[FF] Care? No.

large

Main Cast :

Jung Soojung (Krystal) – Kim Myungsoo (L)

Genre :

Romance

A/N :

Tulisan miring selain pembicaraan di telfon merupakan flashback

 

“Kau baik-baik saja?”

“Aku? Selalu. Kenapa?”

Sulli menghela nafas diujung telfon. “Tak usah pura-pura. Tawamu terdengar miris di vn yang kau kirimkan tadi.. Kalau ingin menangis, menangis saja..”


“Tidak terima kasih. Kau tahu aku tak begitu,”

“Jung Soojung..”

“Sudah ya Jinri-ya, Ibuku sudah memanggil daritadi, Bye!”

Soojung mengakhiri obrolannya dengan jinri malam itu. Ia berbohong tentang Ibunya yang memanggil dirinya sedaritadi. Salju pertama baru saja turun di hari itu, dan Soojung tidak akan melupakan malam dimana semuanya berakhir semudah itu. Sungguh miris, tapi mau bagaimana lagi.

Pikiran Soojung kembali mengawang pada tiga bulan terakhir.

“Tak usah repot-repot melakukannya kubilang!” Soojung mengaung hingga suaranya terdengar keseluruh penjuru kelas.

“Eyyyy… Ayolah Soojungie..” Suzy terus merayu Soojung, membuat Soojung makin murka.

“Kubilang diam, kau tahu! Awas saja kalau kau sampai membocorkan rahasia ini, ku abrik-abrik warung ddeokbokki Ibumu!”

“Tak perlu repot kau obrak-abrik ey. Sudahlah.. Aku bisa jaga rahasia. Lagipula, ini truth or dare, kau tahu sendiri ini resikonya hahaha”

“Permainan bodoh! Aku keluar!”

Soojung menendang botol yang dijadikan sebagai alat bantu permainan, kemudian keluar dari kelas dengan membanting pintu hingga mengeluarkan suara yang tak merdu.

“YA! BAE SUJI!” Sulli mengamuk ketika melihat Soojung keluar dari kelas.

“Kenapa?”

“Jangan memasang tampang polos. Sudah kubilang jangan memberikan pertanyaan bodoh seperti itu!”

“Aish berhentilah ngomel, toh ini bukan masalah besar!” Sohyun nimbrung, jengah rasanya ia mendengar pertengkaran macam ini.

“Apa yang salah? Aku hanya tanya siapa orang yang dia sukai. Dia bisa saja berbohong kan?”

“Kau tahu Soojung itu tidak bisa berbohong jika ditanya hal itu. Dia akan panik, jadi kalau bohong kelihatan..”

“Yasudah sih, aku tak akan bilang kok”

“Awas saja kalau mulut embermu itu sampai bocor, aku gunting lidahmu dan kujadikan santapan malam!”

“Astaga Choi Jinri. Kau cantik-cantik sadis” Suzy mengomel tanpa dihiraukan Sulli yang melenggang keluar kelas.

“APA?! Kau membiarkan dia keceplosan??! Hatchhiiii”

“Aigooo lap ingus mu itu menjijikan. Aku harus bagaimana lagi? Aku tahu Suji benar-benar keceplosan. Dia sedang mengobrol dengan anak laki-laki dan tahunya dia mengatakan “Ada kok yang naksir Myungsoo di kelas, tapi tidak akan tertebak!” begitu”

Sulli meniru gaya bicara Suzy kemudian memberikan tissue yang tergeletak di meja kepada Soojung. Flu di musim gugur benar-benar tidak elit bagi Soojung. Ia tidak bisa masuk sekolah karena tidak bisa berhenti bersin, dan alhasil, sekalinya ia tidak masuk, ia malah mendapat kabar buruk.

Kim Myungsoo. Lelaki yang ia taksir sejak sebulan yang lalu. Sudah tahu ada yang suka pada dirinya di kelas.

“Ah, aku seperti akan mati. Flu dan Myungsoo membuatku seperti akan mati!! Arghhh menyebalkan!!” Soojung melempar kotak tissue dihadapannya kemudian mengacak rambutnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Myungsoo tahu kalau dirinya naksir sejak sebulan lalu.

“Sudahlah, tak akan ketahuan aku yakin. Asal Suji tidak keceplosan saja..”

“Ah si mulut ember itu.. Arghhh aku tidak mengerti kenapa aku bisa berteman dengannya..” Kembali, Soojung mengacak rambutnya frustasi.

“Kau remed tidak?”

“Apa?”

“Matematika. Ulangan matematika kemarin,”

“Iya,” Soojung memasukkan buku paketnya ke tas, tanpa melihat sang pemilik suara khas yang sedang bertanya padanya.

“Lalu kenapa tidak kau kerjakan?”

“Aku sudah mengerjakannya,”

“Eit, aku lihat!” Kim Myungsoo, lelaki itu menghalangi langkah Soojung yang akan segera bangkit dari bangkunya.

“Aku sudah mengumpulkannya kemarin,”

“Kau kan kemarin tidak masuk!”

Soojung memandang Myungsoo tak tertarik. “Kau tidak perlu tahu kenapa aku sudah mengumpulkannya, jadi lebih baik minggir”

“Ish menyebalkan,”

“Terima kasih” Tanpa banyak bicara Soojung mendorong bahu Myungsoo kemudian melenggang keluar kelas. “Hatcchiiiii”

“Argh sialan, flu ini benar-benar, arrgghh”

Myungsoo menyernyitkan alisnya. Kemudian mengikuti langkah Soojung. 

“Kau perlu minum obat,”

Soojung menoleh dan mendapati Myungsoo mengikutinya. “Sudah dan jangan ikuti aku”

“Siapa yang mengikutimu, aku juga mau pulang,” Kemudian Myungsoo melangkah mendahului Soojung. Soojung menampar dirinya sendiri “Kau memalukan Jung Soojung arghhh”

“Mungkin Myungsoo menyukaimu,” Celetuk Sohyun.

“Tidak. Jangan bicara yang aneh-aneh, kau menggelitik perutku” Soojung mencomot keripik kentangnya yang tergeletak di tempat tidur Sohyun.

Soojung sengaja mampir kerumah Sohyun. Biasanya saat ada butuhnya sih. Sulli tidak masuk sekolah karena Neneknya meninggal, dan satu-satunya teman dekat Soojung yang enak diajak ngobrol selain Sulli ya Sohyun. 

Bae Suzy? Oh jangan tanya. Dia terlalu ember.

“Kau ini, setiap aku mengeluarkan persepsi selalu kau tolak, pulang saja sana!” Sohyun melempar bantal disampingnya kearah Soojung, tapi ditangkis dengan cepat oleh Soojung.

“Kau memberi persepsi yang tidak masuk akal”

“Jadi motivasimu bercerita padaku itu apa, hah?”

“Aku hanya mau tanya apa aku salah bersikap seolah tak peduli pada Myungsoo?”

Sohyun berpikir sejenak “Tidak sih. Itu bagus. Agar dia tidak tahu perasaanmu,”

“Jadi itu alasan Suji bilang kalau aku tak akan tertebak?”

“Yap. Sudahlah, keep act like that. Kau sudah terlihat cool!”

“Eisssh, terima kasih Sohyun-ah”

“Pinjam pensil!”

Soojung menoleh ke sumber suara, kemudian mendapati Myungsoo berdiri di samping mejanya sambil menengadahkan tangan. “Kau bicara padaku?”

“Kau pikir ada orang lain disini?”

“Sulli?” Soojung menunjuk Sulli di sampingnya yang tengah menyalin catatan Soojung. 

“Dia sedang sibuk, jadi aku meminjam padamu”

“Kau kira aku tidak sibuk?”

Myungsoo berdecak dan mulai menurunkan lengannya yang sedari tadi menengadah. “Sibuk tidur maksudmu?”

“Itu kesibukanku jadi jangan ganggu aku” Soojung kembali menelungkupkan wajahnya ke meja. 

Myungsoo kembali berdecak tak percaya. “Kau benar-benar perempuan yang menyebalkan.”

Dan lagi, Soojung tidak menjawab menyebabkan pukulan bersarang di kepalanya.

“Ya!! Kim Myungsoo!!!”

Soojung memegangi kepalanya yang terkena jitakan telak Myungsoo, sedangkan sang tersangka melenggang keluar kelas dengan kedua lengan ia masukkan ke saku celana.

“Akui saja Jung Soojung dia terlihat keren kan?” Sulli menyenggol lengan Soojung dengan tatapan menggoda.

“Kau pikir Myungsoo menyukai Soojung?” Sohyun berbisik pada Suzy ditengah jam pelajaran Guru Ahn.

“Aku tak punya ide. Beri aku ide!”

“Ide apa?”

“Bukti bahwa Myungsoo menyukai Soojung”

“Entahlah, hanya insting” Sohyun mengangkat bahunya ragu.

Suzy tersenyum misterius. Kemudian menatap Sohyun dengan tatapan Aku-Punya-Ide-Cermerlang.”Instingmu kuat Sohyun-ah. Ayo jodohkan mereka!”

“Kau gila? Tidak terima kasih.” Soojung berdiri dari mejanya kemudian mulai melangkah.

“Ya! Kau mau terus menjadi penggemar rahasia?” Suzy mencengkram pergelangan tangan Soojung.

“Hah, aku tak butuh ada dalam suatu hubungan”

“Kau tidak akan menyesal aku jamin.”

“Aku tidak mau Suji-ya. Kau mau membunuhku? Memberitahu Myungsoo kalau aku suka padanya sama saja dengan melemparku ke sungai han. Kau mengerti?”

“Kau menyukaiku?”

Soojung dan Suzy diam terpaku. Suara yang sudah tak asing ditelinga mereka, lebih tepatnya telinga Soojung. Mereka diam untuk beberapa saat. Tanpa menoleh ataupun bergerak. Satu-satunya pergerakan yang mereka lakukan hanya berkedip.

“Jadi.. Yang menyukaiku itu Soojung, Suzy-ya?”

Argggghhhhhhh Jung Soojung kau mati!

Soojung dan Suzy memejamkan matanya. Entahlah, Suzy merasa ia juga panik. Soojung? Tentu saja ia harus panik.

Soojung melirik jam tangannya.

7.01

Asssaaaaa. Anak-anak belum pada datang. Kesempatan yang bagus untuk Soojung. Ia kemudian mengendap-ngendap masuk ke koridor gedung sekolah. Memastikan tidak ada siapa-siapa disana.

“Tak ada siapa-siapa, hahhhh melegakan..”

“Apa maksudmu tidak ada siapa-siapa?”

“KYAAAAA~”

“YA!!”

Soojung berteriak dan mendapati Myungsoo dihadapannya, dengan seragam sekolah yang keluar,

Ah sial. Oke. Kenapa ada dia pagi-pagi disini? Tidak masuk akal. Soojung benar-benar bermaksud menghindari Myungsoo, tapi yang ia dapatkan? Terimakasih. Jackpot.

“Kau berteriak kencang sekali sih,” Myungsoo memegangi kupingnya.

Soojung menegakkan badannya, memasang wajah dingin khasnya.

“A-apa yang kau lakukan disini?” Sial. Jung Soojung kenapa kau gugup?! Rileks oke rileks.

“Sekolah tentu saja, apa lagi.” Myungsoo mengangkat bahu dengan pandangan kau-harusnya-tahu.

Soojung berdehem “Ehm, harusnya kau datang siang kan? Maksudku, kau selalu kesiangan.”

Myungsoo tersenyum. Soojung bersumpah! ITU SENYUMAN TERMANIS SEORANG KIM MYUNGSOO!

“Aku sedang dalam mood yang baik hari ini”

Soojung berkedip empat kali, kemudian memutuskan untuk mendahului menuju kelas.

“Ya! Jung Soojung!” Teriakan Myungsoo menghentikan langkah cepat Soojung.

“Ayo kita pacaran!”

Soojung tertawa melihat foto screen-shot yang ia ambil bulan lalu saat ia dan Myungsoo chat di Kakao-talk.

Jung Soo Jung : Eyyy sudahlah, kau pacarku kini dan nanti❤

Kim Myung Soo : Nanti? Sampai kapan>///<❤❤

Jung Soo Jung : Kau mau sampai kapan?❤❤

Kim Myung Soo : Yeongwonhi❤❤❤❤❤❤❤

“Kau benar-benar lelaki yang buruk” Soojung terkekeh kemudian kembali melihat foto selanjutnya. Foto selca Soojung dan Myungsoo saat pertandingan olahraga antar kelas, kemudian foto selanjutnya foto selca Myungsoo yang konyol. Soojung terkekeh, tiga bulan singkat bukan? Tapi seperti mereka menjalin hubungan sudah sangat lama saja. Rasa sakit hati Soojung benar-benar tidak akan mudah di obati.

Soojung meng-scroll album foto di ponselnya, kemudian melirik screen-shot terakhir yang ia ambil.

Jung Soo Jung : Kau muncul di obrolan grup kelas tapi tidak mengabariku? Kau kemana saja Myungsoo-ya? Sudah satu minggu kau tidak memberiku kabar. Kalau aku punya salah lebih baik kau bilang,

Jung Soo Jung : Kau benar-benar tidak berniat membalas pesanku? Kau tidak membacanya sekalipun! Kau masih hidup kan?

Jung Soo Jung : Kau membuatku lelah. Kumohon balas pesanku.

Kim Myung Soo : Aku sedang bermain, kau menggangguku.

Jung Soo Jung : Kau benar-benar tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?

Kim Myung Soo : Saat libur sekolah seperti ini, aku hanya ingin main, main, main dan main.

Jung Soo Jung : Kau akan tetap begini?

Kim Myung Soo : Ya

Jung Soo Jung : Myungsoo

Jung Soo Jung : Kim Myung Soo tolong balas pesanku!

Jung Soo Jung : Apa yang kau inginkan sekarang?

Kim Myung Soo : Putus

Jung Soo Jung : Apa alasanmu?

Kim Myung Soo : Aku sudah merasa tidak cocok denganmu atau apalah itu

Jung Soo Jung : Oke kalau itu maumu

Kim Myung Soo : Aku juga merasa tidak enak berpacaran dengan anak kelas

“Aku ingat saat itu aku langsung menghapus semua chat denganmu dari awal kita berpacaran..” Soojung tersenyum, entah pada siapa ia berbicara, ia hanya merasa masih tidak percaya bahwa ia sudah berakhir dengan Myungsoo.

Hari ini masih libur akhir semester, dan natal sudah berlalu. Sekolah masuk dua minggu lagi, dan hubungannya kandas disaat harusnya bersenang-senang saat liburan seperti ini.

Myungsoo tidak memberinya kabar sejak minggu lalu, dan ketika ia hari ini memulai chat dengan Myungsoo, yang ia dapat adalah kata lima huruf itu? Hebat sekali. Myungsoo yang Soojung kira akan memberinya kebahagiaan malah seperti ini. Hubungannya berakhir dengan alasan yang tak logis. “Sudah tidak cocok”?

Soojung merasa dibodohi. Dia yang lebih dulu mengemis cinta, dia juga yang lebih dulu dibuang seperti ini.

Soojung tahu Myungsoo bukan tipe lelaki yang dengan mudahnya mengencani perempuan. Dia hanya pernah sekali berpacaran, dan Soojung yang kedua. Soojung memaklumi selama ini perlakuan Myungsoo tidak seperti mantan-mantannya memperlakukannya. Soojung selalu memutuskan, tapi sekarang ia yang diputuskan. Myungsoo belum tahu cara memperlakukan seorang gadis dengan manis. Ia benar-benar tipe orang yang cuek, sehingga Soojung selalu menjadi orang yang pertama memulai pembicaraan.

Myungsoo tidak pernah mengetik panjang-panjang jika chat. Ia hanya mengetik beberapa kata, sedangkan Soojung selalu bisa membuat percakapan menjadi lebih seru.

Myungsoo yang cuek membuat Soojung menjadi blak-blakkan dan tidak malu-malu memperlihatkan kelemahannya pada Myungsoo.

Tapi kali ini, Soojung menyesalinya. Benar-benar menyesal.

“Kau suka coklat atau vanilla?”

“Entahlah, aku tidak suka keduanya”

“Lalu ini mau dikemanakan?” Myungsoo menunjukkan dua buah ice cream yang ada ditangannya. 

Soojung tersenyum lebar. “Assaaa berikan aku rasa vanilla!”

“Kau bilang kau tidak suka” Myungsoo menjauhkan lengannya dari jangkauan Soojung yang berusaha merebut ice cream dari tangannya.

Soojung mem-pout bibirnya. “Benar-benar tidak pengertian”

Myungsoo mengangkat bahunya tak peduli “Kau bilang kau tak suka, akan kuberikan pada Baekhyun”

“Aisssh menyebalkan..” Soojung menendang tulang kering Myungsoo kemudian melenggang pergi.

“YA!! Jung Soo Jung!!! Akh sakit bodoh”

“Kau chat dengan Sehun?”

Soojung menatap Myungsoo dengan dua kali kedipan. “Kenapa?”

Myungsoo melempar ponsel Soojung membuat Soojung jantungan karena ponselnya hampir saja meleset mencium lantai “YA!!!”

“Sudah kubilang berhenti berhubungan dengan mantanmu yang sok keren itu” Ucapan Myungsoo terdengar serius membuat Soojung merinding.

“Dia yang menghubungiku duluan kok” Soojung mencicit.

“Iya tapi kau tahu kan dia masih berharap padamu?”

“Itu sih sudah jadi masalah lama..”

“YA!!”

“Aissssh iya maafkan aku, sayang”

Myungsoo menepuk kepala Soojung kemudian pergi.

Soojung tersenyum “Meskipun Sehun lebih keren darimu, tapi kau tetap yang aku cintai. Kau harus tau itu bodoh”

“Kau bau keringat bodoh,” Soojung berusaha keluar dari pelukan Myungsoo yang sangat erat.

“Biarkan aku dalam posisi ini sebentar saja…”

Soojung diam kemudian menepuk punggung Myungsoo. Tim kelasnya kalah dalam pertandingan futsal antar kelas. Myungsoo baru saja bertanding, dan yang menang adalah kelas Sehun. Mungkin Myungsoo merasa kecewa, dia berniat mencetak gol hari ini karena besok adalah perayaan 60 hari hubungannya dengan Soojung.

“Kau bau keringat,” Soojung tersenyum sambil terus menepuk punggung Myungsoo.

“Aku tidak peduli,”

“Aku tidak mau ikut Myungsoo-ya,”

“Sebentar saja, kenapasih” Myungsoo memainkan rambut Soojung dari belakang meja Soojung. 

“Aku ada urusan dengan Kakakku,”

“Memang mau kemana?”

“Minggu depan upacara kelulusan kakakku, aku tidak ingin melewatkannya, jadi hari ini aku membantunya membeli segala kebutuhan,”

“Hanya sebentar melihatku futsal satu jam saja tidak bisa?”

Soojung menoleh kebelakang, kemudian memegang pipi Myungsoo “Maafkan aku ya,” Senyum Soojung tidak menyembuhkan kekesalan hati Myungsoo. Jadi Ia memutuskan untuk meninggalkan Soojung keluar kelas.

“Hah… Selalu tidak pengertian.” Soojung mendesah gelisah.

“Kau menonton American Pie???!”

Myungsoo menghentikan tawanya, kala itu ia sedang membicarakan film yang ia tonton bersama anak kelas di rumah Woohyun.

“Kenapa memangnya?” Myungsoo terlihat tidak peduli. Kemudian kembali mengobrol dengan teman-temannya.

“Sudah kubilang kan kau jangan kebanyakan nonton film dewasa!!” Soojung mengomel, ia memegang bahu Myungsoo supaya mau menatapnya.

Tapi dengan cepat Myungsoo menangkisnya. “Kau, cerewet.”

Kemudian tanpa peduli, setelah mengucapkan itu, Myungsoo kembali mengobrol dengan teman-temannya.

Soojung merasa jantungnya jatuh begitu saja.

“Kau… benar-benar….” Tanpa bicara lagi, Soojung pergi meninggalkan kelas, ia pulang dengan mood yang tidak baik dan berakhir dengan menangis di halte bus.

Hanya karena ia tidak bisa menonton Myungsoo futsal, masalahnya jadi kemana-mana.

“Kau bertengkar lagi dengan Myungsoo?”

“Tak usah tanya itu” Soojung kembali menyuapkan sesendok besar bibimbap ke mulutnya.

Sulli, Suzy dan Sohyun berdecak kagum. “Kau bisa gemuk kalau galau terus”

“Aku tidak galau!” Sesendok bibimbap kembali masuk ke mulutnya. Sulli, Suzy dan Sohyun saling berpandangan.

“Kau ini benar-benar! Selesaikan masalahmu dengan Myungsoo cepat!” Sohyun mengoceh, melihat sahabatnya jadi seperti ini benar-benar menyebalkan.

“Kau tahu kan Myungsoo tipe yang tidak akan minta maaf duluan, sudah kau mengalah saja” Suzy kini yang angkat bicara.

“Hah? Aku lagi yang mengalah? Aku bersumpah aku sudah ratusan kali selalu mengalah padanya!”

“Lalu kau akan terus begini? Sampai kau tua pun Myungsoo tidak akan minta maaf sekalipun ia salah. Gengsinya kau tahu? Setinggi langit!!!”

“Argggggh jangan membuatku berfikir!!!!”

Soojung menghela nafas. Ia yakin ini sudah kesekian kalinya ia mengalah, dan kali ini, atas keegoisan tuan Kim Myungsoo, ia kembali mengalah.

Jung Soo Jung : Oke, aku tidak tahu apa maumu, tapi aku minta maaf. Aku tidak tahu apa salahku tapi yang jelas aku tidak ingin semuanya terus seperti ini. Aku menyayangimu sayang, terserah apa yang ingin kau lakukan, aku sayang padamu

Soojung menghela nafas, kemudian menjatuhkan kepalanya ke kasur.

10 menit ia menunggu masih tidak dibalas. dan Soojung memutuskan untuk tidur. 

“Argh! Aku ketiduran!” Soojung melihat jam yang menunjukkan pukul 6 sore. Ia sudah 3 jam tidur, pantas kepalanya pening.

Soojung men-cek ponselnya dan voila! Ada 7 chat dari Kim Myungsoo.

Kim Myung Soo : Aku juga minta maaf sayang, aku janji tidak akan melakukannya lagi, aku menyayangimu, saranghae❤❤

Kim Myung Soo : Sayang?

Kim Myung Soo : Sayangggggggggggg❤❤❤❤

Kim Myung Soo : Aku juga minta maaf kau tahu aku juga menyesal

Kim Myung Soo : Saranghae❤❤❤❤❤❤❤❤

Kim Myung Soo : Jung Soojung sayangkuuuuuuu❤❤❤❤❤❤

Kim Myung Soo : Geuriwohaeyo~ Geuriwohaeyo~ Geuriwohaeyo~

“Kau tahu? Bahkan aku ribuan kali selalu meminta maaf duluan sedangkan kau sekalipun tidak pernah? Ck, lucu sekali”

Soojung mencoret-coret diarynya yang menveritakan semua tentang Myungsoo. Sesayang apa ia pada Myungsoo. Semua ada disana.

Masuk Sekolah sebentar lagi dan Soojung tidak tahu harus melakukan apa ketika bertemu Myungsoo. Apa ia harus mencekik lelaki itu? Atau meninjunya hingga pingsan? Atau menamparnya sekeras mungkin? Semua sedang ia fikirkan, yang jelas, ia benar-benar tidak ingin melihat wajah Kim Myungsoo secuil pun.

2 weeks later…

“Yow Jung Soojung!” Soojung mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk memandingi langkah kakinya dan menemukan Sohyun berdiri di gerbang sekolah.

Soojung tersenyum dan membalas lambaian Sohyun. “Kau betah sekali sepertinya di Pulau Nami”

Sohyun terkekeh “Eyyy kau tahu aku rindu kampung halamanku, aku betah disana..”

Soojung balik terkekeh, mereka melangkah beriringan.

“Ah, kau dengan Myungsoo, benar-benar sudah kkeut?” Sohyun memperagakan gerakan tangan melintasi leher, seolah ia mengatakan kata “mati” dengan cara lain.

Soojung nyengir kemudian mengangkat jari tengahnya. “Ini yang ingin kuberikan pada Kim Myungsoo sebagai sapaan selamat datang.”

Sohyun tergelak “Kau benar-benar Jung Soojung yang kukenal.”

“WELCOME TO THE HELL!!!” Soojung berteriak tidak jelas didepan pintu kelas. Menyebabkan teman-teman sekelasnya menatapnya bingung.

“Kau memalukan” Sulli menyeret Soojung untuk duduk dibangkunya.

“Kenapa? Aku mengatakan hal yang sejujurnya”

“Aku tidak tahu apa putus cinta membuat otakmu tidak bekerja seperti seharusnya?” Sulli memegangi kening Soojung, kemudian berperan seolah keningnya panas.

“Diamlah” Soojung menyingkirkan lengan Sulli, detik berikutnya bel masuk berbunyi dan Soojung tidak heran Kim Myungsoo belum datang saat jam genting seperti ini.

15 menit sebelum guru datang, Kim Myungsoo menunjukkan batang hidungnya, Soojung bersumpah ia sedang menahan amarahnya ketika melihat tampang Kim Myungsoo yang sok keren itu.

Ketika Myungsoo mengambil tempat duduk, tidak sengaja tatapannya mengarah pada Soojung untuk beberapa detik, dan hal itu tidak disia-siakan oleh Soojung. Ia mengangkat jari tengahnya kemudian menatap Myungsoo dengan pandangan nyalang “Shut the fuck up.” Bisiknya penuh amarah.

Dan dengan itu, Soojung mengakhiri tatapannya pada Myungsoo.

“Jadi kau putus dengan Myungsoo?” Woohyun, kawan Myungsoo menatap Soojung dengan pandangan menggoda.

Soojung hanya menatap Woohyun datar kemudian pergi dari hadapannya, Tak lupa menabrakan bahunya dengan sengaja pada bahu Woohyun.

“Ups, Sorry” Tanpa menatap Woohyun yang mengerang kesakitan, Soojung melenggang tak peduli

“Myungsoo-ya? Hari ini jadi futsal kan?”

“Iya, kenapa?”

Chanyeol memasang senyum 5 jarinya “Baiklah, aku akan mengajak Yejin,”

Sepeninggal Chanyeol, Myungsoo terdiam dibangkunya. Kegiatannya yang tadi sedang memasukkan buku kedalam tas terhenti sejenak.

“Soojung-ah kau akan datang ke tempat futsal kan?”

“Hari ini? Jam berapa?”

“Iya, pulang sekolah kok”

“Baiklah aku datang”

Myungsoo menampar dirinya sendiri. “Bodoh Kim Myungsoo, untuk apa memikirkan masa lalu”

Entah kenapa, Myungsoo merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasa salah, mengakhiri hubungannya hanya karena ia bosan dan memilih untuk bersenang-senang.

Apa Soojung mengekangnya? Tidak. Tapi kenapa ia berfikiran jika putus dengan Soojung bisa membuat dia terbebas? Terbebas dari apa?

“Argh sudahlah” Myungsoo menyampirkan tasnya ke bahu kemudian keluar dari kelas.

“Jung Soojung,”

Myungsoo berhenti ketika mendengar seorang lelaki memanggil sebuah nama yang terlalu familiar baginya.

“Apa?” Suara itu. Suara yang Myungsoo sangat hafal.

Myungsoo mengendap dan menemukan Sehun berdiri 2 meter didepan Soojung.

“Kau putus dengan Myungsoo?”

“Bukan urusanmu”

Soojung hendak pergi tapi ditahan oleh perkataan Sehun. “Kau menyesal putus dengannya?”

Soojung menatap Sehun, ia terkekeh sarkastik “Aku menyesal berpacaran dengannya”

“Hey lihat itu Myungsoo!” Suzy menunjuk seseorang dibelakang Soojung, yang berdiri 2 meter dibelakangnya. Soojung berhenti tertawa.

“Kau merusak suasana” Entah kenapa, Soojung marah tiba-tiba pada Suzy, dan tanpa menoleh, ia berjalan lurus meninggalkan koridor.

Suzy hanya bisa terpaku, kemudian memandang Myungsoo yang menatap kepergian Soojung dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Kau pasti menyesal mengakhirinya”

Myungsoo tidak menjawab dan malah meninggalkan Suzy.

“Kau tidak akan bisa memperbaiki semuanya” Itu kalimat terakhir yang Myungsoo dengar sebelum ia pergi lebih jauh dari Suzy.

“Kau kemanasih kemarin? Kakao talk ku tidak dibalas!” Sulli merengek kesal ketika baru saja datang ke kelas. Myungsoo dapat mendengar Soojung membalas perkataan Sulli.

“Bagaimana mau membalas, aku read saja kan tidak” Myungsoo bisa membayangkan ekspresi datar Soojung tanpa rasa bersalah.

“Lalu kenapa tidak kau read?”

“Aku sedang nonton drama”

“Ewh lagi-lagi kau nonton drama.”

“Kau tahu aku tidak pernah cek ponsel kalau sedang nonton, jadi maafkan aku oke?”

Myungsoo merasa menjadi seorang penguntit sekarang. Ah tidak, ia hanya duduk dibangkunya, dan dua sejoli itu sedang mengobrol, jadi tidak sengaja terdengar. Bukan artinya mengupingkan? Hanya tidak sengaja terdengar.

“Lalu kenapa setelah selesai kau tidak membalas katalk ku!”

“Aku ketiduran”

“Selalu saja begitu!”

“Ya, Jung Soojung, kau kemarin kemana? Tidak read katalk ku”

“Hehehe, maaf, aku ketiduran sehabis nonton drama”

“Terus saja nonton drama, berapa jam sekarang?”

“Cuman 6 jam kok”

“Ya!!!”

Myungsoo menampar dirinya sendiri. Selalu, bayangan ketika ia dan Soojung melintas dalam benaknya ketika ada sesuatu yang mengingatkan ia pada hal itu.

“SOOJUNG-AH MYUNGSOO MEMEGANG PANTATKU!!!” Baekhyun merengek layaknya bocah, biasanya itu tidak menyebalkan bagi Soojung, tapi kali ini, ketika mendengar nama Myungsoo dikaitkan dengannya, ia seperti ingin meledak.

Soojung bisa lihat Myungsoo berusaha menutup mulut Baekhyun, tapi Baekhyun tetap tidak mau diam dan berusaha mendekat kearah Soojung.

“Bukan urusanku bodoh” Bisikkan Soojung membuat seisi kelas sepi, hanya bisikan tapi memberi efek merinding pada semua anak kelas. Detik berikutnya Soojung keluar dari kelas, tak lupa membanting pintu dengan sangat kencang.

BRAK!!!

“Apa ini salahku?” Baekhyun merasa ada di ujung kematian.

Myungsoo merasa jantungnya jatuh ke ujung jurang.

Ia kembali teringat saat minggu  pertama ia berpacaran dengan Soojung. Ia bersikap tidak peduli.

“YA Kim Myungsoo!! Pacarmu bilang aku pernah masturbasi di kelas!!!!”

Myungsoo mendelik ke arah Woohyun, kemudian menatap Soojung yang mem-pout bibirnya tidak setuju dengan perkataan Woohyun.

“Bukan urusanku”

Jadi beginikah perasaan Soojung saat itu? Kecewa? Soojung pantas kecewa karena saat itu mereka berpacaran. Tapi Myungsoo tidak sepantasnya kecewa. Mereka sudah tidak ada hubungan, dan Myungsoo lah yang mengakhiri semuanya.

Soojung heran mendapati koridor sekolah tiba-tiba penuh dengan murid-murid yang bergerombol. Karena rasa keingintahuan yang membuncah Soojung berusaha masuk kedalam gerombolan itu tapi sulit.

“Aissssh, heh, ada apa sih?” Soojung bertanya pada anak kelas 1 yang ada disana.

“Sehun sunbae dan Myungsoo sunbae baku hantam”

“Hah? Apa?!” Mata Soojung hampir saja keluar.

“Kenapa bisa?”

“Aku juga tidak tahu, sunbae”

Soojung menggertakkan giginya. “Benar-benar memalukan, apa harus menyelesaikannya dengan cara seperti ini?” Soojung berbalik kemudian menendang angin.

“Argh dari dulu aku tidak suka lelaki seperti itu,” Soojung melenggang kesal menuju kelasnya.

“Kau sudah lihat?”

“Apa?”

Soojung menatap Sulli heran ketika baru saja masuk langsung diberi pertanyaan.

“Sehun dan Myungsoo”

“Ah, mereka kenapa?”

“Memperebutkanmu?” Goda Sulli.

“Ewh aku ingin muntah” Soojung pura-pura memuntahkan sesuatu dari mulutnya

“Jung Soojung kau menjijikkan!”

Myungsoo masuk ke kelas dengan memar menghiasi wajahnya. Soojung tidak ingin melihat, bahkan simpatik pun rasanya terlalu menyebalkan jika itu pada Myungsoo.

Sudah hampir dua bulan sejak mereka putus, dan Soojung bersumpah dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Kim Myungsoo.

“Kau tidak kasihan padanya?” Woohyun tiba-tiba sudah disampingnya dengan pandangan menelisik.

“Jangan tatap aku begitu,” Soojung mendorong wajah Woohyun dari hadapannya.

“Kau tidak kasihan padanya?” Woohyun mengulangi kata-katanya.

Soojung memandang Woohyun datar “Tidak”

“Kenapa? Kau melupakannya secepat itu?”

“Dia yang melupakan aku secepat itu.”

“Apa maksudmu?”

“Dia yang memutuskan, dia yang melupakanku lebih dulu. Sekarang aku sudah tidak ada urusan dengannya”

“Sekalipun dia kembali menyimpan rasa padamu?” Woohyun menaikkan sebelah alisnya.

Soojung tidak kaget karena ia memang tidak merasakan hal itu. Raut wajahnya tetap tenang.

“Aku tidak peduli. Itu sudah bukan urusanku, itu urusan perasaannya dan dirinya sendiri, tak usah bawa aku dalam masalah kehidupannya.”

“Tapi kehidupannya ada sangkut paut denganmu, dia masih menyukaimu”

Soojung menatap Woohyun makin datar “Sekalipun aku masih menyukai dia, aku tidak ingin lagi berurusan dengannya. Aku tidak mau masuk kedalam lubang yang sama. katakan padanya, urus kehidupannya sendiri, dan jangan bawa aku dalam setiap masalahnya.”

“Pertengkaran Myungsoo dengan Sehun ada sangkut pautnya denganmu”

“Aku sudah tahu, dan tolong, jangan pernah bicara padaku lagi jika kau ingin membicarakan tentang dia, Woohyun-ah. Aku mohon”

Soojung berdiri dari tempat duduknya, ia melangkah kemudian berhenti di meja Myungsoo. Soojung mengeluarkan 3 buah hansaplas dari saku roknya dan menyimpannya di meja Myungsoo. Myungsoo menatap Soojung dengan tatapan yang selalu Soojung sukai tapi Soojung tidak goyah akan hal itu.

“Berhenti bersikap bodoh Kim Myungsoo”

“Berhenti bersikap bodoh Kim Myungsoo”

Myungsoo tersenyum ngilu “Ini pertama kalinya lagi kau bicara padaku”

Soojung tetap memasang wajah datar sebelum akhrinya pergi meninggalkan kelas.

Myungsoo mendengarnya. Ia mendengar semua pembicaraan Woohyun dan Soojung. Dan hatinya seakan hancur menjadi kepingan hina.

“Kau mengencani Soojung seperti kau membeli mainan kau tahu? Setelah kau bosan kau membuangnya.” 

Myungsoo menghentikan langkahnya, menatap Sehun yang berdiri dengan tatapan menghina.

Myungsoo terkekeh meremehkan “Setidaknya aku tidak dibuang olehnya, sepertimu”

“Itu lebih baik daripada aku merasa menyesal seperti yang kau rasakan saat ini”

“Apa?” Myungsoo mengepalkan tangannya menahan amarah.

“Aku mencintainya tulus, dan aku bahkan masih mencintainya meskipun dia telah menyakitiku. Aku bersyukur aku tidak merasakan penyesalan seperti yang dirasakan olehmu. Sakit kan? Lebih sakit daripada dibuang”

“Kau berisik kau tahu”

“Jangan kau kira Soojung masih mencintaimu setelah kau menyakitinya. Dia tidak seperti aku, setelah dia disakiti, dia tidak ingin mengulang semuanya. Dan sekeras apapun kau mencoba, kau tidak akan bisa mendapatkannya. Ini bagus, aku tidak mendapatkannya, kaupun juga.”

“BERHENTI BICARA!”

BUKKK

Myungsoo terkekeh. “Lelaki itu benar. Soojung tidak akan kembali padaku, sekalipun ia telah memaafkanku. Bodoh sekali aku ini..”

“Berhenti bersikap bodoh Oh Sehun.” Soojung menyerahkan dua buah hansaplas pada Sehun ketika mereka tidak sengaja berpapasan di depan toilet.

“Eyyy kau perhatian padaku huh?”

Soojung terkekeh. “Jangan lakukan hal bodoh lagi, dan segeralah cari pacar..” Soojung menepuk pundak Sehun sebelum ia masuk ke toilet.

Sehun tersenyum. “Entahlah. Cari pacar? Sulit sepertinya.”

-kkeut-

Iklan

2 thoughts on “[FF] Care? No.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s