pernah segugup ini. Atau mungkin aku tidak pernah gugup! Bagiku mengajar itu sama saja dengan bermain, karena apapun yang kau lakukan dengan senang hati, pasti akan membuatmu menyukainya.

Sehun menatapku tajam, dari bangku paling belakang. Kuakui, aku-sangat-takut.

Hingga saat jam selesai, Jongin –murid yang sok beken dan seenaknya menyuruhku memanggilnya dengan panggilan Kai- berbicara: “Sonsaengnim! Tidak usah gugup begitu, aku tau kau guru baru, jadi tetaplah tenang saat mengajar ya, Saem. Aku tidak bisa konsentrasi.” Sial. Keparat bocah itu.

Esoknya, aku bersyukur tidak mengajar kelas Sehun, aku baru saja akan mengatakan bahwa: “betapa beruntungnya aku hari ini!” tapi ucapan itu gugur ketika Sehun mencegatku didepan ruang klub seni. Lorong itu memang sepi saat jam istirahat.

“Kumohon ya Sooyoung-ssi… Jangan anggap pernikahan ini serius! Kau hanya seorang Noona bagiku. Tidak mungkin aku menikahi seorang Noona. Lagipula aku sudah punya kekasih. Jadi… tepat setelah satu tahun kita menikah.. Aku ingin bercerai. Aku tidak mau membuat kekasihku sakit hati mengetahui kenyataan ini. Dan kuharap, kau bisa pura-pura tidak mengenalku bila di sekolah”

Tepat setelah mengatakan hal itu. Sehun pergi begitu saja. Hey! Aku baru saja menjadi gadis yang dicampakkan. Aku broken heart.

Aku memang tidak menangis. Aku bukan gadis yang gampang menangis.

Lagipula apa aku punya hak untuk menangis? Kurasa tidak.

Sehun just another stranger. Aku tidak mengenal Sehun dengan baik, begitupun sebaliknya.

Hey tapi…. Sehun bukan satu-satunya pihak yang dirugikan! Aku juga dirugikan!

Aku merelakan masa mudaku terbuang sia-sia.. Oh baiklah.. Sehun lebih rugi karena dia baru 18 tahun tapi sudah menikah.

Tapi hey! Jangan berpikir egois tuan Oh! Ingin sekali aku berteriak seperti itu didepan wajah –yang harus kuakui- tampannya.

2 bulan berjalan setelah kejadian itu. Dan nothing change. Aku tidak pernah berinteraksi dengan Sehun meskipun kami berpapasan.

Satu hal yang membuatku iri. Saat aku makan di kantin bersama Taeyeon dan Jessica –guru muda yang merupakan sunbaeku disini- mencuri pandang pada sosok diujung meja kantin.

Itu Sehun dan kawannya. Ah iya, dugaanku memang benar.. Sehun memang periang. Dia mungkin hanya menunjukkan sisi dinginnya didepanku saja. Karena saat aku melihat dia bercengkrama di kantin pada saat itu, dia tertawa dengan gembira. Dan mungkin salah satu alasan mengapa ia tertawa seperti itu adalah….. Gadis disebelahnya?

Yap.. Kekasih Sehun. Jung Soojung. Dia beda kelas dengan Sehun kurasa, karena aku tidak pernah melihatnya dikelas Sehun.

Aku tau namanya Jung Soojung dari Jessica. Dia ternyata keponakan Jessica. Woah.. Rumit juga.

Andai saja usiaku sama dengan Sehun.. Mungkin tidak akan jadi seperti ini… Eh?

Ya! Kenapa aku jadi menyesal hidup lebih dulu darinya? Menyebalkan.

Oke… Bulan berikutnya adalah bulan keramat dalam hidupku –sebenarnya tidak juga, karena aku rasa, aku mulai menyukai Sehun, hell– mungkin lebih keramat bagi Sehun.

Yeah bulan itu kami menikah. Orangtua kami mengira, kami ini pasangan romantis. Karena kami bertemu hampir setiap hari –disekolah- dan mereka kira kami 3 bulan ini akrab. Padahal… jauh dari kata akrab.

“Choi Sooyoung! Kau jangan melamun saja!” Yoona melempar tissue sehingga mendarat dikepalaku.

Aku terkesiap. Hah… Iya aku sedang di kantin bersama Yoona. Aku baru sadar. Aku melamunkan kejadian yang membuat hidupku berubah 5 bulan belakangan ini.

Dan… Ouh.. Aku sadar. Hari ini tepat 1 bulan aku dan Sehun menikah. Ugh, sedikit awkward saat mengatakannya. Aku menengok ke bangku kantin yang paling pojok. Seperti biasa. Sehun dan Krystal –nama beken Soojung kalau disekolah- tengah bercanda gurau disana.

Oke, 1 bulan pernikahan kita pun nothing special baginya. Yang ada ia ingin segera menceraikanku. How poor I am.

Dan sialnya… Aku makin menyukai Sehun, padahal kami sangat jarang melakukan kontak.

Krek! Aku membuka kenop pintu apartemen kami –aku dan Sehun-. Aku segera melepaskan sepatu kerjaku dan mengedarkan pandangan….. Yap! Benar. Sehun disana. Menonton TV diruang tengah dan kakinya yang panjang itu ia selonjorkan. Bahkan sofa tidak bisa menampung tinggi badannya.

Aku menghela nafas. Hal yang paling malas adalah saat harus basa-basi dengannya. Dia itu cuek banget kalau didepanku!

Kadang-kadang kalau sangat kesal karena dicuekkan olehnya, aku sering menendang lemari yang ada di kamarku atau meninju kursi makan –lebam ditulang-tulang jariku masih berbekas- sebagai pelampiasan amarah.

Serius! Dia lebih menyebalkan dari Minho. Minho hanya 2 tahun lebih muda dariku, sedangkan Sehun 4 tahun lebih muda dariku. Tingkat menyebalkannya jauh lebih tinggi.

Kalau bisa sih aku ingin membentaknya, memarahinya, menjewer telinganya jika dia melakukan hal yang bertolak belakang dengan pikiranku. Tapi aku tidak berani! Sial.

“Sehun-a kau sudah mak—“

“Belum.”

Seperti sekarang. Dia memotong perkataanku. Kalau Minho melakukan hal itu padaku, pasti aku akan langsung menjambak rambutnya. Tapi… Sehun yang mengatakannya, aku hanya menghela nafas. Aku masuk kekamarku terlebih dulu –ya, kamarku. Orang tua kami sengaja memberi dua kamar karena mereka takut aku hamil dalam waktu dekat. Apalagi Sehun masih sangat muda. Cish mana mungkin!- menyimpan tasku kemudian mengganti pakaian kerjaku dengan kaus kebesaran favoritku, memakai celana hotpants dan mengikat rambutku menjadi ekor kuda lalu poniku yang sudah lumayan panjang aku jepit agar tidak menghalangi pandangan.

Aku keluar kamar, bergegas menuju dapur. Sebenarnya aku tidak punya bakat memasak, tapi Luhan mengajariku sekilas saat aku dan Yoona main kerumahnya bulan lalu.

Jadi aku tidak terlalu buta. Makananku memang tidak lezat-lezat amat, tapi cukup membuat kau kenyang saat kau kelaparan.

Sehun itu memang harus ditanya dulu sudah makan atau belum, dia gengsi untuk bilang “Noona, aku lapar!” aku yakin itu. Makanya kalau ditanya “sudah makan belum?” dia cepat menjawab, itu pasti dia sedang sangat lapar.

Aku tidak tau kalau Sehun sedang tidak lapar, apakah ia mau memakan masakanku atau tidak. Masa bodoh.

Selesai memasak, aku segera menghidangkannya. Sehun sudah dimeja makan, aku yakin hari ini dia lapar sekali. Dengan rakus, Sehun segera memakannya.

Aku tersenyum kecil. Lucu sekali dia. Pipinya menggembung karena terlalu banyak memasukkan makanan.

Aku ikut makan. Kami makan dalam diam.

Ya beginilah setiap hari.

Hari ini aku tidak mengajar, aku memutuskan untuk beres-beres rumah. Sehun sudah pergi sejak 30 menit yang lalu.

Aku menghela nafas, sebelum menikah aku tidak pernah melakukan hal konyol seperti ini. Mencuci gorden? Membersihkan rak buku? Mengepel lantai? Hellyah… Kapan aku melakukan ini?

Pekerjaan berat yang aku lakukan sejauh ini hanya mencuci bajuku sendiri.

“Choi Sooyoung! Hwaiting!!” Aku mengepalkan tanganku. Bermaksud menyemangati diriku sendiri sih.

Sekarang pukul 3.30 sore. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Dan aku baru selesai mandi. Dengan menggunakan legging selutut dan baju gombrong tanpa lengan dan rambutku yang terurai dengan poni dijepit, aku selonjorkan kakiku di sofa.

Huft… Lelah sekali hari ini.

BRAK!

Baru saja mataku akan terpejam, pintu apartemen kami terjeblak dengan keras, refleks aku bangun dari rebahanku dan menatap seseorang yang datang.

Mataku membulat sempurna.

“S-Sehun-a?”

Oh Sehun. ‘Suami’ku berdiri didepan pintu apartemen dengan wajah meringis. Lebam disana-sini. Bertebaran diwajah tampannya.

Aku beranjak dari sofa dan mendekat kearahnya.

“Apa yang terjadi Sehun-a?” Aku panik. Khawatir.

“Minggirlah! Awh-“ Sial. Saat kesakitan saja dia tetap bersikap dingin padaku.

“Tapi kau terluka—“

“KUBILANG MINGGIR!”

“OH SEHUN!!” Aku menarik pergelangan tangan Sehun kencang. Sehingga Sehun menatapku. Dia kaget?

Tentu saja. Ini pertama kalinya aku membentaknya. Biasanya aku selalu bicara dengan nada rendah padanya. Dia melihat sisi lain dari diriku eh?

“Duduklah di sofa! Aku akan mengobati lukamu!”

Noo…na

“DUDUK!” Aku membentaknya lagi. Aku kesal. Sudah untung aku berbuat baik padanya, malah banyak omel.

Aku mendorong Sehun pelan menuju sofa setelah menutup pintu apartemen. Aku mengambil kotak P3K dilemari dan segera menghampiri Sehun.

Aku berlutut didepan Sehun, posisinya yang duduk didepan sofa membuat wajahku dan wajahnya berhadapan.

Aku menyingkap poni Sehun, dahinya luka sayatan. Sebelum memberi betadine pada luka itu, aku meneteskan alcohol kemudian meniup lukanya. Sehun menutup matanya. Apakah perih?

Kuteteskan betadine dan kututup luka itu dengan plester. Selain itu masih banyak luka lebam di sekitar wajahnya. Aku mengobati luka itu satu persatu dengan telaten.

“Astaga Oh Sehun apa yang kau lakukan sampai begini?” Aku masih mengobati lebam di wajah Sehun. Menunggu Sehun menjawab.

Noona tidak perlu tahu…”

Aku menutup mataku. Menggeram kesal. Aku bangkit dan melemparkan kapas bekas alcohol pada wajahnya.

“Kalau begitu.. Urus dirimu sendiri! Aku tidak akan peduli.” Aku berkata dengan dingin. Aku hendak beranjak tapi tiba-tiba tangan Sehun menarik pergelangan tanganku hingga aku terjatuh di pangkuannya. Astaga….

Di-pangkuan-nya.

Seperti tidak terjadi apapun, Sehun mulai angkat bicara. Apa dia tidak mau menurunkanku dari pangkuannya terlebih dahulu?

“A-Aku bertengkar..” Sehun mengalihkan pandangannya. Dia tidak menatapku.

Aku mengelus poninya. Kenapa sih dia itu sudah seperti Minho bagiku. Dia seperti adik! Tapi aku menyukainya! Dia seperti adik yang kusukai!

“Dengan siapa?” Aku berkata lembut.

“Tao. Huang Zhi Tao”

Oh… Ya aku kenal.

Wae? Dia salah satu murid favoritku. Dia beda kelas dengan Sehun. Dia favoritku karena dia selalu menjawab dan dia aktif. Itu saja. Lagipula wajahnya tampan dan imut.

“Karena apa?”

“Dia… Mencium Krystal dihadapan banyak siswa. Kami bermain truth or dare dan Kai….. menyuruh Tao mencium Krystal dihadapan para siswa karena Tao memilih Dare. Aku juga meninju Kai….”

Aku berdiri dari pangkuan Sehun, aku berlutut didepannya. “Tapi itu hanya game kan?”

“Tidak. Tao mencium Krystal penuh nafsu. Aku tau dia menyukai Krystal… Aku tau dia sudah sejak lama menyukai Krystal—“

“—Dari mana kau tau?” Aku memotongnya.

“Aku bisa melihat mata Tao. Dia tidak pernah berbohong dengan tatapan itu. Dan Krystal…. Dia terlihat menyukai Tao setelah ciuman itu. Aku tidak sanggup melihat itu, aku menghajar Tao, dan aku juga menghajar Kai karena telah menyuruh Tao melakukan hal itu. Aku benci… Aku menyukai Krystal lebih dari apapun, tapi kenapa mereka… Aish..”

Sehun mengacak rambut coklatnya.

Aku merasa tertusuk-tusuk. Sehun menyukai gadis lain. Dan aku istrinya disini hanya bisa tersenyum miris.

Aku menangkup wajah Sehun. Dia kaget, tersirat kebingungan dimatanya.

Aku menarik wajah Sehun supaya dia bisa masuk ke pelukanku. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya. Tangan kananku mengusap-ngusap punggungnya.

Aku tidak perlu gengsi. Dia….. Adik…. Bagiku.

“Oh Sehun… Noona menyayangimu… Noona akan menjagamu.” Aku berbisik tepat ditelinganya. Nada bicaraku seperti seorang Noona pada Dongsaengnya. Padahal aku berbicara sebagai seorang wanita pada pria idamannya.

Aku pergi pagi sekali hari ini. Aku hanya menyiapkan roti sebagai sarapan untuk Sehun. Yoona menelponku katanya ada yang kepala sekolah ingin bicarakan perihal UTS yang minggu depan akan segera dilaksanakan.

Aku ngebut berlari ke terminal bus. Makanya tepat pukul 6.15 pagi aku sudah berada di sekolah.

Aku beruntung hari ini tidak bertemu Sehun dipagi hari. Terlalu malu untuk melihat wajahnya setelah apa yang aku lakukan kemarin.

“Ah.. Kau melakukan itu kemarin?” Yoona menggodaku.

Aku menutup wajah dengan buku absen yang ada di dekapanku. “Aish malu sekali rasanya! Apalagi jam pertama aku baru sadar hari ini aku mengajar di kelas Sehun”

Aku memukul-mukul wajahku dengan buku absen.

“Jangan sampai kau hamil di waktu dekat ini Sooyoung-ah!”

“YAK! KAMU KIRA AKU MELAKUKAN APA!?” Aku menyembur Yoona dengan amarahku. Enak saja dia ini sok tahu.

“Habis daritadi aku dengar kamu ngedumel ‘aishh bagaimana ini.. aku melakukannya kemarin’ lalu apalagi!”

“Im Yoona aku kira kau mengerti!”

“Memang mengerti!”

“Kau bodoh! Kau misunderstanding! Dasar tidak waras! Huh” Aku menghentakkan kakiku kesal. Dan segera meninggalkan Yoona dari singgahsana kami.

Aku masuk ke kelas Sehun dengan sangat gugup, dan dasar si Jongin bodoh! Dia yang duduk didekat pintu dan paling depan, orang pertama yang melihat wajah gelisahku.

Ujung matanya agak sedikit lebam. Hell yeah aku tau kenapa.

“Woah.. Saem! Aku seperti melihat Saem saat pertama mengajar!”

“Diam Kim Jongin.” Sahutku dingin.

Semua siswa tampak tidak mengerti. Untung Jongin tidak mengatakan “Woah Saem terlihat gugup sekali hari ini!”

Kalau begitu seisi kelas pasti akan menggodaku. Bagaimanapun juga, aku ini guru yang cukup popular. Dekat dengan siswanya.

“Oke kita mulai pelajaran hari ini. Minna-san ohayou gozaimasu!”

Aku menetralkan perasaanku, dan berusaha tidak menatap Sehun yang duduk dipojok sana.

Jamku dikelas Sehun sudah habis. Waktunya istirahat. Semua siswa berbondong-bondong menuju kantin. Sehun pun begitu. Ia hanya melewatiku tanpa sepatah kata.

Heh.. Apa yang aku harapkan?

Yang tersisa dikelas hanya Jongin. Woah biasanya dia manusia pertama yang keluar kelas. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Sehun.

“Jongin!” Aku mendekat ke bangku Jongin. Dia menatapku dan nyengir khas.

“Saem!”

“Kau sedang ada masalah dengan Sehun ya..” Aku langsung to-the-point. Yeah tak apalah.

Jongin menggaruk tengkuknya. Dan nyengir padaku.

“Hehehe bagaimana Saem bisa tau?” dia ini memang bocah polos. Jujur sekali.

“Kulihat wajahmu dan Sehun tidak jauh beda. Lebam itu.” Aku bohong. Tapi ada benarnya juga kan?

Jongin memainkan jari telunjuknya dimeja. Ia menulis-nulis abstrak di meja itu, entah apa yang ia lakukan. “Saem jangan bilang pada siapapun ya..”

Aku menarik kursi disebelahnya. “Well.. Ada apa?” aku pura-pura tidak tau.

“Ini memang salahku sih….” Jongin mulai menceritakan kejadian kemarin, sama persis dengan yang Sehun katakan.

“Dasar bodoh.” Aku terkekeh dan mengacak rambut Jongin.

“Kalau dare, jangan menyuruh yang aneh-aneh!” Aku mengetuk kepala Jongin.

“Iya, aku juga menyesal. Dan sekarang Sehun masih marah padaku sepertinya.”

“Minta maaf sana!”

“Tidak mau!! Gengsi banget Saem”

Aku memegang pundak Jongin. “Kamu mau Sehun marah terus pada kamu?”

“Tentu saja engga! Dia sahabatku dari SMP!”

Aku menaikkan alisku memberi tatapan lalu-tunggu-apa-lagi

Jongin menghela nafas. “Hhhh Baiklah.. Demi teman baikku.”

Aku applause didepan Jongin. Agak kekanakkan? Well gapapa. Yang penting aku berhasil membuat mereka tidak melanjutkan permusuhan ini. “Good boy!”

Aku makan dikantin dengan Yoona dan Luhan. Kami bercengkrama tentang segala hal, tentang Luhan yang katanya ingin segera menikah tahun depan dengan gadis China pujaannya dan bahkan hal yang tidak penting tentang Yoona yang menumpahkan banyak odol karena ia memencet odol itu dengan setengah sadar sehingga odolnya tumpah banyak ke tangannya.

“Bagaimana dengan kau dan Sehun?” Luhan bicara dengan agak berbisik.

Aku memakan ramyunku dan mengangkat bahu. Luhan mengerti itu artinya nothing-happen.

“Tapi kau bilang tadi kau melakukan ‘itu’ kemarin!” Celetuk Yoona. Luhan menganga dan mengguncang-guncang bahuku meminta penjelasan. Aku yang sedang makan ramyun jadi tersedak.

Dasar sialan. Mereka berdua kalau suatu saat menikah bakal jadi couple galau. Misunderstanding mulu. Untungnya mereka bukan pasangan huft.

“Sehun-a aku tidak bisa!” Aku mendengar sebuah suara dilorong. Aku hendak pulang, tapi tercegat dengan sebuah suara. Dasar manusia kepo, aku berjalan mendekati lorong yang sudah sepi karena para siswa sudah pulang. Lagipula, aku mendengar nama Sehun disebut-sebut.

Aku melongok dibalik tembok….. Ouh aku menyesal jadi manusia kepo.

Aku melihat pemandangan yang membuat lensa mataku tiba-tiba minus 8. Ok aku hiperbola lagi.

Tapi sungguh…. Istri mana yang tidak kaget dan terpukul saat melihat suaminya bersama yeoja lain.

Aku melihat Sehun mengurung Krystal di dinding. Ia menghimpit tubuh Krystal dan posisinya seperti Sehun hendak mencium Krystal. Damn! Keningku berkeringat.

Wae?” Sehun berbisik. Masih dengan posisi yang sama. Nadanya terdengar sedih. Oh Sehun. Aku tidak tau kau lemah dengan wanita.

“Aku… Aku menyukai Tao. Aku berpacaran denganmu hanya untuk membuat Tao cemburu. Tapi tidak! Tao tidak cemburu. Sampai akhirnya kemarin… Tao tiba-tiba datang dan menciumku dan aku….. kembali merasakan detakan jantung itu. Aku… aku sangat menyukai Tao, Sehun-a… Kumohon mengerti. Aku minta maaf karena memanfaatkanmu—“

PLAK!

Aku membelalakkan mataku. Aku tidak salah? Oh Sehun? Menampar seorang yeoja?

Sial. Aku tau Krystal salah dalam hal ini, tapi aku tidak sudi melihat seorang pria yang memperlakukan wanita dengan tidak sopan.

“KAU— KAU JALANG SEKALI JUNG SOOJUNG!!” Sehun berteriak tepat didepan wajah Krytal. Aku tidak pernah melihat Sehun semarah itu. Aku tidak berani mendekatinya.

Tapi disisi lain, aku tidak bisa tinggal diam melihat seorang yeoja diperlakukan seperti itu.

“Oh Sehun, Jung Soojung” Aku berjalan mendekat dengan wajah tenang. Bagaimanapun aku guru disini. Aku berhak untuk melaksanakan kewajibanku.

Kulihat Krystal melihatku dan wajahnya basah, antara keringat dan air mata. Sedangkan Sehun diam tidak peduli.

Krystal mendorong tubuh Sehun yang menghimpitnya dengan pelan. Aku menarik Krytal kesisiku, Krystal menangis sesenggukan, dia membenamkan wajahnya dipunggungku “Saem…”

“Oh Sehun—“

“Kau tidak usah ikut campur.” Sehun tetap tidak menatapku.

Aku geram. Hey… Aku tidak pernah semarah ini pada Sehun sebelumnya.

“Apa yang kau lakukan pada Soojung-ssi, Oh Sehun-ssi?” Aku tetap kalem. Mencoba sabar.

“Sudah kubilang kau tidak perlu ikut campur! Sudah kubilang kita tidak saling mengenal jika disekolah! Sudah—“

“Aku mengenalmu karena kau muridku Oh Sehun-ssi. Aku ikut campur karena aku gurumu. Aku tidak mau muridku dalam masalah jadi aku ikut campur. Tidak ada seorang namja yang menampar yeoja. Besok, kau datang ke mejaku! Tidak ada alasan.”

Mungkin Sehun kira saat aku melihat kejadian tadi, aku sedang marah karena memergokinya selingkuh. But, hey! Krystal ada disini, dan aku tidak mau dia tau tentang hubunganku dan Sehun.

Saem, jeongmal kamsahamnida.” Krystal membungkuk padaku. Aku tau gadis ini begitu manis, hanya ia sedikit melenceng saat berpikir jika berpacaran dengan seseorang akan membuat seseorang yang ia sukai cemburu.

Aku juga agak kesal sih, tapi ya mana mungkin aku ikut campur soal masalah percintaan muridku.

“Itu tidak ada artinya sama sekali Soojung-ssi, aku hanya menjalankan tugasku sebagai guru.” Aku menyisir rambut Krystal yang basah dengan jari-jariku.

“Aku… Benar-benar berterimakasih saem! Aku tidak tau apa yang akan terjadi kalau Saem tidak ada…”

“Iya.. Kalau begitu aku duluan ya, Soojung-ssi.. Annyeong!”

Annyeong saem!”

Begitu datang kerumah aku segera memasak, Sehun pasti akan segera datang dan aku malas bertemu dengannya hari ini. Jadi, setelah memasak dan membawa jatah makananku, aku segera masuk kamar dan mengunci pintu. Aku tidak akan keluar sampai besok, dan besok aku akan pergi pagi sekali. Jadi aku hanya akan bertemu Sehun saat aku menghakiminya diruang guru nanti.

Aku sudah sampai disekolah pukul 6.15 dan Sehun belum bangun. Karena aku baik, aku tetap menyediakan sarapan untuknya. Bagaimanapun dia suamiku, aku tidak mungkin menelantarkannya.

Aku yakin perasaan Sehun hari ini galau sekali, begitupun dengan aku.

Aku duduk dimeja kerjaku, aku memikirkan apa yang akan aku katakan pada Sehun nanti.

Aissssh otakku mau meledak.

“Sooyoung Saem, Oh Sehun mencarimu.” Aku mendongak melihat Kim Joonmyun –ketua osis- menghampiri mejaku.

“Lalu mana di—“

Aku berhenti berucap. Sehun muncul dari belakang Joonmyun.

“Dia minta aku mengantarkannya ke mejamu. Dia tidak tau mejamu.”

Oh Sehun. Aku istrimu tapi kau tak tau hal kecil seperti ini?

“Baik Joonmyun-ssi silahkan kembali”

Gomawo Saem,” Joonmyun membungkuk kemudian pergi. Aku menatap Sehun dengan tatapan stay calmku.

“Duduk Oh Sehun-ssi” Sangat aneh memanggil suamimu dengan sangat formal.

Sehun duduk, wajahnya tidak menunjukkan tampang galau. Oke, aku salah prediksi.

“Kau tau kesalahanmu kemarin?” aku mulai menanyainya.

“Aku selingkuh dari Noona

MW—“ Aku baru akan berteriak ‘mwo’ tapi aku segera menjaga sikap. C-Choi Sooyoung, kau harus profesional! Huft…. Dia hanya cari-cari alasan! Bukan bermaksud menggodamu, arrasseo?!

“Aku serius.”

“Aku juga.”

“Berhenti mengikutiku.”

“Aku tidak.”

“KAU IYA!” Aku berteriak. Beberapa guru disitu melihat kearahku. Sial, aku keceplosan kan.

Aku membungkuk sedikit sambil terkekeh garing, bermaksud meminta maaf.

“Oh Sehun, kau muridku disini. Kau harus sopan padaku.” Aku berkata dengan dingin.

“Kau istriku—“

“Aku tidak pernah merasa aku istrimu.” Entah kenapa aku mengatakan ini. Aku kesal. Aku tidak tau kesal kenapa.

Raut wajahnya yang tadinya terlihat kalem, tiba-tiba menegang.

“Kau bilang kau menyayangiku, dan ingin menjagaku.” Sehun berkata super datar. Aku rasa moodnya saat ini buruk sekali.

Aku juga sedang dalam mood yang tidak baik.

“Kau dongsaengku. Aku menyayangimu sebagai dongsaengku. Tolong tuan Oh, bersikap profesional. Hubungan kita saat ini adalah guru dan murid. Aku ingin meminta penjelasan kenapa kau bersikap seperti itu pada yeoja, ingat kejadian kemarin? Tolong jelaskan!”

Sehun menatapku persis seperti tatapan pertama kali aku dan dia bertemu pada malam itu. Dingin, menusuk. Tulang rusukku ngilu lagi. “Kurasa itu urusan pribadi yang tidak perlu kau tau. Itu urusanku dengan yeoja-ku. Kau tidak berhak tau. Permisi, Seonsaengnim.” ia menekan kata terakhirnya dengan begitu jelas.

Aku tertegun. Apa ia marah? Tapi untuk apa? Aku hanya ingin menanyainya perihal masalah kemarin. Bukan malah jadi bertengkar seperti suami-istri.

Tunggu..

Kita memang suami-istri kan?

Aku tidak pernah menyangka pertengkaran kami di ruang guru waktu itu malah membuat rumah tanggaku makin bermasalah.

Sudah genap satu bulan sejak aku membuat Sehun marah. Dan sudah dua bulan usia pernikahan kami.

Aku dan Sehun tidak saling bicara semenjak saat itu. Bahkan, Sehun menginap dirumah Jongin selama satu minggu, aku tau itu dari Jongin, karena tidak mungkin Sehun kabur tapi pamitan dulu padaku. Kurang etis rasanya.

Minggu kedua, Sehun pulang tapi hanya tiga hari dan kami tidak saling bicara, empat hari berikutnya dia pergi camping bersama teman sekelasnya.

Minggu ketiga, Sehun full time di rumah. Tapi ini benar-benar awkward, bahkan aku makan sendiri sekarang, karena tiap jam makan, Sehun selalu pergi entah kemana. Sepertinya inilah saat-saat dimana makananku yang tidak enak ini diakui ketidak enakkannya.

Dan minggu keempat, aku dapat kabar dari Yixing –salah satu murid yang dekat denganku,- kalau Sehun berlibur bersama Jongin dan Tao ke Jeju.

Yixing lapor padaku bukan karena dia tau aku dan Sehun adalah suami-istri, tapi itu karena Yixing kesal teman-temannya itu membolos dan tidak piket –aku agak aneh kenapa Yixing kesal hanya karena itu-

Yeah dan tepat bulan baru, aku kembali melihat wajah tampan Oh Sehun. Dia baru saja pulang membolos selama seminggu ke Jeju. Dan yang membuatku kaget. Rambutnya berubah menjada blonde. Apa yang ia lakukan di Jeju? Mengubur diri dipasir? Enak sekali.

Kami tidak saling sapa, bahkan saat berpapasan dirumahpun, dia benar-benar mendiamkanku, menganggapku tidak ada dan bahkan tatapan tajamnya itu tidak terlihat sama sekali.

“Minho aku galau.” Aku pulang kerumah hari ini. Rumah orangtuaku. Aku tidak bilang pada Sehun karena sepulang sekolah aku langsung kesini.

Lagipula, bilang pun tidak ada gunanya.

“Kenapa sih Noona?”

Aku dan Minho terlentang dikasur king size milik Minho. Sejauh ini, Minho tau kalau aku dan Sehun bukanlah pasangan suami istri yang melakukan segala kegiatan suami istri seperti pada umumnya.

“Sehun.”

“Ya.. Aku tau Sehun penyebabnya. Kenapa?”

“Dia marah sepertinya..”

“Karena?”

Aku menceritakan apa yang terjadi saat Sehun menampar Krystal lalu Sehun kupanggil keruang guru dan kami saling melempar argument disana.

“Cish, kalian benar-benar… Aneh”

Aku tidak menghiraukan ucapan Minho. Lebih memilih menatap langit-langit kamar.

“Kupikir, Sehun sudah mulai menyukai Noona.

“Gila.” Aku berkomentar. Tidak mungkin. Mustahil. Bahkan hanya selang satu hari saat Sehun bilang ia sangat menyukai Krystal dan besoknya Sehun bilang kalau aku ini istrinya.

“Berpikir positif saja Noona… Aku juga bingung. Aku kan belum pernah menikah.”

Minho memang engga pernah membantu.

Aku pulang ke apartemen masih dengan suasana hati yang galau.

Aku mencari keberadaan Sehun, tapi nihil.

Ah, dia sepertinya tidak pulang lagi.

Untuk memastikan, aku membuka kamar Sehun, OMO!

Aku berlari menghampiri Sehun yang tergeletak dilantai, dan astaga…. Suhu tubuhnya panas sekali.

“P-Panas…hhhh” Sehun menggeram. Sepertinya ia mengigau.

Dengan susah payah aku memapah Sehun ke ranjangnya.  Astaga, kenapa Suhu tubuhnya bisa sepanas ini?

“M-Maafkan.. hhh… Aku.. hhh” Lagi-lagi Sehun mengigau. Aku memegang keningnya, panas dan berkeringat. Dengan sigap aku beranjak menuju kotak P3K di kamar Sehun dan mengecek suhu tubuh Sehun.

“Omo! 40 derajat?! Yang benar saja!!”

Aku berlari ke dapur mengambil baskom untuk air dingin, aku kembali berlari ke kamar Sehun, mengompres keningnya.

Sehun terus saja mengigau. Memanggil ibunya lah, meminta maaflah, dan yang lainnya.

Noo-NoonaHhhh

Aku mendongak, masih mengigau, Sehun memanggilku? Atau memanggil Noona yang lain?

Hhh Sooyoung Noona…. Panas… Hhhhh… Maafkan aku….”

Aku tidak menghiraukan Sehun. Aku tau dia tidak sadar. Jadi aku tidak boleh ke-gr-an kalau Sehun meminta maaf padaku.

Lagipula, harusnya aku yang meminta maaf karena dia yang marah padaku.

Aku meraba punggung Sehun. Basah.

Keringatnya pasti banyak sekali, aku lebih baik mengganti pakaiannya, kalau tidak cepat diganti dia bisa masuk angin.

Dengan masih memakai pakaian kerja, dan rok sepan selutut yang membuatku tidak bebas bergerak, aku membangunkan tubuh Sehun, aku sandarkan padaku dan dagunya kusangga dengan bahuku. Cukup sulit membuka bajunya dengan posisi dia tidak sadar.

Sesudah baju Sehun terlepas, aku segera mengambil baju Sehun yang lain.

Wow ini pertama kalinya aku menyentuh tubuh Sehun. Oh tidak, ini kedua kalinya. Yang pertama adalah saat aku mengobati lukanya.

Tubuh Sehun kurus sekali, dan ia terlalu menjulang. Memang tidak setinggi Kris –Guru bahasa china sekaligus guru olahraga di Sofa High School- tapi badannya terlalu kecil jadi ia kelihatan sangat tinggi.

Aku kembali membaringkan Sehun. Ia terlihat lelah. Suhu tubuhnya belum turun juga.

Aku duduk disamping ranjang Sehun. Dia benar-benar terlihat seperti malaikat saat tertidur.

“Sehun-a..” Aku berbisik tepat ditelinganya.

Jaljayo ne..” Aku mencium kening Sehun. Lama. Lama sekali. Hampir 5 menit.

Aku menyalurkan rasa rinduku, rasa cintaku padanya. “Sehun-a… Kau suamiku, bukan dongsaengku. Tetaplah seperti ini. Tetaplah dalam keadaan tenang seperti ini. Aku cape beradu argumen denganmu terus. Nan neol jowahae, Saranghaeyo.”

Aku terbangun dengan tubuh pegal sekali. Mataku menyipit saat melihat ruangan bernuansa putih ini bukan kamarku.

Aku mengerjapkan mataku. Dan aku baru sadar. Semalam aku ketiduran dikamar Sehun.

Aku melihat jam dinding di kamar itu dan sedetik kemudian mataku membulat sempurna. “OH MY GOD! PUKUL 7.30??!” Aku menjerit frustasi.

“Sial.. Aku terlambat!” Aku hendak bangkit dari tempatku selama semalam ini, tapi sebuah tangan mencekal pergelangan tanganku. Aku kaget dan refleks menengok pada si tersangka yang mencekal tanganku.

“S-Sehun-a?” Jadi daritadi dia sudah bangun?

Sehun menarik tanganku kencang sehingga aku terjatuh menimpah tubuhnya. “Akh” aku meringis.

Sehun masih didalam selimutnya. Dia menatapku. Bukan tatapan tajam. Tapi tatapan lembutnya yang baru pertama kali kulihat dalam radius sedekat ini.

Tangan Sehun melingkar dipinggangku. Hatiku mencelos. Tidak pernah sekalipun aku diperlakukan seperti ini oleh seorang namja. Bahkan mantan namjachinguku.

Aku… tidak kuat. Aku terlalu senang… AKH! Tenggorokkanku bahkan terasa perih.

Noonaku… Jeongmal yeppo.

Apa? Apakah kupingku bermasalah? Baru kali ini aku mendengar nada bicara Sehun yang terdengar kekanakkan.

“Eung..” Aku tidak tau harus bicara apa.

“Terimakasih sudah merawatku semalam… Noona.”

Sehun menatapku intens. Aku merasakan jantungku bergemuruh engga woles.

Sial. Ada apa ini? Apakah ini Oh Sehun Effect? Shit.

“Engga usah tegang gitu Noona.” Ini pertama kalinya aku mendengar Sehun bicara banmal denganku. Sehun selalu bicara dengan nada dingin meskipun ia berbicara dengan banmal. Dan ini terkesan berbeda.

Tanpa kusadari sedaritadi aku menahan nafasku. Ini gila!

“Sehun— Apa yang kau lakukan..” Aku bingung dengan tingkah Sehun yang tiba-tiba menjadi sangat manja.

Tapi.. tapi aku menyukainya. Aku menyukai sikapnya yang sekarang.

Noona.. Aku.. Mau minta maaf.” Masih dengan posisi yang sama –yaitu aku menindih Sehun dan tangan Sehun masih melingkar dipinggangku- Sehun menatapku teduh. Ekspresi serius terpampang di wajah tampannya.

 

Oh man, kurasa aku mulai kehabisan nafas.

“U-Untuk?”

“Semuanya.” Jawabnya singkat.

Aku menatap Sehun bingung. “Semuanya?”

“Aku tidak menjadi suami yang baik bagi Noona—“

“Eh?”

“Aku… Aku menampar Krystal. Aku marah sekali. Aku sudah dibohongi. Dan aku menyesal, karena Krystal aku mengabaikan Noona yang seharusnya aku lebih perhatikan. Aku juga menyesal telah menamparnya. Aku minta maaf meskipun masih sedikit kesal. Aku tau, aku tidak bisa memaksa Krystal untuk tetap bersamaku. Maka dari itu… Noona, ayo kita mulai dari awal lagi.” Sehun tersenyum kepadaku. Manis. Sangaaaaat manis.

“Apa?”

“Aku… Menyukai Noona. Ayo kita mulai dari awal. Kita akan menjadi sebuah keluarga. Aku appanya dan Noona ummanya. Kita akan punya bayi yang lucu, dan kita akan terus bersama sampai kakek nenek.”

“Hah?”

“Aku tidak tau sejak kapan…. Tapi aku rasa ini berawal semenjak Noona mengajar di kelasku. Tiap kali Noona bicara didepan kelas, menerangkan materi. Aku tidak pernah mengerti. Yang aku tau adalah Noona begitu cantik dengan pakaian yang Noona kenakan. Aku mencoba menepis semua perasaan itu. Aku ingat akan Krystal, lalu aku berhasil melupakan Noona. Tapi itu berkepanjangan. Esoknya, perasaan itu muncul lagi. Tiap kali aku bertemu Noona. Aku selalu bingung dengan perasaanku. Aku kesal dengan perjodohan ini, tapi disisi lain aku merasa menikmatinya.”

Aku diam mendengar perkataan Sehun barusan.

“Aku selalu engga tenang saat sudah sampai apartemen. Aku selalu bingung dengan perasaan yang aneh tiap kali melihat Noona. Aku senang saat Noona menyiapkan makan untukku. Sekalipun Noona sedang buru-buru, Noona tetap menyiapkanku makan, bahkan saat kita bertengkarpun Noona tetap menyediakan aku makan.”

“—Aku senang saat Noona mengajakku bicara empat mata di ruang guru. Tapi aku tiba-tiba kecewa saat Noona bilang kita hanya sebatas Noona-Dongsaeng. Aku merasa bersalah juga karena ingat dulu aku pernah bilang kalau aku tidak akan pernah menikahi seorang Noona. Seperti boomerang, perkataan itu malah berbalik. Aku nyatanya menikahi seorang Noona. Noona yang cantik, baik dan sabar. Aku kira, jalan 2 minggu pernikahan kita, Noona mungkin akan kabur dan tidak tahan denganku. Tapi tidak! Noona tetap disampingku.”

“—Aku senang bukan main saat Noona mengobati lukaku. Bahkan Krystal tidak pernah memperlakukanku seperti itu. Aku…. Menyesal… aku telat menyadari kalau ternyata ada yang lebih mengerti aku diluar sana. Dan itu Noona.”

“—Maka dari itu Noona, ayo kita mulai dari awal lagi.”

Sehun mengeratkan pelukannya di pinggangku setelah mengatakan rentetan kata yang cukup— Ehm.. Membuatku terharu.

“Sehun—“

Ne?”

“Kau bilang kau akan menceraikanku saat pernikahan kita jalan 1 tahu—“

Sehun tiba-tiba mencium bibirku. Ia menekan bibirnya pada bibirku. Aku kaget. Tapi sebenarnya senang lebih mendominasi.

Sehun melumat bibirku pelan. Tangannya yang tadi di pinggangku kini beralih ke tengkukku. Menekannya kuat-kuat.

Membuat tubuhku semakin menghimpit tubuh Sehun.

Gigi Sehun menggigiti bibir bawahku berkali-kali dengan pelan. Sehun terus menciumku. Bibirku terasa perih, dan aku juga mulai kehabisan nafas.

“S-Sehunhhhhh” Aku mendorong Sehun. Ciuman kami terlepas.  “Phahhbooo.. Aku sheshakkk bodoh!” Aku mengetuk kening Sehun pelan.

Sehun tertawa miring. Bibirnya basah. Yeah ciuman ini memang amat basah. Aku yakin bibirku juga sekarang sangat basah.

Sehun me-lap bibirnya, kemudian mengelap bibirku juga.

“Jadi, Noona?” Sehun tersenyum kepadaku.

Aku pura-pura tidak mengerti. “Apa?”

Sehun mendengus kesal. Kemudian membalikkan posisi. Sekarang aku yang dibawah. Sial. Aku mulai terlena oleh pesona Oh Sehun.

Noona jangan sok polos dan pura-pura engga ngerti!”

Aku mengulum senyumku. Kemudian aku menarik tengkuk Sehun dan menciumnya.

Arrasseo Sehun-a..” Aku berbisik disela ciuman kami. Aku merasakan Sehun tersenyum disela ciuman ini.

Aku melepaskan ciumanku.

Noona.” Sehun memandangku intens.

“Apa?”

“Kau bau.”

“YA! Inikan gara-gara menjagamu semalaman! Sekarang aku jadi terlambat masuk kerja! Aku juga belum ganti baju yang kemarin! Huh minggir! Aku mau mandi!”

Aku mendumel kesal. Mendorong tubuh cungkring Sehun.

Noona!”

“Apalagi?!” Aku berteriak kesal.

“Kenapa engga mandi bareng saja?”

“YAK!! OH SEHUN!!”

Aku menatap kalender. Engga kerasa sudah 5 bulan aku dan Sehun menikah. Dan 3 bulan ini kami isi dengan hal-hal layaknya suami istri.

Ehm… Ya termasuk dengan melakukan hal ‘itu’. Yeah..

Aku duduk dikantin bersama guru lain. Yeah Yoona, Luhan, Taeyeon, Jessica, Tiffany.

Tentang Luhan, aku rasa rencananya menikah tahun depan gagal. Gadis pujaan hatinya ternyata selingkuh, dan Luhan terpuruk satu bulan terakhir ini.

Dia jadi kelihatan uke semenjak putus. Habis kerjaannya ngumpul dengan guru-guru cewek. Dan ia merubah warna rambutnya menjadi pink. Dan yang bikin greget adalah, Tiffany yang bilang padaku kalau dia berniat mengencani Luhan karena menurut Tiffany rambut Luhan sekarang cowok banget.

Aku pikir mereka cocok, tapi sepertinya Luhan sedang engga mood untuk membicarakan kencan. Jadi yah.. Gagal misi Tiffany kali ini.

Setelah Taeyeon, Jessica, Tiffany beranjak dari meja ini. Yoona dan Luhan mulai gencar bertanya.

“Hey! Apa kau melakukannya lagi tadi malam?” Yoona berbisik padaku.

“Ya! Otak mesum! Jauhkan pikiran kotormu itu! Aku sedang datang bulan.”

Shit” Yoona dan Luhan mengumpat pelan.

Aku menggeram. “Dasar mesum kalian berdua! Michin saram! Segeralah menikah sana!” Aku berteriak.

“Mau nikah dengan siapa? Aku aja belum punya calonnya!” Yoona mendesis kesal.

“Yaudah kalian berdua nikah aja!” Ucapku asal.

“Enak aja! Aku gamau sama cowo uke!”

“Siapa yang uke?!” Luhan memukul pipi Yoona. Semacam menampar, tapi dengan cara ‘halus’.

Aku pusing kalau melihat mereka sudah bertengkar seperti ini. Aku mengalihkan pandanganku kearah pintu kantin. Dan itu bertepatan saat Sehun and the gang masuk ke kantin. Aku bisa melihat Sehun mengedarkan pandangannya dan dikala matanya bertubrukan denganku, dia terkekeh padaku. Engga ngerti kenapa dia terkekeh.

Aku dan Sehun sepakat untuk tetap menyembunyikan pernikahan kami. Kecuali pada Jongin. Ya, Sehun yang bercerita pada Jongin. Dan reaksi pertama Jongin. Dia menemuiku di ruang klub bahasa dan berkata: “Sooyoung Saem, jadi selama ini kau selingkuh dariku? Sooyoung Saem aku tidak rela menghadapi kenyataan ini Saem! Kukira selama ini Saem menyukaiku!”

Konyol.

Aku keluar kamar dengan celana hotpants dan kaos longgar. Kulihat Sehun sedang asyik menonton film, dengan posisi tiduran seperti biasa. Sofa tidak mampu menampung kaki panjangnya.

Aku menghampirinya. Sehun bangun dari rebahannya dan aku duduk disisi lain sofa. Sehun kembali merebahkan dirinya. Kepalanya ia rebahkan di pahaku.

Sehun menatapku dari bawah. Aku menunduk menatapnya.

Wae?”

Tiba-tiba saja Sehun menarik kaos longgarku sehingga sebagian pundakku ter-ekspos.

“Apa-apaan sih Sehun-a.” Aku bingung menatapnya. Dia benar-benar seperti bocah kalau sedang seperti ini.

Sehun tidak menjawab, ia malah menarik tengkukku membuat aku menunduk. Wajah Sehun tepat dibawah leherku. Tiba-tiba ia menjilat leherku dan menyedot leherku tanpa alasan yang jelas.

“Yak.. Awww”

Setelah itu Sehun nyengir menatapku. Aku melihat bekas keunguan dileherku.

“OH SEHUN!!!”

Noona mianhae… Aku main truth or dare dengan Kai!!” Sahut Sehun memelas.

Aku membelalakkan mataku. “Kim Jongin benar-benar! Otaknya harus dicuci ulang ya! Mesum sekali!!”

Aku mendengus sambil memegang bekas keunguan dileherku.

Sehun hanya terkekeh polos. “Noona gimana kalau kita lanjutin yang tadi?”

Tangan Sehun mulai bermain menyelusup masuk kedalam kausku. Karena masih kesal dengan serangan tiba-tibanya, aku beranjak dari sofa membuat kepala Sehun mencium sofa.

“YAK NOONA WAE??”

“OH SEHUN AKU SEDANG DATANG BULAN!!”

“APA?!”

Itu hanya kisah cintaku yang jauh dari kata romantis. Suatu hal yang engga bisa dipercaya. Suatu hal yang engga pernah aku perkirakan sebelumnya, kalau aku akan menikahi seorang namja tampan berusia 18 tahun.

Yang awalnya arrogant dan dingin, menjadi sosok manja dan lembut.

Aku tidak pernah mengatakan menyesal saat bersamanya. Sekalipun dulu kami seperti orang tidak saling kenal, tapi sekarang semua berubah. Masa lalu ya masa lalu. Tidak usah diungkit lagi dimasa depan.

Aku mencintainya. Aku mencintai Oh Sehun. Bocahku yang selalu aku sayangi.

Kisah cinta kita emang engga manis, tapi siapa peduli? Aku tetap mencintainya. Bocah tengilku.

Oh Sehun. Jeongmal saranghamnida.

.

.

.

.

.

END

HAHAHAHA MAKSA KAN? GANTUNG SAJA SAYA MAS GANTUNG
Hehehe btw ini draft sekitar berapa tahun ya? setahun mungkin?
Pokoknya ini cerita lama dan sudah berjamur, maklumi kemampuan tulisan yang masih berantakan *bow*

DAN UNTUK YANG NUNGGU SIXTH SENSE~~~~ *bow* mian aku akan segera menyelesaikan:'(
Sulit mendapatkan inspirasi sulitttt, rasanya tiap mau ngelanjutin, alurnya malah maksa bgt
Jadi mohon kesabaran para readers yaaa, love you all!!!!<3

Iklan

26 thoughts on “[FF] Not-So-Sweet-Moment

  1. Sebenernya ini manissss banget smp bikin diabetes(beneran) tapi ada beberapa kata yang masih kurang pas hhehe…
    Tapi beneran deh. Aku suka bangeeet sama ini ff.
    Sequel boleh dong 😀
    banyakin jugayg castnya sooyoung.
    Sebenernya cerita yg gini banyak tapi cara ngemas kamu bikin ini lebih manis jadi keliatan nggak pasaran.
    Keren! Daebak^^
    oh ya salam kenal ya~ new reader here kkkk~
    /maaf kalo kepanjangan komenya/

    Suka

  2. ahahahaha lucuk asli deh ceritanya ringan manis kebanyakan gula pasti. cuma pilihan katanya mungkin bisa di perbaikin bust next story nya. nice 🙂

    Suka

  3. mereka berdua (sehun-sooyoung) manis sama adorable bgt loh serius… jongin luhan sama yoona juga lucu disini tapi yg kocak sih yg pas jongin bilamg ke sooyoung kalo sooyoung selingkuh dari dia hahaha kan harusnya yg kesel sehun soalnya dia deket sama istrinya

    Suka

  4. Asdfghjkl manis sekali ><
    Endingnya itu loh, gak bisa bayangin gimana mesumnya si Sehun. Di bocah, gak kebayang bisa begitu.

    Tapi gak tau deh ya aku suka senyum-senyum sendiri baca ff kamu thor :3 Lucu, kocak, manis lengkap deh cem nanonano :v

    Ditunggu banget ff SooHun lainnya. Kalau bisa sih ini ada sequelnya muehehehe :3

    Suka

  5. Aaaah ini sebenernya gimana ya, emang ngga manis. tapiiii ah cute kali ya? wkwk
    apapun itu pokoknya bagus! sehun nya manja banget haha, ngakak sama kai wkwk. jangan jangan kalo sooyoung lagi gugup pas ngajar dia kira soo gugup gara-gara dia kali ya? wkwk dasar gr.
    suka deh!

    Suka

    1. waaaaaa makasih udah mau baca fanfic akuuu!!
      Gak nyangka kamu bisa baca dan kasih komentar di ff aku ini!!
      aku suka banget sama ff2 kamuuu. aku sering berkunjung ke blog kamuuu, dulu sih waktu masih aktif baca fanfic, tapi skrg udh engga lagi hehe
      makasih ya duh terharu salah satu author favorit aku bisa baca dan komen di ff akuuu hwhwhw :’3

      Disukai oleh 1 orang

  6. Sama sama! 😀
    ih wkwk jadi malu,
    kamu sering berkunjung? makasih banget loh yaaaa. iya sama aku juga akhir akhir ini lagi gak aktif baca ff. dan aku juga suka sama ff kamu yang cute! sering sering bikin yang cute yaa hehe
    sampe terharu gitu wkwk, dan apa iniii? dibilang salah satu author favorit juga? kamu yakin? ih gak nyangka akumah. makasih banget 😀 😀
    keep writing ya!

    Suka

  7. Kalo dari segi tata bahasanya emang agak beda sih dari yang biasanya w baca:’v
    Tapi kalo dari alur ceritanya W SUKA BANGET DEH walopun awalnya agak tertarik ‘ih masa sih guru nikah sama muridnya, tapi begitu udah dibaca sampe bawah engga nyesel deh, CUTE banget apalagi pas sehun manja manja gitu:’v’. Keep writing yaaa;D

    Suka

  8. wah so sweet banget moment soohun’-‘ bikin as nya dong chingu, belum puas ama moment soohun kalo bisa ampe bayinya lahir hehe xD

    Suka

  9. Astagaaa sweett bangett haha, sehun yg awalnya dingin ketus songong gitu berubah jadi cheesy bangett
    Buat lg dong ff yg pair nya soohun

    Suka

  10. Selamat hari kamis yang indah ((lagi liburan ceritanya, makanya cinta hari kamis))

    Jadi tadi aku baru baca ini. DAN APALAH AKU SENENG BANGET MA NI CERITA. SAMPAI GA RELA HABIS. ELAH AKU NGGAK TAHU MAU KOMEN APA. UHUY INI ASYIK KECE GILA. Kalau km nanya,aku . Aku prefer ke tiga scene terakhir.

    Terus,kalau kamu nanya, apa yang aku harapkan. Aku pengen ini dibuat after story, ceritanya berkisar ke soo yang hamil dan sehun yang masi sma, ato sehun dibuat jealous . Pokoknya gitu deh. Aku suka sma tulisan kamu.

    Terus itu KAI LOL BANGET . TERUS ITU SI TIFFANY,ASTAGA, KOK AURANYA GITU, PAS DIA SUKA RAMBUT LUHAN YANG PINK. DAN PINK COWOK BANGET? ugh bener bener ngakak.

    Suka

  11. Aku baca fiksi ini atas rekomendasi kak elisa dan seperti yang disebutkan di komentar kak el. Ini jempol banget, imut, ada angsty nya, tapi fluff juga.

    Asdfghklghkl Luhan WOAINI lu imut banget gaulnya sama ajuma ajuma rempong dan Tiffany wtf cute banget rambut Luhan pink itu emang macho oke gw setuju Tiff. Kai juga lucuuu uh support chara nya bagus-bagus kok kamu bisa sih bikinnya?

    Balik ke SooHun yang manisnya overdosis. Mau dong dibuatin after story yang Sooyoung nya hamil ato Sehun jeles /copy kak el/

    Tapi kalo gabisa gpapa. Lagian ini fanfim udah lama ya dan aku telat banget bacanya. Ck.

    Pokoknya budidayakan Soohun yang cute! Fighting! Saranghaeyo! Muah muah /?/

    Blogwalker,

    Fanneey

    Suka

    1. hai kaaaak makasih ya udah nyempetin baca ff jadul ini, jadi terharu salah satu blogger favorite aku komen kayak gini:’)
      mana ceritanya masih acak2an dan gaya bahasanya jg blm rapi huhuhu
      SEKALI LAGI MAKASIH YA KAAAAK^^ baca ff aku yang lain juga yaaaa hihihi

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s